Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Takut stres


__ADS_3

"La, maaf ya kakak jadi ngerepotin kamu terus. Padahal kamu di Jakarta juga sekolah," ucap Yanti.


"Gak apa-apa Kak. Masih ada uang yang bisa aku sisihkan. Lagi pula Bu Indah tetap memberiku upah meskipun tidak banyak. Ya buat bayar sekolah juga mahal. Jadi maaf ya Kak," ucap Laila.


Laila terpaksa berbohong. Padahal sebenarnya upah yang ia terima masih tetap full. Namun Yanti tidak perlu tahu kalau ia memiliki tabungan. Laila masih dengan cita-citanya memiliki toko kue. PR nya untuk tetap mewujudkan impian itu cukup berat. Tapi Laila selalu berpikir tidak ada yang tidak mungkin.


Selesai ziarah, Laila mengajak Yanti dan kedua anaknya untuk bermain di tempat wisata yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Laila benar-benar menikmati masa libur dan pulang kampungnya dengan bahagia.


Namun sepertinya ada hal yang dilupakan Laila. Setelah Laila kembali ke Jakarta, Deri yang mengetahui kedatangan Laila dan bertemu dengan istri dan kedua anaknya tanpa izin darinya membuat sngat marah.


"Ngasih apa dia sama kamu? Duit? Mana bagi duitnya!" ucap Deri dengan nada tinggi.


Yanti yang sudah tahu tabiat suaminya sudah menyimpan uang pemberian Laila dengan baik. Walaupun pada akhirnya uang itu akan digunakan untuk kopi dan rokok.


"Ahh, jauh-jauh ke sini gak bawa apa-apa. Emang anak gak tahu balas budi. Udah belasan tahun numpang di sini gak ada ngasih duit," ucap Deri.


Yanti tidak mendebat ucapannya. Ia membiarkan Deri mengucapkan kalimat umpatan sesukanya. Bukan tidak ingin membela Laila, tapi terakhir kali ia membela adik iparnya malah terjadi pertengkaran hebat. Sejak saat itu, Yanti memilih untuk diam dan tidak mengomentari apapun tentang Laila.


Kehidupan Laila dan Yanti yang berbeda nyaris seratus delapan puluh derajat. Yanti dengan keterpurukannya yang semakin membuat lelah hatinya. Sedangkan Laila hidup dengan bahagia. Perlahan semua orang yang ada di rumah itu menerima keberadaannya dan mulai menyayanginya.


Sikap tulus dan apa adanya dari Laila membuat semua orang berubah. Mereka semakin dekat. Bahkan Laila secara rutin seminggu sekali membuat kue untuk cemilan para pekerja di rumah itu.


Pengetahuan yang didapat di sekolah, Laila pratekkan di rumah. Hal itu mendapat dukungan penuh dari Bu Indah. Apalagi saat ada tamu ke rumahnya, dengan bangga Bu Indah mengenalkan kue buatan Laila.


Sayangnya sampai saat ini Bu Indah tidak memberi kesempatan Laila untuk menjual kue buatannya. Bu Indah hanya meminta Laila membuatkan kue untuk orang-orang di rumahnya. Itu pun hanya seminggu sekali saat libur sekolah.


Laila pernah meminta kesempatan pada Bu Indah untuk bisa menjual kue buatannya dalam skala kecil. Ia juga berjanji untuk tidak mengganggu waktu sekolah dan belajarnya. Namun sampai saat ini, Laila belum mendapat persetujuan dari Bu Indah.

__ADS_1


Kerinduan Laila untuk berjualan kue mungkin karena kerinduannya atas kenangan pada Bu Rini. Dimana dulu mereka sering membuat kue bersama untuk berjualan dan menghasilkan uang.


"Bu, padahal sekarang aku udah punya uang buat modal kecil-kecilan jualan kue. Aku juga udah punya resep baru," gumam Laila.


Bagas yang melihat Laila sedang melamun segera menghmpirinya. Ia tahu kalau sekarang Laila sangat menjaga jarak dengannya. Namun rasanya tidak tega melihat Laila banyak melamun saat di kelas.


"La, kamu baik-baik aja kan?" tanya Bagas.


"Gas," ucap Laila.


"Aku tahu aku gak boleh deket-deket sama kamu. Tapi aku khawatir lihat kamu begitu," potong Bagas.


