Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Aturan?


__ADS_3

"Nih!" ucap Bagus sambil memberikan selembar kertas pada Laila.


"Apa ini Pak?" tanya Laila.


"Memangnya kelihatan kayak bakso ya? Jelas-jelas itu ketas," jawab Bagus.


"Saya tahu ini kertas. Tapi kertas apa?" tanya Laila.


"Ya baca aja sendiri. Kamu kan bisa baca," jawab Bagus.


"Pak, saya gak bisa baca di mobil. Suka mual. Kalau nanti tumpah di sini gimana?" tanya Laila.


Bagus segera menarik kertas itu dari Laila. Ia tidak mau mobilnya penuh dengan ceceran lembek dari mulut Laila.Bagus sampai bergidik saat membayangkan semua itu.


"Kertas ini isinya aturan selama kamu di Jakarta," ucap Bagus setelah diam beberapa saat.


"Aturan?" tanya Laila bingung.


"Iya. Jadi selama kamu di Jakarta, kamu harus mengikuti aturan ini. Ingat ya! Kamu dibawa ke Jakarta gak gratis. Ada kontrak yang udah kita buat," jawab Bagus mengingatkan.


Ya, Laila memang sudah menandatangani perjanjian dengan Bagus. Ia akan pergi ke Jakarta namun dijamin tidak akan dikeluarkan dari tempat kerjanya. Tentu bukan hal mudah karena Bagus sangat mengenal Pak Jacob.


Selain itu, selama di Jakarta Bagus menyiapkan Bi Sumi yang akan mengurus Hasna dan Kayla. Ada uang tambahan yang Laila dapatkan. Bagusnya menyebutnya sebagai bonus.


"Boleh dibacain Pak aturannya apa aja?" tanya Laila.


Bagus mendecak kesal. Seharusnya Laila yang membaca sendiri agar ia mengingat dengan baik setiap point aturan yang sudah dibuatnya. Tapi apa boleh buat, Laila harus menjalankan beberapa aturan yang dibuatnya sesaat setelah sampai di Jakarta.


"Yang pertama, kamu harus memanggilku dengan sebutan sayang selama berada di Jakarta," ucap Bagus.


"Astaga Pak, masa iya selama di Jakarta? Kan bisa kalau di depan Kak Winari aja," ucap Laila.


"Masuk aturan kedua jangan menyebut nama itu di hadapanku, Laila." Bagus menatap Laila dengan tajam.


"Iya Pak iya. Tapi kan bisa manggil sayangnya di saat-saat tertentu saja," ucap Laila.


"Tidak bisa. Aku gak mau ada orang yang curiga sama sandiwara ini," ucap Bagus.


"Oke," jawab Laila pasrah.


"Selanjutnya kamu harus selalu menggandengku setiap kali kita jalan. Kemanapun," ucap Bagus.


"Gandeng?" tanya Laila.


"Iya. Kenapa? Gak mau?" tanya Bagus.


"Mau Pak mau," jawab Laila sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu juga akan memegang kartu ATM ku. Belanja apapun yang kamu mau, apalagi saat ada si wanita jahat itu. Biarkan dia iri sama fasilitas yang kamu punya," ucap Bagus.


"Gampang," ucap Laila.


"Lalu kamu juga harus mengunjungiku ke kantor setiap jam istirahat sambil bawa makan siang buatanmu," ucap Bagus.


"Jadi saya merangkap sebagai pembantu?" tanya Laila.


"Bukankah kerjamu di pabrik saja sebagai asisten chef? Kenapa kamu gak mau bikinin aku makan siang?" Bagus kesal.


"Tapi itu artinya aku saya ke pasar, belanja dan," ucapan Laila terhentis saat Bagus memotong ucapannya.


"Aku hanya memintamu memasak. Kamu tinggal tulis apa yang kamu perlukan dan semua akan tersedia di dapur. Mengerti?" ucap Bagus.


"Oke," jawab Laila.


Masih ada beberapa aturan yang Bagus tulis. Isinya memang tidak terlalu memberatkan Laila namun cukup membuatnya lelah. Salah satunya Laila harus berdandan dan mengenakan pakaian rapi setiap hari. Sungguh bukan Laila yang kini mulai nyaman dengan daster.


Tak apa, semua akan Laila lakukan. Balas dendam Bagus yang melihatkan dirinya memang terasa tidak adil. Namun Laila merasa ada sisi baik yang bisa diambilnya. Laila akan menjadi chef di toko kue terbesar di Surabaya nanti. Itu yang membuat Laila pasrah dengan setiap tingkah Bagus.

__ADS_1


"Sudah sampai," ucap Bagus.


"Iya Pak," jawab Laila.


"Hey, ini udah di Jakarta. Kamu harus ingat point pertama isi dari aturan ini," ucap Bagus sambil menyerahkan kertas itu pada Laila.


"Iya sayang," ucap Laila dengan wajah yang mendekat pada Bagus.


