Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Jam sembilan


__ADS_3

"Ibu istirahat aja ya! Gak usah mikirin omongan orang. Cape," ucap Bi Sumi.


"Iya, Bi. Terima kasih ya!" ucap Laila.


Bi Sumi segera keluar. Sudah ada Kayla yang menunggunya di depan pintu kamar Laila.


"Gimana Mama?" tanya Kayla.


Kayla yang sudah besar kadang mencari tahu keadaan Laila. Salah satu bentuk perhatian Kayla pada Laila. Kayla tidak seberani Hasna. Namun walaupun begitu, Kayla sangat peduli pada Laila.


"Mama mau istirahat. Kay main aja," ucap Bi Sumi.


"Oh iya Bi," jawab Kayla.


Kayla kembali ke kamarnya setelah memastikan Laila baik-baik saja. Ia yang semakin lama tumbuh semakin dewasa, tiba-tiba teringat sosok kedua orang tuanya.


Dalam pandangan lepas keluar jendela, Kayla membayangkan kehidupan masa lalunya. Ia memang seolah tidak mendapatkan kasih sayang dari sosok ayah. Namun kehadiran Deri memberi warna tersendiri dalam hidupnya.


"Mama Yanti, terima kasih udah kasih semua kenangan hidup yang begitu indah. Mama pasti udah bahagia di surga. Terima kasih udah sayang sama Lala. Sekarang Lala juga sayang sama Kay kayak Mama sayang sama Lala dulu," gumam Kayla.


Tangannya mengusap pipinya yang basah. Ternyata ia sudah masuk ke dalam bayangan masa lalunya. Ingat betapa kehidupannya sangat hangat bersama Laila dulu.


"Papa Bagus, terima kasih buat kasih sayangnya. Kay sayang sama Papa," tulis Laila dalam pesannya untuk Bagus.


Pesan Laila bersambut dengan senyum lebar di bibir Bagus. Laki-laki itu memang tidak punya pengalaman dengan seorang anak. Namun kehadiran Hasna dan Kayla dalam hidupnya dengan mudah membuat Bagus berubah. Awalnya ia tidak suka dengan anak kecil, namun semua berubah saat Laila mengenalkan Hasna dan Kayla.


"Kay," panggil Bagus dalam sambungan telepon.


"Papa gak kerja?" tanya Kayla.


"Lagi istirahat. Kenapa? Kamu inget sama Papa kamu ya?" Bagus menebak sikap Kayla siang ini.

__ADS_1


"Iya," jawab Kayla singkat.


Seketika hening. Hanya terdengar isak tangis Kayla. Bagus bisa merasakan kerinduan yang dirasakan anak itu. Ia memang belum menjadi ayah yang sesungguhnya. Bahkan mungkin cara mencintai Kayla dan Hasna tidak seperti itu. Namun apa yang dilakukannya dengan tulus, diterima baik oleh kedua anak itu.


Awalnya Kayla menolak saat Bagus bicara tentang ayah kandungnya. Sama dengan Laila, Kayla seolah menutup telinga dan hatinya. Namun entah apa yang membuat Kayla berubah. Setelah itu, Kayla menjadi bertanya tentang ayah kandungnya.


"Papa udah ketemu sama Papa Deri?" tanya Kayla.


"Belum, tapi nanti Papa usahakan ya. Jangan khawatir," jawab Kayla.


Usahakan? Dengan cara apa? Bahkan fotonya saja Bagus tidak punya sama sekali. Ia hanya berusaha menenangkan Kayla. Setelah itu ia tidak tahu cara yang harus dilakukan untuk mencari tahu keberadaan Deri.


Terakhir, informasi yang diterima Bagus, Deri sudah pindah dari kampung itu. Namun sayangnya tidak ada yang tahu keberadaan Deri saat ini. Bagus sebenarnya mencari tahu keberadaan Deri karena melihat Kayla yang sudah remaja. Suatu saat nanti, Kayla pasti butuh wali saat menikah. Lalu dimana ayah kandungnya?


Hal yang membuat Laila kesal sebenarnya saat membahas tentang Deri. Makanya, Bagus tidak mau membahas tentang Deri dengan Laila. Ia bicara personal dengan Kayla. Sementara Hasna tidak diajak bicara karena menurut Bagus, anak itu belum perlu mengerti keadaan ini.


