
"Zaraaaa," ucap Bu Indah kesal sambil menggenggam erat ponselnya.
Setelah panggilan itu berakhir, Bu Indah segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Berusaha menenangkan dirinya agar tidak secemas ini. Apalagi saat tiba-tiba bayangan Laila berkeliaran di kepala Bu Indah.
Hampir tiga tahun hidup bersama Laila membuat Bu Indah tidak mudah melepas Laila. Meskipun ia bisa memastikan jika Laila akan baik-baik saja di tangan Bu Herlin, namun Bu Indah tidak bisa jauh dari Laila. Terlalu banyak kenangan dan kenyamanan yang sudah mereka ciptakan bersama.
"Bu," panggil Laila.
Bu Indah mengerjap saat mendengar suara Laila. Dengan cepat Bu Indah membuka pintu kamarnya. Membiarkan Laila masuk dan mendengarkan ceritanya.
"Orderan makin banyak, Bu. Apa boleh kalau minggu depan saya mulai kelola toko kue Bu Herlin?" tanya Laila.
"Ujianmu?" tanya Bu Indah.
"Saya bisa bagi waktu, Bu. Kak Yanti juga udah siap bantu kok," jawab Laila.
Sejenak Bu Indah berpikir. Laila sebentar lagi akan menghadapi ujian kelas tiga. Apa sebaiknya menunggu ujian selesai agar fokus Laila tidak terbagi? Tapi di sisi lain, Bu Indah berpikir jika anak kandungnya benar-benar kembali.
"Aku pikir-pikir dulu ya," ucap Bu Indah.
"Iya, siap Bu. Saya permisi dulu ya," pamit Laila.
"Laila tunggu," ucap Bu Indah.
"Kenapa, Bu?" tanya Laila.
"Kalau seandainya aku gak ngizinin kamu buka toko kuenya minggu ini kamu marah gak?" tanya Bu Indah.
Laila menggeleng. Ia meyakinkan Bu Indah atas apa yang ia yakini. Semua keinginan dan larangan Bu Indah adalah demi kebaikannya juga. Semua aturan yang dibuat Bu Indah tidak pernah sekalipun merugikannya. Namun Laila pun menjelaskan alasannya ingin membuka toko kue itu dalam waktu dekat.
Menurut Laila, Yanti sudah keteteran dengan biaya kehidupannya di Jakarta. Penghasilannya tidak bisa menutupi pengeluaran per bulannya. Kalau toko kue itu bisa berjalan, Laila bisa memberikan jalan usaha untuk Yanti.
Sebenarnya selama ini Yanti sering menginap di rumah Bu Indah. Bahkan Bu Indah pun sudah menawarkan sejak awal agar Yanti bisa tinggal di rumah Bu Indah. Namun Yanti menolak karena tidak mau merepotkan. Yanti tidak mau hidup dengan belas kasihan orang lain. Ya, meskipun ia tertatih-tatih hidup di Jakarta, namun setidaknya ia masih bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
Jika toko kue itu dibuka minggu ini, Yanti dan kedua anaknya bisa tinggal di sana. Saat Laila mengecek toko kue itu, Laila melihat ada ruangan belakang yang disediakan sebagai tempat istirahat. Laila rasa Yanti dan kedua anaknya bisa tinggal di sana.
"Besok aku kabari ya," ucap Bu Indah.
"Iya Bu," jawab Laila.
Semalaman Bu Indah berpikir tentang permintaan Laila. Sebenarnya keinginan Laila itu sangat tepat. Ia bisa membiarkan Laila hidup bebas tanpa ancaman Zara. Namun hatinya sebagai seorang ibu belum rela melepas Laila begitu saja.
"Bu, saya berangkat dulu ya!" ucap Laila.
Laila melihat Bu Indah lesu. Walaupun hatinya ingin memastikan jawaban Bu Indah, namun sepertinya situasinya tidak memungkinkan. Laila harus sabar menunggu jawaban Bu Indah. Bahkan Laila juga harus pasrah jika jawaban Bu Indah bisa saja mengecewakannya.
