Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Martabak


__ADS_3

"Bibi sama Kak Kay dari mana?" tanya Hasna cemberut.


Ya, mereka melupakan Hasna. Ia pasti merasa sendirian karena Laila lebih sering mengurung diri di kamar. Pelukan Kayla langsung menenangkan Hasna.


"Kangen banget. Maaf ya ditinggal. Tadi Kakak abis ngerjain PR. Ada tugas penelitian," ucap Kayla sambil memeluk erat Hasna.


"Penelitian apa?" tanya Laila yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Itu tugas bahasa Indonesia. Penelitian kehidupan di jalanan," jawab Kayla santai.


Bi Sumi segera pergi ke dapur untuk menyelamatkan diri. Ia tidak mau Laila sampai curiga padanya. Saat melihat Kayla menjawab pertanyaan Laila dengan santai, Kayla yakin jika kebohongan itu tidak akan terbongkar.


"Tapi kok matanya sembab gitu? Kamu nangis ya?" tanya Laila sambil mengangkat wajah Kayla.


Mendengar pertanyaan Laila, Bi Sumi menghentikan langkahnya. Dari dapur, Bi Sumi memperhatikan Kayla dan Laila. Beruntung Kayla bisa menyelamatkan diri dari pertanyaan Laila. Jawaban Kayla terdengar masuk akal dan membuat Laila tidak curiga sedikitpun.


Kayla menjelaskan bahwa tangisannya hanya karena melihat susahnya kehidupan di pinggir jalan yang ia temui. Ia juga bersyukur dan berterima kasih pada Laila yang sudah membuatnya seperti ini.


"Kalau gak ada Mama, mungkin aku sama Hasna juga di jalanan kali ya? Mulung-mulung sampah kayak mereka," ucap Kayla sambil bergidik.


"Astaga. Amit-amit Kay," ucap Laila sambil mengusap perutnya.


Laila segera mengusap kepala Kayla. Anak yang tingginya hampir sama dengannya itu sangat ia sayangi. Meskipun Kayla bukan anak kandungnya, tapi Kayla merasa Kayla adalah bagian dalam hidupnya yang sangat penting.


Hasna dan Kayla adalah dua anak yang sudah mendewasakannya. Lebih tepatnya memaksa dewasa saat ia belum siap. Namun pada akhirnya Laila bisa tumbuh dengan kuat. Itu alasan Laila selalu bersukur.


"Bu, ada telepon dari Bapak." Bi Sumi memberikan ponselnya.


Dengan cepat Laila menjawab panggilan Bagus. Ternyata Laila lupa janjinya untuk mengirim kabar dari toko. Bahkan Laila sendiri tidak ke toko hari ini.


"Mas, besok aku ke toko. Sekalian mau ada pengambilan pesanan dari Pak Basuki," jawab Laila.


Setelah itu panggan berakhir. Ponsel sudah kembali ke tangan Bi Sumi. Sedangkan Laila mengajak Hasna dan Kayla untuk jalan-jalan malam ini.


"Kemana Ma?" tanya Hasna semangat.


"Kita jalan ke depan aja jajan bakso," jawab Laila.


Hasna lompat kegirangan. Kayla juga senang, hanya tidak ekspresif seperti Hasna. Bahkan Bi Sumi juga tersenyum senang saat melihat Laila mulai meluangkan waktu lagi untuk Hasna dan Kayla.

__ADS_1


Bi Sumi sama sekali tidak menyalahkan Laila untuk perubahan yang terjadi. Hanya saja, kadang Bi Sumi merasa kasihan pada Hasna dan Kayla yang tampak kehilangan perhatian dari Laila.


Selama jalan-jalan, Hasna dan Kayla nampak sangat menikmatinya. Tangan mereka berdua bergelayun manja pada Laila. Seolah mereka sedang meyakinkan diri mereka masing-masing, bahwa Laila ada untuk mereka. Atau bahkan mereka sedang menunjukkan pada semua orang bahwa Laila adalah milik mereka.


"Ayo mau pesen apa?" tanya Laila.


"Aku bakso aja," jawab Hasna.


"Kamu?" tanya Laila pada Hasna.


"Sama kayak Mama," jawab Kayla.


Ya, mereka memang punya banyak kesamaan. Setiap jajan bakso pasti tanpa seledri. Dan hal itu berbanding terbalik dengan Hasna yang selalu minta seledrinya lebih banyak.


"Bibi mau dicampur?" tanya Laila.


"Bibi gak makan ah. Mau es jeruk aja," jawab Bi Sumi.


"Loh kok gitu?" tanya Laila.


"Udah kenyang," jawab Bi Sumi.


"Tapi jajan dulu martabak ya!" ucap Hasna.


"Astaga Hasna. Kita baru aja makan bakso," ucap Kayla.


