Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Dilema


__ADS_3

"Eh kok ngumpul-ngumpul aku gak diajak sih?" ucap Hasna yang baru saja datang dengan Bi Sumi.


"Duduk di sini!" ucap Bagus sambil menepuk kursi di sampingnya.


Hasna dengan cepat duduk di samping Bagus. Tangannya memegang erat tangab kekar Bagus. Sebagai seorang anak yang rindu sosok ayah, Hasna berusaha mengobatinya saat Bagus ada di dekatnya.


Saat Bagus sedang di Surabaya, kehidupan Laila terasa begitu normal. Setiap bangun tidur, ada suami yang ternyata sudah menatapnya penuh cinta. Dengan sabar, Bagus selalu memberikan tangannya sebagai bantalan tidur Laila. Hal yang membuat Laila bisa tidur dengan nyenyak semalaman.


Belum lagi Kayla dan Hasna yang mulai kembali ceria. Mereka merasa apa yang dibutuhkannya sudah terpenuhi dengan kehadiran Bagus. Bahkan hari minggu ini, Bagus mengajak mereka bermain. Bukan ke mall atau ke tempat mewah. Bagus hanya mengajak mereka jajan di pinggir jalan. Keinginan Laila yang selama ini ditahan karena pasti akan dimarahi oleh suaminya.


Setelah banyak berkonsultasi, akhirnya Bagus tidak seketat itu urusan makan pinggir jalan. Selama Laila rajin kontrol, Bagus merasa sedikit aman. Lagi pula, Bagus harus mengutamakan Kebahagiaan istrinya.


Seorang wanita yang tengah mengandung anaknya itu adalah wanita sederhana. Wanita yang sangat senang walau hanya makan di pinggir jalan. Kehidupan Laila yang sudah terbiasa sederhana membuatnya bahagia dengan caranya sendiri. Bagus mulai memahami. Hasilnya luar biasa. Laila dan kedua keponakannya itu terlihat begitu ceria.


"Masih mau jalan dan jajan?" tanya Bagus.


"Pulang Mas. Udah malam," jawab Laila.


Laila merasa letih saat Bagus mengajaknya keluar rumah sejak pagi hingga malam. Banyak tempat yang mereka kunjungi, walau hanya tempat-tempat wisata sederhana.Laila sudah mulai letih. Perut besarnya membuat Laila merasa lebih cepat lelah dibanding biasanya.


Saat pulang, Bi Sumi sudah menyambut mereka dengan senyumnya. Tidak ada gurat lelah setiap kali melihat wajah Bi Sumi. Kadang Laila iri dengan semangat Bi Sumi. Tidak seperti dirinya yang selalu merasa mudah lelah akhir-akhir ini.


Laila yang terbiasa beraktifitas bebas dan energic membuatnya merasa sangat lemah dengan perut besarnya. Meskipun begitu, Laila berusaha tetap beraktifitas ditengah rasa malasnya. Sejak perutnya semakin membesar, Laila mudah lelah dan sering merasa malas. Sering sekali Laila berbaring seharian tanpa kegiatan yang berfaedah menurutnya. Tapi apa daya, saat itu yang bisa dilakukannya hanya begitu.


"Sayang, besok aku pulang lagi ke Jakarta. Padahal masih kangen loh," ucap Bagus.


"Seminggu gak kerasa ya Mas kalau ada kamu," ucap Laila.


"Aku udah sepuluh hari loh," ucap Bagus.


"Ya ampun cuma selisih tiga hari," ucap Laila.

__ADS_1


"Tiga hari berarti banget buat aku," ucap Bagus.


"Iya," ucap Laila sambil memeluk Bagus.


Sampai pada akhirnya Laila harus menangis tersedu saat Bagus pamitan untuk kembali ke Jakarta. Sebenarnya bukan hanya Laila, Hasna dan Kayla juga ikut menangis. Kebersamaan mereka selama sepuluh hari cukup merasa keduanya ketergantungan.


Mereka harus kembali menjalani hari-hari tanpa kehadiran Bagus di rumah itu. Yang pergi hanya satu orang, tapi sepinya begitu terasa. Seperti hari minggu pertama setelah Bagus kembali ke Jakarta. Tiga orang perempuan duduk bersama namun tak saling bicara. Mereka hanya termenung dengan lamunannya masing-masing.


Dari dapur, terlihat Bi Sumi memperhatikan ketiganya sambil menggelengkan kepalanya. Untuk menghibur ketiganya, Bi Sumi membuatkan menu masakan spesial. Semua Bi Sumi lakukan untuk mengembalikan mood mereka. Namun sayangnya apa yang dilakukan Bi Sumi gagal.


Mereka memang makan dengan lahap masakan yang dihidangkan Bi Sumi. Namun setelah itu, mereka kembali termenung. Kehangatan Bagus saat berada di tengah-tengah mereka berhasil membuat kehilangan yang mendalam. Padahal Bagus masih seribg menghubungi Laila dan Kayla. Selalu memberi kabar dan menjalin komunikasi yang sangat baik. Berusaha memberi momen agar mereka tidak merasa jauh dengannya.


