Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Cari kosan


__ADS_3

"La, kenapa belum berangkat?" tanya Bu Indah.


"Sebentar lagi, Bu." Laila segera menghabiskan sarapannya dengan cepat.


Laila tidak sadar jika sarapannya terlalu lama. Selama di meja makan, pikirannya melayang pada pernikahan Bagus dan Winari yang katanya batal. Artinya, apa yang ia harapkan juga batal. Laila berharap banyak dari pernikahan Bagus dan Winari.


"Berangkat ya, Bu!" Laila pamit pada Bu Indah.


Seperti biasa, Laila mencium punggung tangan Bu Indah sebelum berangkat sekolah. Namun ada yang berbeda pagi ini. Bu Indah terlihat pucat dan melamun.


"Ibu sakit?" tanya Laila sebelum berangkat.


"Gak. Aku cuma kurang tidur," jawab Bu Indah.


"Ibu lagi ada masalah?" tanya Laila.


"Udah siang, sana berangkat!" ucap Bu Indah yang mencoba mengalihkan pertanyaan Laila.


Ya, ini memang sudah siang. Kalaupun Bu Indah bercerita, tentu ia akan kesiangan. Walaupun sebenarnya Laila lebih memilih untuk bolos demi menemani Bu Indah. Namun sayangnya Bu Indah tidak akan setuju.


Laila pun segera pamit untuk berangkat sekolah. Saat istirahat, Laila mendapat telepon dari Winari. Bahasannya sama, masih meminta Laila menghubungi Bagus agar membujuknya.


"Nanti saya usahakan ya Kak," ucap Laila.


Saat mendengar Laila ragu dan tidak yakin, Winari segera menceritakan pahitnya semua kenyataan hidupnya. Ia mencoba membuat Laila mengerti akan keadaannya. Apalagi Laila sama-sama wanita. Pasti akan sangat mudah tersentuh.


"Ya udah nanti pulang sekolah aku ke rumah Pak Bagus ya," ucap Laila.


"Terima kasih banyak," ucap Winari senang.


Meski ragu, Laila pergi menemui Bagus. Sebuah rumah sederhana itu kembali ada di hadapannya. Ia masih berdiri mematung di depan pintu lalu menghela napas panjang.


"Ayo, Laila. Kamu bukan hanya sedang berjuang demi masa depanmu. Tapi ini tentang kebahagiaan Kak Winari. Kamu gak mungkin tega membiarkan seorang wanita gagal menikah untuk yang kedua kalinya," gumam Laila.


Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Laila mulai mengetuk pintu rumah itu. Rumah sederhana yang di dominasi warna putih itu terdengar sepi. Meski berkali-kali Laila mengucapkan salam dan memanggi nama si pemilik rumah, namun masih tetap hening. Tidak ada jawaban, apalagi langkah kaki yang mendekat dan membuka pintu rumah itu.


"Apa aku telepon Kak Winari aja, ya?" ucap Laila.


Laila mencoba menghubungi Winari. Panggilannya diabaikan. Saat Laila mencoba untuk menghubunginya lagi, sebuah mobil putih berhenti tepat di depan rumah itu. Tidak lama terlihat Bagus keluar dari dalam mobil.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Bagus.


"Iya, nunggu Bapak. Ada yang mau saya obrolin sama Bapak," jawab Laila.


"Apa lagi? Soal ganti rugi, aku akan urus secepatnya. Jangan khawatir! Mending sekarang kamu pulang, nanti Bu Indah marah. Malu sama orang kalau pulang kesorean," ucap Bagus.


"Sebentar aja Pak. Ini bukan soal ganti rugi," ucap Laila.


"Terus?" tanya Bagus.

__ADS_1


"Ini soal Kak Winari," jawab Laila.


Bagus nampak memalingkan wajahnya saat mendengar nama Winari. Namun Laila berusaha membuat hati Bagus lebih tenang. Perlahan, Laila menceritakan apa yang ia tahu. Cara Laila bercerita membuat Bagus tersentuh. Bahkan air mata Laila yang terlihat menggenang, membuat Bagus merasa kalau Laila benar-benar tulus ingin membantunya.


