Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Pembawa sial


__ADS_3

Sejenak Laila memegang dadanya. Rasa sesak itu kembali membuatnya nyaris tak sadarkan diri. Berkali-kali Laila mengucapkan istigfar. Menguatkan dirinya sendiri karena sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Hanya ada dirinya dan ibunya yang sudah terkubur.


"Bu, apa ini? Kenapa ibu tidak menjelaskan semuanya sama aku? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Laila sambil menangis.


Hari sudah gelap namun Laila tidak mau beranjak dari sana. Rasa sakit itu semakin bertambah dan membuatnya ingin pergi bersama ibunya. Sampai akhirnya sorot lampu baterai mengganggu mata Laila hingga mengerjap.


"La, ayo pulang. Kita harus pengajian di rumah," ucap Yanti.


Ya, sampai saat ini Yanti lah yang jauh lebih peduli padanya. Yanti sampai rela mencarinnya ke pemakaman karena Laila tak kunjung pulang.


"Aku ngaji di sini aja Kak," ucap Laila.


"Ayolah. Itu Bu Indah meneleponmu terus-terusan. Paling gak sekarang kamu pulang dulu, makan, istirahat. Besok kita ke sini lagi. Ngaji di sini ya," bujuk Yanti.


Bu Indah? Awalnya Laila sama sekali tidak ingin kembali ke Jakarta. Tidak ada yang membuatnya harus kerja keras dan sukses. Ibunya sudah tidak ada. Apa yang diamanatkan padanya hanya sebuah harapan, bukan kewajiban.


Rencana Laila adalah melanjutkan bisnis onlinenya dan bertahan hidup di kampungnya. Berada tak jauh dengan ibunya meski kini rumah mereka berbeda. Namun ucapan Deri membuat semua rencana itu berubah.


"Ayo, Kak." Tiba-tiba Laila berdiri bahkan berjalan lebih dulu, meninggalkan Yanti yang masih mematung melihat sikap aneh Laila.


Pengajian digelar sangat sederhana dan hanya dihadiri oleh beberapa tetangga yang ada di sekitar rumah Laila. Setelah selesai pengajian, Laila mengemas pakaiannya. Yanti yang melihat semua itu segera menghampiri Laila.


"Kamu mau kemana?" tanya Yanti.


"Balik ke Jakarta Kak," jawab Laila sambil melanjutkan pengemasan pakaiannya.


"La, tapi gak semua baju dibawa juga. Kamu kenapa sih?" tanya Yanti sambil memegang tangan Laila.


Laila berhenti dan menarik napasnya dalam-dalam. Ia menatap Yanti dengan mata berkaca.


"Bang Deri ngusir aku. Katanya aku udah gak berhak tinggal di sini lagi," ucap Laila sambil menahan tangisnya.


"Apa?" tanya Yanti.


Yanti segera keluar dari kamar Laila. Mencari Deri untuk menuntut penjelasan atas ucapannya pada Laila.

__ADS_1


"Gak usah ikut campur," ucap Deri.


"Bang, Laila itu adik kamu. Setelah ibu gak ada, kamu cuma punya Laila. Jangan gitu. Ibu pasti sedih liatnya," ucap Yanti.


"Kamu gak tahu apa-apa. Jadi gak usah ikut campur," ucap Deri.


"Kalau gitu kasih tahu aku. Apa yang sebenarnya terjadi? Laila gak boleh pergi dari rumah ini," ucap Yanti.


"Terserah," ucap Deri sambil pergi.


Yanti berusaha mengejar Deri, namun Laila menahannya. Pelukan Yanti membuat Laila merasa sedikit tenang. Meskipun Laila tidak tahu kapan akan bertemu kembali dengan kakak ipar yang sudah ia anggap kakak kandungnya itu.


"La, kakak mohon jangan ladeni Bang Deri. Biarin aja dia mau ngomong apa. Kamu kayak gak tahu Bang Deri aja," ucap Yanti.


Laila sebenarnya tidak ingin pergi dari rumah itu. Seandainya ia harus pergi, Laila hanya ingin kerja dan sekolah. Setelah itu kembali ke rumah yang sudah ia tinggali belasan tahun ini. Rumah yang penuh dengan ribuan bahkan jutaan kenangan indah bersama ibunya.


Pengajian berlangsung hingga seminggu. Setelah itu, Laila menemui Deri yang sedang duduk di teras rumah.


"Kopinya Bang," ucap Laila sambil menyimpan secangkir kopi yang masih mengepul di atas meja.


Laila duduk di samping Deri yang masih diam. Semenjak kepergian Bu Rini, Deri memang tidak pernah berulah. Bahkan ia tidak pernah mau bicara dengan Laila. Terakhir kali Deri bicara dengan Laila adalah saat di pemakaman. Memberikan informasi yang tidak jelas namun menyesakkan dadanya.


Deri tidak merespon apapun. Ia hanya diam. Menikmati kepulan asap dari isapan rokok yang berada di jarinya. Laila menatap Deri berkali-kali. Namun Deri tidak mengucapkan sepatah katapun. Melihat ke arah Laila saja tidak.


