
Bagus menancap gas untuk pulang. Dalam perjalanan, teriakan Hasna terngiang di telinganya. Bagaimana mungkin Bagus senang dengan panggilan baru yang disematkan untuknya.
"Ah, Hasna kenapa sih? Diajarin siapa sih kamu? Apa jangan-jangan Laila diam-diam suka sama aku? Jadi dia manfaatin Hasna buat bikin aku gak bisa jauh sama dia? Laila kalau suka ya jujur aja," gumam Bagus merasa percaya diri.
Setelah sampai ke rumah, Bagus membawa kantong kresek hitam di jok belakang. Ia tersenyum saat melihat belanjaan itu. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya ternyata membuat kenangan yang indah. Semua karena Laila terlibat di sana.
"Laila, terima kasih buat hari ini." Bagus mendekap barang belanjaannya.
Di kamarnya, Bagus membuka kantong kresek itu. Mengeluarkan satu per satu barang yang dibelikan Laila untuknya. Bibirnya tersenyum saat melihat barang-barang itu. Bukan karena terlalu senang dengan barangnya, namun tiba-tiba Bagus teringat bagaimana cara Laila menawar barang dagangan di pasar.
"Bi, tolong cuci ini!" ucap Bagus memberikan pakaian itu pada seorang perempuan paruh baya.
Ya, seorang asisten rumah tangga tinggal dengan Bagus di rumah itu. Bagus yang selalu ingin semua siap saji dan siap pakai tidak mungkin hidup sendiri. Ia harus memakai jasa asisten rumah tangga agar kepalanya tak pusing setiap kali akan berangkat ke suatu tempat.
"Maaf, Pak. Ini pakaian siapa?" tanya asisten rumah tangga, namanya Sumi.
"Bajuku. Kenapa? Keren kan?" tanya Bagus.
"Iya, Pak. Keren," jawab Sumi.
Sambil mencuci, Sumi berpikir keras tentang baju yang sedang di cucinya. Sumi tahu betul barang-barang yang biasa digunakan Bagus. Sementara baju yang dicucinya, itu adalah baju dengan merk menengah ke bawah yang biasanya ada di daerah pasar. Bukan di butik mewah yang biasa Bagus kunjungi.
"Bi, bajunya jemur di tempat yang panas. Nanti malem mau aku pakai," ucap Bagus.
"Oh iya Pak," jawab Sumi.
Sumi mengernyitkan dahinya saat Bagus sudah pergi. Pakaian ganti dengan merk mahal masih bertumpuk rapi di lemarinya. Kenapa harus memakain baju pasar malam in Kebiasaan yang belum pernah Bagus lakukan sebelumnya.
"Bi, bajunya mana?" tanya Bagus.
"Ini lagi saya setrika, Pak. Sebentar ya!" jawab Sumi.
"Yang rapi, yang wangi ya!" ucap Bagus.
"Siap, Pak." Sumi mengangkat jempol tangannya ke arah Bagus.
Sambil menunggu Sumi menyetrika, Bagus terlihat memainkan ponselnya. Sesekali Sumi melihat ke arah Bagus yang sedang fokus dengan ponselnya. Sebuah senyuman tersungging di bibir Bagus saat memainkan ponselnya.
"Pak, maaf nih. Saya lihat bapak lagi jatuh cinta ya?" tanya Sumi.
Bagus melihat ke arah sumber suara. Berusaha membantah tuduhan yang memang benar adanya. Karena Sumi terus yakin dengan argumennya, Bagus sampai pindah agar Sumi tak lagi bertanya soal hal itu.
"Ini Pak udah selesai," ucap Sumi.
Sumi menyerahkan tiga stel pakaian yang sudah disetrika. Bagus menatap ketiganya lalu memilih satu stel pakaian yang siap digunakannya.
"Duh, kok bahannya panas begini sih?" ucap Bagus.
Bagus terlihat tidak nyaman dengan pakaian yang diberikan Laila. Namun Bagus ingin Laila merasa senang. Bagus yakin, ia akan mendapat point plus saat menjemput Laila dengan pakaian yang dibelikannya.
Tiiid.. Tiiiid...
__ADS_1
Sengaja Bagus menyalakan klaksonnya karena Laila sedang asyik dengan kedua keponakannya. Sayangnya Bagus mendapat perlakuan yang tidak diharapkannya. Laila segera meminta Hasna dan Kayla masuk ke dalam rumah. Menutup pintu bahkan mungkin menguncinya.
"Ayo Pak!" ajak Laila.
"Tunggu dulu," ucap Bagus.
Bagus mempertanyakan sikap keduanya. Kenapa mereka seperti takut saat melohat kedatangan Bagus? Namun Laila hanya mengatakan bahwa mereka harus istirahat. Laila yang sudah siap dengan seragam kerjanya segera menarik tangan Bagus agar kembali masuk ke dalam mobil.
