
Setelah merencanakan semuanya, Winari mengajak suaminya pergi. Mematangkan semua rencananya. Mengatur strategi agar semua terjadi sesuai rencana. Harapan kehancuran Bagus dan Laila sudah begitu besar. Bahagia sudah di depan mata.
"Tapi kamu gak cemburu sama mantan suamimu kan?" tanya suami Winari.
Cemburu? Tidak mungkin Winari mengakui rasa yang membakar dadanya saat melihat Bagus bahagia dengan Laila. Tapi memang itu kenyataannya. Ia tidak bisa menerima kenyataan jika Laila adalah kebahagiaan Bagus saat ini.
Winari merasa Laila sangat berbeda dengannya. Tidak seharusnya Bagus bahagia dengan Laila. Namun kenyataannya memang seperti itu. Dan hal itu tidak bisa diterima Winari begitu saja. Apa yang dilakukan Winari bukan semata-mata demi uang. Ia juga ingin melihat Bagus menyesal karena sudah menikahi Laila.
Tanpa sepengetahuan suaminya, Winari ternyata masih menyimpan sedikit rasa untuk Bagus. Rasa yang semakin lama semakin besar karena keadaan ekonomi suaminya yang semakin menurun. Sementara setelah menikah dengan Laila, Bagus justru terdengar semakin mapan.
"Kapan rencananya akan dijalankan?" tanya suaminya.
"Secepatnya," jawab Winari.
Winari merencanakan semua kejadian itu. Tidak ingin jejaknya diketahui, Winari dan suaminya segera kembali ke Jakarta. Untuk menghilangkan jejak, Winari meninggalkan Surabaya sebelum kejadian itu.
Seorang pria suruhan Winari nampak mengunjungi rumah kontrakan Laila. Berpura-pura menjadi orang baru yang mencari rumah kontrakan. Laila yang ramah menyambut baik orang yang baru dikenalnya itu. Bahkan Laila menyambut baik uluran tangan pria itu sangat mengajak Laila bersalaman.
Tanpa Laila ketahui, jika ada pria lain yang mengabadikan setiap gerak gerik keduanya. Sebuah foto yang tidak menjelaskan kenyataan sebenarnya, sudah berhasil diamankan orang itu. Banyak posisi yang terlihat mereka terlihat dekat dan sangat akrab. Orang-orang suruhan Winari sudah tahu betul apa yang harus mereka lakukan.
Laila yang tidak menyimpan curiga sama sekali terlihat santai. Ia bahkan tidak tahu bahwa terjadi keributan di toko kue. Kebakaran itu nyaris terjadi. Api sudah berkobar di salah satu sudut bangunan yang belum selesai. Beruntung api cepat padam. Kedua orang itu segera melarikan diri.
Saat laporan pada Winari, terdengar cacian penuh kemarahan. Namun Winari tidak mau rencana ini gagal. Ia meminta orang itu menemui Laila dan menunjukkan foto yang seolah-olah dibuat begitu akrab bahkan terlihat mesra.
"Astaga. Saya bahkan tidak mengenal laki-laki itu, Pak." Laila terkejut saat seorang laki-laki menunjukkan fotonya dengan laki-laki lain.
__ADS_1
"Anda tahu bukan kalau sampai foto ini sampai kepada suami Anda?" ancam laki-laki itu.
Laila terlihat gemetar. Ia sama sekali tidak melakukan apapun. Ketakutannya adalah saat foto itu terlihat begitu nyata. Terbayang bagaimana kecewanya Bagus saat melihat foto itu. Bayangan kehancuran rumah tangganya sudah di depan mata. Laila menangis terisak. Apalagi saat laki-laki itu meminta tebusan dengan jumlah uang yang lumayan.
"Tapi saya gak punya uang sebanyak itu," ucap Laila.
"Saya dengar juga toko sempat mengalami kebakaran. Bagaimana kalau pelaku itu mengaku sebagai selingkuhan anda saja pada Pak Bagus? Saya rasa Anda tahu apa yang akan terjadi," ancam laki-laki itu.
Laila merasa hidupnya hancur. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain menangis saat ini. Apalagi saat laki-laki itu memberinya waktu dua kali dua puluh empat jam untuk menyiapkan uang yang diinginkannya.
"Bu, kenapa?" tanya Bi Sumi saat baru pulang dari pasar.
Laila segera mengelap air matanya. Ia tidak mau bi Sumi tahu dan melaporkan apa yang terjadi pada Bagus. Ia takut Bagus salah paham. Karena pada akhirnya Laila menyadari jika semua terjadi karena kelengahannya. Ia sama sekali tidak menyadari jika laki-laki yang menanyakan kontrakan itu memiliki niat jahat padanya.
