
"Chef gak pulang?" tanya Laila dengan polosnya.
"Kamu ngusir saya, La?" tanya Chef.
"Bukannya apa-apa. Ini sebentar lagi magrib. Kata orang suka banyak setan berkeliaran," jawab Laila.
Chef itu mendengus kesal mendengar ucapan Laila. Kepolosan Laila benar-benar membuatnya kesal saat ini. Apa yang dikatakan Laila biasanya akan dikatakan seorang ibu pada anaknya yang masih kecil. Rasanya alasan Laila mengusirnya benad-benar keterlaluan.
"Laila, saya ini sudah dewasa. Kamu tidak perlu menakut-nakuti saya seperti itu. Kalau kamu gak suka saya ada di sini, bilang saja. Saya bisa pergi sekarang," ucap chef sambil cemberut.
"Loh, gak gitu chef. Saya kan cuma bilang apa kata ibu saya dulu," ucap Laila.
"Jadi kamu nahan saya buat gak pulang kan?" tanya Chef.
"Gak. Saya cuma mau bilang hati-hati ya chef," ucap Laila.
Laila segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Chef hanya bisa melihat pintu itu tertutup dengan mulut yang menganga.
"Astaga Laila, bahkan kamu gak nahan aku sama sekali. Keterlaluan kamu," gerutu chef.
Berbeda dengan chef yang terus menggerutu kesal semalaman, Laila justru tidur pulas tanpa beban apapun. Bahkan pagi harinya, Laila pergi ke pabrik dengan wajah yang ceria dan penuh semangat.
"Pagii chef," sapa Laila saat bertemu dengan laki-laki bertubuh tinggi itu.
"Pagi," jawab Chef dengan ketus.
"Masak apa kita pagi ini?" tanya Laila ddngan semangat seperti biasanya.
"Tuh," ucap chef menunjuk sebuah kertas yang menempel di dinding.
Sudah ada daftar menu yang harus dibuat pagi ini. Laila segera mengambil bahan dan alat yang dibutuhkannya.
"Chef, saya boleh nanya sesuatu gak?" tanya Laila.
"Gak perlu. Kerja yang bener," jawab chef dengan dinginnya.
"Lagi datang bulan chef? Sensi banget nih kayaknya," ejek Laila sambil tertawa.
"Gak ada yang lucu sama sekali," ucap chef.
"Ya ampun, ambeknya lucu banget. Coba lihat sini mana ambeknya anak baik, mana ambeknya anak lucu," ucap Laila sambil mendekati wajah chef.
Hal itu membuat Chef salah tingkah. Wajah mereka yang berjarak terlalh dekat membjat chef merasa dadanya berdebar tak karuan. Ingin sekalk Chef mengungkapkan perasaanya. Rasa nyaman saat bersama Laila dan rindu saat tak bersamanya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Bagus dengan suara baritonnya.
Laila dan chef yang sedang tertawa langsung diam dan menatap sumber suara. Setelah melihat wajah Bagus yang menatap mereka tak suka, Laila segera menunduk. Begitupun dengan chef.
"Kenapa gak sekalian colek-colek tepung di muka biar layak di sinetron," ucap Bagas.
Keduanya hanya bisa meminta maaf atas sikap mereka. Sama sekali tidak ada niat untuk bermain-main di tempat kerja. Tuduhan Bagus tidak benar sama sekali. Namun apa boleh buat, Laila hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Bagus.
"Laila, saya tunggu kamu di ruangan!" ucap Bagus.
"Ruangan siapa Pak?" tanya Laila.
Bagus menghela napas. Ya, di sini Bagus memang tidak mempunyai ruangan khusus. Selama ini ia selalu berada di ruangan Pak Jacob. Tapi seharusnya Laila juga tidak perlu bertanya ruangan siapa. Karena seharusnya Laila sudah tahu ruangan mana yang dimaksud.
"Ruangan biasa," jawab Bagus ketus.
"Sekarang Pak?" tanya Laila.
__ADS_1
"Tahun depan. Ya sekarang dong. Gimana sih kamu ini," jawab Bagus.
"Siap Pak," jawab Laila.
Laila segera membuka celemek, tutup kepala dan sarung tangan yang ada di tubuhnya. Setelah itu izin pada chef dan segera menyusul langkah kaki Bagus yang lebar dan cepat.
