
Laila segera pulang setelah yakin jika Yanti baik-baik saja dan tidak meninggalkannya. Saat pulang ke rumah, Laila nampak bingung saat mendapati rumah begitu sepi. Biasanya pintu rumah terbuka dan terdengar suara Hasna yang nyaring. Perasaan Laila tidak enak.
Apa karena aku pulangnya telat ya? Apa mungkin mereka tidur? Tapi ibu kemana? Gak biasanya pintu rumah ketutup rapet banget. Bang Deri juga gak ada di pangkalan. Ada apa sih ini?
"Bu," panggil Laila saat membuka pintu kamar.
Rumah tidak dikunci. Suasana sepi. Ruangan bermain Hasna dan Kayla berantakan. Namun Laila tidak menemukan siapapun di rumah.
"Bu," panggil Laila lagi dengan suara lebih tinggi.
Laila semakin panik saat ia benar-benar yakin jika di rumah itu tidak ada siapa-siapa. Laila mencari ibunya keluar. Berteriak menyebut nama ibunya dan keponakannya bergantian. Namun tidak ada satupun yang menjawab panggilannya.
"Le, si Hasna jatuh. Kepalanya sobek. Sekarang masih di puskesmas kali," ucap salah satu warga.
Mata Laila membulat. Dadanya terasa sesak. Apa yang terjadi sampai Hasna terluka dan harus di bawa ke puskesmas? Laila segera menyusul ibunya ke puskesmas tanpa mengganti seragam sekolahnya.
"Bu," pangggil Laila saat mendapati ibunya tengah duduk memangku Hasna.
"Kamu kok tahu ibu di sini?" tanya Bu Rini.
Laila tidak menjawab pertanyaan Bu Rini. Baginya pertanyaan itu tidak penting sama sekali. Yang terpenting adalah keadaan Hasna saat ini.
"La, Hasna berdarah." Kayla memeluk Laila yang sedang menatap Hasna.
"Hasna kenapa Kay?" tanya Laila.
"Jatuh," jawab Kayla.
Laila menenangkan Kayla yang ikut menangis. Saat kepala Hasna mendapat lima jahitan karena lukanya. Tidak tega rasanya melihat anak yang belum genap dua tahun harus mendapat tindakan medis seperti itu.
"Bang Deri kemana bu?" bisik Laila.
Bu Rini hanya menggeleng. Laila mengerutkan dahinya saat melihat gelengan kepala Bu Rini. Bisa-bisanya Bu Rini membawa Hasna dan Kayla ke puskesmas sedangkan ayahnya sendiri tidak tahu dimana.
Laila segera menghubungi Yanti. Dengan cepat, seorang wanita itu datang dengan berderai air mata. Yanti nyaris pingsan saat melihat keadaan Hasna.
"Maafin Mama ya Na, maafin Mama." Yanti segera memeluk Hasna dan menagisinya.
__ADS_1
Bu Rini hanya diam tanpa berkata apapun. Yanti juga tidak bertanya apapun pada Bu Rini. Mereka tahu betul bahwa ini bukan waktu dan tempat yang tepat. Saat ini mereka hanya butuh tenang agar Hasna juga lebih tenang.
"Boleh pulang ya Bu. Adeknya hanya butuh istirahat. Nanti kontrol lagi ya," ucap Dokter yang datang memeriksa keadaan Hasna.
"Terima kasih banyak Dok," ucap Yanti.
Mereka semua kembali ke rumah. Tanpa Deri. Pria yang seharusnya ada di sana bahkan tidak kelihatan batang hidungnya sampai mereka pulang. Rumah masih sepi dan berantakan. Yanti membawa Hasna ke kamar dan menidurkannya.
Bu Rini masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang. Meminta maaf karena sudah lalai menjaga Hasna. Yanti tidak marah. Ia hanya meminta Bu Rini menceritakan bagaimana kejadian yang menimpa Hasna.
"Ibu tidak salah. Jangan menangis dan merasa bersalah. Aku seharusnya berterima kasih sama ibu. Aku juga harus minta maaf karena udah merepotkan ibu," ucap Yanti.
Melihat perawakan Bu Rini yang sudah sakit-sakitan membuat Yanti bingung. Kalau saja dia keluar dari toko, lalu bagaimana keuangan keluarganya. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Bu Rini terus menjaga Hasna yang sedang sangat aktif.
"Astaga. Hasna kenapa?" teriak Deri saat pulang ke rumah dan melihat kepala Hasna diperban.
Pertanyaan Deri dengan nada tinggi membuat Hasna dan Yanti terbangun. Hasna bahkan menangis dengan begitu keras saat tidurnya terbangunkan oleh teriakan ayahnya sendiri.
