
Sejak sempat saling bercerita, kini Bagas dan Laila semakin dekat. Berbeda dengan Bagas, Laila terkesan lebih datar. Sedangkan Bagas, kian terlihat memberikan perhatian lebih pada Laila. Namun sampai saat ini Laila masih menganggap Bagas teman biasa.
"Ibu Indah udah pulang?" tanya Bagas.
"Udah. Baru semalem sampe ke rumah," jawab Laila.
"Wah, bisa dong." Bagas senyum cengengesan.
"Bisa apaan?" tanya Laila.
"Bisa maen ke rumah," jawab Bagas.
"Mau ngapain?" tanya Laila.
"Mau ngelamar kamu," jawab Bagas.
"Dih, jangan ngadi-ngadi ya Gas. Kita tuh temenan. Kita gak mungkin sampe pacaran. Apalagi acara ngelamar-ngelamaran segala," jawab Laila sambil menggelengkan kepalanya.
"Karena aku gak punya orang tua? Karena keluargaku berantakan kan?" tanya Bagas.
"Bukan," jawab Laila.
"Karena aku gak sekaya kamu?" tanya Bagas.
"Siapa yang kaya? Aku hidup aja nebeng," jawab Laila.
"Terus? Karena aku jelek?" tanya Bagas.
"Gas, gak kok. Aku gak pernah lihat orang dari tampang, dari dompet. Kamu itu baik. Aku seneng temenan sama kamu. Udah itu aja," ucap Laila.
Laila bersusah payah menjelaskan alasannya tidak bisa memiliki hubungan yang lebih dengan Bagas. Namun perasaan kecewa Bagas sudah membuatnya menolak semua alasan yang diberikan Laila.
"Ya udah aku balik ke kelas ya," ucap Bagas lesu.
Laila menatap Bagas yang pergi meninggalkan dirinya. Baso tahu di piringnya masih tersisa setengah. Tapi tiba-tiba selera makannya hilang begitu saja. Bukan karena Laila menyesal menolak Bagas, tapi karena ia gagal membuat Bagas nyaman sebagai teman dengannya.
"Gas, besok aku mau ke perpus umum. Kamu bisa temenin aku gak?" tanya Laila saat pulang sekolah.
"Besok aku ada kerja kelompok, La. Kamu kan bisa ditemenin sopir," jawab Bagas.
"Oh ya udah," jawab Laila.
Bahkan Bagas pulang sebelum Laila pulang. Dulu, Bagas tidak akan pulang sebelum melihat Laila pulang. Bagas tidak tega melihat Laila menunggu jemputan sendirian. Apalagi ini sudah telat.
__ADS_1
"Bagas pasti marah," gumam Laila.
Laila pulang setelah sopir itu datang. Selama perjalanan Laila hanya diam dan termenung. Kebiasaanya dengan Bagas seminggu ini membuatnya merasa sangat kehilangan saat Bagas berusaha menjauh darinya.
"Kamu sakit, La?" tanya sopir.
"Gak, mang. Cuma pusing aja banyak PR," jawab Laila berbohong.
Setelah melewati kejadian tadi, Laila merasa tidak tenang. Ia jadi merasa harus menjelaskan semuanya agar Bagas tidak salah paham. Tidak ingin kehilangan teman sebaik Bagas, Laila sampai latihan bicara di depan cermin.
"Gas, aku gak ada maksud buat nyakitin kamu. Tapi aku gak mau kehilangan temen sebaik kamu. Pleaseee tetep jadi temen aku ya," ucap Laila sambil menatap wajahnya sendiri pada pantulan cermin.
Tiba-tiba Laila bergidik.
"Ih aku kok alay banget sih. Bodo amat ah. Si Bagas mau gak kenal lagi juga gak apa-apa," ucap Laila.
Mungkin hanya bibirnya saja yang sanggup seperti itu, kenyataannya sampai sekarang Laila masih merasa gelisah. Ia tidak sabar menunggu besok untuk memastikan sikap Bagas padanya besok akan seperti apa.
"La, mau kemana? Jam segini udah siap aja," ucap Bi Yani saat pagi-pagi Laila sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Ya mau sekolah, Bi. Masa mau main lenong," jawab Laila.
"Ini masih pagi," ucap Bi Yani sambil menunjuk jam di dinding.
"Iya, hari ini ada praktek. Jadi saya harus datang lebih pagi," jawab Laila bohong.
"Bibiiii," ucap Laila.
Tawa Bi Yani semakin renyah saat berhasil menebak apa yang terjadi pada Laila sebenarnya. Ternyata Bi Yani dianggap sebagai paranormal oleh Laila. Tanpa mengatakan apapun, Bi Yani sudah tahu apa yang terjadi. Padahal selama ini, Laila selalu pandai menyimpan perasaannya.
