
Laila memang sedang bermasalah dengan moodnya. Baru saja kemarin malam ia marah pada Bagus karena akan mengirim chef baru untuk membantunya di toko. Hari ini, Laila justru terlihat menunggu orang yang dimaksud oleh Bagus. Sayangnya, sampai akhirnya Laila pulang, tidak ada chef yang menemuinya.
"Mas Bagus bohong," gerutunya saat sampai ke rumah.
"Kenapa Bu?" tanya Bi Sumi.
Seperti biasa, Bi Sumi akan segera membuatkan teh hangat saat tahu Laila sudah pulang. Apalagi saat melihat tanda-tanda kehamilan pada Laila. Bi Sumi yakin jika Laila pasti butuh perhatian. Saat Bagus jauh, maka Bi Sumi memposisikan diri sebagai orang yang berusaha mengerti keadaan Laila.
"Katanya Mas Bagus mau kirim chef. Mana gak ada? Mas Bagus itu udah mulai suka bohong sama istri sendiri," ucap Laila.
Bi Sumi menatap Laila bingung.
"Kenapa Bibi lihat saya begitu?" tanya Laila.
"Semalam kan ibu yang bilang kalau gak butuh chef," jawab Bi Sumi.
Laila yang baru saja meneguk teh hangat langsung menatap Bi Sumi dengan kerutan di dahinya. Ia menganggap jika Bagus mempermainkannya. Menurut Laila, kalau saja Bagus tidak berniat mengirimkan chef untuk membantunya tidak perlu ia bahas sebelumnya.
"Bibi sama Mas Bagus sama aja," ucap Laila sambil menyimpan gelas di atas meja.
Bi Sumi hanya menatap Laila yang berlalu meninggalkannya. Marah? Tentu tidak. Bi Sumi sangat paham keadaan Laila. Sudah beberapa bulan ia mengenal Laila. Dulu, Laila tidak seperti sekarang. Ada fase yang sedang dilewatinya. Rasanya tidak adil jika Bi Sumi harus marah dengan perubahan Laila.
Sebagai orang yang mengenal Laila, Bi Sumi berusaha mengerti keadaan wanita muda itu. Meskipun Laila belum mengecek kehamilannya, namun Bi Sumi yakin jika Laila sedang hamil. Perubahan sikap Laila terlalu kontras. Apalagi saat Laila mulai pilih-pilih makanan. Biasanya Laila tidak rewel soal makanan.
"Ma," panggil Hasna sambil mengetuk pintu.
Bi Sumi yang melihat kejadian itu segera mengajak Hasna pergi. Ia tidak mau jika Hasna menjadi korban sikap Laila yang sedang tidak mood. Anak itu terlalu polos untuk mengerti keadaan wanita hamil seperti yang dialami Laila.
"Bi, kok Mama jadi beda ya?" tanya Hasna.
Pertanyaan yang berhasil membuat Bi Sumi menatap Hasna lekat. Bahkan anak sekecil Hasna saja bisa merasakan perbedaan yang terjadi pada Laila. Namun sebisa mungkin, Bi Sumi menjelaskan bahwa perubahan Laila hanya karena lelah saja.
"Aku mau cepet gede biar bantuin Mama," ucap Hasna.
"Kamu masih kecil. Duluan aku yang bisa bantuin Mama," ucap Kayla.
"Dih, kata siapa aku masih kecil? Udah kelas tiga," jawab Hasna sambil mengangkat tiga jari tangannya.
"Udah, udah. Bibi udah buat puding coklat nih. Ada yang mau?" ucap Bi Sumi.
__ADS_1
Hasna dan Kayla seketika langsung memburu Bi Sumi. Selalu saja ada cara untuk menenangkan kedua anak itu. Bagus memang tidak salah sudah memilih Bi Sumi untuk mengurus Laila dan kedua keponakannya itu.
Malam ini Bi Sumi sudah selesai mengurus semua pekerjaannya. Ia menggeliat dan bersiap masuk ke kamar. Baru saja meninggalkan dapur, tiba-tiba suara Laila membuat langkahnya terhenti.
"Bi," panggil Laila.
"Iya Bu," jawab Bi Sumi.
"Lapar," ucap Laila.
"Mau makan apa? Biar Bibi buatin," ucap Bi Sumi.
"Mau makan nasi goreng. Boleh minta tolong dibuatin gak bi?" ucap Laila memohon.
"Siap Bu," ucap Bi Sumi.
Selelah apapun, Bi Sumi selalu berusaha memenuhi apa yang Laila butuhkan. Selain karena bayaran yang diberikan Bagus lebih dari standar, Bi Sumi juga menyayangi Laila. Perasaan tulus itu membuatnya selalu senang hati saat melayani atau sekedar menemani Laila bercerita.
"Ini Bu," ucap Bi Sumi sambil menyerahkan sepiring nasi goreng.
