
"Gimana enak, Bu?" tanya Bi Sumi.
"Enak. Terima kasih banyak ya Bi," ucap Laila.
"Sama-sama. Bibi keluar ya Bu," ucap Bi Sumi.
"Iya Bi," ucap Laila.
Setelah Bi Sumi keluar dari kamar, Laila menarik selimutnya. Ia tidak bisa tidur. Menatap langit-langit kamarnya. Kepalanya memutar ucapan Bi Sumi. Cukup mengganggu baginya.
"Duh, gimana ya? Apa iya aku harus balik lagi ke Jakarta? Terus toko kuenya gimana?" gumam Laila.
Hampir satu jam Laila berdebat dengan batinnya sendiri. Hati dan logikanya sedang tidak sejalan. Buntut dari kegelisahannya itu, Laila bangun kesiangan. Hampir jam tujuh Laila baru bangun. Tubuhnya terasa lemas. Bukannya bangun, Laila justru menarik selimutnya kembali.
"Bu," panggil Bi Sumi.
"Iya Bi," jawab Laila dengan suara serak khas bangun tidur.
"Boleh saya masuk?" tanya Bi Sumi.
"Masuk aja Bi," jawab Laila.
Bi Sumi masuk dan menatap Laila bingung. Ini hari efektif, bukan akhir pekan. Tapi Laila masih betah dengan selimut yang menggulung tubuhnya. Tidak seperti biasanya. Laila akan marah dan panik saat bangun kesiangan.
"Ibu sakit?" tanya Bi Sumi.
"Gak Bi," jawab Laila.
"Gak ke toko?" tanya Bi Sumi.
"Libur dulu, Bi. Tadi udah nelepon orang di toko suruh handle toko," jawab Laila.
"Oh gitu. Ya udah sini biar Bibi pijit lagi," ucap Bi Sumi.
Saat tangan Bi Sumi menyentuh kaki Laila, ibu hamil itu justru menarik kakinya. Bi Sumi menatap dengan penuh kebingungan. Hal yang tidak pernah Laila lakukan sebelumnya. Tidak ingin salah paham, Laila segera menjelaskan alasan dirinya menarik kakinya. Saat ini ia hanya ingin tidur lagi. Matanya masih ngantuk. Ia janji akan keluar dan makan setelah bangun nanti.
"Ya udah Bibi keluar ya," pamit Bi Sumi.
"Iya Bi," jawab Laila.
Setelah pintu kamarnya tertutup kembali, Laila segera memposisikan dirinya dengan nyaman dan tidur. Ia sengaja tidak memasang alarm dan meminta Bi Sumi agar tidak membangunkannya. Hari ini Laila benar-benar ingin menikmati waktunya. Memanjakan dirinya dengan memberikan waktu sebebas-bebasnya.
__ADS_1
Tidak seperti Laila yang tengah menikmati hari ini dengan penuh kebahagiaan, Bi Sumi justru cemas dengan sikap Laila. Beberapa kali Bi Sumi melihat pintu kamar Laila yang terlihat masih tertutup rapat.
"Bu Laila kenapa ya? Apa jangan-jangan dia marah ya sama aku?" gumam Bi Sumi.
Sikap Laila yang berbeda dari biasanya membuat Bi Sumi merasa bersalah. Ia berpikir jika Laila marah karena sarannya semalam. Bi Sumi duduk termenung sambil memegang secangkir kopi susu. Kepalanya memikirkan kalimat permintaan maaf seperti apa yang harus ia ucapkan pada Laila.
"Hasnaa," teriak Kayla.
Bi Sumi terperanjat. Segelas kopi susu itu segera ia simpan di atas meja. Sementara ia segera memburu Kayla dan Hasna. Ia khawatir jika keduanya bertengkar lagi. Ya, akhir-akhir ini keduanya memang sering tidak akur. Ada saja yang diperebutkan. Namun Bi Sumi menanggapinya dengan santai.
Hal itu wajar. Dan tentu suatu saat akan menjadi kenangan sendiri untuk mereka berdua. Adik kakak yang kehilangan cinta orang tua kandungnya itu seolah sering mencari perhatian dari orang sekitar. Maka dengan sabar Bi Sumi menenangkan keduanya.
"Kenapa lagi sih Kay?" tanya Bi Sumi saat melihat Kayla sedang memegang tangan Hasna.
"Tuh si Hasna," jawab Kayla sambil mendorong Hasna hingga memeluk Bi Sumi.
"Gak sengaja Kak," ucap Hasna membela diri.
"Jangan bohong!" ucap Kayla dengan suara lebih tinggi.
Bi Sumi berusaha menengahi keduanya. Ternyata keributan antara mereka berdua karena Hasna menginjak sepatu baru Kayla. Hal yang tidak terlalu fatal namun membuat Kayla terlihat sangat marah.
Keributan itu ternyata mengundang kedatangan Laila. Ibu hamil yang sejak tadi mengurung diri di kamar dan sempat membuat Bi Sumi khawatir akhirnya keluar juga. Laila nampak sudah rapi dan wangi. Ia mendekat dan bertanya alasan mereka berdua bertengkar.
Hasna dan Kayla pun duduk di tempat yang diinginkan oleh Laila. Sementara Bi Sumi pergi ke dapur. Membawa air minum untuk ketiganya.