Laila melihat Bagas yang begitu perhatian padanya. Laki-laki yang ada di hadapannya adalah teman sekelasnya yang pintar dan cukup perhatian padanya. Bahkan saat Laila meminta untuk menjauhi dirinya, Bagas masih berusaha menunjukkan perhatiannya.


"Aku gak bakal deketin kamu. Aku janji. Aku cuma mau ingetin kamu, kalau kamu butuh teman aku selalu ada buat kamu. Ada masalah jangan disimpen sendiri. Takut stres," ucap Bagas.


Bagas hanya tertawa saat melihat bibir Laila mengerucut. Laila melihat Bagas penuh dengan ketulusan. Ia juga yakin Bagas bisa menjaga rahasianya. Benar apa kata Bagas, ia stres mengahadapi semuanya sendirian.


"Besok jam istirahat kita jajan bareng yuk!" ajak Laila.


"Hah?" tanya Bagas.


Tidak percaya dengan ajakan Laila, Bagas sampai memukul pipinya sendiri. Bagas merasa apa yang Laila katakan bagaikan mimpi di siang bolong. Mustahil rasanya kalimat itu terucap dari bibir Laila. Namun kenyataannya semua ia dengar dengan jelas.


"Gak mau? Ya udah," ucap Laila.


"Eh, eh bukan gitu. Kamu serius? Kamu gak lagi becanda kan?" tanya Bagas memastikan.

__ADS_1


"Bener kata kamu. Aku takut stres. Aku gak mau stres sendirian," ucap Laila sambil tertawa.


"Oh, jadi giliran stres baru mau ngajak aku?" ucap Bagas.


"Oh, jadi gak mau? Ya udah, gak jadi." Laila kembali mengerucutkan bibirnya.


"Eh iya, iya. Aku mau kok stres. Asal berdua sama kamu," ucap Bagas.


"Dih, gombal." Laila menggelengkan kepalanya.


Bagas diam membisu. Lidahnya kelu. Ia bahkan tidak bisa berkata apapun. Gombal kata Laila? Tidakkah Laila sadar kalau ucapan Bagas adalah suatu keseriusannya? Bagas sampai gemetar saat mengatakan hal itu.


Begitulah Laila yang tidak mempunyai perasaan lebih pada Bagas. Meskipun kadang Bagas terasa berbeda dengan teman laki-lakinya yang lain, namun Laila menyingkirkan pikiran itu. Ia benar-benar hanya ingin berteman dengan Bagas.


Beruntung ada guru yang masuk. Bagas bisa mengendalikan perasaan tegangnya. Beberapa saat Bagas diam dan tidak fokus dengan penjelasan guru di depan kelas. Ia tak habis pikir dengan ucapannya sendiri. Bisa-bisanya ia mengucapkan kalimat seperti itu pada Laila. Naasnya lagi, ucapannya itu hanya dianggap sebagai sebuah gombalan.


Padahal sebenarnya ia ingin sekali menjelaskan jika ucapannya itu memang benar. Sudah satu bulan ibunya pergi meninggalkannya. Entah kemana dan apa penyebabnya. Yang pasti kini hanya ada Laila yang bisa membuat hatinya senang.


Bagas juga ingin sekali Laila mengobrol denganya hari itu. Tapi tak apa. Ia akan sabar menunggu waktu yang sudah Laila janjikan padanya. Bagas juga ingin membagi perasaan dan pikirannya yang sedang kacau. Namun ia tidak mau membebani Laila.


Melihat Laila melamun saat di sekolah saja, Bagas berpikir jika beban Laila cukup berat. Mana tega ia harus menambah beban dirinya pada Laila. Biarlah Laila yang menceritakan kegelisahannya. Urusan bebannya, biar Bagas telan sendiri.


"Gas, pulang duluan ya!" ucap Laila saat bel pulang sudah berdering.


Bagas hanya mengangguk dan tersenyum. Senang rasanya saat Laila memperlakukannya dengan hangat. Setidaknya ia merasa bebannya di rumah sedikit berkurang. Senyum Laila bisa mengobati rasa sakit yang sedang dirasakan oleh Bagas.


Kalau saja tidak ada Laila, mungkin Bagas benar-benar sudah stres. Beban yang sedang ia rasakan begitu besar. Ibu yang sangat ia sayangi kini pergi dan belum kembali. Bahkan mungkin tidak akan kembali. Bagas tidak tahu dan tidak menyangka jika nasibnya akan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2