
Sudah waktunya Laila pergi dari rumah itu. Barang yang banyak sudah ditumpuk itu membuat bibir Laila tersungging. Belasan tahun ia hidup dengan rahasia besar yang baru terungkap. Sakit rasanya saat mengingat sikap Deri yang begitu benci padanya.
"La, pikir-pikir lagi. Jangan terbawa emosi," ucap Yanti.
"Semua sudah jelas Kak. Aku harus pergi," ucap Laila.
"Setidaknya bertahan untuk Hasna dan Kay," ucap Yanti.
"Maaf Kak. Aku hanya akan menambah sakit kalau gak pergi dari sini. Terima kasih udah sayang banget sama aku. Terima kasih udah baik sama aku. Aku janji akan balas kebaikan Kakak sebisaku," ucap Laila.
"Jangan begitu. Kakak gak nyimpen hutang budi sama kamu," ucap Yanti.
Pelukan Yanti membuat air mata Laila banjir. Kebersamaan mereka selama ini menyimpan kenangan yang terlalu manis. Rasa sayang dan peduli diantara mereka sudah terjalin sejak lama. Dimana rasa itu muncul seiring berjalannya waktu. Namun Laila khawatir jika rasa itu pergi juga seiring berjalannya waktu.
Ah tidak! Laila tidak boleh melepaskan ikatan diantara mereka begitu saja. Ia harus menjaga rasa itu tetap utuh meskipun kenyataan membuatnya hancur. Hasna dan Kayla tidak bersalah. Yanti pun tidak terlibat. Mereka hanya orang-orang baik yang sudah banyak berjasa untuknya.
"Aku pergi ya Kak," ucap Laila.
Kali ini Laila tidak pergi sendiri. Bu Indah sudah mengirim sopir untuj menjemputnya. Ia pergi meski terasa sangat berat. Bahkan Laila pergi saat Deri masih dikamarnya. Entah masih tidur atau hanya berpura-pura tidur karena tidak ingin bertemu dengan Laila.
Lambaian tangan Hasna dan Kayla menjadi momen yang sangat menyakitkan untuk Laila. Berpisah dengan kedua keponakannya adalah hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Laila memang sudah pergi beberapa bulan lalu untuk bekerja. Namun ia tetap ke rumah itu untuk pulang. Sekarang? Apa alasan Laila kembali ke rumah itu?
Ya, mungkin alasannya kembali ke rumah itu hanya untuk berziarah ke makam ibunya dan berkunjung menemui kedua keponakannya. Itu pun kalau diizinkan oleh Deri. Tak apa. Yang penting, Laila masih bisa bertemu dengan Hasna dan Kayla meskipun di luar rumah.
"La, kamu baik-baik aja kan?" tanya sopir yang membawa Laila memastikan.
"Baik Mang," jawab Laila sambil tersenyum.
Kedatangan Laila disambut hangat oleh Bu Indah dan Bi Yani. Namun saat melihat banyaknya barang yang dibawa Laila, mereka memberi pertanyaan yang membuat Laila menangis.
Keduanya saling menatap saat mendengar cerita Laila. Anak yang masih usia belasan tahun harus diusir dari rumahnya sendiri padahal ibunya baru saja meninggal.
"Dasar manusia jahat. Punya jantung tapi kok gak punya hati. Udah kayak pohon pisang," ucap Bu Indah geram.
Saat mendengar Bu Indah menggerutu untuk meluapkan kekesalannya pada Deri, di waktu itu juga Laila merasa bersalah. Tidak seharusnya ia membeberkan apa yang terjadi. Walaupun Deri memang jahat padanya, tapi ia tidak perlu membuka apa yang Deri lakukan padanya.
"Saya boleh istirahat bu?" tanya Laila.
Sebenarnya Laila bukan ingin istirahat. Ia hanya ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat mulutnya berbicara tentang kesalahan Deri.
"Tuhaaaan, jaga mulut ini. Jangan biarkan aku bicara tentang hal-hal yang tidak perlu aku bicarakan. Tolonglaaaah," gumam Laila sambil mengusap-usap bibirnya.
__ADS_1
Hampir dua minggu Laila tidak masuk sekolah. Laila bahkan sibuk mencari jadwal pelajaran untuk hari ini. Bu Indah sampai mengingatkan Laila agar berangkat sekolah tidak terlalu siang.
"Iya sebentar Bu," ucap Laila sambil membereskan buku pelajaran yang akan dibawanya hari ini.
"Back to school," ucap Laila saat pertama kali menginjakkan kakinya di sekolah.
Saat Laila tiba di sekolah, Bagas segera memburunya. Bahkan Liala dibuat terkejut saat Bagas memeluknya dengan erat. Perlakuan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya dari seorang teman pria.
"Bagas, lepasin aku." Laila berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Laila.
"La, aku kangen banget sama kamu. Kamu tahu gak, kemarin itu presentasi bagian kelompok kita. Kacau semua karena kamu gak masuk," ucap Bagas.
