
"Ayo cepet telepon si tukang masak itu! Bilangin besok aja ngobrolnya," ucap Bagus.
"Iya, Pak." Laila segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Chef.
Pura-pura tidak peduli, padahal Bagus menajamkan telinganya. Mendengar dengan baik apa yang Laila bicarakan. Berkali-kali Bagus memalingkan wajahnya saat melihat Laila dengan asyiknya mengobrol dengan Chef. Apalagi saat melihat Laila tersenyum sambil bicara dengan Chef.
"Kamu bisa gak sih kalau gak usah senyum-senyum gitu pas nelepon? Norak tahu," ucap Bagus saat Laila selesai menelepon dengan Chef.
"Iya, Pak." Laila tak ingin berdebat dengan Bagus.
"Dia juga gak lihat kamu. Percuma kamu senyum-senyum begitu," ucap Bagus.
"Om, ini boleh?" tanya Hasna.
Pertanyaan Hasna membuat Laila bisa lolos dari omelan Bagus, hanya karena senyum saat menelepon Chef. Laila yang merasa Bagus adalah calon atasannya hanya berusaha menuruti permintaannya saja. Tanpa Laila cari tahu apa alasan Bagus bersikap seperti itu padanya.
Setelah acara makan itu selesai, Bagus mengajak Laila dan kedua keponakannya ke salah satu pusat perbelanjaan. Masih tiga puluh menit lebih jauh dari restaurant mahal itu.
Bagus memang sengaja membawa Laila pergi lebih jauh. Tujuannya hanya satu, bisa pulang malam agar chef itu tidak punya waktu untuk menemui Laila.
"Kita mau kemana ini, Pak?" tanya Laila.
"Beli baju," jawab Bagus.
"Di pasar juga banyak. Kenapa jauh begini?" tanya Laila.
"Pasar itu tempat sayuran dan lauk," jawab Bagus.
"Loh, ada loh Pak. Gak pernah kan Bapak beli baju di pasar? Kapan-kapan saya ajakin Bapak ke pasar ya!" ucap Laila.
"Gak ah," jawab Bagus.
"Kenapa?" tanya Laila.
"Aku gak mau beki sayur," jawab Bagus.
"Beli baju, bukan beli sayur. Mau ya!" ucap Laila.
"Gak mau," jawab Bagus.
"Tuh kan, Bapak aja maksa saya hari ini ke sana ke sini buat ngikutin maunya Bapak. Giliran Bapak gak mau dipaksa. Gak enak kan pak dipaksa-paksa tuh?" tanya Laila.
Bagus terdiam. Ia sibuk dengan kemudinya. Walaupun sebenarnya dalam hati Bagus mengakui jika ia senang saat Laila mengajaknya pergi. Penolakan itu tidak benar-benar ia lakukan. Sengaja hanya ingin jual mahal pada Laila.
"Oke kalau begitu kapan kita ke pasar?" tanya Bagus setelah diam beberapa saat.
"Beneran mau Pak? Bapak gak lagi ngeprank saya kan?" tanya Laila.
"Beneran. Tapi jangan lama-lama ya!" jawab Bagus.
Padahal dalam hatinya ia berharap jika Laila mengajaknya jalan-jalan seharian. Meskipun Bagus belum pernah ke pasar, namun ia yakin akan selalu menyenangkan jika bersama Laila.
"Tergantung hari ini. Kalau sampai malam ya aku juga balasnya sampai malam," jawab Laila.
__ADS_1
Yesss! Kalau bisa aku bawa kamu main sampai besok pagi Laila. Mau kamu balas aku berkali-kali lipat juga gak apa-apa. Aku rela.
Bagus sedikitnya mulai menyadari jika bersama Laila ia merasakan bahagia. Bahkan ia tidak merasa keberatan saat Laila mengajaknya ke pasar sekalipun.
Mobil yang Bagus kendarai sudah sampai di depan butik. Laila turun dengan ragu. Ia merogoh sakunya. Hanya uang seratus ribuan dua lembar. Sisanya hanya uang dua ribuan untuk jajan Hasna.
"Aku yang bayarin!" ucap Bagus saat melihat Laila.
