
Setelah penawaran Bu Herlin, Laila menjadi tidak enak hati setiap bertemu dengan Bu Indah. Ada rasa yang mengganjal di hatinya. Sementara ini Laila ingin menjelaskan sesuatu yang entah dari mana harus memulai.
"Bu Indah jadi marahan gak ya sama Bu Herlin?" gumam Laila.
Pintu kamar terbuka, Laila segera menatap kedatangan orang yang membuka pintunya tanpa permisi.
"Syukurlah kamu udah siap. Ayo berangkat bareng!" ajak Bu Indah.
"Iya Bu," jawab Laila.
Selama ini Laila tidak pernah tahu kemana Bu Indah pergi. Setahu Laila, Bu Indah selalu keluar karena ada urusan. Urusan apa dan dengan siapa, Laila sama sekali tidak tahu.
"Nanti pulangnya dijemput sama Bu Herlin. Dia mau nunjukkin toko kue itu sama kamu," ucap B Indah saat perjalanan menuju sekolah.
Laila menatap Bu Indah dengan tatapan bingung. Apa yan diucapkan Bu Indah pagi ini, berbanding terbalik dengan ucapannya semalam. Padahal Bu Indah seolah meyakinkan Laila agar tidak menerima tawaran Bu Herlin. Tapi tanpa pembicaraan apapun, tiba-tiba Bu Indah seolah meminta Laila menyetujui permintaan Bu Indah.
"Ibu serius?" tanya Laila.
"Iya. Menurutku, dia tulus menyayangimu. Bukan maksudku untuk memberikan masa depanmu sama dia, tapi aku rasa selama itu baik buat kamu kenapa gak? Dia punya cukup link untuk urusan kue. Sementara aku?" ucap Bu Indah.
"Ibu yakin?" tanya Laila.
"Kenapa? Apa aku terlihat tidak meyakinkan?" tanya Bu Indah.
"Bu, maaf kalau saya lancang. Saya gak mau kalau tawaran Bu Herlin membuat ibu tidak nyaman. Bagi saya, urusan impian saya membuka toko kue itu urusan belakangan. Sembari saya mengumpulkan ilmunya, saya juga nabung kok bu. Saya punya simpenan buat wujudin impian saya," ucap Laila.
"Simpenan? Dari mana kamu punya uang?" tanya Bu Indah.
"Apa ibu lupa kalau setiap bulan ibu ngasih uang ke saya?" tanya Laila.
Bu Indah tertawa. Uang yang diberikan Bu Indah selama ini dikumpulkan oleh Laila. Sebagian ada yang dikirimkan pula untuk keponakannya. Berapa tabungan yang bisa Laila hasilkan sampai lulus nanti?
"Kok ibu ketawa sih? Saya serius loh Bu," ucap Laila.
"Kamu ngumpulin uang berapa? Kamu pikir modal buat toko kue itu berapa?" tanya Bu Indah sambil menggelengkan kepalanya.
"Bu, uang yang ibu kasih ke saya tiap bulan itu bisa dijadikan modal loh. Buat tokonya, saya bisa punya toko online. Ngumpulin dulu uang yang banyak baru buka toko yang besar di daerah yang ramai," ucap Laila.
__ADS_1
Bu Indah menatap Laila. Apa yang Laila pikirkan tidak salah. Sebenarnya yang salah hanya pemahaman mereka tentang impian Laila saja. Bagi Bu Indah, impian Laila membuka toko kue adalah sebuah toko besar dan ternama. Dimana kue itu dijual untuk kalangan menengah ke atas. Dimana kondisi itu akan membuat Laila menjadi seorang wanita pembisnis seperti dirinya.
"La, ini Jakarta. Kalau kamu cuma jualan kue online harga segitu, cukup buat apa? Aku ingetin ya sama kamu sekali lagi, ini Jakarta. Semua serba butuh uang," ucap Bu Indah.
Maaf La, aku harus melakukan ini. Aku hanya takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Tapi aku janji akan membantu mewujudkan mimpi terbesarmu.
Laila terdiam. Benar kata Bu Indah. Karena selama ini ia hanya tinggal dengan Bu Indah, ia tidak tahu biaya per bulan yang harus dikeluarkannya berapa. Rumah kontrakan, listrik, air, mungkin bisnis online untuk pemula tidak akan mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
"Udah sampai. Sekolah yang bener ya!" ucap Bu Indah.
