Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Gatot


__ADS_3

"La, kok tamu masih pada datang ya? Padahal aku gak ngundang banyak-banyak deh," bisik Bagus.


"Ya alhamdulilah dong Mas. Orang tuh harusnya seneng banyak yang datang, banyak yang doain. Nikmati aja Mas," jawab Laila.


Berbeda dengan Bagus yang terlihat lelah, Laila terlihat sangat bahagia. Tak hentinya menunjukkan senyum bahagia di wajah cantiknya. Wajar saja, ini pernikahan pertama bagi Laila. Impiannya selama ini.


Ketakutan akan kutukan itu sudah berakhir. Apalagi saat tahu pesta pernikahannya digelar dengan sangat meriah. Laila sama sekali tidak menyangka akan sebahagia ini saat menikah. Dulu Laila berpikir, bisa menikah di KUA saja sudah cukup baginya. Bahkan Laila sempat berpikir jika tidak akan ada yang bisa menerimanya dengan keterikatan Hasna dan Kayla dalam hidupnya.


Ternyata julukan janda beranak dua sama sekali tidak menyudutkan niat Bagus untuk menikahi Laila. Berawal dari kerja sama untuk membalas dendam pada mantan istrinya, akhirnya Bagus terjerat cinta yang sesungguhnya pada Laila. Cinta yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"La, mau sampai jam berapa ini?" tanya Bagus.


"Sebentar lagi Mas," jawab Laila.


Masih ada beberapa orang yang datang. Di akhir pesta banyak tamu undangan dari teman Laila. Teman pabriknya. Tidak terkecuali Rena yang datang dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang tidak asing bagi Laila.


"Rena sama Chef?" tanya Laila tidak percaya.


Rena semakin mendekat. Rupanya Rena sengaja tidak datang lebih awal. Ia menunggu Chef menyelesaikan dulu tanggung jawabnya. Laila tersenyum lebar saat melihat Rena akhirnya membawa seorang laki-laki yang sudah sangat dikenalnya.


"Kalian?" tanya Laila sambil tersenyum penuh arti.


"Apa?" tanya Rena sambil mencubit tangan Laila.


Wajah Rena yang memerah membuat Laila yakin jika diantara keduanya memang ada hubungan spesial. Bukan hanya sekedar pertemanan seperti yang diakui Rena padanya.


"Selamat ya Ren. Cepet nyusul," ucap Laila.


Bukan hanya Laila, melihat chef sudah membawa perempuan ke kondangannya Bagus merasa ikut senang. Akhirnya Bagus bisa sedikit tenang karena chef tidak akan mengejar Laila lagi.


"Selamat ya Pak," ucap Chef saat menyalami Bagus.


"Terima kasih. Selamat juga ya buat kalian. Semoga cepet nyusul," ucap Bagus.


"Saya usahakan Pak," ucap Chef. "La, selamat ya!" lanjut Chef saat menyalami Laila.


"Terima kasih Chef. Saya titip Rena ya Chef. Dia teman saya. Anaknya baik banget. Saya harap Chef gak ngecewain dia," ucap Laila.


"Kamu tenang aja La. Saya akan jaga sebisa saya," ucap Chef.

__ADS_1


Mekipun Bagus sudah melihat Chef bergandengan tangan dengan Rena, namun hatinya tetap kesal saat mendengar Laila bicara dengan begitu akrab.


"Titip, titip. Memangnya dia itu anak ayam? Dititipin segala," ucap Bagus ketus.


Laila menatap Bagus.


"Apa lihat-lihat?" tanya Bagus saat menyadari Laila menatapnya.


"Gak," jawab Laila sambil menggelengkan kepalanya.


"Cemburu?" ejek Laila.


"Dih," ucap Bagus sambil bergidik.


Bagus jelas selalu cemburu saat Laila dekat dengan Chef itu. Namun ia tidak pernah mau mengakuinya. Selalu saja mengelak padahal sudah sangat jelas terlihat. Namun Laila tjdak menganggap itu serius. Ia masih menikmati setiap perlakuan Bagus padanya. Justru sejauh ini, Laila senang karena dengan begitu berarti Bagus menunjukkan rasa sayangnya.


Laila mempelajari bab tentang cemburu. Ia meyakini jika cemburu adalah tanda cinta. Tapi masalahnya, Laila belum merasa cemburu pada Bagus. Kadang ia meyakinkan dirinya tentang rasa cinta pada Bagus. Tentu ia pun mengakui rasa cinta itu sudah hadir pada laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu. Meskipun belum ada rasa cemburu dalam hatinya.


"Akhirnya selesai juga!" ucap Bagus dengan penuh semangat.