"Bang, sebelum aku pergi tolong jelasin ke aku. Apa yang aku gak tahu sebenarnya?" tanya Laila.


Deri menatap Laila dengan tajam lalu tersenyum dengan sinis.


"Siap dengar semuanya?" tanya Deri.


"Siap," jawab Laila.


Debaran jantungnya sudah tidak beraturan. Tubuhnya mulai gemetar. Rasanya tidak siap jika apa yang ia dengar ternyata sangat menyakitkan.


"Kamu pembawa sial Laila. Karena kamu, ibu sempat depresi dan hampir bunuh diri. Kamu anak haram. Kamu anak dari laki-laki bejad yang tega memperkosa ibu. Bapak sampai kepikiran dan sakit-sakitan saat tahu ibu hamil anak laki-laki jahat itu. Bapak meninggal setelah kamu lahir. Kehadiran kamu membuat Bapak terbebani secara psikis dan emosional. Kamu itu pembunuh Bapak," ucap Deri.

__ADS_1


Laila masih terdiam. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Kedua tangannya menutup wajahnya hingga yang terdengar hanya isak tangis Laila.


"Terus siapa Bapakku Bang?" tanya Laila disela isak tangisnya.


"Mana aku tahu. Mati kali," jawab Deri.


"Jadi ini penyebab Abang benci sama aku selama ini?" tanya Laila.


"Kalau bukan karena ibu, udah dari dulu aku usir kamu. Setiap melihat kamu, aku membayangkan penderitaan Bapak. Pergi kamu dari sini secepatnya," ucap Deri.


"Bang, aku gak mau dilahirkan dengan keadaan seperti ini. Tapi paling gak, kita satu rahim yang sama. Kita lahir dari wanita hebat yang sama Bang. Apa Abang gak sedikitpun bisa nerima aku?" tanya Laila.


"Berhenti menangis di hadapanku. Tangisku lebih lama dan lebih sakit," ucap Deri.


"Bang, gak ada seorang pun yang mau dilahirkan jika kasusnya seperti ini. Tapi ini sudah takdir. Aku gak punya siapa-siapa selain Abang," ucap Laila.


"Aku lebih baik sendiri dan gak punya siapa-siapa dari pada harus ada ikatan apapun sama kamu," ucap Deri.


Laila menghela napasnya dalam-dalam. Sudah cukup! Laila sudah sangat tidak berharga di mata Deri. Percuma ia menjatuhkan harga dirinya. Deri tidak akan mengasihaninya. Ia hanya akan terlihat layaknya sampah di mata Deri.


Sudah cukup dengan semua hinaan dan cacian yang diberikan Deri untuknya. Laila berhak bahagia dengan jalannya sendiri. Deri sudah tidak pernah menganggapnya lagi. Apa lagi yang harus ia kejar di kampungnya?


Saat ini Laila hanya ingin segera pergi ke Jakarta. Menata hidupnya yang baru. Melupakan semua kenangan yang terpahat di kepalanya. Menyusun rencana hidup selanjutnya sebagai manusia sebatang kara.


Tidak! Ada Bu Indah. Orang yang menyayanginya dengan tulus. Masih ada harapan Laila untuk bahagia. Masa depannya masih bisa ditata dengan baik meski Laila hanya sendirian.


Malam terakhir berada di rumah itu Laila gunakan dengan baik. Ia bicara dengan Yanti dan kedua keponakannya. Meski penuh dengan luka dan air mata, namun Laila senang karena memiliki mereka dalam hidupnya.


"Lala jangan lupa sama Kay ya," ucap Kayla.


"Pasti Kay. Lala gak mungkin lupa sama Kay dan Hasna," ucap Laila.


"Terima kasih ya La. Kata Bu guru Kay pinter. Kay bilang sama Bu guru, Kay diajarin Lala. Nanti kalau Kay ada PR, Kay telepon Lala ya." Kayla memeluk Laila.


Pelukan Kay segera diikuti Hasna yang membuat Laila merasa tidak sendirian. Dua keponakannya itu membuat kenangan yang terlalu indah dalam hidup Laila. Apalagi peran Yanti yang sangat luar biasa dalam hidup Laila. Membiayai semua kebutuhan sekolah Laila saat SMP.

__ADS_1


Laila tersenyum menahan sakit saat mengingat betapa galaknya ia. Mengajarkan Kayla membaca dan menghitung hingga akhirnya Kayla bisa seperti anak lain yang sekolah TK. Meskipun mereka hanya belajar di rumah, Kayla berhasil mengikuti teman yang lainnya.


Sekarang Laila sudah masuk SD. Padahal dulu janjinya Laila akan mengantarkan Kayla ke sekolah. Laila juga berjanji akan mengajarkan Kayla hingga juara kelas. Namun kini janji itu hanya sebuah kenangan yang menyakitkan bagi keduanya.


__ADS_2