"Lelet banget sih kamu," ucap Bagus saat Laila baru sampai di ruangannya.
"Bapak yang kecepetan. Bapak kan tinggi, jadi kakinya panjang. Langkahnya bisa lebih cepet. Gak seimbang itu Pak. Gak sportif," ucap Laila.
"Sportif, sportif. Kamu pikir kita lagi lomba? Duduk!" ucap Bagus.
"Ya karena bukan lomba makanya saya tetep di belakang bapak. Kalau lomba, saya udah lari Pak. Saya pasti lebih cepet dari bapak. Badan saya kan kecil, jadi pasti lebih lincah." Laila begitu yakin.
"Oh, jadi badanku gak kecil?" tanya Bagus dengan nada mengancam Laila.
"Tinggi Pak. Bapak tinggi," jawab Laila panik.
"Aku gak nyangka ternyata kamu sebawel ini," ucap Bagus.
"Maaf Pak," ucap Laila sambil tertunduk.
"Duduk!" ucap Bagus.
Laila segera duduk setelah Bagus dua kali memintanya untuk duduk. Ia mempersiapkan diri kalau tiba-tiba Bagus memakinya. Ia menahan diri jangan sampai ada satu kata pun yang ia keluarkan. Laila hanya ingin bertahan sebagai karyawan. Terlalu banyak tingkah takut membuatnya dipecat dari pabrik itu.
"Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan," ucap Bagus.
"Iya Pak," jawab Laila sambil menunduk.
"Pertama aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki itu," ucap Bagus.
"Siapa yang cemburu? Gila kamu. Ingat suami," jawab Bagus sambil menggelengkan kepalanya.
"Suami? Saya gak punya suami. Chef juga duda. Jadi kalau saya becanda, saya rasa gak ada yang harus kita jaga perasaannya. Kecuali kalau Bapak yang cemburu," ucap Laila.
"Hah? Gak punya suami? Pantas saja kamu ganjen sama chef itu. Ternyata janda," ucap Bagus.
"Saya bukan janda Pak," ucap Laila.
"Apa namanya kalau bukan janda? Kumpul kebo?" tanya Bagus.
"Astaga Bapak, jahat sekali mulut anda. Sakit hati saya," ucap Laila.
"Makanya jangan malu ngakuin janda. Anak-anak butuh pengakuan seorang ibu. Kalau kamu gagal jadi seorang istri, paling gak jangan gagal jadi seorang ibu." Bagus mengingatkan Laila.
"Tapi mereka itu bukan anak saya Pak," ucap Laila.
"Laila cukup! Kamu boleh malu mengakui mereka. Bahkan dengan statusmu di usia yang terbilang muda. Tapi itu kenyataan. Mereka gak salah. Jangan membuat mereka lebih sedih dengan gak ngakuin status mereka," ucap Bagus.
"Tapi mereka beneran bukan anak saya Pak," ucap Laila.
"Laila cukup! Kesalahanmu di masa lalu itu milikmu. Perbaiki! Tapi mereka gak salah," ucap Bagus.
"Ah terserah Bapak lah. Yang pasti saya udah jujur kalau mereka bukan anak saya. Saya juga gak punya suami seperti yang bapak tuduhkan sama saya," ucap Laila.
"Terus laki-laki yang kemarin sore di rumah kamu?" tanya Bagus.
"Ya itu chef. Dia lagi main ke rumah," jawab Laila.
Chef? Bagus mengerutkan dahinya saat tahu jika laki-laki itu adalah chef. Duda yang menggoda Laila saat jam kerja.
__ADS_1
"Mulai hari ini kamu gak kerja di sana lagi," ucap Bagus.
Mendengar kalimat itu, Laila langsung menangis histeris sambil memegang kaki Bagus. Memohon agar tidak dipecat. Tangisan itu terdengar ke luar hingga Pak Jacob segera masuk dan terkejut melihat Laila.
"Laila, ada apa?" tanya Pak Jacob.
"Saya dipecat sama Pak Bagus Pak," jawab Laila disela isak tangisnya.
"Hah? Dipecat?" tanya Pak Jacob sambil melihat ke arah Bagus.
"Gak. Gak ada yang mecat dia," ucap Bagus sambil menggelengkan kepalanya.
"Tadi Bapak bilang mulai hari ini saya gak kerja lagi," ucap Laila.