Laila yang berusaha membuat Bagus kesal justru membuat laki-laki yang berstatus duda itu salah tingkah. Bagus terlihat begitu gugup dan segera meminta Laila keluar dari mobil.


"Sayang, saya lapar. Ada makanan?" tanya Laila.


Bagus menelan salivanya dengan susah payah. Cara Laila memanggilnya dengan sebutan sayang membuat Bagus terbang melayang. Hatinya berbunga, wajahnya memerah. Bagus tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Kamu ke kamar aja. Nanti makanannya diantar ke kamar," jawab Bagus.


Bagus mengantar Laila ke kamarnya. Setelah itu memesankan makanan melalui go food. Sementara Bagus sendiri masuk ke dalam kamarnya. Mengusap wajahnya yang memerah dan masih tersenyum sendiri. Masih terngiang di telinganya saat Laila memanggilnya sayang.


"Ah, Laila. Ini manis sekali," ucap Bagus pelan.


Bagus segera keluar rumah saat makanan yang ia pesan sudah datang. Mengantarnya ke kamar Laila namun Laila nampak sedang tidur.


"La," panggil Bagus.


Laila hanya menggeliat dan tidur kembali. Satu kancing baju yang Laila pakai terbuka. Tepat di bagian dadanya. Menunjukkan sedikit bagian dada yang behasil membuat Bagus menggelengkan kepalanya.


"Sial, kenapa ada acara kancingnya kebuka segala sih?" tanya Bagus.


Tidak ingin bagian bawahnya mengeras lebih lama, Bagus mencoba mengancingkan baju Laila, namun ternyata Laila menyadari jika ada tangan nakal yang bermain di kancing bajunya. Laila spontan berteriak dan melempar bantal ke arah Bagus.


"Bapak ngapain? Jangan macam-macam ya Pak? Saya bisa laporin Bapak ke polisi," ancam Laila sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


"Laila, hussst. Jangan sampai orang lain berpikir kotor juga sepertimu. Tadi kancing bajumu kebuka. Makanya aku mau benerin," ucap Bagus.


"Kalau Bapak mau benerin, Bapak bisa bangunin saya. Bukan malah cari-cari kesempatan," ucap Laila.


"Oh, harus dibangunin ya? Kamu pikir bangunin kebo tidur kayak kamu gampang hah?" ucap Bagus kesal.


"Tuh makanannya," ucap Bagus.


Setelah itu Bagus keluar dari kamar Laila. Sebenarnya Laila ingin menahan Bagus dan meminta maaf kembali hingga Bagus tidak marah lagi padanya. Namun sayangnya rasa lapar lebih membuat Laila memilih untuk menyantap dulu makanan yang disiapkan oleh Bagus.


"Pak," sapa Laila setelah selesai makan.


"Hemmm," jawab Bagus.


"Bapak marah ya sama saya?" tanya Laila.


"Gak," jawab Bagus singkat.


"Pak, maafin saya ya. Saya cuma takut aja. Saya kan perempuan dan Bapak itu laki-laki. Meskipun saya gak yakin Bapak tertarik sama saya, tapi manusia kan punya nafsu. Bapak nafsu gak sama saya?" tanya Laila.


Nafsu? Astaga Laila pertanyaan macam apa itu?


Bagus menggelengkan kepalanya. Bicara soal nafsu, jangan ditanya. Bagus sudah lama tertarik dengan Laila. Namun ia tidak melihat ada timbal balik yang sama. Tentu gengsi saat Bagus harus mengakui perasaan yang tentunya bertepuk sebelah tangan itu.


"Gak ya Pak ya?" tanya Laila meyakinkan dirinya lagi.


"Laila, tolonglah. Kita di sini punya misi. Jangan sampai keributan kita akan menggagalkan semua rencana kita," ucap Bagus.


"Iya Pak. Tapi kalau kita tinggal serumah berdua begini, saya takut di gerebek Pak. Nanti disangkanya kita kumpul kebo. Apa gak sebaiknya Bapak carikan saya rumah kontrakan aja?" pinta Laila.


Bagus lupa memberi tahu Laila. Sebenarnya Bagus tidak akan tinggal di sana. Ia akan pulang ke rumahnya. Sebagai gantinya, Bagus akan mengirim satu orang asisten rumah tangga untuk menemani Laila di sana.


Ya, Bagus memang sengaja tidak membawa Laila ke rumah mewahnya. Ia sudah berjanji bahwa hanya akan membawa ibu dari anak-anaknya nanti ke rumah itu. Bahkan saat menikah dengan Winari pun, Bagus tidak pernah membawanya ke rumah itu.


"Aku pulang dulu ya!" ucap Bagus.

__ADS_1


"Siap," ucap Laila.


Hanya dua jam setelah Bagus pulang, seorang wanita datang dengan menunduk sopan. Sangat ramah dan hangat. Ia pun mengenalkan dirinya.


"Nama saya Lasmi," ucap Lasmi.


