
"Hasna jangan sedih ya. Mulai sekarang Hasna boleh manggil Lala Mama ya," ucap Laila.
"Beneran?" tanya Hasna dengan wajah penuh harap.
"Iya," jawab Laila.
"Wah, senengnya. Terima kasih ya Ma," ucap Hasna.
"Kay boleh juga?" tanya Kayla.
"Boleh dong Kay," jawab Laila.
"Sayang Mama," ucap Kayla sambil memeluk Laila.
Laila pertama kalinya sepasrah itu saat dipanggil Mama diusianya yang menururnya belum cukup. Masih dua puluh tahun dan belum pernah menikah. Tapi semua demi kebahagiaan kedua keponakannya. Biarlah Laila mengalah. Saat ini, kebahagiaan mereka yang paling utama.
"Sekarang kalian berangkat sekolah ya! Nanti jangan lupa makan. Jangan main jauh-jauh," ucap Laila mengingatkan.
"Siap Ma," jawab Hasna dan Kayla kompak.
Laila melihat dua anak itu berangkat ke sekolah. Lalu setelah itu ia mengunci pintu dan siap-siap berangkat kerja. Beruntung Rena berangkat saat Laika akan berangkat. Akhirnya mereka berangkat bareng setelah hampir dua minggu tidak bersama.
"Kangen banget deh La. Semenjak kamu pindah jadi asisten Chef, kita jadi gak berangkat dan pulang bareng." Rena ngedumel.
"Bukan cuma kamu Ren. Aku juga kangen. Anak-anak di bagian produksi apa kabar? Mereka semua sehat-sehat kan?" tanya Laila.
"Sehat, mereka semua baik-baik aja. Cuma lagi harap-harap cemas nih. Soalnya ada kabar mau ada pengontrolan lapangan," ucap Rena.
"Lah memangnya kenapa? Biasanya juga kan ada pengontrolan berkala," ucap Laila.
"Kali ini beda. Katanya Pak Jacob bakalan keluarin karyawan-karyawan yang gak kompeten. Absen juga dilihat La. Katanya disiplin dan tanggung jawab harus nomor satu," ucap Rena.
"Makanya rajin dong kayak aku," ucap Laila sambil tertawa.
Kebiasaan lama yang baru Laila jalani lagi. Sangat menyenangkan namun sayangnya Laila harus berpisah saat sudah sampai pabrik. Mereka kerja di bagian yang berbeda. Pulang pun kadang-kadang tidak bareng hingga sulit untuk bisa bersama seperti dulu.
"Semangat ya Ren," ucap Laila.
"Kamu juga ya!" ucap Rena.
"Oke. Terima kasih juga ya buat tumpangannya," ucap Laila.
Mereka berjalan ke arah yang berbeda. Rena yang langsung ceria karena disambut teman-temannya, sedangkan Laila cemberut karena harus kerja sendirian.
Hari ini Chef libur. Karena tidak ada Pak Jacob, Laila bisa menghandle semua pekerjaan sendiri. Namun ada yang berbeda. Sepi dan jenuh rasanya saat harus kerja sendiri.
"Pagi," sapa chef.
Suara yang sudah tidak asing lagi membuat Laila dengan mudah mengenalinya. Dengan senyum ceria Laila segera menyambut chef. Ia senang akhirnya Chef bisa masuk dan menemaninya.
Chef sendiri sengaja tidak jadi libur karena tahu Bagus sedang ke Jakarta. Jadi menurut Chef, ia tidak perlu khawatir saat kerja bersama dengan Laila. Tidak ada mata yang mengawasi mereka.
__ADS_1
"Seneng banget jadi ada temennya," ucap Laila.
Chef merasa Laila kembali menjadi Laila yang ia kenal sebelumnya. Tidak seperti ada Bagus. Laila terlihat seperti banyak beban. Mungkin chef bisa merasakan bahwa Laila tidak mencintai Bagus. Meskipun Chef tidak tahu dalam hati Laila seperti apa.
"Nanti pulang dari sini mau mau kemana?" tanya chef.
"Pulang ke rumah aja sih," jawab Laila.
"Saya anter ya!" ucap Chef.
"Boleh. Seklian nanti kita masak ya di rumah. Kebetulan kemarin saya belanja sayuran. Lumayan ada stok di rumah," jawab Laila.
Chef tersenyum saat mendapat respon baik dari Laila. Ia senang akhirnya bisa kembali main ke rumah Laila. Setelah beberapa hari terakhir hanya Bagus yang menguasai rumah kontrakan Laila.
"Aduh aduhh, siapa ini?" tanya Bu Rini saat melihat Chef duduk di depan teras rumah Laila.
"Saya temannya Laila, Bu." Chef mengenalkan dirinya.
"Oh temennya. Kalau mau main jangan lama-lama ya. Gak enak sama tetangga," ucap Bu Rini.