Ya, pesta pernikahan itu sudah selesai. Bagus sudah bahagia karena akan segera menuntaskan hasratnya. Hasrat yang sudah tertahan lama sejak rasa cinta itu mulai tumbuh. Melihat Laila memang selalu membuat kepala Bagus berfantasi.


"Nanti malam aku pijit ya!" ucap Bagus sambil menggerak-gerakkan alisnya.


Hak itu membuat Laila bergidik. Sudah terbayang pijitan macam apa yang akan diterimanya. Laila memang belum berpengalaman tentang hal itu. Namun ia sudah punya pengetahuan dasarnya. Jadi gelagat Bagus sudah bisa terbaca oleh Laila.


"Mas, ini tembus gak?" tanya Laila sambil menunjuk bokongnya.


Tembus? Bagus yang baru mendengar kata itu awalnya tidak paham. Apa yang tembus? Namun melihat Laila memegang bokongnya, Bagus merasa tubuhnya lemas seketika.


"Kamu lagi datang bulan ya?" tanya Bagus penuh kecewa.


"Iya Mas. Baru tadi subuh. Lagi banyak-banyaknya nih. Aku ganti dulu ya," jawab Laila.


"Astaga!" ucap Bagus sambil menepuk dahinya.


Perasaan kecewa begitu membuncah di dalam hatinya. Ia kesal saat mengetahui Laila sedang datang bulan hari pertama. Harus menunggu berapa lama lagi? Padahal Bagus sudah sangat menginginkan Laila. Bayangan indah pun sudah mengganggu kepala Bagus sesaat setelah ijab kabul itu selesai. Namun semua tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Pak, barang-barangnya udah masuk ke dalam mobil. Bapak mau pulang sekarang?" tanya Bi Sumi.

__ADS_1


"Nanti, aku nunggu Laila dulu. Lagi ke kamar mandi. Bawa Hasna sama Kayla aja dulu," ucap Bagus.


"Iya Pak," jawab Bi Sumi.


Hasna dan Kayla pun sudah diamankan Bi Sumi. Bahkan saat Bagus dan Laila masih di toko itu, Hasna dan Kayla sudah lebih dulu dibawa pulang. Sengaja Bi Sumi membawa mereka berdua pulang ke rumah kontrakan, agar Laila dan Bagus bisa menghabiskan waktunya berdua.


"Mas, mana Hasna dan Kayla?" tanya Laila saat selesai dari kamar mandi.


"Udah di mobil," jawab Bagus dengan wajah lesu.


"Oh ayo kita ke sana!" ajak Laila.


Bagus hanya mengangguk dan mengikuti Laila. Sudah tidak ada lagi semangat Bagus yang berapi-api. Apinya padam setelah tahu Laila sedang datang bulan.


"Mas, mana? Kok mereka gak ada?" tanya Laila bingung.


"Gak ada?" Bagus balik bertanya dengan wajah panik.


Setelah sempat khawatir karena Hasna dan Kayla tidak ada, akhirnya Laila bisa bernapas lega saat tahu kalau mereka sudah pulang ke kontrakan. Walaupun malam ini mereka akan tidur di tempat yang berbeda. Bagus mengajak Laila untuk tidur di rumahnya.


Bi Sumi yang tidak tahu perihal Laila yang sedang datang bulan, sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Membawa Hasna dan Kayla pulang ke kontrakan adalah salah satu langkah yang dilakukan Bu Sumi untuk menyenangkan Bagus. Belum lagi kondisi rumah yang sepi dan rapi. Tidak lupa Bi Sumi menyiapkan kamar pengantin yang begitu indah.


"Waaah, ini cantik banget Mas." Laila terpukau saat melihat kamar pengantinnya.


"Kerjaan Bi Sumi nih," ucap Bagus.


"Ya ampun Bi, baik banget sih. Ah Mas, kita tidurnya di bawah ya!" ucap Laila.


"Hah? Kok di bawah?" tanya Bagus.


"Sayang bunga mawarnya Mas. Takut rusak," jawab Laila dengan polosnya.


Takut rusak? Harusnya sekarang kita rusakin semua ini Laila. Harusnya malam ini akan kutunjukkan kesaktianku sama kamu. Harusnya malam ini aku buat kamu menyerah di bawah seranganku. Tak akan kubiarkan kamu menang dalam kendaliku. Tapi ah, realitanya tak sesuai dengan ekspektasiku. Semunya gatot.


"Mas, kok melamun sih?" tanya Laila.


"Mandi dulu ah. Gerah," jawab Bagus mengalihkan pertanyaan Laila.


Tidak mungkin Bagus jujur soal perasaan kecewanya hanya karena Laila datang bulan di hari spesialnya. Hari yang selama ini sudah ia nantikan. Ah, Bagus melepaskan semua kekecewaannya dalam guyuran air di kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2