Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
SAH


__ADS_3

Baik Bagus maupun Winari sama-sama menahan emosi saat keduanya berpisah. Namun untuk meredakan emosinya, Bagus memilih menghubungi Laila. Senyumnya kembali terukir saat melihat Laila dan kedua keponakannya.


"Sehat-sehat ya Mas," ucap Laila.


Bagus mengangguk dan mengangkat jempol tangannya. Ia memberikan tanda bahwa dirinya sehat dan siap menjaga kesehatan. Setelah Bagus merasa kekesalannya terobati, Bagus mengakhiri panggilan itu.


Hari terus berlalu hingga akhirnya Bagus merasa lelah dengan penantiannya yang terlalu panjang. Ia meminta pernikahan itu disegerakan. Tidak perlu menunggu toko itu selesai, Bagus ingin pernikahannya segera digelar.


"Mas, baru juga sebulan." Laila mencoba protes.


Ya, sejak pertunangan mereka resmi memang baru sebulan. Namun sayangnya Bagus yang sedang dimabuk cinta merasa waktu itu terlalu lama. Apalagi saat mereka terpisah oleh jarak. Bagus merasa sangat lelah dengan waktu yang menurutnya sungguh menyiksa.


"Lama La," ucap Bagus.


"Sabar ya Mas," ucap Laila.


Selalu seperti itu cara Laila menenangkan Bagus. Tidak lebih karena memang Laila sendiri tidak tahu bagaimana cara membuat Bagus tenang. Laila hanya berusaha memberikan waktu yang lebih untuk Bagus. Berharap semua itu bisa membuat Bagus senang dan tidak uring-uringan.


Selama Bagus di Jakarta, Laila terus memantau perkembangan toko. Bukan hanya Bagus, Laila juga sebenarnya ingin segera melangsungkan pernikahan dengan Bagus. Hanya saja, Laila tidak seperti Bagus yang menunjukkan keinginannya secara terang-terangan.


Sampai akhirnya toko kue itu selesai setelah empat bulan sejak pertunangan resmi. Dengan senang hati, Laila segera menghubungi Bagus dan mengabari kabar itu. Laila juga mengajak Bagus untuk mempersiapkan pernikahannya.


"Kamu gak usah khawatir. Aku udah siapin semuanya," ucap Bagus.


"Hah?" tanya Laila tidak percaya.


Selama empat bulan terakhir, Bagus tidak pernah bicara apapun saat bertemu dengan Laila. Saat tahu Bagus sudah menyiapkan semuanya, Laila hanya bisa terkejut menyembunyikan rasa bahagianya.


"Tinggal atur waktu aja. Semua udah siap cetak. Tapi tenang aja, nanti kamu bisa lihat dulu. Kalau suka langsung cetak, kalau gak kamu boleh pilih lagi." Bagus meyakinkan Laila.


"Saya percaya sama selera Mas," ucap Laila.

__ADS_1


"Iya dong. Calon suami kamu ini kan seleranya memang keren. Jadi gak usah ragu lagi," ucap Bagus dengan penuh percaya diri.


"Terima kasih ya Mas," ucap Laila.


Laila dan Bagus berbagi tugas. Untuk persiapan pernikahannya, Bagus memang sengaja memilih di Jakarta. Sudah ada orang yang Bagus percaya. Laila hanya kebagian mencari dekorasi saja. Selain itu, Laila juga bertugas untuk menyiapkan toko kue agar bisa dijadikan tempat untuk pesta pernikahannya nanti.


Persiapan yang cukup melelahkan untuk keduanya. Mereka sama-sama mempersiapkan pesta pernikahan dengan sebaik mungkin. Bahkan Laila menyerahkan Hasna dan Kayla untuk sepenuhnya diurus Bi Sumi. Sementara Laila sendiri sibuk mengurus persiapan pernikahannya di sela jam kerjanya.


Laila memang sengaja tidak keluar dari pabrik sebelum ia benar-benar menikah dan mengurus toko kue itu. Sebagai wanita yang terbiasa mandiri, Laila tidak bisa menjadi pengangguran. Meskipun Bagus sudah menjamin kesejahteraan Laila, namun Laila tidak mau terkesan numpang hidup. Baginya pernikahan bukan berarti menbuatnya harus bermalas-malasan.


"La, nanti kalau kita udah nikah kamu berenti kerja ya!" ucap Bagus.


"Kok berenti? Bukannya aku kerja di toko kue?" tanya Laila.


"Oh iya maksudku kamu harus keluar dari pabrik dan fokus di toko ya!" jawab Bagus.


"Siap," ucap Laila.