"Saya Laila," jawab Laila.


Laila yang mudah bergaul bisa dengan cepat akrab dengan Lasmi. Saat pagi-pagi Bagus ke rumah itu, terlihat Laila tengah mengobrol akrab dengan Lasmi. Bagus senang melihat Laila tidak kesepian.


"Laila, ingat aturan yang sudah aku buatkan untukmu. Kalau kamu lupa, biar Bi Lasmi copy kertasnya sebanyak mungkin. Terus tempel kertasnya di setiap sudut," ucap Bagus.


"Ya ampun Pak, saya belum pikun. Tenang aja. Gampang," ucap Laila.


Bagus memberikan kartu namanya. Ada alamat kantor yang harus Laila kunjungi siang nanti. Tidak lupa membawa makan siang untuknya. Untuk transportasi, Bagus meminta Laila untuk naik grab saja.


Sudah jam sepuluh siang, Laila segera ke dapur. Memasak untuk makan siang Bagus. Tentunya dengan bantuan Lasmi. Setelah selesai, Laila segera mandi. Memakai pakaian yang sempat dibeli di Surabaya dan berdandan.


"Wah, Laila cantik sekali." Lasmi kagum dengan penampilan Laila.


"Bi Lasmi ini bisa aja," ucap Laila.


Laila memesan grab dan segera berangkat. Makan siang untuk Bagus tak lepas dari tangannya. Hingga akhirnya Laila sampai ke kantor itu. Beruntung Laila sempat sekolah dan tinggal di Jakarta, paling tidak Laila tidak terlalu norak. Ia bisa mengimbangi keadaan di kota dengan gaya dan penampilannya.


Saat sampai ke kantor, Bagus tidak ada di sana. Ia menunggu di ruangannya. Hanya lima menit menunggu, Bagus sudah datang.


"Laila," sapa Bagus.


Laila yang asyik dengan ponselnya segera melihat ke arah Bagus. Tersenyum manis dan mengangkat makan siang yang dibawanya.


"Makan siang," ucap Laila.


Bagus masih menatap Laila dengan penuh kekaguman. Ternyata Laila jauh lebih cantik saat berdandan. Apalagi pakaian yang dikenakan Laila sangat cocok dengan bentuk tubuhnya.


"Ada yang aneh ya?" tanya Laila.


"Kamu cantik," jawab Bagus.


"Ah jangan bikin GR dong. Jadi malu," ucap Laila sambil menutup wajahnya.


Kelakuan Laila begitu menggemaskan. Membuatnya semakin tertarik. Ah tidak, bukan hanya tertarik. Semakin lama Bagus merasa ingin memiliki Laila.


"Kamu lucu," ucap Bagus.


"Masa sih? Bapak naksir ya sama saya?" tanya Laila.


Bagus segera menyadarkan dirinya saat Laila menyadari perasaannya. Tidak, Laila tidak boleh tahu. Bagus ingin Laila punya perasaan yang sama sebelum ia tahu apa yang ia rasakan saat ini.


"PD banget sih jadi orang," ucap Bagus.


Bagus mencoba mengalihkan pembicaraan dengan segera melahap makan siang yang dibawa oleh Laila. Tak lupa Bagus memposting acara siang itu. Tentu dengan cepat Winari meresponnya. Bagus dengan senang memanas-manasi Winari dengan kehadiran Laila di kantornya.


"Laila ingat ya! Perempuan jahat itu bisa aja mendatangi kamu. Jangan sampai kamu terlihat takut ya! Aku gak mau dia menyakitimu," ucap Bagus.


"Iya. Tenang aja, saya bakal bikin dia menyesal karena udah sia-siain bapak. Saya janji," ucap Laila.


Seperti dugaan Bagus, Winari datang ke rumah itu. Menemui Laila dan meyakinkan hubungannya dengan Bagus.


"Ternyata selama ini kamu mengincar dia ya?" tanya Winari.


"Memangnya ada ya perempuan yang gak ngincar dia? Saya rasa cuma perempuan bodoh yang nyia-nyian dia," jawab Laila.


Winari melihat tajam Laila. Sungguh bukan Laila yang ia temui beberapa tahun silam. Laila sudah banyak berubah. Bahkan Winari tidak menyangka jika Laila bisa berubah begitu drastis. Bukan hanya Winari, Bagus pun tidak menyangka jika Laila bisa bersikap seperti itu di hadapan Winari.


"Dasar perempuan kampung! Berani-beraninya kamu bersikap kurang ajar," ucap Winari.


"Mau dari kampung atau kota, gak ada bedanya kalau sikap kita sama-sama kurang ajar," ucap Laila.

__ADS_1


"Jangan pernah samain aku sama kamu. Kita gak selevel," ucap Winari.


"Gak usah terlalu PD. Siapa juga yang mau selevel sama Kakak. Saya jauh lebih tinggi levelnya dibanding kakak," ucap Laila.


__ADS_2