"Bang, jangan keras-keras dong. Aku baru aja tidur. Cape," protes Yanti.
Yanti menghela napas. Lagi-lagi ia sudah menyiapkan mentalnya untuk hal yang hampir saja membuatnya stres. Antara simpati dan mencari kesalahan Yanti.
"Dia lagi aktif-aktifnya Bang. Wajar kalau jatuh. Hasna juga gak apa-apa. Dia anak yang kuat kok," ucap Yanti.
"Makanya kamu jangan keluyuran terus. Urus anak yang bener. Gak becus jadi ibu. Baru punya anak dua juga," ucap Deri.
Sskit hati? Tidak. Yanti sama sekali tidak sakit hati dengan dumelan Deri. Bahkan ia merasa sangat lucu dengan semua ucapan suaminya itu. Keluyuran? Bahkan Yanti keluar rumah untuk mencari uang. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Lalu Deri sendiri?
Yanti memilih diam karena ini sudah malam. Ia tidak mau ada keributan lagi malam ini. Diam jauh lebih baik dari pada ia harus melawan dan membela diri. Karena ujungnya pasti sama. Yanti yang akan disalahkan.
"Hasna sudah diobatin. Abang tidur aja," ucap Yanti santai.
Deri yang memang sudah mengantuk hanya diam dan tidur di samping Hasna. Yanti segera memejamkan matanya agar ia bisa tidur kembali. Besok sudah waktunya kembali bekerja.
Dalam tidurnya Yanti gelisah. Di satu sisi ia harus bekerja karena baru sehari ia diberi libur. Namun di sisi lain Yanti tidak bisa meninggalkan Hasna dalam keadaan seperti itu.
"Kamu gak kerja?" tanya Deri.
__ADS_1
"Abang udah bangun?" Yanti balik bertanya.
"Kalau masih tidur mataku merem gak melek begini. Udah sana siap-siap kerja," ucap Deri.
"Kasihan Hasna," ucap Yanti.
"Ada ibu sama si Lele. Kamu tenang aja sana kerja. Jangan bolos nanti dipecat," ucap Deri.
"ibu udah sepuh. Kasihan kalau harus mengurus Hasna sama Kayla. Laila juga sudah mau ujian Bang. Jadi jangan sering bolos," ucap Yanti.
Namun Deri meyakinkan Yanti jika Hasna akan baik-baik saja tanpa Yanti hari ini. Suaminya berjanji akan mengurus Hasna selama Yantia bekerja. Ada rasa tidak percaya dalam hati Yanti, karena selama ini bahkan Yanti melihat Deri kadang tidak peduli pada kedua anaknya. Namun Yanti berpikir ulang. Kalau sampai ia bolos hari ini, bagaimana toko? Akankah pemilik toko mengerti keadaannya setelah kemarin toko tutup.
"Abang bener mau jaga Hasna?" tanya Yanti ragu.
"Ya elah, ngurus bocah dua sih kecil. Udah siap-siap sana. Jangan sampai kamu kesiangan terus dipecat ya," ucap Deri.
"Ya sudah aku siap-siap bang," ucap Yanti.
"Eh, eh sebentar. Sebelum kerja belikan kopi sama rokok ya. Diem di rumah seharian kan pusing kalau gak ada kopi sama rokoknya," ucap Deri.
Yanti menghela napas panjang setelah mengangguk. Di dalam kamar mandi Yanti tersenyum miris dengan keadaannya. Dimana ia harus bekerja saat anak sedang sakit. Suami yang katanya siap menjaga anaknya malah ingin disediakan kopi dan rokok sebagai upahnya.
Dunia terbalik.
Yanti melanjutkan mandi dan bersiap. Mencium kedua anaknya yang masih tidur sebelum berangkat kerja. Kopi dan rokok sudah Yanti siapkan pagi itu. Sementara di luar, sudah ada Laila yang menunggunya.
"Ikut ya Kak," ucap Laila.
"Iya ayo Kakak antar," ucap Yanti.
"Aku mau ke toko," ucap Laila.
Yanti menatap Laila yang sudah mengenakan seragam lengkap dengan sepatu dan tas yang ada di punggungnya. Awalnya Laila akan libur karena ingin menjaga Hasna. Namun saat mendengar Deri akan menjaga Hasna, Laila mengurungkan niatnya. Ia tidak mau seharuan bersama Deri di rumah.
"Kamu harus sekolah. Sebentar lagi ujian. Nanti selesai ujian, kamu boleh ikut ke toko setiap hari." Yanti meyakinkan Laila.
Laila hanya mengangguk dan nurut pada Yanti. Selama ini Laila meyakini kalau apa yang dilakukan Yanti memang untuk masa depannya.
__ADS_1