"Iya Bu," ucap Laila.
Tidak lupa Laila mencium tangan Bu Indah. Kebiasaan yang sudah diterapkan Laila semenjak bertemu dengan wanita baik yang sudah menggantikan peran Bu Rini selama hampir dua tahun ini.
Setelah Laila turun di depan sekolah, mobil kembali melaju. Rumah Bu Herlin menjadi tujuan Bu Indah saat ini. Mereka sudah janjian sebelumnya. Hingga saat Bu Indah ke sana, Bu Herlin sudah menyiapkan jamuan untuk kedatangan sahabatnya itu.
"Maaf telat ya," ucap Bu Indah.
"Ah, gak kok. Santai aja. Kita bukan mau bisnis kan? Ini hanya pertemuan persahabatan aja. Kita ngumpul buat bahas masa depan anak baik, Laila." Bu Herlin menegaskan pertemuan mereka pagi itu.
Ya, benar kata Bu Herlin. Mereka bertemu hanya untuk membahas masa depan Laila. Padahal mereka berdua tahu jika Laila bukan siapa-siapa dan tidak ada hubungan apapun sebelumnya dengan mereka. Namun ketulusan Laila dan selalu apa adanya membuat mereka merasa peduli pada remaja kelas dua SMK itu.
Sama halnya seperti Laila, Bu Herlin cukup terkejut dengan pesan singkat yang diterimanya tadi pagi. Padahal barus semalam Bu Indah meminta maaf karena tidak bisa mengizinkan Laila untuk kerja sama dengan Bu Herlin.
"Anakku menghubungiku tadi malam. Dia datang lagi setelah pergi lama," jawab Bu Indah.
Seketika keadaan menjadi hening. Anakku? Anak Bu Indah hanya satu dan itu pun sudah pergi sejak lama. Ya, Bu Herlin paham alasan Bu Indah mengubah semua rencananya.
"Jangan khawatir. Anakmu kembali bukan berarti kamu akan kehilangan Laila. Ada aku di sini," ucap Bu Herlin.
Bu Herlin meyakinkan Bu Indah jika suatu saat anak Bu Indah kembali dan tidak terima dengan kehadiran Laila di rumah itu, maka Laila akan aman bersamanya. Tanpa bermaksud mengambil Laila dari Bu Indah, Bu Herlin hanya akan membantu Laila mewujudkan impiannya. Bu Herlin juga mengingatkan dan meyakinkan Bu Indah, jika Laila bukan anak yang bisa dengan mudah melupakan kebaikan orang. Apalagi Bu Indah sudah berbuat banyak hal untuk Laila.
"Bukan soal nominal dan financial, aku cuma takut kehilangan kasih sayang Laila yang begitu tulus. Aku juga takut kehilangan Laila yang selalu bikin happy setiap kali kita ngobrol," ucap Bu Indah.
Bu Herlin segera memeluk Bu Indah. Berusaha menenangkan Bu Indah dari segala ketakutan yang ada. Bu Indah memang sangat mengharapkan kepulangan anaknya ke rumah itu. Bahkan Bu Indah sudah berusaha merelakan tentang pilihan anaknya meskipun sangat menyakitkan untuknya. Namun kebersamaan Bu Indah dengan Laila dua tahun ini terlalu berkesan jika harus disudahi begitu saja.
Bu Herlin sangat paham maksud Bu Indah tanpa harus menjelaskan dengan rinci. Apalah arti financial dan nominal untuk wanita yang sudah serba berkecukupan seperti Bu Indah. Yang Bu Indah butuhkan adalah teman dan ketulusan. Dan semua itu bisa diberikan oleh Laila.
__ADS_1
"Jangan terlalu berpikir buruk. Siapa tahu anakmu bisa menerima kehadiran Laila," ucap Bu Herlin.
Bu Indah tersenyum miris. Itu adalah harapan dan sepertinya hanya akan menjadi sebuah harapan. Ia tahu bagaimana karakter anaknya. Kemungkinan terbesarnya adalah kecewa. Anaknya akan berpikir jika selama ini Bu Indah tidak mencarinya. Parahnya, Bu Indah akan dituduh malah mencari pengganti dibanding mencari dan membujuknya untuk kembali.