Laila yang ketahuan sedang menghitung uang segera memasukkan kembali uangnya. Wajahnya memerah, malu. Ia pun mengekor di belakang Bagus. Hanya berjalan saja, tanpa berani menyentuh apapun di dalam butik. Bahkan kedua tangannya memegang tangan Hasna dan Kayla erat. Mengingatkan kedua keponakannya agar tak berani menyentuh apapun di sana.
"Gak ada yang kamu suka?" tanya Bagus.
Semua suka. Laila bahkan menyukai semua model pakaian yang berjejer di sana. Tapi Laila sadar tanpa melihat harga dalam label pakaiannya, semua yang ada di sana pasti mahal.
"Aku yang bayarin," bisik Bagus di telinga Laila.
Laila berjinjit sambil menarik tangan Bagus.
"Belanjanya di pasar aja. Di sini pasti mahal-mahal," bisik Laila.
Bagus tersenyum. Kali ini bukan karena ucapan Laila, tapi Bagus senang saat bibir Laila hampir menyentuh telinganya. Entah apa yang dirasakan Bagus, yang pasti hatinya berbunga seketika.
Semakin lama mengenal Laila, Bagus semakim tahu sifat Laila yang sebenarnya. Ia segera memberi tahu Laila jika semua ini merupakan bagian dari rencananya. Pertama, Bagus ingin menunjukkan pada Winari bahwa wanita yang ia sayangi tidak akan dibelikan barang murahan. Selain itu, Bagus juga ingin melihat Laila tampil branded saat ke Jakarta nanti.
"Gak apa-apa ini, Pak?" tanya Laila yang sudah mengambil dua pakaian di tangannya.
"Tambah lagi," jawab Bagus.
Laila membulatkan bola matanya. Dua pakaian yang dibawanya bisa cukup untuk satu lusin pakaian jika Laila belanja di pasar. Namun itulah Bagus, saat sudah menginginkan sesuatu, tidak ada yang tidak bisa ia dapatkan.
"Tambah ini ya," ucap Bagus pada kasirnya.
Tidak ingin Laila bicara hal yang tidak diinginkannya, Bagus segera menarik tangan Laila ke sebuah kursi tunggu. Ia juga segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Mengatakan jika keberangkatannya ke Jakarta harus diundur.
"Bapak kok gak jadi ke Jakarta?" tanya Laila.
"Besok kan kamu mau ngajak aku ke pasar," jawab Bagus.
"Pak, itu bisa kapan-kapan. Bapak ke Jakarta dulu aja. Nanti kalau Bapak ke sini lagi, baru aku ajak ke pasar." Laila berusaha membujuk Bagus agar mengutamakan pekerjaannya.
"Gak apa-apa. Santai aja," ucap Bagus.
Baru saja Laila berusaha untuk membujuk Bagus lagi, kasir sudah memanggil untuk proses pembayaran. Setelah itu, tanpa memberi waktu, Bagus segera mengajaknya pergi lagi. Mengunjungi pusat perbelanjaan lain untuk membelikan sepatu dan tas.
"Pilih sesuai seleramu. Sesuaikan sama baju yang udah kamu beli tadi," ucap Bagus.
"Iya, Pak." Laila memgangguk.
Laila berjalan mengambil sebuah sepatu dan tas lalu membawanya ke kasir. Namun Bagus meminta Laila untuk kembali memilih tiga sepatu dan tas lagi.
"Pak, sepatu dan tas hitam itu bisa dipake buat semua warna. Jadi satu aja cukup," ucap Laila.
"Jadi kamu mau bikin aku malu? Apa kata perempuan jahat itu nanti? Dia pasti ngetawain aku. Bilang aku pelit karena fashionmu," ucap Bagus.
__ADS_1
Laila menghela napas panjang. Sudah sejak lama hidupnya terbiasa dengan pola hemat. Terakhir kali Laila belanja barang branded seperti ini saat bersama Bu Indah atau Bu Herlin dulu. Namun sekarang semua sudah jadi kenangan. Apa yang dilakukan Bagus mengingatkan tentang kedua ibu yang sudah lama pergi dalam hidupnya.
"Laila," panggil Bagus sambil mengguncang pelan tubuh Laila.
Laila pun terperanjat. Ia segera berjalan mengambil tiga tas dan sepatu yang disesuaikan dengan baju pilihannya. Bagus hanya duduk melihat Laila. Tanpa harus diberi tahu, Bagus yakin jika selera Laila tak perlu diragukan lagi.
