
Tidak ingin berlarut dalam kesedihan dan penyesalannya, Chef mengajak Laila untuk kembali fokus dengan pekerjaan mereka. Laila hanya menurut saja. Hingga akhirnya Bagus menemuinya saat jam istirahat.
"Selamat siang calon istriku," sapa Bagus.
Laila dan Chef yang baru saja duduk langsung melihat ke arah sumber suara. Nampak Bagus yang berdiri di ambang pintu membawa sebuah minuman kaleng.
"Bapak ngapain di sini?" tanya Laila.
"Kok ngapain di sini? Ya mau ketemu sama calon istriku dong," jawab Bagus dengan penuh percaya diri.
Sebenarnya itu semua Bagus lakukan hanya untuk pemberitahuan pada Chef bahwa mulai hari itu, Laila sudah tidak sendiri lagi. Melihat sikap Bagus yang tidak direspon Laila, Chef menahan tawa. Tak terima ditertawakan chef, Bagus segera menarik tangan Laila dan menggandengnya. Membawanya pergi dari sana.
"Pak, Pak, aduh ini sakit." Laila berusaha melepaskan diri dari Bagus.
Bagus melepaskan Laila dan menatapnya lekat. Membuat Laila menunduk karena tak kuat menatap bola mata Bagus. Marah dan kecewa di hati Bagus membuat laki-laki berstatus duda itu mengepalkan tangannya lalu pergi.
"Pak, Pak," panggil Laila.
Laila segera mengejar Bagus dan menggenggam tangannya. Saat belum menatap wajah Laila, Bagus sempat tersenyum. Ia senang jika akhirnya Laila peka dan menyadari kesalahannya.
"Bapak kok jadi ambekan begini sih? Saya jadi mikir apa iya calon suami aaya kayak bocah begini?" ucap Laila.
Senyuman Bagus menghilang tanpa jejak. Menyisakan kerutan di dahinya hingga ia harus menggelengkan kepalanya. Ternyata Bagus salah menduga, Laila tidak peka sama sekali.
"Terserah," ucap Bagus.
"Kok terserah?" tanya Laila.
"Ya terserah kamu mau nganggap aku bocah atau ambekan juga. Memang susah kalau sama perempuan lempeng kayak kamu," ucap Bagus sambil mendengus kesal.
Laila mengerucutkan bibirnya. Ia menatap bagian bokongnya sendiri lalu memegang bagian dadanya. Bagus semakin bingung melihat sikap Laila.
"Ngapain kamu begitu-begitu?" tanya Bagus.
"Iya Pak saya memang lempeng. Gak kayak perempuan Jakarta," jawab Laila.
"Maksudnya?" tanya Bagus.
"Ya perempuan Jakarta kan gak lempeng kayak saya Pak. Mirip biola, gitar spanyol." Laila menjawab dengan penuh rasa insecure.
"Astaga Laila. Kenapa jadi ke situ sih? Ah, pusing aku sama kamu." Bagus menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berlalu pergi meninggalkan Laila.
Laila mengerutkan dahinya lalu berjalan lebih cepat agar bisa mengimbangi langkah Bagus. Sampai akhirnya Laila mengikuti Bagus ke ruangan Pak Jacob.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Bagus.
"Memangnya tidak boleh ya calon istri ngikutin calon suaminy?" ucap Laila sambil tersenyum.
__ADS_1
Bagus menatap Laila. Tiba-tiba dadanya berdebar. Ah, ucapan manja Laila membuatnya benar-benar berbunga. Bagus tidak menyangka jika akhirnya Laila bisa gombal juga.
"Begitu dong. Jangan bikin aku kesel," ucap Bagus.
"Iya tapi Bapak jangan marah-marah ya sama aku. Nanti cepet tua. Kasian anak kita bingung ini bapaknya apa kakeknya," ucap Laila sambil tertawa.
Keadaan yang membuat Bagus hanya bisa mematung. Di satu sisi, Bagus senang saat Laila membahas tentang anak. Artinya apa yang Bagus harapkan memang sama dengan apa yang dipikirkan Laila.
Meskipun Bagus sudah menganggap Hasna dan Kayla anaknya, namun sejujurnya Bagus juga berharap jika ia masih ingin memiliki anak kandung dari Laila. Darah dagingnya sendiri. Tapi candaan Laila benar-benar menamparnya.
Usia Bagus dan Laila memang terpaut lumayan. Apalagi badan Laila yang kecil dan imut, sedangkan perut Bagus sendiri sudah mulai membuncit. Memang kenyataannya mereka terlihat berbeda dari segi umur.
Kamu lihat saja nanti Laila. Pulang ke Jakarta aku mau diet dan olahraga. Nanti pas pulang ke Surabaya kamu udah kelepek-kelepek sama aku.
"Pak, kok bengong? Becanda saya garing ya? Maaf ya Pak. Saya cuma berusaha mencairkan suasana aja," ucap Laila.
"Hemm," ucap Bagus.
Belum reda kemarahan Bagus, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari kantornya yang meminta Bagus segera kembali ke Jakarta. Dengan berat hati, Bagus pamit pada Laila.
"Tapi Bapak gak marah lagi kan sama saya?" tanya Laila.
"Iya. Aku titip proyek toko kue ya!" ucap Bagus.
"Pak, maksudnya titip itu gimana?" tanya Laila.
"Ya kamu kali-kali kalau ada waktu luang lihat ke sana. Itu kan toko buat masa depan kita juga," jawab Bagus.
"Hati-hati ya Pak," ucap Laila.
