Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Duda lagi?


__ADS_3

"Kamu gak apa-apa kan?" tanya chef.


Laila yang sedang melamun tidak menjawab pertanyaan chef. Ia masih mematung memikirkan apa yang akan terjadi dengan nasibnya kelak. Dua anak yang butuh biaya, mereka akan putus sekolah kalau sampai Laila dipecat dari pabrik itu.


Saat ini harapan Laila menjadi karyawan tetap di pabrik itu. Hanya saja, kehadiran Bagus menjadi hambatan yang cukup besar untuk Laila. Padahal awalnya Laila senang saat tidak bertemu dengan Bagus setelah pernikahan itu terjadi.


Takdir memang begitu. Kadang semua terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Namun apa yang terjadi adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan. Itu yang selalu Laila yakini.


"Hey," panggil chef sambil mengguncang pelan bahu Laila.


"Eh, astaga. Ada apa chef?" tanya Laila terkejut.


"Kamu mikirin apa? Gak dipecat kan sama Pak Jacob?" tanya Chef.


Dipecat? Kata yang membuat Laila bergidik ngeri meskipun hanya membayangkannya saja.


"Ih amit-amit. Jangan begitulah chef. Diakan saya jadi karyawan tetap. Bukan malah dipecat," ucap Laila sambil cemberut.


"Ini saya cuma nanya loh, La. Terus kamu ngelamun kenapa?" tanya Chef.


"Panjang ceritanya chef. Kalau diceritain sekarang gak cukup sampai dua bulan," jawab Laila.


"Dua bulan? Kayak rumah tangga saya aja," ucap chef.


"Hah? Maksudnya?" tanya Laila.


"Iya, rumah tangga saya dulu cuma bertahan dua bulan aja. Miris kalau inget masa-masa itu," jawab chef.


"Terus sekarang cerai?" tanya Laila.


"Udah lama," jawab Chef.


Duda lagi? Alamak, kenapa hidupku banyak berhubungan sama duda ya?


"Yang sabar ya. Saya doakan biar chef segera punya istri baru," ucap Laila.


"Oh ya suami kamu kerja dimana?" tanya chef.


"Saya belum punya suami," jawab Laila.


Ya Tuhan, ternyata dia janda. Syukurlah. Aku jadi gak terlalu minder kalau deketin dia. Duda ketemu janda kan mantep.


"Kenapa senyum-senyum gitu chef?" tanya Laila.


Chef yang sedang tersenyum itu segera menggelengkan kepalanya. Ia menjadi salah tingkah saat melihat Laila menatapnya dengan dahinya yang mengkerut.


"Ayo masak lagi!" ucap Chef mengalihkan pembicaraan.


"Ayo!" ucap Laila.


Keduanya mulai berkutat kembali dengan bahan-bahan masakan. Membuat menu yang sudah dipesan sebelumnya. Siapa lagi kalau bukan Pak Jacob. Jika ada Pak Jacob, chef harus selalu siap dengan menu sesuai keinginannya.


"Langsung pulang?" tanya chef saat pekerjaan sudah selesai.


"Saya ke kantor dulu," jawab Laila.


"Ke kantor?" tanya chef.


"Iya. Pak Bagus minta saya ke kantor kalau udah beres kerja," jawab Laila.


"Pak Bagus siapa?" tanya chef.


"Loh, chef gak kenal sama Pak Bagus? Dia temannya Pak Jacob," jawab Laila.


"Gak," jawab chef sambil menggelengkan kepalanya.


"Berarti Pak Bagus bukan yang punya pabrik ini, dong?" tanya Laila.


"Setahu saya sih yang punya pabrik ini ya Pak Jacob," jawab chef.


"Oh untunglah. Aman," ucap Laila sambil mengusap dadanya.


"Aman apanya?" tanya chef.

__ADS_1


"Eh, gak. Gak apa-apa. Saya ke kantor dulu ya chef," ucap Laila.


Laila buru-buru pergi. Ia tidak mau masalah dengan Bagus diketahui orang lain. Cukup hanya dirinya dengan Bagus yang tahu kisah ini.


"Permisi," ucap Laila saat berdiri di depan ruangan Pak Jacob.


"Laila, masuklah. Bagus menunggumu," ucap Pak Jacob.


Laila segera masuk dan duduk di depan Bagus. Tatapan Bagus tajam namun sikapnya dingin. Hal yang membuat Laila ingin pergi sejauh mungkin. Berharap tidak bertemu lagi dengan Bagus.