Ah, pikiran buruk itu sudah memenuhi ruang kepalanya sejak semalam. Sejak anaknya memberi kabar padanya, semua sudah berubah. Kacau. Tidak seperti rencananya. Bahkan Bu Indah bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa ia tidak bisa bahagia sepenuhnya saat anaknya mencoba menghubunginya kembali?
"Kapan dia kembali?" tanya Bu Herlin.
Bu Indah menggelengkan kepalanya. Ya, anak itu memang tidak memberikan kabar jika ia akan kembali. Karena saat menghubunginya, yang dilakukan anaknya hanya meminta sejumlah uang untuk bertahan hidup. Itu saja. Dan mungkin hal itu juga yang membuat Bu Indah merasa tidak bahagia saat anaknya kembali masuk dalam hidupnya.
"Bukan berarti dia akan kembali ke rumahmu, kan?" ucap Bu Herlin.
Ya, anaknya memang tidak memberi kepastian akan kepulangannya ke rumah itu. Namun saat tahu jika Laila tinggal di rumah itu, maka sudah dipastikan jika anaknya akan kembali. Lalu Laila? Itu yang menjadi kekhawatiran Bu Indah saat ini.
"Kamu tenang aja. Aku udah bilang sama kamu, kan? Aku ada di sini. Akan ku urus Laila tanpa mengambilnya darimu. Dia tetap Laila, anakmu. Kamu bisa kembali tinggal sama anakmu, tapi kamu juga bisa dengan bebas mengunjungi Laila kapanpun kamu mau. Kamu akan lebih bahagia menurutku," ucap Bu Herlin.
"Terima kasih ya," ucap Bu Indah.
Lebih bahagia? Mungkin aku akan pergi ke luar negeri. Ikut dengan suaminya dan meninggalkan semuanya yang ia miliki di Indonesia. Membiarkan semuanya dikelola oleh anaknya bersama suaminya. Pria yang berstatus menjadi menantunya, sekaligus menjadi mantan kekasih gelapnya dulu.
Hal itu yang membuat Bu Indah memberikan kesempatan kerja sama Laila dengan Bu Herlin. Tentu akan ada uang yang disimpan Bu Indah untuk modal Laila di sana. Dengan begitu, Laila akan aman. Impiannya bisa terwujud tanpa takut diganggu anaknya.
"Kamu jangan terlalu parno. Semua belum terjadi. Semua ketakutan kamu berlebihan," ucap Bu Herlin menenangkan.
Kamu gak tahu cerita sebenarnya, Lin. Kamu gak tahu kan siapa menantuku sebenarnya? Kalaupun anakku bisa menerima Laila di rumahku, tapi aku gak bisa menerima kehadiran laki-laki itu untuk tinggal di rumahku.
Setelah cukup puas, Bu Indah pamit untuk pulang. Bu Indah juga tidak lupa mengingatkan Bu Herlin untuk menjemput Laila. Bu Herlin harus mengajak Laila untuk melihat toko kue yang sudah lama tutup itu.
"Tapi jangan pernah bebani Laila sama semua cerita ini ya," ucap Bu Indah.
Bu Herlin mengangguk. Ia sudah berjanji untuk menutupi semua cerita itu. Ia juga memastikan jika Laila tidak akan pernah berubah. Rasa sayang Laila akan tetap tulus dan besar untuk Bu Indah.
"Kamu percaya kan sama aku?" tanya Bu Herlin.
"Aku percaya. Titip Laila kalau seandainya suatu saat nanti ketakutanku jadi kenyataan ya," ucap Bu Indah.
"Udah jangan banyak pikiran. Laila akan tetap sayang sama kamu. Dia anak kamu apapun yang terjadi nanti," ucap Bu Herlin.
__ADS_1
Bu Indah senang saat bisa mengenalkan Laila dengan orang yang tepat. Ia yakin, dengan Bu Herlin, Laila akan tumbuh menjadi orang yang jauh lebih baik. Menggapai semua impiannya dan menjadi orang sukses. Selalu itu yang menjadi harapan Bu Indah pada Laila.