
Laila masih memikirkan kejutan yang dimaksud oleh Bu Herlin. Ia menatap jam di dinding kamarnya, sudah jam lima sore. Sesekali Laila membuka pintu kamarnya. Berusaha menajamkan pendengarannya. Sayangnya rumah itu masih hening. Tidak ada suara tamu sama sekali.
PRnya sudah sedikit lagi. Namum rasa lelah membuat Laila ketiduran di atas buku PR yang masih terbuka. Suara adzan magrib pun terlewatkan begitu saja. Beruntung Bi Yani masuk dan mengingatkan Laila agar tidak tidur di waktu tanggung.
"Aduh Bi, terima kasih ya. Kalau aja Bibi gak ke sini, kayaknya aku tidur sampai pagi." Laila segera merapikan buku PRnya.
"Mandi ya, terus dandan yang rapi. Ada Bu Herlin nunggu di ruang tamu," ucap Bi Yani.
Seketika Laila menghentikan tangannya yang sibuk menata meja belajarnya. Matanya menatap lekat Bi Yani. Seolah tidak percaya dengan kalimat yang mengusik telinganya.
"Iya, Bu Herlin." Bi Yani kembali meyakinkan Laila jika remaja cantik itu memang tidak salah dengar.
"Oh iya Bi, terima kasih. Sebentar lagi saya ke sana menemui Bu Herlin," ucap Laila.
Masih dengan pertanyaan besar yang ada di kepalanya. Kegiatan mandi dan berdandan pun membuat Laila sambil bengong memikirkan kejutan yang dimaksud Bu Herlin.
"Tuhaaaan, jangan biarkan aku terlalu takut seperti ini. Tenang Laila, Bu Herlin itu baik. Tidak mungkin dia melakukan hal jahat sama kamu," ucap Laila menguatkan dirinya sendiri.
Laila sudah keluar dari kamar. Langkahnya terasa sangat berat. Apalagi setelah semakin dekat ke ruang tamu, Laila mendengar suara Bu Herlin yang tengah berbincang dengan Bu Indah. Dari kejauhan, Laila juga bisa bisa melihat ada sosok laki-laki mengenakan kemeja biru yang duduk membelakanginya.
"Duh, apa jangan-jangan itu Pak Bagus? Om-om ganteng yang nyaris soldout itu. Ah, gak mungkin. Bu Indah gak ngabari kalau Pak Bagus akan ke rumah kok. Atau jangan-jangan kejutan yang dimaksud Bu Herlin, aku mau dijodohin sama laki-laki itu? Ganteng gak ya?" gumam Laila.
"Hai Laila. Sini!" seru Bu Indah sambil memberi isyarat dengan tangannya agar Laila segera mendekat.
Laila mengangguk dan segera menghampiri Bu Indah. Langkahnya terhenti saat melihat laki-laki itu mengangkat wajahnya. Sebuah senyuman yang berhasil membuat Laila terbang melayang.
"Ya ampun, kalau gini sih aku gak keberatan buat dijodohin. Nikah sekarang juga boleh deh," gumam Laila.
Laki-laki itu segera menegur Laila dengan sangat lembut dan ramah. Laila berusaha keras agar sikapnya bisa biasa saja. Tentu tidak lucu saat ada yang menyadari sikap Laila yang sedang mengagumi laki-laki itu. Apalagi laki-laki itu menjabat tangannya sembari mengenalkan dirinya.
"Fahmi," ucap Fahmi.
"Laila," jawab Laila sambil mengangguk hormat.
Senyum di bibirnya semakin mengembang saat mendengar Fahmi terus bertanya tentang banyak hal. Laila menjawab apa adanya. Ia berharap Fahmi bisa menerima dirinya sepenuhnya.
"Masih kelas dua SMK ya?" tanya Fahmi.
"Iya," jawab Laila.
"Anakku baru mau masuk SD. Tapi nanti saya masukkan ke SMK Permata Hati juga ah biar pinter kayak Laila," ucap Fahmi.
__ADS_1
Anak? Apa jangan-jangan dia duda? Gak apa-apa duda juga kalau ganteng begini. Paketan, sekali nikah bisa langsung punya anak. Udah gede lagi, jadi gak perlu repot-repot ngurus bayi.
"Boleh Pak. Sekolahnya bagus di sana," ucap Laila.