Hal spontan yang dilakukan Bagus, namun sangat berarti di hati Bagus. Bagaimana tangan lembut Laila menarik tangannya. Ah, hal yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya.
Andai aja kamu mau narik tangan aku, aku gak bawa mobil ke sini. Aku mending jalan kaki aja biar kamu makin lama pegangin tangan akunya.
"Wahh ini baju dari aku ya Pak?" tanya Laila senang.
Bagus mengangguk dan ikut senang saat melihat Laila tersenyum lebar. Dugaan Bagus memang benar, Laila merasa sangat senang karena apa yang diberikannya bisa dipakai oleh Bagus. Padahal sebelumnya Laila bilang kalau Bagus tidak mungkin memakai pakaian itu. Nyatanya, Laila melihat pakaian itu dipakai Bagus. Bahkan Bagus mengenakan sendal karetnya.
"Aku ganteng kan pakai baju ini?" tanya Bagus sambil melihat spion tengah di dalam mobil.
"Tapi kalau gak nyaman jangan maksain ya Pak," ucap Laila.
Laila sadar jika barang yang dibelikannya bukan standar pakaian yang biasa digunakan Bagus. Namun ia senang saat Bagus meyakinkannya bahwa baju yang dipilih Laila memang keren.
"Aku suka," ucap Bagus.
Rasa tidak nyaman dengan pakaian itu, tertutup dengan kehadiran Laila di sampingnya. Laila membuat semua keadaan menjadi nyaman bagi Bagus. Sepertinya Bagus sudah jatuh dalam cinta Laila yang paling dalam.
Bahkan saat chef menyapa Laila saja, Bagus merasa kesal. Rasanya tidak boleh ada laki-laki yang menyapa Laila kecuali dirinya. Tapi Bagus tidak punya hak untuk itu. Meskipun sebenarnya bisa, namun Bagus yakin jika Laila tidak akan suka dengan tindakannya.
"Mungkin itu aja," ucap Chef.
Laila merasa ada yang berbeda dengan sikap sahabatnya itu. Saat ia melihat ke arah kaca, ternyata Laila melihat Bagus berdiri memperhatikan mereka berdua.
Pantas saja Chef jadi dingin dan kaku begini. Ternyata duda buncit itu lagi mandorin kita.
Jika dibandingkan dengan Chef, Bagus terlihat lebih buncit. Meskipun sekarang bagus sudah berhasil menurunkan berat badannya sejak bertemu dengan Laila. Wajahnya pun sudah bersih. Tidak ada lagi jenggot yang menghiasi wajahnya. Segera Bagus mencukur habis jenggotnya saat tahu kalau Laila tidak suka dengan laki-laki berjenggot.
"Sudah selesai?" tanya Bagus saat Laila keluar.
"Udah Pak," jawab Laila.
Laila harus tega melihat Chef pulang tanpa mengobrol dulu dengannya. Padahal chef sengaja tidak pulang dan menunggu Laila. Chef berpikir jika Laila akan datang sendiri. Namun ternyata Bagus mengawasi Laila seperti seorang bodyguard.
Bagus mengantarkan Laila pulang. Ia juga pamit karena besok akan kembali ke Jakarta untuk beberapa minggu. Laila hanya mengangguk. Ia tidak bisa menunjukkan rasa senangnya karena tidak mau Bagus marah padanya.
"Hati-hati ya Pak," ucap Laila.
"Iya. Kamu jangan khawatir ya. Selama aku gak di sini, aku udah siapin orang buat antar jemput kamu. Buat jaga di sekitar rumah kontrakan kamu. Jadi kamu gak perlu takut walaupun gak ada aku," ucap Bagus.
Laila menelan salivanya susah payah. Ternyata Bagus tetap mengawasinya meskipun tidak di Surabaya. Laila gagal bahagia karena bebas dari Bagus. Rasa senang saat bersama dengan Bagus belum membuat Laila merasakan hal yang sama dengan apa yang Bagus rasakan.
Kadang Laila merasa masih diawasi saat Bagus mencoba memberi perhatian lebih padanya. Laila belum membuka hatinya untuk merasakan jatuh cinta pada duda itu. Justru Laila merasa kadang bersama Chef, lebih membuatnya senang karena bisa berdiskusi tentang hal yang disukainya.
__ADS_1
Bagus memang baik. Tapi Laila merasa Bagus terlalu memanjakannya. Apalagi Laila menyadari jika dirinya hanya digunakan untuk alat balas dendam pada Winari. Tapi tak apa, Laila juga tahu ia terlibat dalam kegagalan rumah tangga antara Bagus dan Winari.
"Oh ya La, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Bagus saat sudah sampai di rumah Laila.