Tidak ada yang tahu kalau selama ini Laila menyimpan masalah yang berat tentang keluarganya. Namun hanya masalah dengan Bagas saja, Bi Yani sampai bisa menebak.
"Kamu lagi kasmaran, La. Akui aja kalau kamu juga suka sama laki-laki itu," ucap Bi Yani.
"Ih, gak kok. Mana ada aku suka sama Bagas," ucap Laila.
"Oh jadi namanya Bagas ya?" ucap Bi Yani.
"Apaan sih Bi," ucap Laila saat melihat Bi Yani senyum-senyum mengejeknya.
Senyuman penuh arti Bi Yani segera menghilang saat melihat kedatangan Bu Indah. Bukan takut pada Bu Indah, namun Bi Yani takut jika Laila akan kena marah saat masalah ini sampai ke telinga majikannya.
Seperti yang Bi Yani tahu, Bu Indah tidak mengizinkan Laila berpacaran. Bahkan sekedar berteman akrab dengan lawan jenis saja akan membuatnya sangat marah. Mungkin terkesan terlalu mendikte. Namun di sisi lain itu adalah sebuah kewajaran. Ada ketakutan tersendiri pada diri Bu Indah. Traumanya terlalu besar.
__ADS_1
"Berangkat sekolah sekarang?" tanya Bu Indah.
"Iya Bu. Ada praktek," jawab Laila.
"Sopirnya sudah siap?" tanya Bu Indah.
"Udah Bu," jawab Laila.
Sebisa mungkin Laila menjawab dengan sesantai mungkin. Cukup Bi Yani yang tahu perasaannya saat ini. Jangan sampai Bu Indah juga menyadari apa yang membuatnya gelisah.
"Belajar yang pinter ya. Ini uang bekalmu," ucap Bu Indah sembari memberi lima lembar uang seratus ribuan.
"Kok banyak banget bu?" tanya Laila bingung.
"Nanti pulangnya naik grab ya. Aku mau pakai sopir siang nanti. Ada perlu," jawab Bu Indah.
"Tapi kan gak sebanyak ini juga, Bu. Nih, saya bawa dua ratus aja," ucap Laila sambil mengembalikan uang sisanya.
"Bawa dulu. Buat jaga-jaga," ucap Bu Indah.
"Oh ya Bu, nanti saya mau ke perpus umum dulu ya pulang sekolah. Mau cari buku sumber buat bahan makalah," ucap Laila.
"Boleh. Tapi hati-hati ya," ucap Bu Indah.
Laila mengangguk dan segera pamit untuk berangkat sekolah. Yang ada di pikirannya hari itu adalah bagaimana sikap Bagas hari ini. Ah, karena terlalu banyak ketakutan Laila saat ini ia sampai diingatkan sopir saat mobil sudah terparkir di depan sekolah.
"Oh iya Mang. Terima kasih ya," ucap Laila.
Tidak ada praktek hari ini. Sekolah juga masih sepi. Laila memang sengaja datang lebih pagi. Semua karena Laila ingin melihat respon Bagas padanya hari ini.
"Bagas kemana ya?" gumam Laila.
Sudah setengah jam Laila duduk di dekat parkiran. Menunggu Bagas yang tak kunjung datang. Bahkan sampai bel berbunyi, Laila tidak juga melihat kedatangan Bagas.
Saat istirahat, Laila sengaja melewati kelas Bagas. Namun teman laki-lakinya itu masih belum terlihat. Akhirnya Laila bertanya pada temannya.
"Oh, sakit ya!" ucap Laila saat temannya memberi informasi tentang Bagas.
Laila kembali ke kelas dan mengikuti pembelajaran hingga akhir. Setelah pulang, ia tidak jadi pergi ke perpustakaan. Laila justru mencari Bagas ke rumahnya. Namun sayangnya Bagas tidak ada di rumah itu.
"Apa alamat yang dikasih ini salah kali ya? Jangan-jangan alamat palsu lagi. Udah kayak ayu ting-ting nih," gumam Laila sambil melihat alamat yang sudah dicatatnya tadi.
"Bu, ini rumahnya Bagas, kan?" tanya Laila memastikan.
__ADS_1
Seorang ibu yang sedang lewat ke depan rumah Bagas pun mengiyakan. Namun ibu itu melihat Bagas memakai seragam sekolah. Laila hanya terdiam saat tahu jika Bagas tidak sakit. Ia memang semgaja tidak sekolah hari ini.
"Bagas pasti sengaja gak sekolah biar gak ketemu sama aku. Tapi dia kemana ya?" gumam Laila.