
Tidak menunggu lama, Bagus segera mengarahkan orang untuk mengurus kepindahan Laila ke rumahnya. Tidak semua barang dibawa karena di rumah Bagus pun, semua perabotan sudah lengkap.
"La, beli motor kayaknya gak keburu sekarang deh. Besok sebelum pulang, kita beli ya!" ucap Bagus.
"Mas kan harus berangkat pagi. Kapan-kapan aja kalau Mas ke sini lagi!" ucap Laila.
Bagus diam. Ia memang harus pulang pagi. Ada urusan yang harus diselesaikan di Jakarta. Tapi ia merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Laila. Ah, sebenarnya bukan sebuah keinginan. Tapi lebih pada kebutuhan.
Setelah Bagus pikir-pikir, Laila tidak aman jika masih bepergian sendiri. Ia takut jika Winari masih bisa bergerak dengan orang suruhannya. Bagus pun memutuskan untuk tetap membelikan motor namun bukan Laila yang akan mengantar jemput Hasna dan Kayla.
"Sayang, biar nanti satpam kita aja ya yang antar jemput Hasna dan Kayla. Aku gak tenang kalau kamu pergi ke sana sini," ucap Bagus.
"Loh kok begitu, Mas? Aku kan gak ke sana ke sini. Cuma antar anak-anak ke sekolah aja. Paling ke toko," ucap Laila.
"Iya sayang. Makanya biar satpam kita aja yang antar jemput mereka. Kamu biar fokus di toko ya!" ucap Bagus.
Meskipun Laila sempat kecewa, namun ia berusaha untuk menerima. Ia meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukan Bagus semua demi kebaikannya.
"Aku ikut gimana baiknya aja, Mas." Laila menatap Bagus dengan senyuman.
"Sayang, maafin aku ya. Aku cuma terlalu khawatir," ucap Bagus.
"Gak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok," ucap Laila.
Bagus terlihat sangat menikmati malam ini. Ia menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan ke tempat kuliner. Membiarkan Hasna dan Kayla jajan sepuasnya.
"Coba kalau Bi Sumi ikut," ucap Laila.
"Bi Sumi nungguin berlian di rumah takut digondol maling," jawab Bagus.
Laila tertawa mendengar ucapan Bagus. Ia benar-benar merasa sangat dekat dan tidak ingin berpisah dengan suaminya. Seandainya tidak ada toko kue, mungkin saat ini Laila akan membawa Hasna dan Kayla untuk pergi ke Jakarta. Hidup bahagia bersama tanpa harus dipisahkan oleh waktu.
"Hey, jangan melamun. Kamu mau jajan apa?" tanya Bagus.
"Gak ah Mas. Aku gak mau jajan," jawab Laila.
__ADS_1
"Masa sih? Tumben," ucap Bagus.
"Lihat kamu aja udah kenyang," ucap Laila.
"Idih, belajar gombal dimana? Kok garing banget sih?" tanya Bagus.
"Ih, gak ngehargain banget sih. Aku udah usaha juga," ucap Laila sambil memukul lengan Bagus.
Laila sesering mungkin menatap Bagus di setiap ada kesempatan. Ia merasa tidak puas dengan waktu yang begitu cepat berlalu. Bahkan setelah sampai ke rumah, Laila tidak mau jauh dari suaminya. Rela menghabiskan semalaman untuk menatap wajah laki-laki yang sangat ia cintai itu.
Laki-laki yang awalnya dingin namun ternyata begitu hangat dan sangat tulus. Bagi Laila, memiliki Bagus dalam hidupnya adalah sebuah anugerah luar biasa.
"Sayang, bangun." Bagus mengguncang pelan tubuh Laila.
"Hemmm," jawab Laila tanpa membuka matanya.
Bagus mengecup dahi Laila. Berusaha membangunkannya dengan cara paling ampuh. Namun sayangnya Laila masih terlelap dengan mimpi indahnya.
"Laila," ucap Bagus setelah beberapa kali gagal membangunkan Laila.
"Mas," ucap Laila pelan.
"Pulang?" tanya Laila.
Mata Laila langsung terbuka lebar. Rasa ngantuknya hilang seketika. Meskipun kepalanya masih terasa berat, namun Laila berusaha bangun dan mencuci muka. Tak lama ia sudah melihat Bagus sudah rapi. Air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja.
"Jangan bikin aku berat buat pulang, La." Bagus mendekap Laila dengan sangat erat.
Beberapa saat Laila tidak mempedulikan apa yang dikatakan suaminya. Namun setelah itu, ia segera mengusap air matanya dan tersenyum. Berusaha tegar dan tenang.
"Papa dadaaaaah," ucap Hasna.