"Apa?" tanya Laila.
"Kenapa Hasna memanggilku Papa? Apa dia sangat merindukan sosok seorang ayah dan mendapatkannya dariku?" tanya Bagus.
"Maaf ya Pak. Sebenarnya Laila diajarin sama Bu Rini, pemilik kontrakan saya. Pas saya tanyain, ternyata Bu Rini bilang kalau kita mau nikah. Jadi Hasna harus belajar manggil Bapak dengan sebutan Papa. Tapi Bapak jangan khawatir saya udah kasih pengertian sama Hasna kok," ucap Laila.
Bagus tersenyum. Rupanya Bu Rini benar-benar mendukung kedekatannya dengan Laila. Sekarang target Bagus untuk mendapatkan Laila bukan hanya Hasna dan Kayla. Ada Bu Rini yang akan selalu siap mendukung hubungannya dengan Laila.
"Biarin aja Hasna manggil aku Papa, kalau itu buat dia seneng. Memangnya kamu punya kandidat lain ya buat dipanggil Papa sama Hasna? Apa jangan-jangan si tukang masak itu?" tanya Bagus.
"Astaga Pak, kalau ngomong itu jangan ngaco. Saya sama Chef cuma temenan. Sama kaya kita begini," ucap Laila.
Bagus menatap Laila tajam. Rasanya tidak terima saat Laila menyamakan kedekatan mereka dengan pria lain. Ada rasa kecewa saat Bagus tahu jika Laila sama sekali tidak menganggapnya spesial. Tapi tak apa. Ini belum seberapa. Bagus tidak mau terburu-buru. Ia ingin Laila merasa nyaman dan merasa butuh padanya.
"Oke. Kalau begitu besok aku pamit ya!" ucap Bagus.
"Iya Pak," jawab Laila.
Laila tidak tahu jika pagi sekali Bagus sudah datang menemui Bu Rini. Menitipkan Laila agar tidak diganggu laki-laki lain. Bu Rini yang sudah mendukung Laila dengan Bagus, tentu dengan senang hati menjaga Laila dari laki-laki lain. Apa lagi, Bagus memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan. Sogokan yang diterimanya berhasil membuat Bagus yakin jika Laila akan aman di tangan Bu Rini.
"Anggap aja ini untuk rasa terima kasih saya sama ibu," ucap Bagus.
"Ah, Pak Bagus ini baik sekali. Pokoknya selama di Jakarta, Bapak jangan khawatir. Kalau sampai ada laki-laki yang main ke rumah kontrakan Laila, saya akan usir laki-laki itu. Aman pokoknya," ucap Bu Rini sambil tersenyum lebar.
Bagus senang saat punya kekuatan tambahan untuk bisa mendapatkan Laila. Paling tidak, chef itu tidak akan seenaknya main ke kontrakan Laila. Mereka mungkin akan bertemu setiap hari, namun tidak bisa mendekati Hasna dan Kayla.
"Itu bukannya mobil Pak Bagus ya?" gumam Laila.
Saat Laila keluar dari rumah, ia melihat mobil putih melaju menjauh. Meskipun Laila tidak yakin itu mobil Bagus, namun Laila curiga. Biasanya hanya mobil Bagus yang hilir mudik di sekitar rumah kontrakan Laila.
"Mama," panggil Hasna.
"Hasna, boleh gak Lala minta sesuatu?" tanya Laila.
"Apa?" tanya Hasna.
"Panggil Lala aja ya! Jangan panggil Mama," jawab Laila.
"Lala kenapa gak mau dipanggil Mama? Lala gak mau ya punya anak kayak Hasna?" tanya Hasna sedih.
Laila seketika merasa sakit saat melihat Hasna begitu sedih saat mendengar permintaannya. Dengn cepat Laila memeluk Hasna dan meminta maaf.
"Lala, maafin Hasna ya. Mungkin karena kemarin juga Hasna lagi bahas hari ibu. Makanya Hasna mau punya ibu," ucap Kayla.
Sebenarnya bukan hanya Hasna, Kayla juga merindukan panggilan ibu. Namun usia Kayla yang sudah jauh lebih besar membuat Kayla mengerti keadaan yang terjadi. Sebaik apapun Laila, wanita yang merawatnya itu bukan ibunya. Laila hanyalah adik dari ayahnya yang ternyata memiliki beban untuk merawat mereka berdua.
"Ah Kay. Maafin Lala ya," ucap Laila.
__ADS_1
Laila yang merasa bersalah dengan kesedihan Hasna akhirnya menyerah. Ia mengalah dan menurunkan egonya. Biarlah Hasna memanggilnya Mama. Masalah tanggapan orang lain, Laila sudah pasrah saat semua orang menganggapnya seorang janda.