Bi Sumi berpikir jika Laila hanya menginginkannya tanpa memakannya. Biasanya ngidam itu merepotkan. Namun sepertinya kali ini bukan masalah ngidam. Laila memang benar-benar lapar. Sepiring nasi goreng itu habis dilahap Laila.
"Sama-sama Bu," ucap Bi Sumi.
Setelah merasa cukup, Laila segera pergi dari ruang makan. Ia duduk di depan tv. Menyalakan tv meskipun sudah jam sepuluh malam. Padahal biasanya Laila sudah tidur dari jam sembilan.
"Bibi tidur aja," ucap Laila.
"Bibi juga belum ngantuk Bu," ucap Bi Sumi bohong.
Tidak mungkin Bi Sumi tega membiarkan Laila sendirian saat sudah malam. Bi Sumi duduk hingga ketiduran. Sementara Laila terlalu asyik menonton hingga tidak tahu kalau Bi Sumi ketiduran.
"Bi, Mas Bagus lagi apa ya?" tanya Laila.
Merasa pertanyaannya tidak direspon, Laila melihat Bi Sumi dan mendekatinya. Bibirnya tersenyum saat melihat sosok asisten yang begitu setia padanya. Sangat sabar dan mengerti keadaannya.
"Bi, ayo tidur!" ajak Laila.
Laila berpura-pura mengucek mata agar terlihat sudah mengantuk. Padahal sebenarnya Laila belum ngantuk sama sekali. Setelah masuk ke kamar, Laila memainkan ponselnya. Ia membuka beberapa aplikasi media sosial hingga tertidur.
__ADS_1
Saat bangun tidur, Laila terkejut saat kuotanya habis. Ia kesal sendiri saat ketiduran sedangkan ponselnya asyik memutar youtube hingga saat Laila terbangun.
"Maaasss," panggil Laila saat sambungan telepon terhubung.
"Astaga La. Masih pagi kok udah teriak-teriak," ucap Bagus.
"Aku kesel banget. Masa semalaman aku ketiduran. Kuota sampai habis loh," ucap Laila kesal.
"Nanti aku isi ya!" ucap Bagus dengan nada santai.
"Hah? Responnya gitu doang?" tanya Laila.
"Maksudnya?" tanya Bagus.
"Aku udah kesel-kesel. Mas malah santai begitu," jawab Laila
Bagus menatap layar ponselnya. Seketika kemarahannya langsung mereda saat ingat ucapan Bi Sumi.
"Ya maaf. Terus aku harus gimana?" tanya Bagus.
"Gak tahu ah. Aku mandi dulu mau ke toko. Nanti aku telepon lagi," ucap Laila.
Seperti biasa, Bagus harus menerima kenyataan saat Laila dengan entengnya mengakhiri panggilan itu tanpa menunggu jawaban darinya. Kalau bukan karena hamil, Bagus pasti akan membuat perhitungan dengan Laila.
Bagus yang sudah menerima kabar tentang chef yang ditunggu oleh Laila, segera menghubungi orang kepercayaannya. Sengaja Bagus mencari orang yang berdomisili di Surabaya. Semua karena Bagus ingin pekerjanya fokus dan tidak memikirkan cuti libur terlalu lama. Semua akan berimbas pada toko kue miliknya.
"Bapak siapa?" tanya Laila saat seorang laki-laki berperawakan seperti suaminya datang ke toko.
Setelah berkenalan, Laila tersenyum senang. Perubahan yang terjadi pada Laila terlalu besar. Bahkan ia mudah merasa lelah kadang justru merasa malas. Dengan adanya chef yang ditugaskan Bagus, Laila akan lebih terbantu. Apalagi saat ini toko sedang ramai-ramainya.
"Sayang, terima kasih ya."
Sebuah pesan dikirim Laila untuk suaminya. Bagus tersenyum senang membaca pesan yang dikirim Laila. Laila tidak benar-benar berubah. Hanya moodnya saja yang kadang membuat Bagus harus sering mengusap dada.
Merasa mood Laila sudah baik, Bagus mencoba menghubungi Laila. Alih-alih senang dengan panggilan telepon itu, justru mood Bagus yang berubah jadi tidak baik. Seketika Laila mengingatkan Bagus untuk membawa makanan yang ia pesan.
Bukan tentang repotnya, tapi jajanan yang dipesan Laila adalah jajanan pinggir jalan. Padahal Bagus berharap Laila bisa makan jajanan yang lebih sehat. Namun tiba-tiba muncul ide di kepala Bagus.
Bagus akan memesan makanan yang diinginkan Laila dari tempat yang lebih sehat. Namun saat ke Surabaya, Bagus akan mengganti bungkusnya seperti jajanan pinggir jalan yang Laila inginkan.
__ADS_1
"Maaf Laila, aku terlalu pintar. Semua aku lakukan demi buah hati kita," gumam Bagus.