
"La, kamu lihat Bu Indah gak?" tanya Bi Yani saat melihat Laila duduk di depan kamarnya.
Laila segera mengelap air matanya dan tersenyum. Ia juga membuka pintu kamarnya dan menunjukkan jika Bu Indah masih tidur di kamarnya.
"Kamu kenapa nangis? Kamarnya diambil alih sama Bu Indah ya?" tanya Bi Yani.
"Bukan. Bukan soal itu. Saya nangis karena ada telepon dari kampung, Bi. Soal Bu Indah, saya justru bingung kenapa Bu Indah nginep di kamar saya. Bu Indah marah gak ya kalau tahu tidur di kamar saya?" tanya Laila.
"Loh kok marah?" Bi Yani balik bertanya.
"Ya kan bisa aja kalau ternyata Bu Indah ngigau masuk kamar saya. Terus saya malah gak sadar tidur bareng sama Bu Indah," jawab Laila.
"Kamu sudah siap ke sekolah, La?" tanya Bu Indah dengan suara serak.
Obrolan Laila dan Bi Yani terhenti seketika. Laila segera mengangguk karena ia gugup. Ada perasaan takut jika Bu Indah menyadari kalau Laila sudah lancang tidur bersama Bu Indah. Namun Bu Indah hanya berlalu tanpa mengomentari apapun tentang tidur bareng mereka malam tadi.
"Ah aman," ucap Laila sambil mengusap dada.
Sementara Bi Yani segera pergi mengikuti Bu Indah. Ia harus menyiapkan barang bawaan majikannya hari ini. Semua barang bawaan sudah siap. Bahkan kue yang dibuat Laila tadi malam juga sudah disiapkan oleh Bi Yani.
"Gak ada yang ketinggalan?" tanya Bu Indah.
"Semua udah siap Bu," jawab Bi Yani.
Bu Indah menemui Laila yang sedang sarapan di ruang makan. Sementara Bu Indah sudah sarapan di kamarnya. Bu Indah mengajak Laila berangkat bersama. Kebetulan, jalan menuju bandara melewati sekolah Laila.
"Kamu baik-baik di rumah ya. Aku gak lama kok. Paling seminggu," ucap Bu Indah saat mobil sudah melaju.
"Iya Bu," jawab Laila singkat.
Laila masih merasa tidak enak tentang Bu Indah yang tidur di kamarnya. Namun ternyata, Bu Insah justru membelai kepala Laila. Merapikan rambut-rambut Laila yang terhempas angin dari jendela mobil.
"Kamu pasti kangen sama ibumu kan? Nanti kalau aku udah pulang, kita tidur bareng lagi ya. Kamu boleh menganggapku ibumu sendiri," ucap Bu Indah.
Laila menatap Bu Indah sendu. Dengan cepat ia memeluk Bu Indah sambil menahan air matanya. Namun apa daya air matanya terus berjatuhan tanpa bisa tertahan.
Ternyata Bu Indah menganggapi kejadian tadi malam dengan sangat manis. Mungkin benar, malam itu Laila sedang sangat merindukan ibunya. Setidaknya, begitulah sikap Laila jika Bu Rini membangunkannya saat ketidura sambil menonton televisi.
"Terima kasih ya Bu," ucap Laila sambil mengeratkan pelukannya.
Bu Indah bisa merasakan bagaimana perasaan Laila saat ini. Karena mungkin, perasaan itu tidak jauh berbeda Bu Indah rasakan saat anaknya pergi meninggalkan rumah itu.
"Semangat ya belajarnya! Terima kasih kuenya. Suamiku pasti suka," ucap Bu Indah sebelum mobil kembali melaju.
__ADS_1
Laila yang baru sampai di depan gedung sekolah mewah itu menatap mobil yang semakin jauh bahkan hilang dari pandangannya. Ia tersadarkan saat Bagas mengguncang pelan bahunya. Bagas menarik tangan Laila agar segera masuk ke kelas.
"Kamu jangan melamun di situ. Kata orang tempat itu angker," ucap Bagas.
"Mana ada angker. Sudah zaman apa ini masih aja percaya hantu," ucap Laila.
"Jangan gitu. Nanti kalau tiba-tiba hantunya datang dan bawa kamu ke neraka gimana?" tanya Bagas.
"Dih, amit-amit. Kalau ngomong ya dijaga dong," ucap Laila sambil memukul Bagas.
Bagas hanya tertawa dan pamit untuk ke kelasnya. Saat ini Bagas ada ulangan harian di jam pertama. Jadi Bagas harus sudah siap di ruangan agar tidak ketinggalan.
"Nanti jam istirahat jangan lupa ya. Aku tunggu di kantin apa aku ke sini dulu?" tanya Bagas.
"Gak usah. Ketemu di kantin aja," jawab Laila.