"Gak apa-apa. Biarin aja," jawab Laila.


"Tapi kan boros," jawab Kayla.


"Gak kok. Tenang aja," jawab Laila.


Dulu, Laila selalu mengajarkan untuk hidup sederhana dan jangan boros. Bahkan mungkin terkesan ngirit. Semua Laila lakukan karena keuangan mereka yang tidak cukup untuk sekedar jajan-jajan seperti itu.


Kini, Laila merasa keuangannya sudah lebih dari cukup. Ia tidak mau melihat Hasna dan Kayla irit urusan perut. Selama semua masih teratur, Laila selalu membelikan apa yang mereka mau. Lebih tepatnya apa yang Hasna inginkan.


Kayla sudah jauh lebih dewasa. Kadang ia selalu berusaha tetap menjalani kehidupannya sekarang tak beda seperti kehidupannya dulu. Meskipun Laila menambah uang jajannya, namun Kayla selalu jajan seperlunya saja. Bisa dikatakan Kayla lebih hemat dalam keuangan. Mungkin karena Hasna belum begitu mengerti tentang kehidupan.


Bagi Hasna, hidupnya kini sudah sangat berkecukupan. Bukan hanya apa yang ia butuhkan, Laila bahkan memenuhi semua keinginannya. Hasna sedang dalam fase menikmati semua itu.

__ADS_1


"Ma, rasa coklat sama martabak telornya satu ya!" ucap Hasna saat sudah sampai ke tukang martabak.


"Hasna, satu aja." Kayla mengingatkan.


"Bisa ngabisinnya gak? Ini udah malem. Mubadzir kalau gak abis," ucap Kayla.


Hasna cemberut dan hanya memesan satu martabak coklat. Laila sangat melihat kesedihan dan kekecewaan Hasna. Namun bukan saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya di sana. Laila menunggu mereka sampai ke rumah untuk membuat Hasna mengerti.


"Hasna, maafin Mama ya!" ucap Laila.


Bukan hanya minta maaf, Laila juga menjelaskan alasannya tidak menuruti semua keinginan Hasna. Bukan masalah uang, ini masalah keinginan yang berlebihan. Laila tidak mau Hasna berpikir jika dengan keadaannya sekarang, ia bisa bebas mendapatkan semua yang diinginkannya.


"Iya Ma. Maafin Hasna juga ya," ucap Hasna.


Setelah jam sembilan, Laila mengajak semuanya untuk beristirahat. Mereka harus tidur karena besok harus bersiap menghadapi hari dan beraktifitas lagi dengan penuh semangat.


"Bi, besok bangunin saya pagi-pagi ya! Saya mau ke toko," ucap Laila.


"Iya Bu," jawab Bi Sumi.


Saat masuk ke kamar, Laila segera mengirimkan foto-foto mereka saat jajan di luar. Sebelum suaminya marah, Laila segera meminta maaf dan janji untuk tidak sering jajan di pinggir jalan.


"Ya udah istirhat. Jangan terlalu cape ya!" ucap Bagus.


Bagus yang tidak bisa selalu menemani dan memanjakan istrinya yang sedang hamil, hanya bisa bersikap hangat seperti itu. Yang Bagus lakukan saat ini hanya mengiyakan dan mendukung apa yang dilakukan Laila. Hal sederhana itu sudah cukup membuat Laila senang meskipun mereka berjauhan.


Pagi-pagi, Bi Sumi sudah mengetuk pintu kamar Laila. Bahkan sebelum alarm di ponsel Laila berbunyi, Bi Sumi sudah membangunkannya. Dengan mata yang masih terasa berat untuk dibuka, Laila menjawab panggilan Bi Sumi dengan suara khas bangun tidur.


"Iya Bi," jawab Laila.


Setelah suara Bi Sumi tak lagi terdengar, Laila kembali menarik selimut dan melanjutkan tidurnya. Bahkan saat alarmnya berbunyi, Laila hanya berusaha menggapai ponselnya dan menghentikan bunyi alarm tersebut. Matanya bahkan tidak dibuka sama sekali.


Bi Sumi berpikir jika Laila sedang bersiap. Namun setelah Hasna dan berangkat sekolah, Bi Sumi tidak melihat Laila keluar dari kamar. Setelah di cek, ternyata Laila masih tertidur.


"Bu, katanya mau ke toko. Udah jam tujuh," ucap Bi Sumi.


Jam tujuh? Laila segera membuka matanya dengan sempurna. Ia melihat ponselnya. Memastikan ucapan Bi Sumi. Meskipun harapannya saat ini adalah Bi Sumi yang berusaha membohonginya. Namun apalah daya jika semua memang kenyataan. Lagi-lagi Laila kesiangan.


"Bi, kok baru bangunin?" tanya Laila panik.

__ADS_1


__ADS_2