Hal yang sama diikuti oleh Kayla. Bagus membalas lambaian tangan mereka berdua tanpa membuka mulutnya yang kelu. Berat rasanya berpisah dengan keluarga yang sangat berarti baginya.
Laila terduduk lemas saat melihat Bagus pergi. Bahkan Bagus pulang ke Jakarta sebelum Hasna dan Kayla berangkat sekolah. Di depan kedua anaknya, Laila harus bersikap tenang dan baik-baik saja. Menyembunyikan sejuta luka yang diakibatkan kerinduan.
__ADS_1
"Bi, kapan ya saya bisa serumah sama Mas Bagus?" tanya Laila saat di rumah hanya tinggal mereka berdua.
"Suatu saat nanti," jawab Bi Sumi yang sedang asyik memotong sayuran.
"Kapan?" tanya Laila.
"Cuma waktu yang bisa jawab," jawab Bi Sumi.
Meskipun status mereka majikan dan asisten rumah tangga namun Bi Sumi selalu berusaha menempatkan diri dengan tepat. Saat Laila rapuh seperti ini, Bi Sumi berusaha menjadi teman sekaligus ibu untuk Laila.
Bi Sumi mencuci tangan dan mengelap tangannya. Setelah itu, duduk mendekat dan memeluk Laila. Membuat Laila mengungkapkan semua kekecewaannya dalam pelukan Bi Sumi. Rindu pelukan seorang ibu, Laila bahkan sampai menangis sesenggukan di pelukan Bi Sumi. Air matanya membasahi bahu Bi Sumi.
Bi Sumi tidak bicara sampai Laila berhenti menangis. Ia hanya mengusap punggung Laila, berusaha menenangkannya. Setelah tenang, baru Bi Sumi bicara.
"Bu, gak ada yang hidupnya sempurna. Semua cuma lagi berjuang dengan masalahnya masing-masing. Kadang ada yang rumah tangganya selalu bersama, tapi setiap hari ribut terus. Ada yang selalu romantis tapi kekurangan dalam ekonomi. Banyak lagi yang lainnya Bu. Kalau menurut saya sih Ibu orang yang beruntung," ucap Bi Sumi.
Berutung? Ya mungkin semua ini hanya karena Laila kurang bersyukur saja. Apa yang dikatakan Bi Sumi memang benar. Seperti rumah tangga Dery dan Yanti. Padahal Yanti sangat baik. Bukan hanya menjadi suami yang baik tapi juga bisa menjadi menantu luar biasa. Namun sayangnya Yanti mendapatkan suami yang begitu dingin dan tidak mau bekerja. Semua kebutuhan dipenuhi oleh Yanti.
Kalau ingat keluarganya dulu, Laila lebih memilih untuk menjalani rumah tangganya sekarang. Meskipun jauh dengan suaminya, namun Bagus selalu memberikan semuanya. Dari mulai perhatian hingga memenuhi semua kebutuhannya. Bahkan bukan hanya Laila, tapi Bagus memenuhi kebutuhan Hasna dan Kayla.
"Maaf ya Bi, aku kurang bersyukur." Laila mengusap pipinya.
"Kalau ada apa-apa, cerita sama Bibi aja. Bibi bisa jaga rahasia kok," ucap Bi Sumi.
"Terima kasih ya Bi. Saya jadi ngerasa punya Ibu lagi," ucap Laila.
Selama Bagus di Jakarta, Laila mendapat perhatian penuh dari Bi Sumi. Semua karena Bagus yang selalu menekan Bi Sumi agar Laila selalu merasa bahagia. Menurut Bagus, Laila sudah cukup hidup terlalu mandiri. Selama ini Laila selalu terlihat kuat dan dewasa.
Kali ini, Bagus ingin Laila merasakan senang dan tenang. Sebisa mungkin Bagus membahagiakan Laila dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian dan segalanya semaksimal mungkin.
Setelah dua hari Bagus di Jakarta, ada seseorang yang datang mengaku sebagai satpam. Karena Laila trauma, ia segera menghubungi Bagus. Benar, laki-laki itu adalah orang suruhan Bagus. Orang Surabaya yang didapat dari kenalannya di Jakarta.
"Kalau ada apa-apa bilang sama dia aja," ucap Bagus.
"Ya ampun Mas terima kasih ya," ucap Laila.
__ADS_1
Bagus juga sudah meminta satpam itu untuk mengantar Laila membeli motor. Meskipun bukan Laila yang mengendarainya, namun motor itu harus sesuai dengan keinginan Laila.
Lagi-lagi Bagus membuat Laila bahagia dengan cara yang luar biasa. Benar kata Bi Sumi, Bagus hanya jauh raganya saja. Semua perhatian dan ketulusannya sangat dekat dengannya.