"Kamu tahu apa yang aku mau?" tanya Bagus.


Laila menggelengkan kepalanya.


"Tanggung jawab atas perbuatanmu," ucap Bagus.


"Tapi Pak saya gak tahu apa-apa. Saya pikir Bapak benar-benar mengenal Kak Winari," ucap Laila.


Bagus mengepalkan tangannya saat Laila menyebut nama Winari. Wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta namun patah sepatah-patahnya.


"Jangan menyebut nama itu lagi di depanku!" ucap Bagus.


"Ba-baik Pak," ucap Laila gugup.


Tiba-tiba kepala Bagus berpikir jika Laila adalah orang yang tepat untuk membayar sakit hatinya. Winari tentu akan sakit hati jika melihat Laila dengannya. Kebersamaan Laila dengan Bagus akan membuat Winari merasa dikhianati.


Aku akan membuat kamu merasa dikhianati, sama seperti kamu mengkhianatiku. Kamu akan rasakan sakit hati yang sudah kamu buat, wanita jahat.


"Laila, apa kamu masih punya mimpi yang sama?" tanya Bagus dengan suara yang lebih pelan.


"Mimpi?" tanya Laila.


Laila menyelidiki maksud ucapan Bagus. Ia harus tahu arah bicara Bagus. Nada bicara Bagus yang naik dan turun dengan cepat membuat Laila bingung. Apa yang sebenarnya Bagus inginkan darinya.


"Sebuah toko kue yang besar. Masih samakah mimpimu, Laila?" tanya Bagus.


Laila menatap lekat wajah Bagus. Ia tahu jika Bagus tengah marah padanya. Lalu apa hubungannya dengan mimpi tentang toko kue?


"Dulu?" tanya Bagus dengan kerutan di dahinya.


"Pak, saya sudah cukup lelah mimpi tinggi begitu. Mimpi saya sekarang cuma satu. Tolong jangan pecat saya. Angkat saya jadi karyawan tetap di sini," ucap Laila.


Bagus tersenyum. Rupanya Laila sedang butuh pekerjaan. Dan tentu ia akan memberikan pekerjaan yang jauh lebih menyenangkan untuk Laila. Namun sebagai gantinya, Laila harus mengikuti apa yang Bagus inginkan.


"Laila, aku akan menjadikanmu karyawan tetap. Tapi bukan di pabrik ini," ucap Bagus.


"Terus dimana, Pak?" tanya Laila.


"Aku akan membuat toko kue yang sangat besar. Kamu bukan hanya akan menjadi karyawan. Tapi kamu akan menjadi pengelola dan pembuat kue terbaik di toko itu," jawab Bagus.


"Ah yang bener, Pak?" tanya Laila.


"Memangnya aku kelihatan tukang bohong ya?" ucap Bagus.


"Eh bukan begitu Pak. Tapi saya gak mau mimpi tinggi-tinggi kalau ujungnya jatuh. Sakit Pak," ucap Laila.


"Kamu tenang aja. Kali ini mimpi kamu gak akan gagal," ucap Bagus.


"Beneran nih, Pak?" tanya Laila.


"Tentu. Tapi," ucap Bagus.


"Tapi apa Pak?" tanya Laila.


"Tapi ada syaratnya," jawab Bagus.


"Syarat apa? Harus pakai uang ya Pak? Upah saya sebagai harian lepas aja di sini belum dibayar, Pak. Dari mana saya punya uang," ucap Laila.


"Saya gak butuh yang kamu," ucap Bagus.


"Terus apa?" tanya Laila.


Bagus menatap wajah Laila dengan senyum yang sulit diartikan. Namun tiba-tiba senyum. Bagus berubah saat melihat Laila menyilangkan kedua tangannya di dadanya.

__ADS_1


"Pak, jangan Pak." Laila menggelengkan kepalanya.


"Kamu pikir aku semesum itu apa?" ucap Bagus berdecih.


"Abisnya Bapak ngeliatin saya begitu," ucap Laila.


"Cuci pikiran kamu. Kotor banget," ucap Bagus sambil menjauh dari Laila.


Bagus mengenakan kembali jaketnya lalu mengambil kunci mobil di atas meja.


"Ayo pulang!" ajak Bagus.


