
Setelah kedatangan chef itu, Laila merasa sangat terbantu. Karena Bagus meminta chef itu untuk menjaga mood Laila, dengan sangat hati-hati ia memperlakukan Laila. Hampir semua pekerjaan yang dilakukannya diapresiasi baik oleh Laila.
"Chef, sudah menikah?" tanya Laila.
"Sudah Bu. Kebetulan anak saya udah tiga," jawab laki-laki itu.
"Apa?" tanya Laila terkejut.
Laki-laki yang berperawakan seperti suaminya itu sudah memiliki tiga anak. Apa kabar dengannya yang belum mempunyai satupun anak. Padahal sudah dua kali menikah. Tiba-tiba pikiran Laila melayang jauh pada dirinya yang sudah menjadi istri Bagus namun belum memberinya anak.
"Saya pulang duluan ya gak apa-apa, kan?" tanya Laila tiba-tiba.
Chef itu terkejut. Kenapa tiba-tiba Laila ingin pulang? Apa karena jawabannya yang salah? Menyinggung? Ah chef itu segera meminta maaf meskipun tidak tahu letak kesalahannya.
"Oh gak apa-apa Chef. Saya cuma mau istirahat aja," jawab Laila.
Chef itu lega meskipun masih bingung dengan perubahan sikap Laila yang terjadi dengan secepat kilat. Namun ia mendengar jika perubahan itu bukan salahnya. Chef itu tidak tahu kalau setelah pulang, Laila menangis di pelukan Bi Sumi.
"Ibu kenapa? Cerita sama Bibi," ucap Bi Sumi.
Awalnya Laila tidak menjawab. Ia hanya menggeleng sambil sesenggukan di pelukan Bi Sumi. Namun setelah tenang, Laila mulai menceritakan apa yang membuatnya menangis.
"Apa Ibu udah haid bulan ini?" tanya Bi Sumi.
"Udah belum ya? Tanggal berapa sih ini, Bi?" tanya Laila.
Laila lupa kapan haid terakhir bulan kemarin. Hanya saja yang ia ingat haid terakhirnya di akhir bulan. Dan sekarang sudah masuk ke awal bulan lagi. Artinya bulan kemarin Laila tidak haid. Namun Laila terlalu senang karena tidak begitu yakin.
"Bibi antar ke rumah sakit ya! Kita periksa," ucap Bi Sumi.
"Iya Bi," jawab Laila semangat.
Harapan Laila begitu besar. Ia benar-benar menginginkan kehamilannya. Karena semua itu akan menjadi hadiah luar biasa untuk Bagus.
"MasyaAlloh Bi. Hamil," ucap Laila saat mendengar jawaban dokter.
__ADS_1
Air mata Laila kembali mengalir. Rasa bahagianya benar-benar hanya bisa diekspresikan dengan air matanya. Ia benar-benar tidak sabar untuk mengabari Bagus.
"Selamat ya Bu," ucap Bi Sumi.
Tidak seperti Laila yang sangat terkejut dengan kehamilan itu, Bi Sumi memang sudah menduganya lebih dulu. Namun jika bicara bahagia, Bi Sumi adalah salah satu orang yang sangat bahagia dengan kehamilan Laila.
"Bibi jangan bilang-bilang sama Mas Bagus ya! Saya mau buat kejutan nanti pas Mas Bagus pulang," ucap Laila.
"Siap Bu," ucap Bi Sumi sambil mengangkat jempol tangannya.
Tugas Bi Sumi bukan lagi soal menjaga rahasia itu, tapi ia harus mengabari Bagus agar pura-pura belum tahu dengan kehamilan Laila. Tidak terbayang jika nanti Bagus terlihat berekspresi datar saat mendengar kabar kehamilan Laila. Bukan tidak senang, tapi karena Bagus juga sudah menduga kehamilan Laila. Bi Sumi memang paling tidak bisa menjaga rahasia pada Bagus.
"Bi, seneng banget deh. Akhirnya saya bisa kasih dede bayi buat Mas Bagus," ucap Laila.
Bi Sumi mengangguk dan tersenyum lebar saat Laila terus mengungkapkan rasa bahagianya. Bahkan sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Laila terus membahas tentang kehamilannya. Sampai saat tiba di rumah, dengan senang ia berteriak pada Hasna dan Kayla. Mengabarkan kabar kehamilannya pada dua keponakannya yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri.
"Mama hamil?" tanya Kayla dengan senyum lebar di wajahnya.
"Iya Kay," jawab Laila sambil memeluk erat Kayla.
"Kok kamu gak seneng sih?" tanya Laila.
"Terus nanti aku jadi anak siapa?" tanya Hasna.
"Hasna, kamu tetap anak Mama sama Papa." Laila segera mendekap Hasna.
Penjelasan demi penjelasan Laila katakan agar Hasna tidak merasa takut terasingkan. Laila berjanji, kehadiran adik bayi sama sekali tidak akan membuat Hasna terasingkan.
