Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Jurus


__ADS_3

"Kenalin saya Laila, Pak." Laila dengan ramah mengulurkan tangannya.


"Saya Broto, Bu." Broto membalas uluran tangan Laila.


Laila berkenalan dengan Broto. Dari mulai keluarganya dan asal usulnya. Sejauh perkenalan awal, Laila suka dengan kepribadian Broto yang terlihat sopan. Bahkan Broto jarang sekali menatap Laila. Mungkin masih sungkan atau justru segan, karena Bagus benar-benar menekan Broto untuk menjaga Laila.


"Bu, kata Bapak saya tugas dua shift. Satu lagi ada temn saya. Nanti dia bagian malam," ucap Broto.


"Oh iya Pak," jawab Laila.


Setelah merasa cukup mendapat informasi, Laila pamit untuk kembali ke dalam rumah. Ia kembali menghubungi Bagus. Protes atas keputusan Bagus yang mempekerjakan dua orang satpam tanpa berdiskusi dulu dengannya.


"La, satpam itu manusia. Dia cape lah kalau sendiri," jawab Bagus dengan santai.


"Ya kan bisa satpam itu jaganya tiap malem aja Mas," ucap Laila.


"Memangnya kamu jamin kejahatan itu cuma terjadi malem aja? Buktinya kemaren orang suruhan Winari aja beraksinya siang," ucap Bagus.


Laila terdiam. Benar apa yang dikatakan Bagus. Saat itu kejadiannya pagi-pagi. Dimana laki-laki itu seolah bersikap baik. Padahal tanpa Laila ketahui, laki-laki itu membuat fitnahan yang begitu jahat padanya.


"Sayang, kok diem aja?" tanya Bagus.


"Eh, iya Mas. Ya udah nanti aku telepon lagi ya!" ucap Laila.


Dengan menatap pekarangan rumah yang hijau dengan tanaman, Laila teringat wajah Bagus. Pria yang selalu terlihat tampan di matanya berhasil membuat kerinduan yang begitu berat. Semua yang dilakukan Bagus selalu membuat Laila merasa terharu.


"Bu, makan dulu." Bi Sumi mengingatkan Laila.


Laila tersadar dari lamunannya. Ia mengangguk dan segera pergi ke ruang makan. Makanan di meja sama sekali tidak menggoda selera makannya. Namun demi kesehatan, Laila memaksakan diri untuk tetap makan. Membuat perutnya kenyang tanpa merasakan kenikmatan sama sekali.


Laila kembali harus melewati masa-masa rindu dengan semangat. Berlindung dibalik kesibukan, Laila berusaha menikmati setiap kerinduan pada suaminya. Apalagi saat hari-hari menuju pembukaan toko sudah di depan mata.


"Bi, terima kasih ya buat semuanya." Laila tersenyum manis sambil menatap lekat wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya.


Ya, semua urusan dan keperluan Laila tidak lepas dari bantuan Bi Sumi. Wanita itu selalu siaga untuk membantu semua yang Laila butuhkan. Bahkan saat pembukaan toko, Bi Sumi selalu memantau Laila dari kejauhan.


Bi Sumi menjaga jika seandainya ada gerak gerik yang mencurigakan. Selalu menjadi garda terdepan untuk majikannya adalah suatu keharusan baginya. Hal yang membuat Bagus percaya keamanan Laila saat mereka terpisah oleh sebuah jarak.

__ADS_1


"Bagaimana acaranya?" tanya Bagus saat acara pembukaan toko sudah selesai.


Acara siang itu berlangsung lancar dan sangat ramai. Banyak pengunjung yang datang saat tahu toko itu sudah dibuka. Kue buatan Laila yang sempat dikenalkan saat pesta pernikahan kala itu sudah tidak asing lagi bagi penduduk sekitar.


"Mas kemana aja? Kok baru telepon sekarang?" tanya Laila dengan nada kesal.


"Maaf sayang. Tadi aku ke penjara dulu, Winari teriak-teriak kayak orang kesurupan. Aku langsung cek ke sa...," ucap Bagus.


Ucapan Bagus segera dipotong oleh Laila.


"Apa? Jadi hanya karena mantan istri Mas itu sampai lupa sama aku? Padahal ini toko kue Mas loh. Bukan punya aku," potong Laila.


"Astaga. Kenapa jadi begini?" tanya Bagus panik dan bingung.


"Mas, aku kecewa ya!" ucap Laila.


Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Laila segera mengakhiri panggilan dari Bagus. Tangisan Laila membuat Bi Sumi segera menghampiri Laila.


"Bu, ada apa?" tanya Bi Sumi khawatir.


"Saya gak apa-apa Bi. Permisi," jawab Laila.


