Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Pawang


__ADS_3

Bagus dan Laila menghabiskan masa-masa indah selama di Surabaya. Tidak sedikitpun Laila membiarkan Bagus jauh dari pandangannya. Termasuk pagi ini, Bagus dipaksa harus pergi ke toko. Padahal sebenarnya ia ingin bermanja dengan Laila di rumah.


"Mas, tapi ada urusan di toko. Ayo sebentar aja, Mas!" ajak Laila sambil merengek.


Rengekan Laila yang begitu manja membuat Bagus tidak bisa menolak. Akhirnya Bagus mengalah. Lagi pula, Bagus memang harus mengontrol keadaan toko.


"Mas ayo masuk!" ajak Laila.


Bagus sempat berhenti di depan toko. Ia melihat ada beberapa hal yang berubah. Semua itu dilakukan Laila. Ternyata tanpa sepengetahuannya beberapa dekorasi di toko dibuat sesuai dengan keinginan Laila. Dan hasilnya memang sangat cantik.


Tidak lama setelah mereka tiba di toko, Bagus melihat sendiri betapa banyaknya konsumen yang mengunjungi Laila Bakery. Bukan hanya satu atau dua jenis kue yang mereka beli. Bahkan ada yang membeli hingga puluhan kue di toko itu.


"La, kok ramai banget sih tokonya?" tanya Bagus bengong.


"Loh alhamdulilah dong, Mas. Banyak-banyak bersyukur. Rejeki," jawab Laila.


"Iya alhamdulilah. Tapi kamu gak pernah kasih tahu aku loh kalau toko maju sepesat ini," ucap Bagus.


"Mas, ini belum seberapa. Target aku tuh jauh lebih dari ini. Tapi aku selalu bersyukur. Makanya aku gak mau nolak pesanan Mas," ucap Laila.


Laila memang punya impian besar untuk tokonya. Mimpi yang bukan hanya untuk dirinya saja. Mempunyai toko besar seperti ini juga mimpi dari mendiang ibunya. Itu yang menjadi alasan Laila selalu bersemangat untuk menjalani bisnis ini.


"Modalnya nambah dong?" tanya Bagus.


"Iya Mas, aku udah dua kali tambah modal. Tapi nanti keuangannya rapi kok. Ada laporannya buat Mas. Jangan khawatir," jawab Laila.


"Bukan masalah itu. Dari mana kamu dapat uangnya? Kamu gak pernah minta," ucap Bagus.


Tanpa Bagus ketahui, Laila memasukkan semua uang tabungannya untuk modal. Selain itu, uang bulanan yang Bagus berikan untuk Laila, tidak dihabiskan semuanya. Laila yang biasa hidup sederhana, bisa menyisihkan uang bulanan yang diterimanya. Nominal yang tidak sedikit tentu bisa disisihkan dengan mudah oleh Laila.


"Terus kamu sengaja hidup ngirit cuma buat nambahin modal? Kenapa gak minta sama aku?" tanya Bagus.


"Mas, irit itu boleh. Yang gak boleh itu pelit," jawab Laila.


Bagus memang tidak suka dengan wanita yang boros seperti Winari. Bahkan dulu ia sempat menjadi korban pemerasan dan penipuan oleh istrinya sendiri. Gaya hidup Winari dan Laila yang jauh berbeda membuat Bagus semakin yakin untuk menyerahkan semua keuangan keluarganya pada Laila.


Dari kejadian ini, Bagus yakin jika Laila pasti bisa mengelola uang dengan baik. Laila tidak akan menipunya seperti Winari. Namun saat Bagus menyerahkan kartu ATM utamanya, Laila dengan tegas menolak.


"Mas, apa yang udah Mas kasih ke aku lebih dari cukup. Buktinya aku bisa sisihkan uangnya buat modal. Soal tambahan modal, gak perlu ganggu keuangan yang lain. Uang yang aku pegang juga udah cukup kok," ucap Laila.


