
"Gimana, La?" tanya Bu Herlin saat merapikan rambut Laila.
Laila uang berdiri di depan cermin memperhatikan wajahnya. Rambutnya yang sudah lebih pendek dan tengah dirapikan oleh Bu Herlin, terasa lebih ringan dan rapi.
"Enak Bu," jawab Laila.
"Nah, sebagai perempuan kamu harus pintar mengurus diri. Wajah dan tubuh kamu ini aset," ucap Bu Herlin.
Aset? Laila tiba-tiba berpikir jika dirinya akan dijual. Itu mungkin jadi alasan Bu Herlin membuat Laila jadi lebih cantik. Tapi tenang, Laila berusaha bersikap setenang mungkin. Ia tidak mau asal menuduh. Apalagi Bu Herlin bertindak atas permintaan Bu Indah.
Jangan suudhon, La. Masa iya Bu Indah mau jual kamu. Tenang, lagi pula kamu kurus. Gak ada yang mau beli kamu, dagingnya dikit.
Laila berusaha menenangkan dirinya. Ia masih tersenyum sambil memperhatikan wajahnya dari pantulan cermin. Sesekali ia mengamati Bu Herlin, mencari tahu jika ada gelagat aneh. Namun sampai saat ini, Bu Herlin terlihat baik-baik saja dan tidak mencurigakan.
"Dari sini kita mau kemana lagi, Bu?" tanya Laila.
"Kita ke cafe ya. Ibumu sudah menunggu di sana. Katanya dia akan mengenalkanmu pada seseorang," jawab Bu Herlin.
Ibumu? Yang dimaksud pasti Bu Laila. Lalu seseorang itu? Siapa maksudnya? Laila benar-benar ketakutan. Pikirannya sudah sangat buruk.
"Hey, kamu baik-baik saja Laila?" tanya Bu Herlin saat melihat Laila melamun.
"Ah iya, Bu. Aku baik-baik aja," jawab Laila gugup.
Baru saja Bu Herlin menghidupkan mesin mobil, Laila segera memegang perutnya sambil mengaduh.
"Permisi ke toilet dulu boleh ya Bu?" tanya Laila.
"Oh ya udah," jawab Bu Herlin sembari mematikan kembali mesin mobilnya.
Laila mengambil batu yang ukurannya cukup besar dan menyimpannya di dalam tas. Bagaimanapun, Laila harus melakukan perlawanan jika pikiran buruknya itu benar-benar terjadi.
"Ibunya kandungnya Bagas aja bisa ninggalin dia gitu aja. Padahal ibu kandungnya loh. Gimana Bu Laila? Kenal aja baru setahun belakangan ini," gumam Laila.
"Udah dari toiletnya?" tanya Bu Herlin.
Ya, misi pencarian batu itu memang dengan berpura-pura ke toilet. Kalau tidak begitu, Laila tidak punya kesempatan. Bu Herlin menggandengnya sejak keluar dari salon.
"Tasnya simpen di bawa aja," ucap Bu Herlin saat melihat Laila memegang tas di pangkuannya.
"Ah gak apa-apa Bu. Dipegang aja. Gak berat kok," ucap Laila.
"Ya gak berat sih. Kan isinya cuma buku. Kalau bawa batu baru berat," jawab Bu Herlin sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Me-memangnya ada ya Bu yang ke sekolah bawa batu?" tanya Laila gugup.
Seketika Laila merasa jika Bu Herlin adalah seorang paranormal. Bagaimana mungkin Bu Herlin bisa tahu kalau dalam tasnya ada batu. Apa mungkin dia melihat dari spion? Atau ada cctv yang terhubung ke ponselnya? Laila mulai panik. Takut jika rencananya untuk membela diri terbongkar.
"Ada lah. Itu anak STM yang hobinya tawuran tuh isi tasnya bukan buku. Kalau gak batu, ya pisau. Emmh kalau gak biasanya gunting atau apa aja gitu benda-benda keras buat tawuran," jawab Bu Herlin.
"Anak STM kan Bu? Saya kan anak tata boga," ucap Laila membela diri.
"Iya. Anak tata boga sih paling bawa adonan," jawab Bu Herlin sambil tertawa.
Laila ikut tertawa karena bisa bernapas lega. Akhirnya Bu Herlin tidak mencurigainya. Itu semua hanya kebetulan saja. Namun walaupun begitu, rasa takutnya tak kunjung hilang. Terbayang sudah jika ia akan dijual ke om-om gendut yang sudah tua.
"Haii," teriak Bu Herlin saat melihat Bu Indah berdiri di parkiran.
"Akhirnya datang juga," ucap Bu Indah sambil menyambut Bu Herlin dengan sebuah pelukan.
"Kamu baru sampai juga?" tanya Bu Herlin.
"Udah dari tadi. Sengaja nunggu kalian di sini," jawab Bu Indah.
"Oh, maaf ya telat. Tapi hasilnya gimana? Memuaskan?" tanya Bu Herlin sembari menunjukkan perubahan Laila dengan begitu bangga.
"Ya ampun, Laila cantik banget." Bu Indah benar-benar menatap Laila dengan penuh kagum. "Eh ayo-ayo. Aku mau kenalin kamu ke seseorang," lanjut Bu Indah sambil menarik tangan Laila.
