
"Pagi istriku," sapa Bagus sambil menggenggam tangan Laila dan mencium punggung tangannya.
"Pagi suamiku," balas Laila sambil melakukan hal yang sama.
"Kamu cantik banget," ucap Bagus.
"Cuci muka dulu Mas, baru gombal. Masih belekan juga," ucap Laila.
Bagus yang merasa tidak percaya diri langsung mengusap sudut matanya. Membersihkan matanya agar Laila tidak jijik dengan dirinya. Laila membantu Bagus untuk segera bangun dan ke kamar mandi.
"Mandiin," ucap Bagus manja.
"Dih, Hasna aja udah mandi sendiri. Ayo Mas cepet!" pinta Laila.
Bagus sebenarnya masih ingin bermanja-manjaan dengan Laila. Namun melihat Laila sudah memegang perutnya sambil meringis, membuat Bagus tidak tega.
"La," panggil Bagus saat selesai mandi.
Laila tidak ada di kamar. Bahkan nasi kuning yang sempat dibawa ke kamar juga sudah tidak ada. Bagus mengernyitkan dahinya. Bukan hanya mencari Laila, tapi perut Bagus yang sudah mulai lapar juga ikut mencari keberadaan nasi kuning itu.
"La, ngapain?" tanya Bagus saat melihat Laila berjalan bolak balik sambil memegang perutnya.
"Lapar Mas. Ayo buruan!" ucap Laila.
Setelah melihat Bagus, Laila segera duduk dan menyantap nasi kuningnya. Bagus yang memang belum lapar, cukup terkejut melihat Laila makan dengan begitu lahap.
"Kenapa Mas? Saya norak ya?" tanya Laila.
"La, bisa gak kamu gak usah seformal itu sama aku? Saya, saya. Bilang aku gitu kan bisa. Lebih enak di kuping," ucap Bagus.
"Ah iya Bisa, Mas. Aku bisa kok. Bisa banget. Buat Mas apa sih yang gak," jawab Laila sambil tersenyum lebar.
"Nah gitu kan lebih enak di dengernya. Berasa suami istri beneran. Meskipun belum itu," ucap Bagus.
"Itu apaan Mas?" tanya Laila.
"Gak ah. Lanjut makan," ucap Bagus.
Laila melanjutkan sarapannya tanpa memperpanjang ucapan Bagus. Ia sendiri sudah paham. Namun apalah daya, sebagai seorang istri Laila memang belum bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Mas, siang ini kita ke rumah kontrakanku yu! Aku kangen Hasna sama Kayla," ajak Laila.
"Boleh. Tapi kita ke toko dulu ya!" ucap Bagus.
"Siap," ucap Laila.
Setelah sarapan, Laila mencari kesibukan agar tidak terlihat gugup saat harus berhadapan dengan Bagus. Di rumah itu mereka hanya berdua. Pertama kalinya Laila hanya berdua dengan seorang laki-laki. Melihat Bagus membuat Laila berdebar. Ingin rasanya memeluk laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
"La, kok bengong?" tanya Bagus.
Laila segera kembali menyapu. Padahal rumah itu masih sangat bersih. Entah sudah berapa kali Laila menyapu pagi ini. Semua hanya ia lakukan agar kepalanya tidak berpikir kemana-mana dan membuatnya gugup.
__ADS_1
"Ayo La!" ajak Bagus.
"Kemana Mas?" tanya Laila.
Laila menatap Bagus dengan mulut terbuka saat suaminya itu mengganti pakaian tepat di hadapannya. Aroma tubuh Bagus yang khas membuat Laila kehilangan kendali. Ia menatap Bagus dengan wajah pasrah.
"Heyy La," ucap Bagus sambil menggerakkan tangannya di depan wajah Laila.
"Ah iya Mas ayo!" ajak Laila.
Laila benar-benar merasa malu sendiri. Kenapa setelah menikah otaknya menjadi kotor? Kenapa pikiran Laila selalu berfantasi jauh saat melihat Bagus? Mungkin karena Laila merasa dia dengan Bagus memang sudah sah. Ada rasa berhak untuk mendapatkan apa yang ia inginkan saat ini. Namun sayangnya agenda bulanan datang di saat yang tidak tepat.
"La, soal toko itu kapan kira-kira kita bisa ngelolanya?" tanya Bagus.
"Secepetnya Mas. Sayang kalau gak cepet-cepet dikelola," jawab Laila.
Ya, mereka sepakat untuk segera mengelola toko itu dengan baik dan secepatnya. Apalagi saat ini Laila sudah tidak bekerja lagi di pabrik. Laila sudah resmi mengajukan pengunduran diri sehari sebelum pernikahan mereka.
"Mas, kok masih belum beres?" tanya Laila.
Pesta pernikahan yang digelar di toko, membuat banyak sekali barang berserakan. Belum sempat dibereskan semuanya. Laila mengeluh karena tidak mau terlalu lama jadi pengangguran.
"Kamu kan sekarang jadi ibu rumah tangga. Bukan pengangguran dong," ucap Bagus.
"Ya tetap aja Mas, aku gak punya penghasilan. Namanya pengangguran," ucap Laila.
"Loh, memangnya aku bakal biarin kamu gak megang uang? Nanti kan ada uang bulanan dari aku," ucap Bagus.
"Aku jadi nyusahin kamu ya Mas. Aku gak mau ngerepotin. Aku tuh udah biasa mandiri," ucap Laila.
"Maaf ya Mas. Aku gak ada maksud begitu," ucap Laila.