Bagus mengangguk. Ingin sekali memeluk dan mengecup dahi Laila. Bersikap romantis layaknya pasangan kekasih dalam drama korea. Tapi perempuan di hadapannya adalah Laila. Tidak bisa Bagus samakan dengan drama korea. Kenyataannya akan terlalu jauh berbeda. Bagus hanya mengusap kepala Laila dengan penuh kasih sayang.
Setelah Bagus pergi, Laila kembali melanjutkan pekerjaannya. Meskipun setelah kejadian itu, Chef menjadi sangat berubah. Sikapnya jauh lebih dingin. Tapi tak apa-apa. Laila sangat mengerti. Ini hanya soal waktu saja. Ia yakin seiring berjalannya waktu, semua akan kembali baik-baik saja.
"Chef, saya pulang duluan ya!" ucap Laila.
"Iya," jawab Chef datar.
Laila pulang tanpa mempermasalahkan sikap Chef. Baginya semua adalah resiko yang harus dihadapinya. Namun rasa kecewa itu muncul saat sedang berjalan kaki, Chef melewatinya dan hanya menyalakan klakson saja. Tidak basa basi untuk mengajaknya seperti biasa.
"Sabar Laila, sabar." Laila mengusap dadanya dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Saat Laila sampai ke rumah, ia melihat Hasna dan Kayla tengah makan jajanan yang tidak ada di warung sekitar.
"Jajan dari mana kalian?" tanya Laila.
"Dikasih Papa," jawab Hasna sambil asyik menikmati cemilannya.
__ADS_1
"Papa gak ada. Pulang ke Jakarta," ucap Laila.
"Tadi Pak Bagus ke sini dulu, La. Pamit sama anak-anak," jawab Bi Sumi.
Hah? Pamit pada anak-anak? Artinya Bagus memang sudah menganggap Hasna dan Kayla adalah anaknya. Padahal Laila melihat jika Bagus terburu-buru tadi.
Merasa sikap Bagus sangat manis, Laila mengirim foto Hasna dan Kayla yang menikmati jajanan pemberiannya. Ia berterima kasih atas perhatian dan ketulusan Bagus ada kedua keponakannya.
Sayangnya pesan Laila tidak mendapat respon sama sekali. Bahkan sampai dua hari, ponsel Laila sepi. Tidak ada panggilan atau sekedar pesan dari Bagus.
Laila mencoba mencari kesibukan agar tidak kepikiran. Ia pergi ke lokasi toko kue. Melihat perkembangan proyek itu. Tak lupa mengabadikan momen itu dan mengirimnya pada Bagus.
Masih sama, Laila tidak mendapat respon apapun. Sampai akhirnya Laila berusaha menghubungi Bagus. Tidak ada jawaban. Laila menatap layar ponselnya. Ada apa? Beberapa pertanyaan berputar di kepala Laila.
"Pak Bagus kemana sih?" tanya Laila.
Laila mencoba membuka beberapa aplikasi sosial media di ponselnya. Ia mencari tahu update terbaru Bagus. Tapi tidak ada update apapun. Laila mengernyitkan dahinya. Kemana Bagus sebenarnya?
Apa jangan-jangan dia kabur ya? Pura-pura ngelamar padahal cuma ngerjain? Jahat banget sih?
Dengan perasaan kecewa, Laila kembali ke rumah. Hanya Hasna dan Kayla yang membuat pikirannya sedikit tenang. Kejadian ini terus berlarut hingga seminggu. Sampai akhirnya Bi Sumi segera mengajak Laila untuk ke Jakarta.
"Mau ngapain Bi?" tanya Laila.
"Pak Bagus, La. Pak Bagus," jawab Bi Sumi.
"Pak Bagus kenapa?" tanya Laila panik.
"Kamu lihat sendiri aja nanti," jawab Bi Sumi.
"Bi, jangan bikin aku khawatir," ucap Laila.
Meskipun Bi Sumi tidak mendengar langsung dari Laila tentang lamaran itu, namun Bi Sumi sudah mengetahuinya dari Bagus. Dengan kepanikan Laila, Bi Sumi yakin jika Laila memang benar-benar mencintai Bagus. Terlihat jelas Laila takut kehilangan majikannya itu.
"Ayo kita berangkat aja!" ucap Bi Sumi.
Bukan hanya Laila, Hasna dan Kayla pun ikut ke Jakarta. Mereka pergi menemui Bagus yang keadaannya masih di rahasiakan. Bahkan saat sampai ke Jakarta, Laila bingung saat tidak bertemu dengan Bagus.
"Pak Bagusnya mana Bi?" tanya Laila.
"Kita istirahat dulu. Besok baru kita ketemu Pak Bagus," jawab Bi Sumi.
"Tapi Bi, tujuan kita ke Jakarta buat ketemu Pak Bagus. Sekarang aja," ucap Laila.
"Besok La. Kasihan Hasna dan Kayla. Mereka pasti cape," ucap Bi Sumi.
Ingin sekali Laila protes pada Bi Sumi. Tapj saat melihat Hasna dan Kayla, Laila menyerah. Mereka memang terlihat lelah. Perjalanan Surabaya-Jakarta tidak dekat. Laila berusaha mengerti keadaan. Walaupun ia harus menghabiskan malam dengan penuh rasa khawatir. Sesekali tangannya mengusap Hasna dan Kayla bergantian.
__ADS_1
"Doakan Papa ya. Semoga ketakutan Mama gak jadi kenyataan. Semoga semuanya baik-baik saja," gumam Laila.
Bapak kemana sih? Kenapa sampai hilang kontak selama seminggu begini? Giliran ada kabar ke Bi Sumi, beritanya gak jelas. Aku kan jadi khawatir.