Ketika jam istirahat, Laila segera pergi ke kantin. Ternyata sudah ada Bagas di sana. Bagas bahkan sudah memesan segelas es lemon untuk Laila.
"Gas," sapa Laila
"Hey, mau makan apa? Biar pesen dulu," ucap Bagas.
"Gak usah. Aku udah sarapan Gas. Minum ini aja usah cukup," ucap Laila.
"Ya ampun mana mungkin aku diet. Gak liat badan aku udah kurus begini?" ucap Laila.
"Ya kali aja cuma mau nyisain kulit sama kentut," ucap Bagas.
Laila tertawa lepas. Bahkan beberapa detik ia lupa dengan masalah yang akan diceritakannya pada Bagas. Namun akhirnya Bagas mengingatkan Laila untuk janjinya kemarin.
"Aku gak usah cerita kayaknya udah plong deh Gas," ucap Laila.
"Loh kok gitu? Aku udah modal es lemon loh. Masa gak jadi cerita," ucap Bagas.
"Ya ampun perhitungan banget sih. Nanti aku ganti," ucap Laila sambil cemberut.
"Eh, ya bukan gitu. Abisnya kamu gak nepatin janji," ucap Bagas.
Bagas meminta Laila menceritakan apa yang sedang dipikirkannya sampai sering melamun di sekolah. Namun Laila masih berusaha menyimpan semua ceritanya. Akhirnya Bagas memutuskan untuk menceritakan masalahnya.
"Ya udah kalau gitu aku yang curhat ya," ucap Bagas.
"Mau curhat apaan emangnya?" tanya Laila.
__ADS_1
Bagas pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Masalah keluarga yang dialaminya hingga sampai detik ini ia belum memdapat kabar apapun dari ibunya.
"Bahkan sekarang Papa aku gak tahu kemana. Udah semalam gak pulang juga," ucap Bagas lesu.
"Masih untung kamu Gas tahu siapa bapak kamu. Nah aku? Aku bahkan gak tahu siapa bapak aku," ucap Laila.
Bagas melihat Laila yang nampak murung. Ia merasa kalau Laila sudah mulai terpancing. Dan benar saja, akhirnya Laila pun menceritakan masalah keluarganya. Bahkan cerita tentang perceraian Yanti dan Deri pun tak luput dari obrolan siang itu.
"Yaaah, udah bel. Ayo masuk dulu. Besok lanjut lagi," ucap Laila.
"Bener ya besok!" ucap Bagas.
"Iya," jawab Laila.
Laila segera berlari. Kali ini giliran Laila yang ulangan harian, hingga terburu-buru masuk ke kelas. Sementara Bagas hanya tersenyum dan bernapas lega setelah mendengar kisah Laila. Ternyata ia bukan satu-satunya manusia terbuang dengan segudang masalah. Laila justru memiliki masalah yang tak kalah beratnya.
Keesokan harinya, Bagas kembali mengingatkan Laila untuk bertemu di kantin saat istirahat. Sama seperti hari kemarin saat mereka menghabiskan waktu berdua untuk saling menceritakan masalah hidup masing-masing.
"Jadi gimana?" tanya Bagas yang baru saja datang.
Ya, kali ini Laila yang datang lebih awal. Menunggu Bagas dengan segelas es lemon yang sudah disajikan.
"Apanya yang gimana? Datang-datang naanya gimana. Pakai judul dong," Laila balik bertanya.
"Itu abang kamu jadi cerai?" tanya Bagas.
"Oh itu," jawab Laila sambil menunduk.
Laila memang tidak memberi jawaban ya atau tidak, namun ekspresi Laila sudah sangat jelas. Jawaban itu bisa ditebak meski tidak Laila ucapkan.
"Sabar ya, La. Yakin aja kalau semua yang terjadi udah yang terbaik," ucap Bagas.
"Iya, Gas. Tapi aku jadi keingetan sama Hasna dan Kayla. Mereka gimana ya? Apalagi Hasna masih kecil banget. Kay juga baru naik kelas dua SD," ucap Laila.
"Kamu yakin Kakak iparmu tega ninggalin anak-anaknya? Kan kamu juga bilang kalau kakak iparmu itu baik dan sayang banget sama anak-anaknya. Kalau menurutku sih gak mungkin deh dia ninggalin anak-anaknya begitu aja," ucap Bagas.
"Ibu kamu juga sayang kan sama kamu? Buktinya dia bisa ninggalin kamu, kan? Di dunia ini gak ada yang gak mungkin Gas," ucap Laila.
"Iya juga sih," jawab Bagas.
Tiba-tiba suasana hening. Bagas menunduk sambil mengaduk-aduk es lemonnya. Tatapannya kosong. Hal itu tentu membuat Laila panik dan merasa bersalah.
"Gas, maaf ya. Aku gak ada maksud gitu kok. Maksud aku tuh," ucap Laila.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Aku baik-baik aja kok," potong Bagas.