Saat Laila pergi ke sekolah, Bu Indah menemui Bu Herlin. Ia menceritakan semua yang terjadi. Dari mulai ancaman Zara hingga keinginan Laila untuk segera membuka toko kue itu.
"Ya udah lebih baik toko kuenya kita buka lebih cepat aja. Lagi pula orderan Laila kayaknya makin banyak. Kalau nanti Zara pulang, semua aman kan?" ucap Bu Herlin.
__ADS_1
"Tapi kalau ternyata Zara cuma ngancam?" tanya Bu Indah.
"Kita ambil kemungkinan terburuknya aja," jawab Bu Herlin.
Bu Herlin juga meyakinkan Bu Indah jika Laila pasti akan mengerti kalau ketakutan Bu Indah menjadi kenyataan. Namun untuk menjaga hubungan yang sudah lama mereka bangun, Bu Herlin setuju dengan keinginan Laila.
Saat ini juga Bu Indah menggelontorkan dana ke rekening Bu Herlin. Semua untuk Laila dan bisnis kue yang akan digelutinya. Hanya Bu Herlin yang bisa dipercaya saat ini.
"Aku akan urus secepatnya," ucap Bu Herlin.
Tanpa sepengetahuan Laila, Bu Herlin sudah menyiapkan semuanya. Pembenahan toko kue yang sudah lama tidak terpakai hingga menghubungi Fahmi untuk segera bertindak.
Hanya butuh satu waktu, semua selesai. Bu Herlin sudah menyiapkan toko dengan baik. "Herla Bakery", nama yang dipilih Bu Herlin untuk toko kuenya. Herlin dan Laila. Nama yang dipilih Bu Herlin untuk toko kuenya. Sebelumnya Bu Herlin sudah meminta izin pada Bu Indah untuk tidak memakai nama Bu Indah sama sekali.
"Gak masalah. Aku ngerti," ucap Bu Indah.
Meskipun dalam hatinya Bu Indah menyimpan sedikit kesedihan. Bagaimanapun, Bu Indah pun sudah menyiapkan nama untuk toko kue yang akan dibuatkannnya.
Padahal seharusnya namanya Dahlia Bakery. Indah dan Laila. Sayangnya semua harus pupus. Tapi tak apa. Yang penting Laila bisa mewujudkan mimpinya. Itu sudah cukup.
Setelah Laila pulang sekolah, Bu Indah bicara dengan Laila. Membahas tentang persetujuannya atas pembukaan toko kue yang semakin dipercepat.
"Tapi janji ya jangan sampai ganggu ujiannya. Apapun yang terjadi, inget ya pendidikan itu nomor satu." Bu Indah mengingatkan Laila.
"Iya, Bu. Saya akan selalu ingat semua pesan ibu," ucap Laila.
"Laila, aku mau bicara sebentar." Bu Indah menahan Laila saat pamit.
"Apa Bu?" tanya Laila.
Bu Indah menghela napas panjang. Belum mulai bibirnya bercerita, Bu Indah sudah menangis. Air matanya jatuh lebih cepat dibanding dengan penjelasannya.
"Ibu kenapa nangis?" tanya Laila.
"Maafin aku, La. Maafin aku," ucap Bu Indah sambil memeluk Laila dengan erat.
Laila mengusap-usap punggung Bu Indah agar lebih tenang. Setelah merasa sedikit tenang, Bu Indah mulai menceritakan apa yang terjadi belakangan ini. Laila menatap Bu Indah nanar. Tidak ada rasa kecewa atau sakit hati. Laila justru merasa bersalah. Ternyata ini yang disembunyikan Bu Indah beberapa bulan belakangan ini.
"Saya yang harus minta maaf, Bu. Saya gak peka kalau ibu lagi nyimpen masalah ini. Tapi Ibu jangan khawatir, ini bukan masalah besar. Saya kan udah bilang sama Ibu kalau anak ibu akan kembali. Dan sekarang waktunya. Harusnya ibu bahagia," ucap Laila.
Bu Indah kembali memeluk Laila. Remaja yang ada di hadapannya itu sangat dewasa. Bahkan Bu Indah menyesal tidak menceritakan semua ini sejak awal. Ketakutannya ternyata tidak terjadi sama sekali. Laila sangat mengerti keadaan Bu Indah.