Bu Rini yang tidak ingin ada laki-laki lain di rumah kontrakan Laila membuat chef tidak betah. Apalagi saat Chef diminta masuk oleh Laila. Bu Rini pun segera ikut masuk dan merecoki mereka berdua.
"Hasna, Papanya kemana kok gak main ke sini sih?" tanya Bu Rini dengan suara yang cukup keras hingga terdengar ke dapur.
Chef menatap Laila. Namun Laila menggelengkan kepalanya. Hanya berusaha menjelaskan dengan kode bahwa Bu Rini memang biasa bersikap seperti itu. Sayangnya chef sangat peka. Ia tidak nyaman dengan sikap Bu Rini. Hingga selesai masak, Chef segera pamit tanpa makan bersama dengan Laila dan kedua keponakannya.
"Chef, maaf ya. Jangan diambil hati," ucap Laila.
"Iya gak apa-apa. Saya pulang dulu ya," pakit chef.
"Bu Rini ini ada-ada aja. Bikin chef gak betah. Padahal udah lama gak main ke sini," ucap Laila geram.
Laila segera masuk dan menutup pintu rumahnya. Ia kembali bermain dengan dua keponakannya. Dibalik kekesalan Laila, ada Bagus yang tengah berbahagia dengan laporan Bu Rini saat ini.
"Maaf Laila, tapi aku gak bisa biarin si tukang masak itu ganggu kamu. Jangan mentang-mentang aku gak ada, kalian bisa enak-enakan berdua. Gak bisa," ucap Bagus.
Selama seminggu di Jakarta, Bagus merasa sudah sangat lama. Ia bahkan berkali-kali menghubungi Laila dengan berbagai alasan. Ia mencoba mencari banyak alasan agar Laila bisa bicara dengannya.
"Laila, seminggu ke depan aku mau setiap hari kamu laporan tentang perkembangan pembangunan toko kuenya," ucap Bagus.
"Tiap hari? Saya harus kirimin fotonya apa gimana Pak?" tanya Laila.
"Video call. Tiap hari kamu harus video call sama aku. Kamu tunjukkin perkembangannya," ucap Bagus.
"Tapi kan jarak rumah saya ke lokasinya cukup jauh. Masa saya harus tiap hari ke lokasi? Dua hari sekali gimana?" tanya Laila.
"Tiap hari Laila. Kamu bisa naik ojek. Nanti aku bayar pas aku ke sana. Kamu hitung aja berapa ongkosnya," ucap Bagus.
Laila hanya bisa pasrah. Ia harus mengikuti semua keinginan Bagus. Namun Laila selalu berusaha mencari sisi positif dari semua yang dijalaninya. Meskipun kadang Laila lelah dengan jalan hidupnya.
Sabar Laila, nanti kan kalau toko kuenya udah beres kamu juga seneng. Kamu bisa kerja sesuai sama apa yang kamu mau. Semangat Laila. Biarin Pak Bagus bikin kamu kesel, nikmatin aja.
__ADS_1
Laila berusaha tersenyum ditengah perintah Bagus yang membuatnya jengkel. Namun saat melihat Hasna dan Kayla, Laila merasa tidak ada yang perlu dianggap beban. Apa yang dilakukan Bagus sebenarnya akan menjamin masa depan Hasna dan Kayla. Jabatan dan pekerjaan Laila nantinya akan membuat ekonomi stabil. Artinya Hasna dan Kayla tidak akan merasa kekurangan lagi.
Bagus yang tidak bisa ke Surabaya karena banyak pekerjaan di Jakarta masih bisa melihat Laila setiap hari. Meskipun hanya dalam video call, namun Bagus cukup senang. Ia berharap urusannya di Jakarta bisa segera selesai. Dengan begitu, ia bisa kembali ke Surabaya dan bersama dengan Laila.
Sayangnya dua minggu tidak cukup. Bagus bahkan harus menambah durasi kerinduannya selama seminggu ke depan. Kegelisahan Bagus rasakan saat Laila mulai sulit membalas pesannya. Di saat yang bersamaan, ia mendapat tekanan dari Winari.
Berkali-kali Winari memamerkan kemesraannya dengan laki-laki itu. Cemburu? Tidak. Bagus sama sekali tidak cemburu. Sudah hilang semua perasaannya pada Winari. Kekesalannya pada Winari adalah saat ia merasa berhasil dibodohi. Apalagi saat Winari selalu mengejeknya karena sampai saat ini masih setia dengan status dudanya.
Bagus dengan sengaja memamerkan kedekatannya dengan Laila. Beberapa foto Laila saat memilih pakaian di butik ternama di Surabaya di upload. Winari cukup terusik. Ia bahkan menyebut Laila hanya menguras dompetnya saja. Namun Bagus hanya membalas pesan itu dengan puas.