Tidak ingin masalah majikannya menjadi rumit, Bi Sumi segera menelepon balik Bagus. Seperti biasa, Bi Sumi akan menjadi pendengar setia saat Bagus menceritakan semuanya. Setelah itu, ia akan mencerna dan merangkai kata yang tepat agar Laila bisa menerima penjelasan Bagus melalui penuturannya.


"Sayang, aku sangat mencintaimu."


Sebuah pesan singkat yang dikirim Bagus ternyata diabaikan begitu saja oleh Laila. Ingin sekali Bagus marah saat Laila tidak mengerti keadaannya. Namun kembali Bagus mengingat apa yang dikatakan Bi Sumi padanya. Laila adalah ibu muda yang harus mengurus dua anak yang sebenarnya bukan kewajibannya.


Peran Laila menjadi seorang ibu terpaksa oleh keadaan. Semua harus dilakukan sendiri. Bisakah? Bisa karena memang Laila tidak punya pilihan lain. Namun sekarang saat Laila memiliki Bagus, ia merasa ada orang yang bisa diandalkan. Maka saat Bagus tidak sesuai harapannya, maka Laila mudah merasa kecewa.


"Bu, saya boleh masuk? Saya udah buatkan teh hangat," ucap Bi Sumi.


Ini sudah malam, namun Laila tidak kunjung keluar dari kamarnya. Bahkan saat Hasna dan Kayla sudah tidur, Laila masih enggan membuka pintu kamarnya. Padahal Laila belum makan.


"Bu, saya masuk ya!" ucap Bi Sumi.


"Iya," jawab Laila dengan suara parau.

__ADS_1


Bi Sumi tahu Laila tidak mengunci pintunya. Setelah mendapat izin, Bi Sumi masuk dan melihat kondisi Laila. Matanya mengedar ke setiap sudut ruangan kamar itu. Tak ada yang berantakan sama sekali. Hanya saja, Bi Sumi melihat jendela kamar masih terbuka meski malam sudah menyapa.


Laila bukan wanita yang terlalu suka dengan gelap. Namun jika saat ini Laila sedang menikmati gelapnya malam. Artinya Laila sangat kecewa dan terluka. Bi Sumi tidak langsung membahas apa yang dikatakan oleh Bagus. Ia hanya menunggu Laila mengeluarkan semua kekecewaannya.


"Ibu minum dulu ya! Mumpung masih anget," ucap Bi Sumi.


"Terima kasih Bi," ucap Laila.


Laila pun menerima teh hangat itu dan meneguknya. Tidak habis, bahkan Laila hanya meminumnya seperempat bagian. Bi Sumi mengambil kembali teh itu dan menyimpannya di atas nakas.


"Mau bibi pijitin gak?" tanya Bi Sumi.


"Gak usah Bi. Ini udah malam. Bibi tidur aja, istirhat." Laila menolak karena tidak mau merepotkan Bi Sumi.


"Bibi punya jurus loh," ucap Bi Sumi.


"Jurus apa?" tanya Laila.


"Jurus penghilang kecewa," jawab Bi Sumi.


Bi Sumi mengangkat tangannya. Menunjukkan aksi pijatnya dengan gerakan yang membuat Laila tertawa.


"Ngapain sih Bi?" tanya Laila geli.


"Eh, cobain dulu sini!" ucap Bi Sumi.


Laila pun mendekat. Duduk membelakangi Bi Sumi. Membiarkan jurus penghilang kecewa itu beraksi di punggungnya. Mungkin lebih tepatnya bukan penghilang kecewa, namun Laila rilex saat menikmati pijatan itu.


"Enak Bu?" tanya Bi Sumi.


"Enak banget Bi," jawab Laila.


Bi Sumi tahu jika Laila lelah setelah sibuk mengurus toko. Persiapan itu memang sudah menguras tenaga dan pikiran Laila. Wajar jika Laila merasa kecewa saat mendengar jawaban Bagus. Saat lelah, Laila tentu langsung tersinggung saat mendengar nama Winari.


Perempuan mana yang senang saat suaminya membahas nama wanita lain. Apalagi perempuan itu adalah mantan istrinya. Begitupun dengan Laila. Kekecewaan pasti menguasai dirinya saat Bagus tidak menghubunginya dengan alasan Winari.


Tanpa tahu kalau Winari berusaha melarikan diri dari penjara. Pagi itu, bertepatan dengan pembukaan toko kue di Surabaya, Winari dilarikan ke rumah sakit. Ada luka robek di tangannya saat berusaha kabur. Namun setelah tertangkap, Winari justru berteriak-teriak seperti orang kerasukan.

__ADS_1


Winari berusaha mengelabui orang-orang di sekitarnya dan berpura-pura gila. Berharap bisa pindah dari penjara ke rumah sakit jiwa. Dengan begitu, Winari lepas dari jerat hukum. Winari berpikir jika kabur dari rumah sakit jiwa, konsekuensinya tidak akan semenyeramkan kabur dari penjara.


__ADS_2