Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Papa?


__ADS_3

"Udah selesai?" tanya Bagus.


"Harus cari sepatu dulu," jawab Laila.


"Gak apa-apa, sepatuku masih banyak. Kapan-kapan aja," ucap Bagus.


"Kenapa sih Pak? Gengsi ya belanja di pasar?" tanya Laila.


"Bukan begitu. Kalau sepatu biasanya akugh pakai ukuran import," ucap Bagus.


"Halah, sombong. Udah ayo! Biar Bapak tuh sekali-kali ngerasain gimana pakai barang lokal. Cintai produk dalam negeri Pak," ucap Laila.


Bagus tidak ingin berdebat terlalu panjang dengan Laila. Hal itu hanya akan membuatnya semakin malu. Sudah cukup banyak pasang mata yang melihat mereka berdua sejak tadi. Bagaimana cara Laila memperlakukan Bagus. Tidak berbeda seperti seorang ibu yang sedang memilih baju untuk anaknya.


Setiap kali Bagus protes, Laila akan ngomel dengan durasi empat kali lipat dibanding protesnya Bagus. Hal itu membuat Bagus hanya diam dan pasrah. Meskipun dalam hatinya Bagus sudah ingin lambaikan tangan ke kamera. Ingin menyerah tapi tak bisa.


"Pak, ukuran ini ada?" tanya Laila sambil mengangkat sepatu Bagus.


Sementara Bagus hanya bertumpu pada satu kaki, karena satu sepatunya diambil Laila. Berkali-kali nyaris oleng, namun Bagus berhasil tidak sampai terjungkal. Lelah? Tentu. Namun Bagus tidak boleh membuat Laila menyerah. Ia hanya menunggu sampai Laila yang mengajaknya pulang.


"Duh, susah ya Pak. Lagian itu kaki kok gak umum sama orang sih pak?" ucap Laila lelah.


Bagus sebenarnya ingin marah dengan ucapabln Laila. Namun ia senang saat tahu jika Laila sudah mulai menyerah.


"Aku udah bilang dari tadi, jangan ngari sepatu. Ukurannya import," ucap Bagus.


"Iya, iya tahu orang kaya sukanya barang branded semua. Biar kelihatan kastanya kan? Biar kelihatan beda sama orang miskin," ucap Laila.


"Terserah. Kalau mau muter lagi ayo!" tantang Bagus.


Laila yang masih penasaran segera berdiri dan mengajak Bagus kembali berjalan. Meski lelah, Bagus segera mengikuti Laila. Mencari toko sepatu yang menyediakan ukuran sepatu yang dipakai Bagus. Nyatanya susah. Akhirnya Laila memutuskan untuk mencari sendal.


Tahu siapa Bagus dan barang seperti apa yang dipakainya, Laila mencari sendal dengan bahan kulit KW. Setidaknya meskipun palsu, namun terlihat keren saat dipakai oleh Bagus. Sayangnya ukuran kaki Bagus yang tidak umum dengan orang-orang pada umumnya membuat Laila kesulitan.


Pilihan akhir Laila jatuh pada sendal karet merk lokal dengan harga hanya lima puluh ribuan. Laila tidak bisa menawar lagi karena penjualnya bilang kalau ia sudah memberikan harga pas. Nomor sendal yang sulit dicari pun membuat Laila pasrah dengan harga lima puluh ribu tanpa turun meskipun hanya seribu rupiah.


"Beres?" tanya Bagus.


"Udah yuk!" ajak Laila.


Melihat Laila kesusahan membawa kantong kresek, Bagus menawarkan diri untuk membawakan barang belanjaannya.


"Bener ini Pak? Gak apa-apa kalau Bapak yang bawa? Saya gak dipecat kan?" tanya Laila.


"Gak dong. Kan saya yang menawarkan diri," ucap Bagus.


"Ah syukurlah. Nih tolong bawain ya Pak," ucap Laila.


Laila memyerahkan kantong kresek itu pada Bagus. Setelah itu meminta Bagus menunggu di parkiran saja karena masih ada yang harus Laila beli.


"Kamu mau beli apa lagi sih?" tanya Bagus.


"Sayuran Pak. Mumpung ke pasar," jawab Laila.


"Memangnya di sekitar rumah gak ada tukang sayur ya?" tanya Bagus.

__ADS_1


"Ada Pak, tapi harganya beda. Tempe kalau beli di abang sayur bisa enam ribu. Kalau beli langsung di pasar kan bisa lima ribu. Lumayan Pak," jawab Laila.


Belum sempat Bagus protes dengan selisih harga seribu, Laila sudah pamit untuk belanja sayuran. Akhirnya Bagus segera menuju parkiran. Ia menunggu Laila yang menurutnya sangat lama.


Saat datang, Bagus dibuat membulatkan bola matanya saat melihat kantong kresek yang dibawa Laila jauh lebih banyak. Dengan cepat Bagus membuka pintu bagasinya. Membantu Laila menyusun barang belanjaanya hingga rapi. Setelah itu mereka pulang.


"Agenda Bapak hari ini kemana aja?" tanya Laila.


"Ngapain nanya-nanya begitu? Mau tahu aja urusan calon suaminya," jawab Bagus dengan penuh percaya diri.


"Dih, PD banget Pak. Saya cuma mau ngajak Bapak makan bakso viral. Baksonya enak banget. Saya yakin Bapak pasti belum pernah nyobain bakso seenak ini," ucap Laila.


Bagus sudah menduga jika tempat jualan bakso itu di pinggir jalan. Dimana mangkuk bekas orang yang jajan pertama hanya akan dicelup-celup ke dalam ember berisi air sabun. Ah, Bagus sudah kehilangan selera makannya.