"Laila makanya kalau orang ngomong itu denger baik-baik. Aku cuma bilang kamu gak kerja lagi di sana. Artinya kamu kembali ke tempat produksi aja," ucap Bagus.
"Oh begitu ya," ucap Laila sambil menghapus air matanya.
Sayangnya keputusan Bagus untuk mengembalikan Laila ke bagian produksi ditolak oleh Pak Jacob. Menurut Pak Jacob, Laila sangat berkompeten di bagiannya saat ini. Ijazah yang ia miliki didukung dengan kemampuannya. Masakan yang Laila buat selalu cocok dengannya.
"Tapi dia gak fokus kerja. Dia malah pacaran Pak," ucap Bagus.
Laila membantah tuduhan Bagus. Ia pun menjelaskan alasan kenapa ia bisa dituduh seperti itu oleh Bagus. Pak Jacob yang mendengar penjelasan Laila hanya menarik nafasnya dalam-dalam. Setelah Laila selesai menjelaskan, Pak Jacob meminta Laila kembali bekerja.
"Kalau kamu cemburu, katakan saja. Jangan berlindung di balik kekuasaanmu. Dia itu butuh pekerjaan, kita butuh kemampuannya. Profesional aja," ucap Pak Jacob.
Cemburu? Kata yang membuat Bagus menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin Pak Jacob menuduhnya cemburu? Ia segera pergi. Entah kemana, Pak Jacob pun tak ingin bertanya.
Kebiasaan Bagus memang seperti itu. Saat kesal dan marah, Bagus memang pergi. Kemana saja terserah maunya. Langkah kakinya dituntun ke tempat yang ia suka. Biasanya, Bagus akan pergi ke club. Tapi di sini, belum ada tempat seperti itu.
Pak Jacob pun merasa aman. Tidak perlu khawatir dengan keadaan Bagus. Daerah perkampungan yang mulai berkembang ini adalah daerah yang aman menurut Pak Jacob.
Tanpa Pak Jacob tahu jika Bagus pergi ke rumah Laila. Ia mencari tahu tentang kedua anak yang memanggil Laila dengan sebutan mama. Padahal itu hanya salah paham saja. Karena kenyataannya mereka memanggil Laila dengan sebutan Lala, bukan Mama.
"Cari siapa Pak?" tanya Bu Rini.
"Ah maaf Bu," jawab Bagus terkejut.
Bagus memegang dadanya saat Bu Rini bertanya tanpa ia ketahui keberadaannya.
"Bapak cari siapa?" tanya Bu Rini.
"Ini saya mau cari anak-anak..." ucap Bagus.
"Oh, jadi Bapak ini bapaknya? Mereka pasti senang kalau tahu bapaknya datang nemuin mereka," ucap Bu Rini.
Belum selesai Bagus menjelaskan tujuannya ke sana, Bu Rini sudah memotongnya. Akhirnya Bu Rini salah paham dan menduga jika Bagus adalah mantan suami Laila. Tapi dari ucapan Bu Rini, Bagus jadi semakin yakin kalau Laila memang seorang janda beranak dua.
"Mau nunggu di sini atau di rumah saya aja?" tanya Bu Rini.
"Oh ya terima kasih Bu. Saya mau pulang dulu. Biar nanti saya ke sini lagi," ucap Bagus.
"Padahal tunggu di sini aja. Paling dua jam lagi mereka pulang kok," ucap Bu Rini.
"Memangnya mereka kemana?" tanya Bagus.
"Ya sekolah dong Pak. Makanya Pak jangan cuma bisa bikinnya aja. Kalau berani bikin ya berani tanggung jawab jiga dong. Kasian Laila, harus ngurus dua anak sendirian," ucap Bu Rini.
Bagus terdiam. Ia membayangkan bagaimana beban Laila saat harus mengurus dua anak tanpa suaminya. Mungkin apa yang dilakukan Laila adalah salah satu cara agar ia bisa tertawa. Bagus menyesal sudah menuduh Laila yang tidak-tidak.
Dalam perjalanan pulang, Bagus terus memikirkan Laila. Bagus berpikir jika pindahnya Laila dari Jakarta ke Surabaya karena harus bertahan hidup. Tiba-tiba rasa iba muncul dari salah paham itu. Kemarahan Bagus pada Laila pun hilang seketika.
__ADS_1