Bagus menatap Laila lekat. Wanita yang ada di hadapannya memang berbeda. Beruntung memang saat Bagus melepaskan Winari dan mendapatkan Laila. Bagaikan melepas tembaga demi sebuah berlian. Jauh lebih berkilau dan mahal.


"Kamu tidak takut kalau uang yang aku pegang dipakai yang gak-gak sama aku?" tanya Bagus.


"Itu kan uangnya Mas. Kenapa aku harus takut? Mas bukan anak kecil lagi. Pasti tahu apa yang harus Mas lakukan buat masa depan. Minimal masa depan Mas sendiri," jawab Laila.

__ADS_1


"Kok gitu? Kenapa sendiri? Apa kamu kepikiran buat ninggalin aku?" tanya Bagus.


Laila tersenyum. Ia tentu menggeleng saat mendapat pertanyaan seperti itu. Hanya saja, bagi Laila ketakutan demi ketakutan akan ia buang dengan logikanya. Seandainya Bagus benar-benar menggunakan uang itu dengan perempuan lain atau hal apapun, semua tidak akan merugikan Laila.


Pertama, uang itu hasil kerja keras bagus sendiri. Kalau uangnya habis cuma-cuma, artinya Bagus sudah menyia-nyiakan usahanya. Kerja kerasnya tidak dihargai sama sekali bahkan oleh dirinya sendiri. Kedua, toko kue yang diberikan oleh Bagus kepadanya bisa dikelola dengan baik oleh Laila.


Seandainya Bagus meninggalkannya, ia hanya akan sedih tanpa harus menyesal. Karena Bagus yang sudah menyia-nyiakan dirinya yang sudah memberikan semuanya sepenuh hatinya.


"Kalau seandainya aku menggugat toko kuenya?" tanya Bagus.


"Mas, aku ini udah terbiasa mandiri. Aku punya kemampuan sama pengalaman," jawab Laila santai.


Rupanya Laila bukan wanita yang menggantungkan dirinya pada orang lain, termasuk suaminya sendiri. Padahal Bagus punya banyak uang yang bisa membuat Laila hidup senang. Namun bukan itu yang Laila inginkan dari pernikahannya.


"La, terima kasih." Bagus tiba-tiba memeluk Laila dengan erat.


Kasih sayang dan ketulusan Laila benar-benar membuat Bagus takut kehilangan istrinya. Meskipun ia punya uang, namun Laila justru punya kemandirian. Saat Bagus tidak memberikan kasih sayang dan ketulusan yang sama, Laila bisa saja pergi meninggalkannya.


"Bu, permisi." Suara chef mengetuk pintu ruangan Laila.


"Iya," jawab Laila.


Setelah pelukan Bagus lepas, Laila segera membuka pintu ruangannya. Ternyata tamu yang kemarin menemuinya mengirim orang untuk menyerahkan pesanan yang harus diselesaikan minggu ini.


"Terima kasih ya Bu," ucap Laila.


"Sebanyak ini?" tanya Bagus.


"Ini gak terlalu banyak Mas. Aku sama chef bisa handle kok," jawab Laila.


"Laila, kamu lagi hamil. Ini harus disiapkan dalam seminggu. Artinya kamu harus punya tenaga ekstra buat nyiapin pesanannya. Aku harus siapin chef buat ini," ucap Bagus.


"Mas, kita belum hitung berapa keuntungannya. Kalau gak ada perhitungan, aku takut gak ada labanya." Laila berusaha menolak.


Ya, memang sudah ada dua chef di sana. Seharusnya memang bisa. Tapi Bagus tidak yakin karena Laila sedang hamil. Ia tidak mau Laila kelelahan dan berakibat buruk untuk kehamilannya.


"Sayang, aku boleh ngobrol sama chef yang ada di sini?" tanya Bagus.


"Boleh dong Mas. Sebentar ya!" ucap Laila.