Panggilan Bagus berakhir saat ada tamu untuknya. Meskipun Bagus masih ingin menemani Laila, namun pekerjaan membuatnya harus mengakhiri panggilan itu. Tapi paling tidak, panggilan dari Bagus berhasil membuat Kayla sedikit tenang.


"Pah, saat aku dewasa nanti mungkin Papa Deri yang jadi waliku. Tapi aku janji, Papa yang akan aku peluk erat nanti. Kay sayang Papa," gumam Kayla.


Ponsel itu masih dalam genggamannya. Dengan erat ia peluk ponselnya. Menangis dengan bibir berusaha untuk tersenyum. Sebenarnya sikap Kayla hari ini terjadi karena besok ada kegiatan di sekolah.


Kayla tidak mengerti untuk apa kegiatan itu diadakan. Namun yang Kayla dengar, tujuannya untuk membangun kedekatan antara anak dan orang tua. Mereka yang orang tuanya lengkap tentu senang dengan kegiatan seperti itu. Berbeda dengan Kayla yang justru merasa hal itu sama sekali tidak penting. Kegiatan yang diadakan di sekolahnya hanya membuat dirinya sedih dan tidak mau ke sekolah.


Apa aku pura-pura sakit aja ya? Jadi besok gak usah ke sekolah. Gak usah ikut acara gak penting itu.


Lagi-lagi Bi Sumi adalah pawang dari segala macam masalah yang terjadi. Seorang wanita dengan naluri keibuan yang sangat besar itu masuk ke kamar Kayla. Meskipun Kayla tidak bercerita apa yang sedang dihadapinya, namun Bi Sumi yakin jika Kayla tengah menyimpan sesuatu.


"Ada apa Bi?" tanya Kayla.


"Kamu yang ada apa? Cerita sama Bibi," ucap Bi Sumi.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Kayla memeluk Bi Sumi. Tangisnya kembali pecah. Dengan terbata, Kayla menceritakan apa yang terjadi.


"Jangan nangis. Kan ada Bibi. Kamu gak malu kan kalau Bibi yang datang?" tanya Bi Sumi.


"Bibi beneran mau datang?" Kayla menatap Bi Sumi penuh harap.


"Ya kalau kamu gak malu sih Bibi siap berangkat," jawab Bi Sumi.


"Mana mungkin aku malu. Terima kasih ya Bi," ucap Kayla.


"Sama-sama. Nanti Bibi pakai baju paling top. Biar gak malu-maluin," ucap Bi Sumi.


"Bibi jangan gitu. Pakai baju biasa aja. Bibi udah datang aja aku seneng banget," ucap Kayla.


"Siap. Jangan nangis lagi ya!" ucap Bi Sumi.


Kayla mengangguk. Ia juga segera mengelap wajahnya yang basah dengan air mata. Bi Sumi memang orang baru yang hadir dalam kehidupannya. Namun kasih sayang Bi Sumi yang tulus untuknya berhasil membuat Kayla memiliki sosok baru yang hangat.


"Bi, nanti kalau Mama udah lahiran pasti sayang banget sama anaknya ya!" ucap Kayla tiba-tiba.


Bi Sumi tidak langsung menjawab. Dengan helaan napas panjang dan senyum yang menghiasi bibirnya, Bi Sumi mencoba untuk menterjemahkan arti pertanyaan Kayla. Sampai akhirnya Bi Sumi mengerti jika pertanyaan Kayla adalah sebuah ketakutan saat kehilangan perhatian dan kasih sayang Laila.


"Mama Laila sayang banget sama kalian. Begitu juga sama dede bayi yang ada di perutnya. Kalian sama aja. Sama-sama orang yang berarti buat Mama Kayla," ucap Bi Sumi.


"Semoga ya Bi," ucap Kayla.


"Pasti. Maafin Mama Laila kalau akhir-akhir sedikit dingin ya. Mama itu lagi ngidam. Jadi lebih sensitif," ucap Bi Sumi.


Ya, Kayla berusaha memahami. Meskipun ketakutannya sudah lebih dulu membuatnya gelisah. Namun paling tidak, jika suatu saat nanti Laila berubah maka ada Bi Sumi yang sudah janji akan tetap sayang dan peduli padanya.


"Bi, besok jangan lupa. Jam sembilan ya!" ucap Kayla.

__ADS_1


"Siap," jawab Bi Sumi.


__ADS_2