Bagus yakin yang Laila lakukan bukan untuk orderan kue semata. Cara Laila bercerita membuat Bagus menyadari kalau apa yang ia lakukan adalah kesalahan. Membatalkan sebuah pernikahan begitu saja adalah hal yang tidak sepantasnya dilakukan. Apalagi undangan sudah dicetak. Berita tentang pernikahan pun sudah terdengar seantero jagat.


"Terima kasih, Laila. Kamu mengajariku banyak hal," ucap Bagus.


Dari cara Bagus bicara, Laila yakin jika lawan bicaranya mulai sadar akan kesalahannya. Setelah memastikan semua cerita Winari sampai ke telinga Bagus, Laila pamit untuk pulang.


"Selesai urusannya, La?" tanya sopir.


"Beres Mang," jawab Laila.


"Kamu bahas orderan kue itu ya?" tanya sopir.


"Iya, Mang. Doain biar lancar ya," jawab Laila.


Ternyata sopir itu tidak tahu jika Bagus sempat membatalkan acara pernikahannya. Memang sebenarnya tidak ada yang tahu kabar ini. Hanya Bu Indah yang tahu karena Bagus pikir Laila harus tahu. Itupun tidak disebutkan batal. Bu Indah hanya menerima kabar jika pernikahan itu diundur.


Laila sudah menyiapkan beberapa alasan jika Bu Indah bertanya atas keterlambatannya pulang ke rumah. Namun kebetulan, Bu Indah tidak ada di rumah saat Laila pulang. Kata Bi Yani, Bu Indah sedang ada urusan dan akan pulang besok.


Laila merasa senang saat menerima kabar itu, karena ia tak harus berbohong. Namun ada rasa khawatir saat tahu jika Bu Indah tidak akan pulang malam ini. Pasalnya tadi pagi Laila melihat Bu Indah pucat dan melamun. Mungkin ada masalah. Namun Laila tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi Bu Indah saat ini.


Laila merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kepalanya dipenuhi pikiran yang membuatnya pusing. Sampai-sampai Laila menutup wajahnya dengan bantal. Berharap ketika bantal itu dibuka, plong. Seperti napasnya yang menjadi plong, Laila berharap semua masalah yang dihadapainya juga selesai, plong.


Bukannya plong, dering ponsel justru membuatnya cemas. Dan kecemasan itu menjadi beban baru bagi Laila. Ya, Yanti yang meneleponnya. Katanya akan pergi ke Jakarta karena Deri terus mengganggunya.


"Tapi kalau agak jauh dari rumah Bu Indah gak apa-apa, ya?"ucap Laila.


"Gak apa-apa. Kalau bisa sih yang deket pasar aja. Biar bisa lanjut jualan onlinenya," ucap Yanti.


"Iya Kak. Nanti aku cariin ya," ucap Laila.


Beban di kepala Laila bertambah. Belum tahu keputusan Bagus dan Winari akan seperti apa. Kini bebannya adalah hadirnya Yanti di Jakarta. Laila memang sempat memberi saran agar ke Jakarta dari pada ke Saudi menjadi TKW. Namun saat Yanti di Jakarta, mau tidak mau Laila harus bisa membagi waktu agar bisa menemui mereka bahkan membantu semua kebutuhannya selama di Jakarta.


"Ah, Tuhaaaan. Untung aja badanku made in Alloh. Kalau buatan China sih udah pasti luluh lantah. Ambruk aku sama beban yang gak selesai-selesai," ucap Laila sambil memegang kepalanya.


Malam ini, disela kepusingannya Laila berusaha menghubungi Bu Indah. Berusaha mengabari Bu Indah tentang rencana Yanti ke Jakarta. Namun sayangnya sampai saat ini, Laila masih belum bisa menghubungi Bu Indah.


Laila kesiangan. Bi Yani menggedor pintu kamar Laila. Dengan cepat Laila mandi dan bersiap. Berangkat tanpa sempat sarapan. Beruntung Bi Yani sudah menyiapkan bekal untuk Laila.


"Terima kasih ya, Bi." Laila segera pamit.


Belum sempat Laila melahap bekalnya, bel masuk sudah berbunyi. Ia segera masuk dan mulai belajar. Melupakan sejenak masalah yang ada di kepalanya. Sampai akhirnya Laila pulang sekolah, baru ia kembali berkutat dengan masalahnya.