Lagi-lagi Bagus salah. Karena dengan begitu, Laila dan Kayla merasa semakin tersiksa dengan kerinduan padanya. Akhirnya Bagus mencari solusi yang terbaik.


"Kamu pindah aja ke Jakarta," ucap Bagus.


Laila hanya mengernyitkan dahinya saat mereka video call. Toko kue dan impiannya benar-benar memberatkannya untuk meninggalkan Jakarta. Lagi pula, Bagus sempat berjanji bahwa nanti ia yang akan pindah ke Surabaya.


"Jangan khawatir, kan ada Bi Sumi. Si super gercep Mas," ucap Laila meyakinkan Bagus.


Bagitulah Laila. Padahal sebelumnya ia sendiri yang terus merengek. Mengucap kata rindu setiap kali menatap wajah Bagus. Namun saat Bagus memberikan saran, sepertinya ia berusaha keras untuk menolak semua saran itu.


"Masa kamu lebih milih toko dibanding aku?" goda Bagus.


"Bukan gitu Mas," ucap Laila.


Laila segera menjelaskan alasannya menolak ajakan Bagus untuk pindah ke Jakarta. Bukan hanya urusan toko kue sebenarnya. Sekolah Hasna dan Kayla yang ditenga-tengah semester membuat Laila harus pikir panjang untuk pindah ke Jakarta dalam waktu dekat.


"Berarti kalau Hasna sama Kayla udah dibagi raport, bisa dong ya. Bisa kan?" ucap Bagus merayu Laila.


"Gak tahu ah Mas," ucap Laila bingung.

__ADS_1


Bagus tidak ingin membuat Laila terbebani dengan keinginan dan rencananya. Ia pun mengakhiri bahasan itu. Bahkan tidak lama, Bagus justru mengakhiri sambungan teleponnya. Ia harus benar-benar membuat Laila istirahat.


Ternyata Bagus salah. Setelah panggilan itu terhenti, Laila menatap layar ponselnya. Foto mereka berdua saat mengenakan pakaian pengantin menghiasi pandangannya. Bibirnya tersenyum sebentar. Karena pada akhirnya Laila kembali memikirkan keinginan Bagus. Benarkah mereka harus pindah ke Jakarta? Lalu toko kue? Impiannya yang sudah terwujud itu akan ia tinggalkan begitu saja?


"Bu," panggil Bi Sumi.


Panggilan Bi Sumi berhasil membuat lamunan dan kebingungan Laila buyar seketika. Setelah dipersiahkan, Bi Sumi masuk membawa segelas susu hangat untuk Laila. Bahkan Laila sendiri lupa kalau malam ini ia belum meminum susu hamilnya. Bi Sumi memang selalu menjadi yang terbaik selama Bagus tidak ada.


"Terima kasih ya Bi," ucap Laila.


Sebagai orang yang sudah lama tinggal bersama Laila, tentu Bi Sumi tahu jika saat ini wanita yang sedang hamil itu sedang tidak baik-baik saja. Tanpa dipinta, Bi Sumi memijat kaki Laila. Pijatan Bi Sumi memang selalu membuat Laila merasa nyaman. Biasanya Laila menolak, karena merasa tidak enak. Tapi kali ini, Laila hanya menikmati pijatan Bi Sumi.


"Bi, kalau aku sama anak-anak pindah ke Jakarta gimana?" tanya Laila.


"Bagus dong Bu. Biar ngumpul sama Bapak," jawab Bi Sumi dengan begitu santai.


"Kok jawabannya begitu?" tanya Laila.


"Terus jawaban saya harus gimana dong Bu?" Bi Sumi balik bertanya.


"Ya minimal bingung gitu Bi mikir dulu," jawab Laila.


"Kalau saya jadi ibu sih saya gak bakalan bingung. Bapa kan di sana kerja. Dari segi ekonomi, kasarnya Bapak gak butuh penghasilan dari toko kue. Bapak cuma butuh ngumpul. Tapi karena toko itu mimpinya Ibu, jadi Bapak juga gak bisa maksa." Bi Sumi mengungkapkan argumennya.


"Kalau gitu saya yang jadi dilema," ucap Laila.


"Dilema kenapa, Bu?" tanya Bi Sumi.


"Ya antara harus ikut suami atau lanjutin mimpi saya," jawab Laila.


"Memangnya ngumpul sama Bapak tiap hari bukan mimpi ibu ya?" tanya Bi Sumi.

__ADS_1


Gelas yang hampir saja menyentuh bibir Laila tiba-tiba terhenti. Matanya menatap Bi Sumi dengan berbagai pertanyaan. Namun wanita tua itu asyik memijat kakinya tanpa menatapnya. Entah karena tidak berani atau sengaja agar membuat Laila berpikir sendiri tentang jawaban enteng yang diucapkannya.


__ADS_2