Belum sempat Laila mengomentari ucapan Bagas, teman yang lain datang dan memeluknya. Laila pun ikut pergi dengan teman perempuannya. Meninggalkan Bagas yang berdiri sendiri.
Sehari bersama temannya, Laila mulai melupakan masalah tentang asal usulnya. Apalagi saat guru mulai memberikan materi, Laila mulai mengikuti materi sembari mengejar ketertinggalannya.
"La," panggil Bagas saat Laila akan pulang.
"Apa?" tanya Laila.
"Turut bela sungkawa ya atas kepergian ibu kamu," ucap Bagas.
"Iya. Makasih ya Gas," ucap Laila.
"Ayo aku antar aja," ucap Bagas saat melihat Laila mulai gelisah.
"Gak usah. Kamu pulang duluan. Nanti ibu kamu nyariin. Aku nunggu di sini aja. Takut nanti malah saling tunggu. Soalnya aku gak bawa hp," ucap Laila.
"Ya kalau kamu udah sampai rumah, kamu kan bisa telepon sopir. Ini udah satu jam loh kamu nunggu di sini," ucap Bagas.
Laila melihat pergelangan tangannya. Ya, sudah satu jam ia menunggu sopir yang tak kunjung datang. Namun ia masih dengan keputusannya untuk tetap menunggu sopir sampai sopir itu datang menjemputnya.
Dengan sabar Bagas menemaninya sembari mengajaknya bercerita. Dua jam sudah berlalu. Bagas kembali mengingatkannya. Bukan karena kesal menemani Laila di tempat itu. Namun Bagas khawatir jika Laila akan dimarahi saat pulang telat.
"Ayo aku antar!" ajak Bagas lagi.
Laila melihat pergelangan tangannya lagi dan mengiyakan. Ini sudah terlalu sore jika Laila harus tetap menunggu. Padahal ia belum tahu kapan sopirnya akan datang menjemput.
"Apa gak ngerepotin?" tanya Laila.
"Ya ampun La. Kalau ngerepotin, gak bakalan aku ajak kamu pulang. Ayo!" ajak Bagas.
__ADS_1
Bagas menunggu Laila yang masih tidak yakin untuk meninggalkan tempat itu. Dengan cepat Bagas meyakinkan Laila kalau nanti berpapasan dengan sopir itu di jalan, Bagas akan menurunkan Laila dan membiarkan Laila pulang dengan sopirnya.
"Maaf ngerepotin ya Gas," ucap Laila saat ia sudah duduk di belakang Bagas.
Pertama kalinya motor Bagas diisi penumpang perempuan selain ibunya. Hati bagas berdebar saat Laila memegang pinggangnya. Bagas memberanikan diri mengajak Laila bercerita.
"Hah? Apa Gas?" tanya Laila sambil mendekatkan kepalanya ke arah Bagas.
Jantung Bagas berdebar semakin cepat. Ia benar-benar merasa tegang saat tubuh Laila sangat dekat dengannya. Apalagi saat Bagas melihat ke samping, wajah Laila yang cantik natural ada sangat dekat dengan wajahnya.
"Gas, apaan?" tanya Laila.
"Eh, itu. Kamu itu emm, apa ya. Ah gak jadi deh," ucap Bagas.
Laila mendengus kesal sambil memukul bahu Bagas dan memperbaiki posisi duduknya ke semula.
"Ternyata begini ya rasanya kayak mereka yang pacaran di jalan," gumam Bagas.
Tanpa Laila tahu, jika pelukan Bagas tadi pagi adalah pelukan pertamanya untuk seorang wanita selain ibunya. Itu pun Bagas lakukan karena spontan saat melihat Laila setelah dua minggu tidak bertemu.
"Kok ke sini? Kamu mau ngajak aku kemana?" tanya Laila panik.
"Ini jalan tikus, La. Kamu gak pakai helm. Kalau kita ke jalan raya, bisa kena tilang. Mau kamu?" ucap Bagas.
"Tapi kamu gak ada niat jahat kan sama aku?" tanya Laila.
"Astaga La. Memangnya aku ada tampang jahat?" tanya Bagas.
"Ya bukannya gitu. Niat orang kan gak ada yang tahu," ucap Laila.
"Ya udah kalau kamu takut aku turunin kamu di sini. Kamu naik angkot aja ya," ucap Bagas sambil menepi dan menghentikan sepeda motornya.
"Jangan," ucap Laila.
"Katanya takut sama aku," ucap Bagas.
"Ya bukannya gitu Gas. Udah ayo ah jalan lagi," ucap Laila.
"Bener mau dianterin sama aku? Yakin gak mau naik angkot aja?" tanya Bagas.
"Bagas, ayo! Malu tahu dilihatin orang," ucap Laila.
__ADS_1
Bagas pun tersenyum dan segera melajukan kembali motornya.