
Laila selalu menunjukkan jika ia baik-baik saja. Setidaknya cukup Bagas yang menyadari kegelisahannya saat ini. Beruntung Bu Indah sedang sibuk dan tidak menyadari perubahan Laila. Bahkan besok pagi, Bu Indah sudah harus pergi dengan dua koper berukuran besar.
Kali ini Bu Indah akan mengunjungi suaminya di luar negeri. Jadwal kunjungan yang memang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari sebelumnya. Namun Laila tidak bisa seenaknya. Ia tetap harus pulang tepat waktu. Laporan keterlambatannya saat pulang ke rumah bisa sampai hanya dalam hitungan menit saja. Bahkan mungkin detik.
Awalnya Laila merasa kalau dirinya sangat terkurung dengan peraturan Bu Indah. Ia yang dulu bisa bebas bermain dengan temannya, kini harus benar-benar membatasi diri. Laila yang dulu sangat aktif dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat, kini hanya menjadi si kutu buku. Walaupun sekali-kali ia bisa menikmati kebebasannya untuk membuat kue.
Seperti sore ini, Bu Indah meminta Laila membuatkan kue. Bu Indah ingin mengenalkan kue buatan Laila pada suaminya. Laila dengan senang hati segera membuat kue yang diinginkan oleh Bu Indah.
"La, kamu seneng gak tinggal sama aku?" tanya Bu Indah.
"Ya seneng Bu. Posisi saya adalah impian semua umat manusia tahu. Berasal dari keluarga berantakan, akhirnya bisa menjadi princess di rumah mewah. Orang-orang pasti pada mau tuh jadi saya," jawab Laila sambil membuat adonan kue.
"Kamu ini ada-ada aja," ucap Bu Indah sambil menggelengkan kepalanya.
Ya, benar. Ucapan itu memang benar adanya. Kini Laila sudah merasa bersyukur atas semua aturan yang diterapkan padanya. Laila meyakini semua demi kebaikannya. Saat ini yang ia lakukan adalah selalu berpikir positif. Kalau kata Bagas, biar tidak stres.
Bu Indah tidak meninggalkan Laila saat membuat kue. Ia menjadi saksi bagaimana tangan mungil Laila dengan terampil membuat kue yang memiliki cita rasa luar biasa.
"Aku yakin suatu saat nanti kamu akan jadi orang sukses. Kamu pasti bisa wujudin semua impianmu. Percaya deh," ucap Bu Indah.
"Amiiin. Aduh saya seneng kalau di doain yang begini. Doa ibu sama banget kayak doa ibu saya dulu," ucap Laila.
Beberapa saat Laila tiba-tiba hanyut dalam kenangan masa lalunya yang begitu indah. Namun Laila tidak mau terlarut dalam kesedihannya. Ia hanya ingin membuktikan jika doa dan harapan Bu Rini akan terwujud suatu saat nanti.
"Akhirnya selesai," ucap Laila sambil meluruskan tubuhnya yang terasa pegal.
Dilihatnya Bu Indah ketiduran di kursi. Bibir Laila tersenyum saat melihat Bu indah tidur pulang. Wajahnya yang cantik tidak hilang meski usianya sudah semakin menua.
"Bu," ucap Laila sambil mengguncang pelan tubuh Bu Indah.
"Hemmm," ucap Bu Indah tanpa membuka matanya.
__ADS_1
Laila membangunkan Bu Indah berkali-kali namun Bu Indah tidak bangun. Ia hanya menggeliat dan kembali tertidur. Laila menggaruk kepalanya. Posisi saat ini adalah di dapur. Bu Indah tidur di atas sofa yang sengaja dibawa ke dapur hanya untuk melihat Laila saat membuat kue.
"Aku tidur dimana ya?" gumam Laila.
Matanya melihat jam di ponselnya. Sudah jam dua belas malam. Di dapur hanya ada satu pegawai yang sudah ketiduran juga. Laila tidak tega membangunkan orang itu.
Laila memilih mengepel lantai dapur lalu mengambil bantal dan selimut. Tidur bersama di dapur menjadi pengalaman pertama bagi semuanya. Awalnya pekerja di dapur tidak akan tidur sebelum Laila selesai dengan kue yang dibuatnya. Namun rasa ngantuk sudah tidak bisa dielakkan lagi.
"Astaga, Laila." Bu Indah terkejut saat bangun dan melihat Laila tidur di lantai dapur.
Bu Indah membangunkan pegawainya dan meminta untuk tidur di kamarnya. Ia juga segera membangunkan Laila. Setengah sadar Laila bangun dan memeluk Bu Indah. Saat Bu Indah memintanya ke kamar, Laila mengangguk tanpa melepaskan pelukannya. Sampai akhirnya Bu Indah mengantar Laila ke kamarnya.
"Kamu tidur di sini ya!" ucap Bu Indah sambil merapikan rambut Laila yang berantakan.