Dering ponsel membuat Fahmi menjeda obrolannya.
"Sebentar ya, istri saya nelepon." Fahmi segera berlalu meninggalkan ruangan itu.
Hah? Istri?
Pupus sudah harapan Laila untuk menjadi calon istri Fahmi. Laila yang sejak awal tidak pernah berpikir untuk menikah, tiba-tiba sibuk mencari calon untuk masa depannya. Bukannya apa-apa, ia takut jika kutukan Deri akan menjadi kenyataan.
Pokoknya aku gak bakal biarin kutukan Bang Deri jadi kenyataan. Aku bakal dapetin cowok ganteng dan tajir. Masa iya di Jakarta yang seluas ini aku gak dapet satu pun?
Fahmi kembali dan melanjutkan obrolannya. Kejutan perjodohan yang diharapkan Laila sudah pupus. Lalu kejutan apa yang dimaksud oleh Bu Herlin? Untuk apa laki-laki bernama Fahmi ini dibawa ke rumah Bu Indah. Dikenalkan padanya tapi ujung-ujungnya sudah memiliki keluarga. Namun Fahmi menjawab semua pertanyaan Laila yang tak sempat diucapkan.
Fahmi sengaja dikenalkan pada Laila, karena Bu Herlin sudah sangat yakin jika Laila adalah orang yang tepat. Bu Herlin memiliki sebuah toko kue yang sudah sangat lama vacum. Masalah pribadi Bu Herlin berhasil membuat toko itu bangkrut.
Bu Herlin yakin, di tangan Fahmi dan Laila, toko itu bisa kembali berkembang. Fahmi dipilih menjadi pengurus pembukuan dan penataan toko kue, sedangkan Laila akan dijadikan koki utama.
"Tapi dia masih sekolah," ucap Bu Indah keberatan.
"Tenang saja, kita bisa memulainya nanti setelah Laila lulus. Lagi pula saat ini Fahmi masih terikat kontrak dengan perusahaan lain," ucap Bu Herlin menenangkan Bu Indah.
"Kamu jangan khawatir. Laila itu anak yang setia. Bukan hanya dengan kerja sama ini, berarti dia akan melupakan semua jasa dan kebaikanmu. Kamu harus lihat ini," ucap Bu Herlin sambil menunjukkan ponselnya.
Bu Indah meraih ponsel itu dan mengamati video yang ditunjukkan. Sesekali matanya menatap Laila dan Bu Herlin bergantian. Jujur saja, Bu Indah takut akan sebuah pengkhianatan. Ia takut jika Bu Herlin dan Laila terlibat kerja sama untuk membuat Laila perlahan meninggalkannya.
"Kamu tahu direkam seperti ini?" tanya Bu Indah pada Laila.
Dengan cepat Laila menggelengkan kepalanya. Laila benar-benar menyimpan kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia harus dilibatkan dengan perseteruan dua sahabat ini.
"Tapi Laila ingin memiliki toko kue sendiri. Bukan kerja sebagai koki utama," ucap Bu Indah.
"Ya ampun, memangnya umurku ini sampai seratus tahun? Gak juga kan? Nanti kalau aku udah pergi, toko ini akan sepenuhnya menjadi milik Laila. Aku akan urus surat menyuratnya secara legal," ucap Bu Herlin.
Bu Indah terdiam. Sebenarnya ia kesal saat Bu Herlin tiba-tiba menawarkan Laila untuk sebuah kerja sama yang pasti tidak akan bisa ditolak olehnya. Namun melihat video Bu Herlin tanpa sepengatahuan Laila, Bu Indah menyimpan kebahagiaan tersendiri. Ia tidak menyangka jika Laila setulus itu padanya.
"Kam jangan khawatir. Laila itu bukan orang yang mudah melupakan jasa orang. Apalagi Laila benar-benar menganggapmu sebagai ibunya. Laila akan tetap tinggal di rumah ini meksipun ia mengurus tokoku," ucap Bu Herlin.
"Laila, gimana pendapatmu? Apa kamu bersedia menjalani kerja sama ini?" tanya Bu Indah.
__ADS_1
"Untuk kerja sama dan apalah itu, jujur aja saya belum ngerti Bu. Saya serahkan semua keputusan saya ke Ibu. Ibu jauh lebih tahu tentang hal ini. Ibu juga pasti tahu masa depan saya harus seperti apa," ucap Laila.