Laila mengingatkan Hasna untuk lebih sopan pada Kayla. Ia juga mengingatkan Kayla agar lebih lembut pada adiknya. Namun Kayla malah menangis.
"Dia gak tahu betapa berartinya sepatu ini," ucap Kayla sambil menangis dan memeluk sepatunya.
"Kotor itu. Simpan di bawah aja," ucap Laila.
"Gak mau Ma. Ini barang yang paling spesial yang pernah aku punya. Sepatu ini dari Papa Deri," ucap Kayla sambil menangis sesenggukan.
"Apa?" tanya Laila.
Bibir Laila bergetar. Mendengar nama Deri, Laila merasa tubuhnya lemas. Masa lalu yang kelam itu muncul begitu saja. Menghantui hidupnya yang sudah terasa lebih tenang.
"Aku gak tahu dimana Papa sekarang. Tapi sepatu ini dikirim atas nama Deri," ucap Kayla.
"Mana alamatnya?" tanya Laila.
__ADS_1
Kayla pun memberikan alamat dan nomor yang tercantum dalam paket sepatu itu. Dengan cepat ia mengambil ponselnya. Namun Kayla segera memberi tahu bahwa nomor itu tidak aktif.
"Terus gimana caranya dia bisa ngirim semua ini sama kamu?" tanya Laila.
Dadanya berdebar cepat. Antara rasa marah dan sebuah ketakutan membelenggu Laila. Ia benar-benar khawatir. Apalagi saat Kayla juga ternyata tidak tahu soal keberadaan Deri. Semua berawal dari Kayla yang sering memposting foto dan tulisan panjang di media sosialnya.
Semua yang ia rasakan diceritakan dalam tulisan itu. Tiba-tiba saja sebuah surat datang ke alamat itu. Memberi kabar bahwa dirinya adalah ayah kandung Kayla yang selama ini dirindukannya. Kayla pernah membalas pesan itu ke alamat yang tertera. Namun surat itu kembali lagi. Katanya, alamat yang dituju kosong. Tidak ada yang tinggal di sana.
Akhirnya Kayla kembali menulis semua itu dalam media sosialnya. Hanya berselang tiga hari, sebuah paket datang untuknya. Masih dari pengirim dan alamat yang sama. Hal yang membuat Kayla senang meskipun tidak bisa bertemu dengan ayah kandungnya itu.
"Siapa tahu dia cuma orang iseng. Makanya jangan kasih tahu alamat rumah kita ke orang sembarangan," ucap Laila.
"Gak ada yang minta alamat rumah sama aku," ucap Kayla.
"Terus dia tahu alamat ini dari mana?" tanya Laila.
Kayla hanya menggeleng. Laila semakin bingung. Sama halnya seperti Laila, Kayla pun sempat bingung dengan pengirim misterius itu, namun semua tidak dipikirkan Kayla. Baginya, tahu ayahnya masih hidup dan ingat padanya saja sudah lebih dari segalanya.
"Jangan balas chat atau telepon dari orang asing," ucap Laila.
"Gak ada orang asing yang chat atau nelepon aku," jawab Kayla.
Selama ini memang tidak ada komunikasi apapun dari orang misterius itu. Kayla hanya menerima satu paket surat dan paket sepatu. Hanya itu saja. Mungkin orang misterius itu mengamati apa yang diposting Kayla selama ini. Namun sepertinya tidak ada keberanian untuk menunjukkan siapa dirinya.
Laila hanya takut jika orang misterius itu hanya memanfaatkan situasi saja. Ia mengatasnamakan Deri untuk membuat Kayla lengah. Apalagi saat ini Kayla sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik. Berbagai ketakutan kian menyelimuti hati dan pikiran Laila.
"Ya udah kamu istirahat aja di kamar. Jangan keluar selain sekolah. Jangan terima telepon dari orang asing. Pokoknya jangan macam-macam deh," ucap Laila.
Kayla mengangguk. Ia juga segera pamit ke kamarnya membawa sepatu yang masih digenggam erat. Sementara Hasna yang tidak begitu merindukan Deri hanya menggelengkan kepalanya.
"Belum tentu dia Papa Deri. Paling juga dari pacarnya," ucap Hasna dengan polosnya.
"Pacar?" tanya Laila.
Ya, Laila lupa. Siapa tahu Kayla memang sudah punya pacar dan itu adalah salah satu alasan untuk menyembunyikan rahasianya agar tak kena marah dirinya. Tapi Laila berpikir ulang. Rasanya terlalu berlebihan jika apa yang dilakukan Kayla seperti dugaannya.
"Ya udah Hasna juga istirahat ya. Kerjain PR nya," ucap Laila.
Hasna mengangguk dan segera pergi. Setelah melihat Laila sendirian, Bi Sumi segera menghampiri dan duduk di samping Laila.
"Ibu tenang aja. Jangan terlalu parno begitu," ucap Bi Sumi menenangkan.
__ADS_1
"Gimana gak parno. Orang itu siapa? Kok bisa-bisanya tahu alamat rumah ini. Sekarang kirim sepatu. Gimana kalau besok-besok kirim bom?" ucap Laila penuh ketakutan.