"Bu, kalau ada apa-apa cerita sama saya aja. Jangan dipendam sendirian ya!" ucap Bi Sumi.
"Apa jangan-jangan Ibu lagi kangen sama Pak Bagus ya?" goda Bi Sumi.
"Iya Bi," jawab Laila yang berusaha menutupi kegelisahannya.
Kangen? Tentu Laila sangat merindukan Bagus. Namun saat ini, bukan kerinduan yang membuatnya sedih. Rasa bersalah yang begitu besar saat ia tidak bisa menjaga harga diri suaminya. Laila sama sekali tidak berselingkuh. Tapi apa yang dilihatnya dalam foto itu seolah-olah menggambarkan hal itu.
Laila berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Bi Sumi. Apalagi saat Hasna dan Kayla memeluknya dan mengajaknya bermain. Setidaknya bersama kedua keponakannya, Laila sedikit melupakan masalah yang tengah dihadapinya.
Sampai tiba-tiba Laila dibuat lemas saat nomor baru menghubunginya. Nomor laki-laki yang meminta uang padanya. Laila dibuat gelisah kembali. Satu panggilan dilewatkan oleh Laila begitu saja. Sampai akhirnya sebuah pesan berisi ancaman diterima Laila. Panggilan kedua, Laila segera mencari tempat yang aman.
__ADS_1
Laila tidak mau jika Bi Sumi sampai tahu apa yang terjadi. Kesalahpahaman yang terjadi benar-benar akan membuat rumah tangganya berantakan. Apalagi Bi Sumi dan Bagus sangat percaya padanya.
"Ada apa lagi?" tanya Laila dengan suara sepelan mungkin.
Laki-laki itu mendesak Laila untuk segera mengirimkan uang yang sudah ditentukan nominalnya. Nominal yang sangat besar dan tidak mungkin Laila penuhi. Laila tidak punya pilihan selain bersikeras dengan keputusannya.
"Saya gak punya uang sebanyak itu," jawab Laila.
Laki-laki itu tidak percaya. Ia meyakinkan Laila jika uang yang dimintanya kurang dari sepuluh persen harta yang dimiliki Bagus. Sebenarnya Laila memegang sebuah kartu yang diberikan Bagus padanya. Ia juga yakin kalau isinya akan cukup untuk memenuhi keinginan laki-laki yang mengancamnya. Namun Laila tidak siap jika suatu saat nanti Bagus akan tahu.
"Bu," panggil Bi Sumi.
Saat mendengar panggilan dari Bi Sumi, Laila segera mengakhiri panggilan dari laki-laki itu. Setelah Laila menghampiri Bi Sumi dan bicara dengannya, Laila kembali dibuat pusing saat melihat pesan yang penuh dengan ancaman.
Semalaman Laila dibuat gelisah dengan pesan ancaman yang terus diterimanya. Laila benar-benar hanya bisa menangis saat ini. Apalagi saat Bagus sama sekali tidak menghubunginya malam ini.
Setelah jam delapan malam, Laila mengirim pesan pada Bagus. Bagus segera menelepon Laila saat mendapat pesan dari Laila. Perasaan tenang saat mendengar suara Bagus. Banyak hal yang Bagus ceritakan tentang pekerjaannya. Laila mendengarkan dan ikut berkomentar.
Ingin sekali Laila menceritakan apa yang terjadi padanya. Namun sayangnya Bagus tidak memberi jalan untuk membahas tentang hal itu. Padahal biasanya Bagus membahas materi tentang Winari. Tapi saat ini Bagus benar-benar tidak menyinggung hal itu sama sekali.
"La, kamu kok diem aja sih? Sakit?" tanya Bagus.
"Ah, gak kok Mas. Aku baik-baik aja," jawab Laila.
Sepertinya Bagus bisa melihat Laila yang tidak seperti biasanya. Setelah laki-laki itu menerornya, Laila memang merasa ada beban yang sangat besar. Beban yang sama sekali tidak bisa dibicarakan pada siapapun.
__ADS_1
Mau tidak mau, Laila menyimpan semua beban ini sendirian. Laila tidak tahu cara menyelesaikan masalah ini. Namun ia tidak punya keberanian untuk menceritakan semua ancaman dari laki-laki itu. Laila yakin jika semua ini adalah rencana Winari. Namun tidak ada bukti yang bisa ditunjukkan Laila pada Bagus. Apalagi Laila sudah merasa drop dengan foto yang dibuat seolah menyudutkannya.