Setelah malam itu, Laila mulai mengemas pakaiannya. Ia juga meminta izin untuk pindah ke toko kue meskipun tokonya belum buka. Namun Bu Indah menahannya.
"Setidaknya sampai ujianmu selesai," ucap Bu Indah.
Laila menyetujui ucapan Bu Indah. Waktu ujian yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Laila fokus dengan ujiannya. Sementara Bu Indah, Bu Herlin, Fahmi dan Yanti sibuk dengan persiapan toko kue itu.
Selama ujian, Laila sengaja menutup orderan kue agar ia bisa benar-benar fokus dengan ujiannya. Bagaimanapun semua demi masa depannya juga.
__ADS_1
Tepat hari terakhir Laila ujian, Zara datang ke rumah itu. Beruntung Laila sudah menyiapkan semuanya. Barang Laila yang sudah dikemas segera dibawa Bi Yani saat melihat kedatangan Zara.
"Mang antar ini ke rumah Bu Herlin," pinta Bi Yani sambil menyerahkan dua koper besar milik Laila.
Dengan cepat Bi Yani menelepon Laila untuk mengabarinya. Tanpa komando dari Bu Indah, Bi Yani sudah tahu langkah apa yang harus dilakukannya saat Zara datang ke rumah itu.
Laila tidak langsung pulang ke rumah Bu Herlin. Sebentar ia duduk di sebuah bebangkuan di taman sekolah. Hanya sendiri. Kepalanya menunduk merasakan beban di pundaknya.
Di hadapan Bu Indah, Laila mungkin terlihat tegar. Padahal sebenarnya ia tengah menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Waktu tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Setidaknya Laila akan merasa kehilangan.
"La," sapa seorang pria yang tak asing di telinganya.
"Bagas?" ucap Laila.
Percaya tidak percaya laki-laki itu adalah Bagas. Teman yang sempat dekat dengannya lalu pergi menjauh karena pindah sekolah. Entah apa penyebab pastinya, namun Bagas pindah setelah sempat salah paham dengannya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Laila.
"Gak boleh?" Bagas balik bertanya.
"Ya bukannya gitu. Kamu kan udah jadi anak sekolah itu," ucap Laila.
"Jadi kamu tahu?" tanya Bagas.
"Tahu lah," jawab Laila.
Bagas yang masih menyimpan perasaan untuk Laila hanya terdiam saat tahu kenyataan itu. Laila sama sekali tidak berusaha menemuinya padahal tahu dimana sekolah baru yang ditempati Bagas.
"Jadi mau ngapain ke sini?" tanya Laila.
"Ada perlu sama kepala sekolah," jawab Bagas.
"Dih, gayanya perlu sama kepala sekolah. Perlu apaan? So penting banget sih?" ucap Laila sambil meledek Bagas.
Bagas yang tahu jika Laila sedang bersedih segera menyombongkan dirinya. Ia tahu hal itu akan membuat Laila tertawa keras hanya untuk mengejeknya. Tak apa. Bagi Bagas, melihat Laila tertawa puas sudah cukup.
"Cepet pulang. Nanti Bu Indah marah," ucap Bagas mengingatkan.
Ingin sekali Laila bercerita pada Bagas. Membagi rasa sedihnya atas perpisahan sementaranya dengan Bu Indah. Sementara? Ah mungkin juga selamanya. Laila tidak tahu kedatangan Zara ke rumahnya untuk menetap atau sekedar memastikan jika dirinya tidak di rumah itu lagi.
Kembali Laila berpikir. Tidak semua orang harus tahu kesedihan yang ia rasakan saat ini. Belum tentu Bagas mempunyai kebahagiaan yang lebih darinya. Siapa tahu Bagas punya masalah yang jauh lebih berat dengannya.
"Aku nunggu jemputan," jawab Laila.
Akhirnya Laila menahan diri untuk menjaga semua cerita itu pada Bagas.
"Mau dianterin?" ucap Bagas.
Laila menggeleng dengan santai. Tidak menunjukkan kecurigaan apapun. Walaupun Bagas sudsa tahu jika Laila sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1