Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Dikira Janda


__ADS_3

Seperti biasa, Laila kembali menjalani harinya tanpa Bagus. Ada kehampaan yang dirasakan Laila setelah seminggu menghabiskan waktu dengan Bagus. Laila merasa ada yang hilang dalam dirinya.


"Bu, sarapan dulu." Bi Sumi menyiapkan sarapan di atas meja.


Laila hanya tersenyum tanpa menyentuh sarapan yang disiapkan Bi Sumi. Tidak tertarik sama sekali dengan makanan yang ada di hadapannya. Padahal menu sarapan itu adalah permintaannya sejak semalam.


Nasi uduk yang diminta Laila sengaja Bi Sumi beli dari pasar. Namun setelah nasi uduk itu tersaji, sepertinya selera Laila sudah berganti. Bi Sumi tidak marah. Hanya saja Bi Sumi khawatir dengan keadaan Laila.


Semenjak Bagus berangkat lagi ke Jakarta, nafsu makan Laila semakin buruk. Setiap kali Laila makan, maka Laila akan mual dan muntah. Setelah itu, kini Laila jarang makan. Alasannya karena takut muntah lagi.


"Bu, kalau gak makan kasihan dede bayinya." Bi Sumi mengingatkan.


"Kalau makan jadi mual Bi," jawab Laila.


"Nanti siang kita ke bidan ya biar minta vitamin. Bibi kok jadi khawatir," ucap Bi Sumi.


"Kan ini juga masih ada vitamin Bi. Gak apa-apa. Saya cuma mual aja. Kata Bibi kan ini wajar," ucap Laila.


Bi Sumi memang memaklumi bagaimana wanita hamil pada trimester pertama. Tapi saat melihat Laila dengan segala yang dirasakannya, Bi Sumi menjadi khawatir. Pasalnya Laila bukan hanya merasakan ngidam, tapi juga merasa kesepian saat jauh dari suaminya.


"Bu, kalau butuh teman cerita saya selalu siap. Jangan sungkan ya!" ucap Bi Sumi.


"Iya Bi," jawab Laila.


Bi Sumi kembali ke dapur. Meninggalkan Laila yang masih duduk termenung. Wajahnya sama sekali tidak ceria. Terlihat lesu dan lelah padahal tidak banyak kegiatan yang dilakukannya.


Setelah mendapat telepon dari Bagus, Laila baru terlihat memakan nasi uduk yang sudah dingin itu. Keceriaannya bertambah setelah Hasna dan Kayla pulang. Keberadaan keduanya membuat Laila sedikit melupakan rasa kesepiannya.


Dari dapur Bi Sumi memperhatikan tingkah Laila. Melihat Laila sudah tersenyum, Bi Sumi pun ikut tersenyum. Ada kelegaan di hati Bi Sumi melihat Laila tidak melamun lagi.


"Bi, saya ke toko dulu ya!" ucap Laila.


"Loh, ini kan udah siang Bu. Apa gak besok aja?" tanya Bi Sumi.


"Itu Pak Basuki ke toko. Katanya mau ketemu," jawab Laila.


"Ayo saya antar Bu," ucap Bi Sumi.

__ADS_1


"Gak usah. Bibi di sini aja jaga Hasna sama Kayla. Saya sama Pak Broto aja," ucap Laila.


Satpam di rumahnya yang merangkap menjadi tukang ojek kemanapun Laila mau. Hanya sampai parkiran, Pak Broto kembali ke rumah. Sementara Laila segera masuk ke ruangannya dan menemui Pak Basuki.


"Maaf lama Pak," ucap Laila.


"Gak apa-apa Bu. Maaf saya gak ke rumah ibu," ucap Pak Basuki.


"Lebih baik ketemu di sini aja Pak kalau urusan pesanan," jawab Laila.


"Kenapa? Takut ada yang marah ya?" tanya Pak Basuki.


"Gak marah sih Pak. Saya cuma khawatir suami saya salah paham aja," jawab Laila.


"Suami?" tanya Pak Basuki terkejut.


"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Laila.


"Gak, saya pikir Ibu janda loh. Kok suaminya gak pernah kelihatan?" tanya Pak Basuki.