Hati Bu Indah berbunga saat Laila memperlakukannya begitu manis. Berbeda dengan anak kandungnya sendiri yang bersikap semaunya, Laila justru menyerahkan semua keputusan pada Bu Indah.
"Nanti kita bicarakan lagi. Aku harus bicara serius dengan Laila," ucap Bu Indah pada Bu Herlin.
"Oh ya tentu. Bagaimana pun, Laila adalah anak kamu. Semua tentu atas persetujuanmu," ucap Bu Herlin.
Suasana yang sempat menegang itu kini sudah mulai mencair. Bu Indah mengajak Fahmi dan Bu Indah untuk makan malam bersama. Setelah itu, mereka berdua pamit meninggalkan rumah Bu Indah.
"Bisa kita lanjutkan bahasan yang tadi, La?" tanya Bu Indah pada Laila.
"Oh iya tentu, Bu. Silahkan," ucap Laila.
Bu Indah berharap jika kerja sama itu tidak perlu terjalin. Ia merasa bisa membangunkan sebuah toko kue untuk Laila. Meskipun tempatnya tidak sebesar toko milik Bu Herlin, namun mereka bisa membangunnya bersama. Perlahan semua akan menjadi lebih berkembang.
"Menurut kamu gimana?" tanya Bu Indah.
"Ya terserah ibu, saya sih ngikut aja. Kasarnya, saya jualan di rumah aja gak apa-apa. Dulu, saya dan kakak ipar jualan barang online kok. Malahan kita gak punya modal sama sekali," ucap Laila.
Laila pun menceritakan bagaimana kerja sama yang sempat Laila bangun dengan toko-toko hanya untuk meminta foto barang. Hal itu dilakukan Laila dengan senang hati. Maka, soal kerja keras Laila sudah tidak merasa aneh lagi.
"Jadi kamu gak keberatan kan kalau aku menolak kerja sama itu?" tanya Bu Indah.
"Saya sama sekali gak keberatan Bu. Hanya saja, saya gak mau nanti persahabatan ibu sama Bu Herlin jadi jelek. Saya pasti ngerasa bersalah," ucap Laila.
Persahabatan? Bu Indah baru menyadari dampak atas keputusannya nanti. Ia kembali tidak yakin dengan apa yang dipikirkannya.
"Ya sudah kamu istirahat aja ya. Jangan lupa kerjakan PRnya. Masalah ini besok kita obrolin lagi ya," ucap Bu Indah.
Saat Bu Indah mengingatkan PR, pikiran Laila langsung tertaut dengan dua soal yang belum sempat diselesaikan karena ketiduran. Laila segera pamit ke kamar dan menyelesaikan semua PRnya.
"Akhirnya beres juga," ucap Laila sambil menggeliat.
Laila membereskan semua buku dan pensil. Matanya menatap jadwal pelajaran hari besok. Tiba-tiba bibirnya tersenyum lebar karena besok ada kunjungan ke toko kue di dekat sekolahnya. Tokonya tidak besar namun terlihat begitu banyak pembeli.
Sekolah akan melakukan pembelajaran langsung dari lapangan. Bagian paling menyenangkan dan sangat ditunggu-tunggu. Seperti anak kecil, Laila merasa sangat tidak sabar untuk menunggu hari esok.
"Duh, gak sabar deh. Besok kan bisa ketemu sama pemilik tokonya langsung. Bisa nanya-nanya sepuasnya tentang resep dan banyak hal. Ya, kali aja pemiliknya ganteng dan masih muda. Syukur-syukur kalau jodoh," gumam Laila sambil tersenyum.
Laila tiba-tiba ingat kutukan Deri yang menginginkan Laila untuk tidak pernah menikah dengan bahagia. Namun Laila tetap optimis jika Laila pasti akan mendapatkan jodoh.
__ADS_1
Tapi kok orang kota udah punya anak SD aja kelihatan muda ya? Apa kerjanya enteng-enteng kali ya? Di kampung kan kebanyakan kerja kasar, jadi mukanya pada cepet tua. Kalau di sini kan kerjanya enteng. Buka kertas, tanda tangan. Paling berat juga mantengin layar laptop sampai mata beler.