"Duh, ngapain lagi sih Bang Deri?" gumam Laila.


Laila menatap layar ponselnya dengan wajah lesu. Beban di kepalanya mulai muncul kembali. Wajahnya tiba-tiba muram. Namun berubah saat Bagus mengabari jika pernikahannya dengan Winari akan berlangsung sesuai tanggal yang sudah ditentukan.

__ADS_1


"Saya turut bahagia, Pak. Bahkan saya bisa pastikan kalau saya orang yang paling bahagia selain kalian," ucap Laila.


Bagus meminta Laila ke rumahnya untuk membahas orderan kue dan memberikan DP. Tentu tanpa berpikir panjang Laila segera mengiyakan. Dengan ditemani sopir, Laila pergi ke rumah Bagus. Sudah ada Bagus dan Winari di sana.


"Permisi," ucap Laila.


Winari datang membuka pintu dan memeluk Laila. Berbisik di telinganya untuk mengucapkan terima kasih. Winari bahkan memuji cara Laila membujuk Bagus. Hanya dalam satu malam Bagus sudah berubah kembali.


"Apakah itu Laila?" tanya Bagus.


"Iya," jawab Winari.


Winari segera menarik tangan Laila agar segera masuk ke dalam rumah. Sudah ada Bagus yang duduk dengan kaki kanan yang bertumpu di lutut kirinya. Secangkir kopi hitam sudah ada dalam genggamannya.


"Duduk!" pinta Bagus.


Laila segera duduk. Dengan sangat semangat Laila mendengarkan apa yang Bagus sampaikan. Permintaan Bagus untuk kue yang dipesan segera di catat di buku matematikanya. Kebetulan Laila tidak membawa buku lain selain buku pelajaran.


"Awas jangan sampai salah," ucap Bagus.


"Siap Pak. Semua aman," jawab Laila dengan senyum lebarnya.


"Untuk hiasan kue pengantinnya nanti dikabari lagi," ucap Bagus.


"Oke Pak siap," jawab Laila.


Meskipun Laila punya rekomendasi gambar kue pengantin namun tidak ada keberanian untuk mengungkapkannya. Laila sadar diri jika ia dan Bagus adalah dua orang yang jauh berbeda. Laila dengan segala kebiasaannya di kampung, sedangkan Bagus dengan gaya kota yang sudah melekat. Besar kemungkinan selera mereka pasti akan berbeda.


"Saya pamit ya Pak. Nanti saya urus semuanya sesuai sama request bapak," ucap Laila.


Laila tidak langsung pulang ke rumah. Ia segera mencari kosan di daerah yang cukup jauh dari rumah Bu Indah. Yang paling penting rumah kontrakan itu harus murah dan nyaman.


Setelah cukup lama mencari, akhirnya Laila mendapatkan apa yang ia cari. Letak rumahnya di sekitar sekolah SD yang tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Merasa sudah aman untuk tempat tinggal Yanti, Laila segera bergegas untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Bu Indah sudah duduk di teras depan. Laila yang lupa mengabari Bu Indah segera memeluknya. Menceritakan semua kabar gembira yang ia dapatkan hari ini. Dan berhasil, Bu Indah senang saat mendengar kabar yang Laila ceritakan.


"Ini waktunya setelah kamu selesai semester satu kan? Inget ya, belajar yang paling penting." Bu Indah mengingatkan.


"Siap Bu," ucap Laila. "Eh, Bu ada yang mau saya bicarakan," ucap Laila.


"Apa?" tanya Bu Indah.


"Kak Yanti mau ke Jakarta besok," jawab Laila.


"Ya gak apa-apa. Suruh tinggal di sini aja biar ramai," ucap Bu Indah.


"Mana mungkin saya ngerepotin ibu? Tadi saya udah cari kosan juga buat Kak Yanti," ucap Laila.


"Kenapa gak diajak ke sini aja sih?" tanya Bu Indah.

__ADS_1


"Biar produktif, Bu. Kosannya deket sekolah. Jadi Kak Yanti bisa sambil jualan," jawab Laila.


__ADS_2