Laila menghubungi keduanya. Tidak lama, seorang laki-laki yang perawakannya hampir mirip dengan Bagus itu masuk. Mereka bertiga duduk bersama. Membahas konsumen baru yang baru saja menyerahkan daftar pesanannya.


"Apa kamu sanggup?" tanya Bagus.


"Saya bisa lembur Pak. Ibu Laila boleh pulang jam berapapun. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk toko ini," jawab Chef itu dengan begitu meyakinkan.

__ADS_1


"Oke. Kita lihat seminggu ini. Kalau kamu merasa orderan pertama ini kewalahan, katakan sama Laila. Kita harus segera cari tenaga tambahan," ucap Bagus.


"Mas," ucap Laila.


"Kita akan menyajikan pelayanan. Kalau sampai kalian mengutamakan pesanan itu dan mengabaikan toko, bagaimana jadinya? Kasihan konsumen lain yang beli eceran. Mereka juga berhak mendapat pelayanan yang sama," ucap Bagus.


Laila mengakui jika apa yang Bagus maksud itu memang benar. Jangan sampai karena mereka fokus pada pesanan Basuki, mereka lupa kalau toko juga harus menyiapkan barang yang cukup untuk konsumen eceran. Mereka pasti akan kecewa kalau sampai toko kekurangan barang. Itu juga akan berpengaruh pada income toko.


"Oke Pak. Saya akan kabari secepatnya," ucap Chef itu.


Beberapa saat setelah chef itu keluar, Laila segera ke kamar mandi. Bagus mendengar Laila muntah-muntah. Dengan sigap Bagus mengikuti Laila. Beruntung kamar mandinya tidak dikunci sehingga Bagus bisa melihat keadaan Laia.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bagus panik.


Wajah Laila begitu pucat. Tubuhnya menjadi lemas setelah muntah di kamar mandi. Bagus membawanya ke kursi dan menidurkannya.


"Mas, parfum chef itu bau banget ya?" ucap Laila dengan lemas.


Bau? Bahkan Bagus tidak terganggu sama sekali.


"Terus kenapa kamu gak tegur kalau kamu gak suka?" tanya Bagus.


"Baru sekarang dia pakai parfum begitu. Kemarin-kemarin gak kok," jawab Laila.


Bagus memberikan Laila minum agar lebih tenang dan kuat. Setelah melihat Laila tidur, Bagus keluar menemui chef itu. Memintanya dengan sopan agar mengganti parfumnya dengan parfum yang biasa dipakai saja.


"Maaf Pak, tapi dari sebelumnya saya masih pakai parfum yang sama kok. Tidak ganti," jawab chef itu.


"Tapi biasanya istri saya gak komplen?" tanya Bagus.


"Tidak, Pak. Bu Laila sama sekali tidak protes," jawab Chef.


"Kok bisa begitu ya?" tanya Bagus bingung.


"Tidak tahu Pak. Tapi kalau Ibu merasa terganggu, besok saya ganti Pak. Semoga ibu tidak terganggu lagi ya Pak. Sampaikan salam maaf saya sama Ibu," ucap Chef.


"Oh iya gak apa-apa. Saya yang harus minta maaf karena lancang sama kamu," ucap Bagus.


"Tidak apa-apa Pak. Jangan sungkan sama saya. Kalau ada apa-apa katakan saja Pak," ucap Chef.


Setelah urusan dengan chef selesai, Bagus segera mencari tahu apa yang terjadi. Ia langsung menelepon Bi Sumi. Pawang dari segala pawang bagi rumah tangga mereka.


"Mungkin karena Bu Laila ngidam Pak," jawab Bi Sumi.


"Ngidam? Ada yang ngidam sampai ngurusin parfum orang?" tanya Bagus bingung.

__ADS_1


"Namanya juga orang ngidam Pak. Kadang-kadang gak bisa dibahas pakai logika," jawab Bi Sumi.


__ADS_2