"Hasna mau jadi kakak," ucap Bi Sumi.
Dengan gaya seorang ibu yang bijak, Bi Sumi mengingatkan Hasna agar lebih mandiri. Berusaha membantu Laila agar tidak pusing dengan urusan rumah dan lain sebagainya.
"Hasna sayang Mama sama adik bayi," ucap Hasna sambil mengecup perut Hasna yang masih rata.
Laila dan Hasna sudah hidup bersama sejak Hasna masih bayi. Mengingatnya yang sebentar lagi akan punya anak, pikirannya melayang pada mendiang Yanti. Ibu kandung Hasna dan Kayla yang tak lain adalah kakak iparnya, pasti akan bahagia saat tahu kehamilannya.
__ADS_1
"Kak, aku mau punya anak. Kalau dia perempuan, aku mau dia sebaik dan sesabar Kakak. Aku sayang Kakak," gumam Laila.
Perasaan Laila menjadi jauh lebih sensitif sejak hamil. Apapun mudah membuatnya menangis. Hal itu membuat Bi Sumi harus menjauhkan Hasna sementara waktu di trimester pertama kehamilan Laila.
Hasna tidak nakal. Hanya saja, karena kepolosannya Bi Sumi menjadi khawatir akan membuat Laila mudah menangis. Sejak yakin dengan kehamilan Laila, Bi Sumi selalu berusaha mengurangi kontak Hasna dan Laila. Sementara untuk Kayla, Bi Sumi tidak merasa khawatir sama sekali.
Selain Kayla sudah lebih besar dibanding Hasna, Kayla juga memiliki sifat yang berbeda dengan Hasna. Namun walaupun begitu, bagi Bi Sumi keduanya memiliki ketulusan yang sama.
Semenjak Laila tahu bahwa dirinya sedang hamil, ia berusaha membatasi dirinya. Kini ia mengurangi waktu kerjanya. Bagaimanapun, di dalam tubuhnya ada darah daging Bagus yang harus dijaga dengan baik.
Ketidaksabaran Laila untuk mengabari kehamilannya membuatnya memaksa Bagus untuk segera ke Surabaya. Akhirnya kepulangan Bagus ke Surabaya lebih ceoat dari rencananya.
"Maaaas," teriak Laila saat melihat kedatangan suaminya.
Dengan wajah ceria, Laila segera memburu Bagus dan memeluknya erat. Beruntung Bagus datang sebelum Hasna dan Kayla pulang sekolah. Jadi ia bisa menikmati waktu berdua dengan suaminya. Biasanya Laila harus berbagi dengan Hasna dan Kayla yang juga merindukan kehadiran Bagus.
"Mas, aku punya kejutan." Laila menarik tangan Bagus ke kamar.
Bagus bersiap untuk acting. Saat sebuah testpack dan hasil pemeriksaan dokter kandungan, Bagus segera membuka mulutnya dan membulatkan bola matanya. Actingnya sempurna. Laila percaya jika Bagus benar-benar terkejut dengan kejutan yang diberikannya.
"Seneng Mas?" tanya Laila.
"Seneng banget dong. Terima kasih ya sayang," jawab Bagus sambil mengelus kepala Laila.
Pintu kamar yang tidak tertutup menbuat Bi Sumi bisa melihat keadaan di dalam kamar. Jujur saja, Bi Sumi cukup penasaran dengan acting Bagus. Ada ketakutan tersendiri dalam hati Bi Sumi. Kalau saja Bagus tidak memainkan perannya dengan baik, bisa-bisa Laila marah dan semuanya jadi berantakan.
Bagus melihat Bi Sumi mengangkat dua jempol tangannya. Hal itu dibalas oleh Bagus. Namun setelah Bi Sumi berlalu, senyum Bagus hilang.
Bi Sumi bisanya cuma senyum sambil angkat jempol doang. Gak tahu gimana susahnya aku latihan terkejut kayak tadi. Tapi syukurlah, hasil kerja kerasku latihan membuahkan hasil. Laila gak curiga sama sekali. Belum lagi ada bonus dua jempol dari Bi Sumi. Siap-siap kasih honor lebih kalau gini caranya. Terima kasih Bi.
"Mas mana pesenanku? Eh bukan pesenanku deh, itu kan pesenan dede bayi. Mas gak lupa kan?" tanya Laila.
"Oh iya. Hampir lupa," ucap Bagus.
Bagus segera membawa pesanan Laila. Bakso dan batagor yang dipesan mentah, es jeruk yang tidak dingin karena tidak pakai es batu. Mungkin lebih tepatnya perasan jeruk ditambah sedikit air gula. Walaupun begitu, ternyata semua yang dibawa Bagus membuat Laila senang.
__ADS_1
Berkali-kali Bagus mendapat pelukan dan kecupan singkat dari Laila. Semua lakukan sebagai tanda terima kasih karena Bagus sudah mau repot-repot membawakan semua pesanannya.