
Selesai sarapan, Kayla dan Hasna segera mengganti pakaiannya. Bagus sudah menunggu di garasi. Wajahnya tampak berseri. Bahagia benar-benar sedang menguasai dirinya.
"Papa kok senyum-senyum sendiri?" tanya Hasna.
Bagus cukup terkejut saat melihat Hasna menatapnya dengan wajah bingung.
"Ayo cepetan! Nanti kepala sekolahnya keburu liburan," ucap Bagus mengalihkan pertanyaan Hasna.
Mobil mulai melaju. Kayla dan Hasna tidak banyak bicara. Sesekali hanya menjawab pertanyaan Bagus. Selebihnya hanya menikmati perjalanan ke rumah kepala sekolahnya.
Dua tempat sudah dikunjungi oleh mereka. Dua anak yang sudah bersekolah di tempat yang berbeda sudah siap melanjutkan sekolahnya nanti.
"Mau ikut ke kantor atau pulang?" tanya Bagus.
"Ikut ke kantor," jawab Hasna dengan sangat ceria.
"Hasna," ucap Kayla sambil membulatkan bola matanya.
"Kenapa?" tanya Hasna.
"Papa ke kantor buat kerja. Kita pulang aja," jawab Kayla.
"Ya udah," ucap Hasna kecewa.
"Kalau kalian mau ikut gak apa-apa. Kita ke kantor sekarang ya!" ucap Bagus.
"Tuh, boleh Kak." Hasna menatap Kayla penuh harap.
"Pulang aja," bisik Kayla.
"Ya udah kalau kalian mau pulang biar Papa anter. Kapan-kapan kalian boleh main ke kantor ya!" ucap Bagus.
Bagus melihat ada sesuatu yang berbeda dengan Kayla. Sepertinya Kayla tidak sesenang Hasna saat pindah ke Jakarta. Tak perlu ditanya kenapa, Bagus sudah tahu alasannya. Ia hanya berpura-pura tidak tahu saja. Membiarkan Kayla terbiasa dan menerima dengan sendirinya.
"Dah Papa," teriak Hasna saat mobil yang Bagus kemudikan hendak melaju kembali.
"Dadah Hasna," ucap Bagus sambil membalas lambaian tangan Hasna.
Belum sempat Laila melihat, mobil Bagus sudah kembali melaju. Meninggalkan rumah itu semakin jauh. Laila kecewa namun hanya bisa menghela napas dengan berat.
"Mama kenapa?" tanya Hasna.
"Gak apa-apa," jawab Laila.
"Aku ke kamar ya Ma," ucap Kayla.
__ADS_1
Seperti Bagus, Laila juga tidak mau memperumit apa yang terjadi dengan Kayla. Ia hanya mengangguk dan membiarkannya masuk ke kamar. Laila memiliki keyakinan bahwa semua akan baik dengan sendirinya. Hanya butuh waktu saja.
"Mama, tadi kepala sekolahnya ganteng." Hasna tersenyum lebar saat mengingat wajah kepala sekolahnya.
Ganteng? Laila mengernyitkan dahinya. Benarkah Hasna sudah puber? Anak itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Apakah secepat itu mas puber di zaman sekarang?
"Apa sih kamu. Belajar sana! Masih kecil kok udah tahu yang ganteng sih," ucap Laila kesal.
"Ya tahu dong Ma. Kan beda yang ganteng, biasa sama yang jelek. Mama juga tahu kan?" ucap Hasna dengan polosnya.
"Gak tahu ah," ucap Laila ketus.
Tidak ingin melanjutkan pembahasan tentang kepala sekolah yang ganteng, Laila memilih untuk masuk ke dalam kamar. Laila sangat gelisah. Hatinya tidak tenang. Rasanya Laila belum bisa menerima kenyataan kalau ternyata dua anaknya sudah mulai beranjak remaja dan dewasa.
"Papaaa," teriak Hasna menyambut kedatangan Bagus.
Kebahagiaan tersendiri saat Bagus disambut pulang oleh Hasna. Teriakan Hasna yang nyaring membuat Laila juga ikut tahu kalau suaminya sudah pulang. Dengan cepat Laila keluar dari kamarnya. Memburu suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Mas, aku mau ngomong. Ayo!" ajak Laila.
"Ya udah ngomong di sini," ucap Bagus.
"Gak bisa Mas. Kita harus bicara berdua. Di sini ada Hasna," ucap Laila.
"Ih gak apa-apa. Aku kan juga mau tahu," ucap Hasna.
Hasna cemberut kesal melihat Laila yang membawa Bagus ke kamar. Meskipun penasaran tentang apa yang akan dibicarakan mereka berdua, namun Hasna tidak punya pilihan lain selain kembali ke kamarnya. Mengadu tentang sikap Laila pada Kayla.
"Ya biarin aja sih. Kamu gak usah kepo," ucap Kayla.