"Saya bukan janda Pak. Saya punya suami. Suami saya kerja di Jakarta," jawab Laila sambil menahan kesal.


"Oh begitu ya! Tapi kok waktu saya ke rumah gak ada fotonya sih? Saya cuma lihat foto anak-anak ibu aja," ucap Pak Basuki.


Astaga. Pengen aku tendang orang ini. Itu moncong seenaknya aja. Gak tahu apa bikin sakit hati banget? Dasar orang aneh. Gak punya hati.


"Iya Pak. Foto suami saya pajang di kamar," ucap Laila.


Laila sudah mengepalkan tangannya. Takut jika emosinya meluap saat Pak Basuki terus mengoceh. Mengungkapkan rasa terkejutnya saat tahu Laila memiliki seorang suami.


"Oh ya sudah kalau gitu salam sama suaminya ya. Saya permisi. Terima kasih buat waktunya Bu," ucap Pak Basuki.


"Iya Pak. Sama-sama," ucap Laila.


Setelah semua urusannya dengan Pak Basuki selesai, Laila segera pulang. Ia hanya melihat ke dapur umum sebentar lalu pamit. Awalnya Laila berniat untuk membantu chef mengerjakan orderan Pak Basuki. Namun setelah kejadian itu, Laila sudah kehilangan moodnya.


"Maaf ya Chef. Hari ini saya gak bisa bantu. Besok pagi saya ke sini lagi," ucap Laila.

__ADS_1


"Gak apa-apa Bu. Saya bisa handle kerjaan hari ini," jawab Chef itu.


Laila segera pergi. Meskipun ia tahu kalau Chef itu kewalahan dengan pekerjaan hari ini, namun Laila tidak bisa membantu. Saat ia berada di dapur dengan keadaan yang tidak baik, Laila hanya akan memperburuk keadaan.


"Mama udah pulang?" tanya Hasna.


"Mama cape. Istirahat dulu ya!" jawab Hasna.


Bi Sumi segera membawa Hasna. Mengajaknya bermain dan berusaha membuatnya melupakan sikap dingin Laila padanya. Laila terlihat menjauh saat Hasna berusaha mendekatinya. Hal yang biasa Laila lakukan saat sedang merasa ada sesuatu yang tidak baik.


Setelah urusan dengan Hasna selesai, kini Bi Sumi mengetuk pintu kamar Laila. Membawakannya segelas teh hangat agar Laila bisa lebih tenang. Lama Laila mengabaikan panggilan Bi Sumi sampai akhirnya pintu itu sudah terbuka.


"Bu, ini teh hangat." Bi Sumi menyimpan teh hangat di atas nakas.


"Terima kasih ya Bi," ucap Laila.


Laila duduk di tepi ranjang. Bi Sumi masih berdiri di dekat Laila dan memijat pundaknya. Membuat Laila sedikit merasa nyaman dengan kemumetan yang dirasakan hari ini.


"Ibu kenapa?" tanya Bi Sumi.


"Saya dikira janda Bi," jawab Laila sambil cemberut.


"Hah? Sama siapa?" tanya Bi Sumi.


"Sama Pak Basuki," jawab Laila kesal.


Bi Sumi menahan tawa. Jujur saja, Bi Sumi berbeda dengan Laila. Saat dikira janda, Bi Sumi tidak sesedih Laila. Melihat Laila marah dan cemberut seperti itu, Bi Sumi justru merasa hal itu lucu. Namun ia tidak bisa tertawa di hadapan Laila.


Kejadian lama terulang lagi. Saat dulu Laila dikira janda dengan dua anak yang sebenarnya adalah keponakannya, kini Laila kembali dikira janda saat suaminya jarang berada di rumah.


"Kok Bibi diem aja sih?" tanya Laila.


"Gak apa-apa. Gak usah dengerin apa kata orang Bu. Biarin aja mereka ngira ibu janda, tapi kan sebenernya ibu punya suami dan bahagia." Bi Sumi menenangkan Laila.


"Tapi kan tetep aja kesel Bi. Udah cape saya dikira janda sama orang-orang sok tahu. Kesel," jawab Laila.


"Iya Bu saya ngerti. Ibu minum dulu aja ya biar tenang," ucap Bi Sumi.

__ADS_1


__ADS_2