"Laila malu, Bu." Laila berusaha memberi alasan.
"Ayolah. Kita semua sama. Kamu anakku Laila. Jangan malu," ucap Bu Indah.
Laila tidak punya alasan lain untuk mengikuti Bu Indah. Tapi tak apa, sudah ada batu di dalam tasnya. Lagi pula cafenya ramai. Teriakan Laila akan membuat para pengunjung membantunya jika sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi.
"Kenalin, ini Laila." Bu Indah senyum ramah pada seorang pria yang sedang duduk.
Saat laki-laki dengan menggunakan kemeja merah itu mengangkat wajahnya, Laila langsung terkesima. Tiba-tiba bibirnya melebar melempar senyum pada laki-laki tadi sembari mengulurkan tangan.
Kalau om-omnya ganteng begini sih aku mau. Gak apa-apa deh aku dijual sama Bu Indah. Gratis juga gak apa-apa, Bu.
"Laila," ucapnya.
"Haii, Bagus." Laki-laki itu membalas uluran tangan Laila sambil mengenalkan namanya.
"Bagus?" tanya Laila terkejut.
"Ya. Ada yang salah?" tanya laki-laki itu.
__ADS_1
"Ah, tidak-tidak. Tidak ada yang salah," jawab Laila gugup.
Entah apa yang membuat Laila tiba-tiba terlihat sangat bersimpati pada lawan jenis. Hal itu tentu membuat Bu Indah merasa terganggu. Selain karena belum membolehkan Laila berpacaran, laki-laki yang ada di hadapannya itu sudah mempunyai calon istri dan akan segera menikah.
Untuk mencegah Laila patah hati, Bu Indah segera menjelaskan tujuannya mengenalkan Bagus pada Laila. Bagus sedang butuh berbagai macam kue untuk pesta pernikahannya. Selain untuk hidangan di pestanya, Bagus juga ingin memberikan setoples kecil kue sebagai bingkisan saat tamu yang menghadiri pernikahannya pulang.
Bukan tanpa alasan, almarhum orang tua Bagus adalah kenalan Bu Indah dulu. Mereka cukup dekat. Dan seperti yang Bu Indah tahu, jika pasangan suami istri itu sangat menyukai kue. Salah satu kue kesukaannya adalah kue yang sering dibuat oleh Laila.
"Kamu bisa kan?" tanya Bu Indah.
"Oh bisa, Bu." Laila segera menganggukkan kepalanya.
Yah, padahal aku pikir dia bakal dijodohin sama aku. Kan cocok, hilang Bagas tumbuh Bagus. Tapi sayang, kisah hidupku tak sebagus drama-drama korea. Buuu, anakmu patah hati. Om-om gantengnya udah punya calon.
Laila mulai menyadari bahwa dirinya sudah mulai puber. Ternyata ada perasaan lebih pada lawan jenisnya. Dulu Laila pikir perasaan lebih itu untuk Bagas. Namun ternyata, Bagus membuat perasaannya jauh lebih berbeda dibanding Bagas.
Setelah bertemu dengan Bagus, Laila juga mengubur niatnya untuk menjadi perawan seumur hidupnya. Seketika ketakutannya untuk menikah hilang ditelan bumi. Walaupun ternyata harapannya untuk menikah dengan laki-laki tampan dan kaya itu juga ikut hilang ditelan bumi.
"Nanti kita ngobrol lagi ya. Sekarang aku harus jemput calon istriku dulu," ucap Bagus.
"Sampaikan salam ke calon istrimu," ucap Bu Indah.
"Siap tante," jawab Bagus.
Ketiganya melihat Bagus yang sudah pergi. Lalu Bu Indah melihat Laila yang terduduk lesu.
"Kamu suka sama dia ya?" tanya Bu Indah.
"Memangnya ada yang gak suka ya sama laki-laki setampan Om Bagas? Udah gitu pasti orang kaya kan?" ucap Laila.
Bu Indah menggelengkan kepalanya saat melihat jawaban Laila yang begitu polos. Lalu mata Bu Indah tertuju pada tas yang Laila yang terlihat menggelembung.
"Kamu bawa apa itu?" tanya Bu Indah.
Laila tidak bisa menahan tangan Bu Indah yang sudah meraih tasnya. Mata Bu Indah terbelalak saat melihat batu yang cukup besar dalam tasnya.
"Kamu mau sekolah atau tawuran?" tanya Bu Indah.
Laila hanya menggelengkan kepalanya sambil berusaha menutupi wajahnya yang memerah.
"Kamu anak tata boga atau anak STM?" tanya Bu Herlin.
"Itu Bu, saya sengaja mungut batu soalnya tadi mules. Kata Ibu saya di kampung biar gak mules di jalan ya harus mungut batu," ucap Laila.
__ADS_1
"Tapi gak segede gini juga kali, La. Bener-bener ya kamu ini. Udah lama tinggal di Jakarta masih aja ritual kampung dibawa-bawa. Apa hubungannya coba antara mules sama batu? Kecuali kalau batunya diselipin ke anus," gerutu Bu Indah.