'Aku sudah terbiasa dengan wanita sepertimu. Uangku masih terlalu banyak, jadi gak perlu khawatir kalau Laila hanya akan menguras dompetku. Tapi aku rasa, Laila berbeda denganmu.'
Balasan yang cukup membuat Winari kesal dan mengumpat. Mencoba menghubunginya namun dengan sengaja Bagus menolak panggilan Winari. Belum reda kemarahan Winari, Bagus kembali mengupload sebuah foto.
Laila yang tengah memantau lahan kosong terlihat begitu cantik. Sebuah caption pun ditulis Bagus. Ia mengumumkan jika lahan itu akan menjadi toko kue terbesar di Surabaya. Semua itu Bagus lakukan demi cita-cita Laila, yang ia akui sebagai calon istrinya.
Alih-alih hanya pamer dan memanas-manasi Winari, ternyata kabar itu menyebar dan menuntut penjelasan. Dengan sangat meyakinkan, Bagus mengakui Laila sebagai calon istrinya. Ia juga mengiyakan semua berita yang menyebar.
Laila yang tidak tahu apa-apa dipaksa untuk mengiyakan. Ia pun hanya mengikuti alur yang dimainkan Bagus. Bahkan Bagus berencana membawa Laila ke Jakarta bulan depan. Tujuannya hanya untuk menjawab rasa penasaran atas kabar yang dicuatkan oleh dirinya sendiri.
"Tapi Hasna sama Kayla gimana? Mereka kan sekolah," ucap Laila.
"Nanti ada Bi Sumi yang ngurus mereka. Kamu tenang aja," ucap Bagus.
Seperti yang sudah direncanakan, Bagus ke Surabaya saat urusannya di Jakarta selesai. Bertemu kembali dengan Laila. Meskipun sebenarnya tujuan Bagus untuk mengontrol perkembangan pembangunan toko kue, namun Bagus lebih tertarik untuk bertemu dengan Laila.
Bu Rini yang sudah mendapat sogokan ternyata berhasil membuat Laila aman dari gangguan chef. Tentu sebagai imbalannya, Bagus membawakan oleh-oleh untuk Bu Rini. Permainan Bagus sangat rapi hingga Laila tidak tahu kerja sama yang terjalin diantara keduanya.
"Sore Laila," sapa Bagus.
"Bapak udah di Surabaya lagi?" tanya Laila sedikit terkejut.
"Kenapa? Gak suka?" tanya Bagus.
"Gak Pak. Saya kan cuma nanya aja," jawab Laila.
Bagus punya waktu satu minggu di Surabaya. Setelah itu ia akan pergi ke Jakarta dengan Laila. Tidak lama, hanya dua sampai tiga hari lalu Laila akan kembali ke Surabaya. Ada Hasna dan Kayla yang tidak bisa ditinggalkan terlalu lama.
"Pak, janji ya cuma dua sampai tiga hari aja. Saya khawatir sama mereka," ucap Laila.
"Astaga Laila, iya. Berapa kali aku bilang iya. Kamu jangan khawatir. Aku gak pernah ingkar janji," ucap Bagus.
Selama seminggu Laila benar-benar menikmati hari-harinya dengan Hasna dan Kayla. Sesekali Laila memberi tahu tentang rencananya ke Jakarta. Mereka berdua mengerti saat Laila mengatakan jika keberangkatannya ke Jakarta untuk bekerja.
"Mama hati-hati kerjanya. Semangat," ucap Hasna.
Laila tersenyum saat mendapat dukungan dari Hasna dan Kayla. Walaupun ada sedikit rasa bersalah karena ia berbohong. Laila tidak bekerja. Ia hanya mengikuti keinginan Bagus untuk sandiwara.
Tidak terasa satu minggu sudah berlalu. Laila harus pergi ke Jakarta. Pertama kalinya Laila harus berpisah dengan Hasna dan Kayla. Bi Sumi memang akan menggantikan peran Laila selama Laila tidak di rumah, namun mereka merasa ada sesuatu yang berbeda.
Tangisan Hasna mengantarkan Laila ke Jakarta. Membuat Laila menangis saat berangkat. Hal itu membuat Bagus merasa bersalah namun sayangnya ia tidak bisa membatalkan rencananya untuk membawa Laila ke Jakarta.
__ADS_1
"Hasna, Kayla, Papa bawa Mama Laila ke Jakarta ya! Gak lama kok," ucap Bagus.
Itu adalah ucapan Bagus pada Hasna dan Kayla sebelum mereka berpisah. Bi Sumi yang tidak tahu apa-apa hanya bisa membulatkan bola matanya saat mendengar ucapan Bagus. Dengan begitu santai Bagus pamit layaknya seorang ayah pada anaknya. Padahal setahu Bi Sumi, Bagus adalah duda yang belum mempunyai anak.