Setelah obrolan itu selesai, Laila meminta Bagus mengizinkan chef untuk membantu pernikahan mereka. Sempat menolak karena Bagus tidak mau pernikahannya kacau hanya karena ulah chef. Namun Laila memastikan jika Chef pasti akan memberikan yang terbaik untuk pestanya nanti.


"Ah, gak mau. Gimana kalau ternyata nanti dia ngasih racun di makanannya?" tanya Bagus.


"Astaga Mas. Mana mungkin chef sampai kriminal begitu," jawab Laila.


"Kamu ini udah mau nikah juga masih aja belain dia," ucap Bagus kesal.


"Mas, Chef cuma mau bantu. Ini kan terakhir kalinya di bantu. Nanti udah nikah aku keluar dari pabrik. Kita gak ketemu lagi," ucap Laila.


Laila terus membujuk Bagus agar bisa menerima kebaikan Chef. Jujur saja, selain masakan chef tidak perlu diragukan lagi soal rasa, Laila juga tidak mau chef tersinggung. Apa jadinya kalau sampai Laila menolak permintaan Bagus untuk menjadi chef di acara pesta pernikahannya nanti.


"Terserah," ucap Bagus menyerah.

__ADS_1


"Mas, jangan terserah. Bilang iya gitu," pinta Laila.


"Hemmm," ucap Bagus.


"Mas," ucap Laila.


"Iya," jawab Bagus.


"Terima kasih ya Mas," ucap Laila.


Laila segera melingkarkan tangannya di pinggang Bagus sebentar. Membuat Bagus terkejut. Ini pertama kalinya Laila terkesan agresif. Padahal sebelumnya, hubungan duda dan Laila ini berjalan sangat sehat. Tidak ada kontak fisik karena Laila memang berusaha menghindar.


Tapi kali ini berbeda. Laila yang berusaha menyentuhnya. Hal yang tentu membuat Bagus sangat bahagia. Karena sebelumnya Bagus sempat berpikir jika Laila tidak mencintainya karena selalu menolak sentuhannya.


Bagus harus sabar menunggu sampai waktunya tiba. Setelah itu ia bisa dengan puas menyentuh Laila sesukanya. Ah, Bagus sudah tidak sabar lagi. Waktu terasa sangat lama bagi Bagus.


Sampai waktunya tiba, Bagus siap ijab kabul. Dengan semua persiapan yang begitu matang, Bagus berdiri gagah. Stelan jas hitam yang menutupi kemeja putihnya membuat Bagus terlihat sangat gagah. Perut buncit yang selama ini selalu diejek oleh Laila sudah lenyap.


"Mas Bagus," ucap Laila sambil menatap Bagus dengan penuh kekaguman.


Bukan hanya Laila, apa yang dilakukannya memang sama dengan sikap Bagus. Baguspun mengamati Laila. Gaun putih dengan sedikit aksen hitam yang memberi warna wajah cantik itu. Tubuh langsingnya terlihat begitu menggoda dengan balutan gaun mahal karya designer ternama.


"Kamu cantik," ucap Bagus sambil menelan salivanya.


Laila tersenyum malu. Meskipun Bagus berpikir jika ini adalah pernikahan kedua bagi mereka, namun kenyataannya bagi Laila ini adalah yang pertama. Ia tidak bisa menutupi rasa gugupnya. Bagus juga sebenarnya gugup namun tidak seperti Laila yang tampak gelisah.


Di waktu yang sama, mereka saling memgagumi satu sama lain. Menyembunyikan kegugupannya sampai akhirnya nanti mereka akan sah menjadi suami istri.


Saat ijab kabul, Laila duduk di samping Bagus. Membuat duda yang akan ijab kabul untuk kedua kalinya itu semakin gugup. Namun setelah mendengar kata 'SAH', keduanya sama-sama lega. Akhirnya perasaan itu sedikit berkurang.


"Akhirnya kamu benar-benar jadi istriku," ucap Bagus sambil mengecup dahi Laila.

__ADS_1


Laila yang merasakan dahinya hangat hanya bisa memejamkan matanya sambil menikmati kecupan pertamanya. Kehangatan itu menembus ke ulu hatinya. Membuat dadanya berdebar dan berbunga. Senyuman lebar pun terpancar membuat wajah Laila semakin cantik.


Sebuah toko kue yang berukuran besar itu menjadi saksi hari bahagia Laila dan Bagus. Beberapa jenis kue buatan Laila pun dihidangkan di sana. Tidak sedikit yang merasa ketagihan dengan rasa kue yang dihidangkan di sana. Itu adalah keuntungan Laila karena ia yakin para tamu undangan akan memesan kuenya saat toko kue itu sudah beroperasi.


__ADS_2