Laila yang melihat Bagus keluar dari ruangan Pak Jacob segera mengikuti Bagus. Namun saat Bagus pergi ke parkiran, Laila berjalan tanpa menunggu Bagus.


"Laila," panggil Bagus.


Bagus mendengus kesal saat melihat Laila pergi tanpa pamit padanya. Ia keluar mencari Laila, namun Laila tidak ada. Ponselnya segera diambil. Nomor Pak Jacob menjadi incarannya.


"Katakan pada secutiry, tahan Laila. Jangan biarkan dia pergi sebelum aku datang," ucap Bagus.


Sambungan telepon pun terputus. Bagus segera pergi dengan mobil putihnya. Benar, Laila sedang berdiri di pos jaga. Namun Bagus melihat Laila mengobrol dengan begitu akrab.


Tiiiid


Suara klakson terdengar nyaring dan cukup lama. Membuat Laila dan kedua satpam itu terkejut dan menatap mobil yang dikemudikan Bagus.


"Laila, masuk!" ucap Bagus dengan tegas.


Laila segera masuk ke mobil tanpa pamit pada kedua satpam itu.


"Siapa yang menyuruhmu naik di belakang? Kamu pikir aku sopirmu?" tanya Bagus kesal.


"Kalau di depan nanti disangka gak sopan. Lancang," ucap Laila.


"Lebih gak sopan kalau duduk di belakang. Pindah," ucap Bagus.


Laila segera pindah. Duduk di samping Bagus dengan dada yang bergemuruh. Dalam hati Laila membaca doa yang ia bisa. Meminta dijauhkan dari marabahaya. Tapi sedikitnya Laila tahu jika Bagus adalah orang yang baik. Tidak mungkin Bagus melecehkannya.


"Dimana rumahmu?" tanya Bagus.


"Belok kiri Pak," jawab Laila.


Tidak lama, mobil putih mulus keluaran terbaru itu sudah nangkring di depan rumah sederhana. Bahkan jauh lebih sederhana dibanding rumah mendiang ibunya dulu. Rumah bernuansa putih yang sering disinggahinya. Bahkan Laila berpikir jika itu adalah rumah Bagus.


"Mau masuk dulu Pak?" tanya Laila.


"Gak usah," jawab Bagus.


"Alhamdulilah," ucap Laila sambil mengusap dadanya.


"Kalau gak niat, jangan basa basi. Kebiasaan," ucap Bagus.


Laila menutup mulutnya saat tahu jika Bagus mendengar ucapannya. Tak lama Hasna dan Kayla berteriak memanggil namanya.


"Lalaaaa," teriak Hasna dan Kayla.


Bagus melihat dua anak kecil memeluk dan memburu Laila dari kaca spionnya. Jarak mobil dan Laila yang tidak terlalu jauh membuat Bagus masih bisa mendengar teriakan anak-anak itu meskipun samar.


"Mama?" ucap Bagus bingung sambil mengernyitkan dahinya.


Bagus menghentikan mobilnya. Ia memastikan jika pendengarannya tidak salah. Namun saat Bagus akan bertanya tentang kedua anak itu, Laila sudah masuk dan menutup pintu rumahnya.


"Ternyata Laila udah punya dua anak? Kok ada anak yang udah gede ya?" gumam Bagus.


Selama perjalanan, Bagus memikirkan kedua anak yang berterikan memanggil Laila. Bagus yang salah mendengar teriakan kedua anak itu membuat Bagus salah paham.


Aku gak nyangka kalau Laila udah nikah. Terus rencanaku nanti gimana ya? Apa aku izin aja sama suaminya? Memangnya suaminya mau ngizinin?


Bagus memutuskan untuk kembali ke rumah Laila. Ada hal yang haru segera diselesaikan agar ia bisa membalas sakit hatinya pada Winari. Namun saat Bagus kembali, dari kejauhan ia melihat Laila sedang mengobrol di teras rumah dengan seorang laki-laki.


Tidak jelas siapa orangnya. Namun Bagus tidak siap untuk izin saat ini. Bagus memilih untuk pergi tanpa berhenti di depan rumah Laila. Beruntung Laila tidak sadar bahwa mobil Bagus lewat di depan rumah kontrakannya.


Bagus hanya melihat sebuah mobil hitam dengan tahun keluar sudah agak tua terparkir di sana. Sepertinya Bagus sudah memastikan untuk menanyakan laki-laki itu secara langsung pada Laila besok di kantor.

__ADS_1


__ADS_2