Benar saja, saat akan membayar Bagus melihat semua barang belanjaan Laila sangat pas dengan seleranya. Tidak norak tapi tetap elegant.
"Sekarang kita pulang," ucap Laila.
"Kata siapa?" tanya Bagus.
"Kan udah beres, Pak. Kita mau kemana lagi?" tanya Laila.
Bagus melihat pergelangan tangannya. Ini sudah jam lima sore. Kalau pulang, berarti jam setengah tujuh malam mereka akan sampai di rumah kontrakan Laila. Hal itu tentu akan memberi kesempatan chef untuk bisa ke rumah Laila. Bagus mencari ide untuk pergi ke suatu tempat agar mereka bisa pulang jam sembilan malam. Saat tidak ada lagi kesempatan untuk chef, main ke rumah kontrakan Laila.
"Aku akan mengajak kalian ke suatu tempat. Ayo!" ajak Bagus.
Laila awalnya menolak. Namun ucapan Bagus kadang menjadi sebuah perintah yang tak bisa Laila tolak. Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan.
"Wah, ini seru banget Pak." Laila tersenyum lebar saat melihat tempat wahana permainan anak.
Laila yang tidak pernah pergi ke tempat seperti itu hanya bisa tersenyum kagum. Dengan senang hati Laila pergi ke wahana satu ke wahana yang lain. Bahkan tanpa malu, Laila meminta didaftarkan untuk masuk ke beberapa wahana.
"Laila, ini sudah jam setengah delapan." Bagus mengingatkan Laila.
"Astaga, Pak. Maaf ya Pak abis berapa ini?" tanya Laila bingung.
"Oh bukan masalah abis berapa. Ini masalah waktu. Perjalan pulang kita sampai satu jam setengah. Kalau pulang sekarang, kita bisa sampai jam sembilan malam. Kalau pulangnya nanti, kita bisa semakin malam sampai ke rumahnya. Gimana?" tanya Bagus.
Laila segera mengajak kedua keponakannya pulang. Meksipun Hasna terlihat kecewa, namun Bagus menjanjikan untuk mengajaknya lagi ke tempat itu.
"Bener ya, Om?" tanya Hasna.
"Bener dong. Besok kan Hasna harus sekolah dulu," jawan Bagus.
"Siap, Om." Hasna sesega memeluk Bagus dengan erat.
Bagus membalas pelukan Hasna. Tak lama ia segera mengajak mereka pulang. Selama perjalanan, rasa lelah membuat Laila dan dua keponakannya terlelap. Bibir Bagus tersenyum saat melihat mereka semua tidur karena kelelahan.
"Terima kasih udah ngajarin aku kebersamaan," gumam Bagus.
Tepat jam sembilan, mobil berhenti di depan rumah kontrakan Laila. Guncangan pelan di bahu Laila tak membuat Laila terbangun. Bagus mendekatkan tubuhnya, berbisi di telinga Laila untuk kembali membangunkannya. Laila yang tak bergeming membuat Bagus melakukannya berulang-ulang.
Semakin dekat tubuhnya dengan Laila, Bagus merasa ada yang berbeda. Dadanya berdebar tak karuan. Ada perasaan yang tak bisa ia tahan apa lagi saat melihat wajah Laila yang cantik.
Perlahan, Bagus mendekatkan bibirnya ke bibir Laila. Rasa yang menyelinap tak bisa mengontrol Bagus. Beruntung Hasna bangun dan bisa menggagalkan semua keinginan Bagus yang diluar kendalinya.
"Om, sudah sampai mana?" tanya Hasna.
"Udah sampai di rumah. Ayo turun sekarang," ajak Bagus.
Hasna dan Kayla turun lebih dulu. Namun kunci rumah ada pada Laila. Bagus pun kembali ke mobil, membangunkan Laila. Sialnya Laila malah berbalik ke arah Bagus. Jarak mereka terlalu dekat dan membuat Bagus hilang kendali.
__ADS_1
Tanpa diketahui Laila, sebuah kecupan di dahi Laila mendarat singkat. Bagus menelan salivanya saat berhasil melakukan aksinya secara rahasia.