"Ih kok malah bela Mama sih. Aku gak ada yang bela," ucap Hasna cemberut.
Bukan hanya Hasna, Laila juga sedang cemberut. Bedanya, Hasna tidak ditenangkan seperti Laila yang sedang ditenangkan oleh Bagus. Aduan Laila tentang Hasna pada Bagus ternyata tidak begitu ditanggapi. Ah bukan tidak ditanggapi, Bagus hanya merasa itu hal yang tidak terlalu penting baginya.
"Itu penting Mas. Dia masih SD tapi udah tahu yang ganteng-ganteng. Nanti dia bukannya sekolah malah ngincer kepala sekolahnya," ucap Laila.
"Astaga, La. Kamu kok kalau ngomong itu kelewatan. Jangan mikir kejauhan, nanti pusing sendiri. Hasna cuma mengagumi aja kok. Lagian kepala sekolahnya juga udah nikah," ucap Bagus.
"Tuh apalagi kalau dia udah nikah. Bahaya ini Mas. Nanti dia kalau jadi pelakor gimana? Gak mau aku," ucap Laila.
"Istigfar La, istigfar. Kamu kalau ngomong ya ih amit-amit," ucap Bagus.
"Ih Mas mau kemana? Aku belum beres ngomong," ucap Laila saat Bagus pergi.
"Mandi. Gerah aku," ucap Bagus.
__ADS_1
Laila menghela napas panjang saat Bagus pergi meninggalkannya. Ia hanya bisa kesal sendiri. Laila yang ketakutan menghadapi remaja puber dibuat stres sendiri. Apalagi saat Bagus justru hanya menanggapinya dengan santai.
"Masih ngambek?" tanya Bagus saat keluar dari kamar mandi.
"Gak. Siapa yang ngambek?" ucap Laila ketus.
Bagus tahu kalau Laila masih kesal. Namun berdebat hanya akan menambah masalah. Akan lebih panjang lagi pembahasannya. Akan semakin besar kekhawatiran Laila jika ditanggapi. Ia mengalihkan pembicaraan tentang asisten rumah tangga yang baru.
"Kok yang baru? Bi Lastri kemana memangnya? Katanya cuma mudik," ucap Laila.
"Tadi nelepon. Katanya gak ke Jakarta lagi," ucap Bagus.
"Apa jangan-jangan Mas sengaja ya?" tuduh Laila.
"Hah? Apanya yang sengaja?" tanya Bagus.
"Sengaja kan Bi Lastri dipecat? Mas pasti punya rahasia yang Bi Lastri tahu. Makanya pas tahu aku mau ke Jakarta, Bi Lastri langsung dipecat. Iya kan?" tuduh Laila lagi.
Bagus menatap Laila tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya. Bingung dengan sikap Laila yang terlalu overthinking. Semua ini membuatnya pusing. Namun harus tetap tenang. Ia tidak mau menanggapi tuduhan Laila.
"Mas kok diam aja sih?" tanya Laila.
"Terus aku harus gimana?" Bagus balik bertanya.
"Gak tahu ah. Mas tahu kan di drama korea juga gitu. Banyak yang selingkuh sama pembantunya. Gak mau ah. Aku mau Bi Lastri," ucap Laila.
"Makanya jangan kebanyakan nonton drama. Korban drakor jadi begini nih," ucap Bagus sambil keluar dari kamarnya.
Heran, padahal kan drama korea katanya romantis. Kok bisa-bisanya dia curiga sama asisten rumah tangga. Ya Tuhan, kuatkn hamba dalam menghadapi godaan ini. Semoga Laila kembali ke jalan yang benar.
"Pah, gak ada kegiatan apa gitu biar aku gak bosen?" tanya Kayla.
"Bosen? Kamu maunya apa? Jalan-jalan? Jajan?" tanya Bagus.
Kayla hanya menggeleng.
"Terus kamu maunya apa?" tanya Bagus.
"Aku mau jualan online boleh?" Kayla balik bertanya.
"Jualan online?" Bagus mengernyitkan dahinya.
Bagus berpikir jika uang jajan yang diberikan olehnya kurang sampai Kayla ingin berjualan online. Tanpa Bagus tahu jika semua itu hanya akal-akalan Kayla saja. Ia berharap agar bisa mendapat izin untuk mencantumkan alamat rumah itu di media sosialnya.
Besar harapan Kayla jika ayah kandungnya itu tetap mengiriminya paket. Meakipun kadang paket itu hanya berupa barang sederhana. Bertemu dengan ayah kandungnya adalah salah satu mimpinya saat ini.
__ADS_1
Kayla menyadari jika kasih sayang Laila dan Bagus begitu tulus untuknya. Namun sebagai anak, rasanya wajar jika Kayla berharap mendapat kasih sayang itu dari ayah kandungnya sendiri. Meskipun mungkin tidak sesuai harapannya, paling tidak Kayla bisa bertemu dengan ayah kandungnya.