"Sama ibu," ucap Laila sambil menarik tangan Bu Indah tanpa membuka matanya.
Bu Indah menjatuhkan tubuhnya di samping Laila. Membiarkan tangan Laila melingkar dipinggangnya. Saat itu sudah jam dua malam. Bu Indah yang terbawa suasana ikut memeluk Laila dan tidur dengan nyenyak.
"Ya ampun, Bu. Astaga," ucap Laila panik.
"Aduh, gimana mungkin aku bisa tidur di kamar Bu Indah? Kalau sampai Bu Indah tahu, bisa dihukum aku." Laila menggerutu atas kejadian itu.
Namun saat membuka pintu kamar, Laila baru menyadari jika kamar itu adalah kamarnya. Laila kembali membuka pintu. Memastikan jika kamar itu adalah kamarnya.
"Eh iya. Ini kan kamarku. Wah, Bu Indah kenapa ya sampai tidur di kamarku?" gumam Laila.
Karena hari ini Laila harus sekolah, Laila segera mandi dan bersiap. Meskipun suara guyuran air di kamar mandi terdengar lumayan nyaring, namun Bu Indah masih belum bergeming. Saat Laila keluar dari kamar mandi, ia melihat Bu Indah masih tidur.
Dering telepon membuat Laila segera keluar untuk menjawab panggilan. Siapa lagi kalau bukan Yanti. Selama ini yang selalu aktif menghubunginya adalah Yanti. Beberapa temannya jarang sekali menghubunginya pagi-pagi. Kecuali jika memang ada PR yang belum mereka kerjakan.
"Halo Kak," sapa Laila saat panggilan sudah terhubung.
__ADS_1
Laila berpikir jika Yanti akan menyemangatinya untuk sekolah pagi ini. Namun ternyata Yanti menelepon sambil memangis tersedu. Ia mengaku jika hari ini akan menggugat cerai Deri. Laila panik mendengar kabar itu.
Dulu Laila memang berpikir jika bercerai dari Deri akan membuat Yanti jauh lebih bahagia. Namun keputusan Yanti adalah menjadi TKW saat surat cerai sudah keluar.
"Kak, Kakak kan punya bisnis online. Gak harus jadi TKW. Bisa kok buat biaya Hasna sama Kayla. Nanti aku bantu kirim uang juga buat jajan mereka ya," bujuk Laila.
"Bukan masalah uang, La. Kakak gak bisa lihat Bang Deri lagi. Kakak benci sama Bang Deri," ucap Yanti.
"Iya. Aku tahu Kakak benci banget sama Bang Deri. Tapi anak-anak gimana," ucap Laila.
"Mereka kan punya Bapak. Biarin Bapaknya yang ngurus. Dari pada ngurusin perempuan gak bener," ucap Yanti dengan emosi.
"Hah? Maksudnya Bang Deri maen perempuan gitu?" tanya Laila.
"Iya. Selama ini Kakak kurang apa coba? Kakak gak pernah nuntut apapun sama Bang Deri. Tapi kenapa Bang Deri tega sama Kakak?" ucap Yanti disela isak tangisnya.
"Kok bisa sih Kak?" tanya Laila.
"Ya bisa La. Bang Deri kan tiap hari nongkrong di pangkalan. Jadi dia seenaknya antar jemput perempuan itu," jawab Yanti.
"Ya gak gitu Kak. Maksudnya kok ada sih yang mau sama Bang Deri?" tanya Laila.
Bukan hanya Laila, Yanti juga berpikir hal yang sama. Ia tidak menyangka jika ada perempuan yang mau pada suaminya. Padahal semua orang tahu kalau Deri itu bukan suami dan ayah yang baik.
"Selama ini Kakak nerima Bang Deri sama semua sikap dan sifatnya. Kakak sabar, La. Tapi kalau udah maen perempuan, maaf La. Kakak udah gak bisa," ucap Yanti.
Laila hanya bisa pasrah. Ia tidak bisa menahan keinginan Yanti untuk bercerai. Namun ia hanya berusaha untuk tinggal di Jakarta saja dan kerja. Pergi jauh dari Deri tidak harus ke luar negeri. Indonesia masih sangat luas jika hanya untuk menghindari Deri yang ruang lingkupnya hanya rumah dan pangkalan ojek.
Yanti akan mempertimbangkan saran Laila. Karena sebenarnya jauh di lubuk hatinya, ia tidak mau berpisah dari kedua anaknya. Jangankan pergi lama, sebentar saja ia tidak melihat kedua anaknya, Yanti merasa ada yang kurang dalam hidupnya.
"La, terima kasih ya. Nanti kakak sambung lagi. Hasna nangis," ucap Yanti.
__ADS_1
Sambungan telepon sudah terputus. Namun Laila masih diam mematung memegang ponsel dalam genggamannya. Hatinya pedih saat menerima kenyataan bahwa keluarganya sudah sangat berantakan.
"Bu, semua sudah hancur." Laila duduk di depan pintu kamarnya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.