Laila segera memeluk Bagus. Refleks yang membuat Laila tidak malu sama sekali padahal banyak orang yang melihat mereka berdua. Seketika Laila mengesampingkan anggapan mereka semua. Yang Laila inginkan adalah Bagus tidak marah lagi padanya. Dan semua itu berhasil.
"Jangan terlalu mandiri ya! Aku gak suka," ucap Bagus.
"Iya Mas," ucap Laila.
Laila menatap Bagus yang tengah fokus melihat keadaan tokonya. Ya, laki-laki itu memang sudah mapan. Bahkan sangat mapan. Namun Laila bukan orang yang terbiasa menengadahkan tangannya pada siapapun. Bahkan saat bersama mendiang ibunya, Laila tidak berani meminta uang. Ia akan menunggu sampai diberi.
Keadaan keluarganya yang tidak mudah membuat Laila terbiasa hidup mandiri sejak dulu. Apa yang biasa ia lakukan sejak dulu ternyata membuat Bagus ingin mengubah semua itu. Sayangnya tidak mudah. Laila yang justru terbiasa mandiri merasa tidak nyaman saat harus bergantung pada Bagus.
"La, kamu lagi ngapain?" tanya Bagus.
"Nulis bahan apa aja yang dibutuhin buat kue, Mas. Biar ketahuan berapa modal yang harus Mas siapain," jawab Laila.
Bagus mendekat pada Laila. Melihat apa saja yang ditulis oleh istrinya. Setelah menikah, Bagus tidak menginginkan Laila menjadi pembuat kue utama di sana. Itu akan membuat Laila sangat lelah.
"Kita cari orang aja ya. Biar nanti kamu cukup mantau aja," ucap Bagus.
"Mas gak percaya sama kemampuan aku ya? Mas lupa aku pernah membuat kue terbaik buat pernikahan Mas dulu?" tanya Laila.
__ADS_1
"Laila berhenti membahas masa laluku yang menjijikkan itu," ucap Bagus kesal.
"Maaf Mas. Tapi saat itu Mas bisa ingat kan bagaimana semua orang menyukai kue buatanku? Mas gak lupa kan kalau punya toko kue itu adalah impianku?" tanya Laila.
"Memiliki toko kue bukan berarti kamu yang harus mengerjakan semuanya," jawab Bagus.
"Jadi Mas tetap gak mau aku yang bikin kuenya?" tanya Laila.
"Bukan begitu. Tapi kamu gak sendiri. Kita cari orang buat bantuin kamu," jawab Bagus.
"Mas toko ini masih baru. Gak harus banyak orang. Semua bisa bikin keuangan gak stabil," ucap Laila.
Bagus dan Laila terus berdebat. Menurut Laila Bagus tidak konsisten dengan ucapannya. Namun Laila tidak menyadari jika yang dilakukan Bagus adalah karena ingin membuat Laila berhenti dari kata lelah. Sebagai suami yang baik, Bagus hanya ingin istrinya duduk mengurus anak-anaknya tanpa harus kerja keras seperti dirinya.
"Ya sudah kalau Mas gak konsisten sama omongan Mas, aku juga bisa dong bersikap semauku. Bisa kan? Adil kan?" ucap Laila.
"Apa maksudmu?" tanya Bagus.
"Aku gak mau bobo bareng Mas sampai Mas konsisten sama omongan Mas sendiri," jawab Laila.
"Heh, sembarangan. Gak bisa begitu," ucap Bagus.
"Ya terserah aku. Mas kan juga ngambil keputusan sepihak," ucap Laila.
"Iya udah iya. Terserah kamu. Atur aja deh sesukamu," ucap Bagus.
"Nah, gitu dong Mas. Aku kan jadi seneng," ucap Laila.
Lagi-lagi Laila memeluk Bagus. Membuat Bagus merasa dadanya bergemuruh. Apalagi saat bagian dada Laila menyentuhnya. Hangat dan membuat Bagus berpikir kotor.
"Laila, pulang ke rumahku dulu yu! Nanti ketemu Hasna dan Kaylanya sore aja," ajak Bagus sambil menarik tangan Laila.
"Eh Mas tunggu dulu!" ucap Laila berusaha menarik tangannya dari genggaman Bagus.
Tangan Bagus yang terlalu kuat membuat Laila tidak bisa melepaskan diri. Beruntungnya saat menyadari sikap Laila, Bagus segera merangkul tubuh Laila. Membantunya berjalan agar lebih cepat.
"Mas kita ngapain sih pulang dulu?" tanya Laila.
"Gak kuat La," jawab Bagus.
"Hah? Mau ngapain? Aku masih palang merah ini Mas," ucap Laila panik.
"Gak sampe situ kok. Aku tahu batasnya," bujuk Bagus.
Laila menelan salivanya saat Bagus mengunci pintu rumahnya. Laila melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul sebelas siang. Cuaca yang panas namun tak sepanas biasanya. Laila merasa keringatnya bercucuran lebih banyak.
"La, ayo!" ajak Bagus.
"Ayo Mas," jawab Laila.
Meskipun Laila malu, namun jujur saja Laila pun sebenarnya menginginkan hal yang sama. Kedewasaan Laila menuntutnya untuk merasakan apa yang seharusnya ia rasakan. Meskipun ia tidak tahu sampai mana batas yang dimaksud oleh Bagus.
__ADS_1
"Mas, awas ya aku ingetin lagi. Aku masih palang merah," bisik Laila saat Bagus memeluknya.
"Iya kamu tenang aja. Aku nyicil kok," ucap Bagus.