Tapi kalau ditolak, gak ada kesempatan buat bareng-bareng sama Laila dong. Kapan lagi bisa seharian bareng Laila. Oke Bagus, ikutin aja apa maunya anak ini. Kamu pinter kok, cari ide yuk!


"Tapi kita makan di rumah ya!" ucap Bagus.


"Gak enak Pak. Lebih enak kalau makannya di sana. Saos sambelnya bisa lebih pas. Kalau kurang langsung tambahin lagi," ucap Laila.


Oke, satu ide Bagus hangus. Laila tidak masuk dalam ide pertama. Akhirnya Bagus mencari ide kedua. Bagus tiba-tiba memutar mobilnya. Meminta Laila turun dan membelikan satu lusin mangkuk untuknya.


"Pak, gak ada orang yang meninggal gara-gara makan bakso, mangkuknya bekas orang. Aman Pak," ucap Laila.


"Laila tolonglah. Aku sensitif urusan makanan," ucap Bagus.


Laila yang tahu gelagat Bagus justru meyakinkan Bagus bahwa semua hanya ketakutan Bagus saja. Bahkan Laila siap menjamin kalau Bagus sampai meninggal gara-gara makan bakso itu.


"Astaga Laila. Aku mungkin gak meninggal, tapi kalau aku sampai diare siapa yang mau tanggung jawab? Inget ya aku ini duda. Gak ada yang ngurusin kalau aku sakit," ucap Bagus.


Kode yang Bagus berikan ternyata tidak sampai kepada Laila. Justru Laila malah menceramahinya agar tidak royal pada orang lain sementara pada diri sendiri pelit. Bahkan Bagus baru tahu jika Laila menganggap rumah mendiang ibunya adalah satu-satunya rumah yang dimiliki Bagus. Tapi tak apa. Bagus tak perlu menjelaskan apapun. Bagus justru ingin tahu setulus apa Laila padanya.


Tulus? Ah bahkan Bagus tidak tahu apakah Laila punya perasaan yang sama atau tidak dengannya. Namun saat ini, Bagus sedang memanfaatkan momen. Ajang balas dendam ini akan digunakan sebaik mungkin oleh Bagus. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk membuat Laila memiliki perasaan yang sama dengannya.


Saat ide kedua tidak digubris oleh Laila, Bagus hanya bisa pasrah. Akhirnya ia mengikuti keinginan Laila. Meskipun sebenarnya ia sama sekali tidak berselera makan di pinggir jalan seperti itu.


"Mas, pesen dua porsi ya!" ucap Laila.


Bagus mengedarkan pandangannya. Ia melihat ember air cucian yang biasa ia lihat di pedagang bakso pinggir jalan. Wajah Bagus berseri saat melihat ember itu masih berisi air yang jernih. Artinya belum ada mangkuk bekas yang dicelup-celup di sana.


Aman. Beruntung kamu, Bagus.


Bagus dan Laila memang pelanggan pertama hari itu. Bukan karena bakso viral itu tidak laku, tapi karena mereka terlalu pagi datang ke sana. Saat yang lain belum datang, mereka berdua sudah memesan bakso. Tapi hal itu menjadi keuntungan tersendiri untuk Bagus yang sempat khawatir dengan mangkuk bakso yang sudah dicelup-celup ke dalam ember.


Bagus mulai menikmati bakso yang dihidangkan untuknya. Bahkan ia melahap habis semangkuk bakso miliknya. Bagus melihat mangkuk Laila yang masih berisi setengahnya lagi.


"Bapak makan bakso kayak yang lagi lomba. Cepet banget," ucap Laila.


"Kamu yang kelamaan. Cewek kok lelet banget sih," ucap Bagus.


Laila menghabiskan bakso dengan cepat saat Bagus mendapat telepon dan pergi dari tukang bakso. Letak tukang bakso dan rumahnya yang cukup jauh, membuat Laila takut jika Bagus memintanya pulang sendiri karena lelet. Sebenarnya Laila bisa saja naik ojek, tapi dengan barang belanjaan yang cukup banyak rasanya Laila akan repot.


"Sudah Pak. Ayo!" ucap Laila saat Bagus kembali.


Bagus mengerutkan dahinya. Apalagi saat ia akan membayar bakso, ternyata Laila sudah membayarnya lebih dulu. Bagus pun mengingatkan Laila untuk membawa dua bungkus bakso untuk Hasna dan Kayla.

__ADS_1


"Kalau yang dua ini biar aku yang bayar," ucap Bagus.


"Gak usah Pak. Saya aja," tolak Laila.


Bagus tersenyum miris saat Laila mengatakan jik ia ingin membalas kebaikan Bagus. Meskipun menurut Laila semua yang diberikan Laila tidak sebanding, namun Bagus sangat mengapresiasi keinginan Laila. Bagus semakin yakin jika Laila tidak akan memanfaatkannya.


"Kamu masuk shift malam?" tanya Bagus.


"Sebenarnya gak ada shift malam Pak, saya kan udah masuk bagian catering kerjanya. Cuma saya udah izin sama chef. Nanti malam saya ke kantor buat ngecek menu besok," ucap Laila.


Mendengar chef, Bagus langsung hilang respect. Ia selalu merasa bersaing dengan laki-laki yang tidak dikenalnya itu. Namun hubungan pekerjaan yang terlibat antara Laila dan laki-laki itu selalu saja membuat ada kesempatan untuk keduanya bisa bersama.


"Besok juga bisa kali," ucap Bagus.


"Besok kan udah harus siap masak buat paginya, Pak. Saya gak mau karena bisa dekat sama Bapak terus seenaknya di kantor. Saya kan kerja," ucap Laila.


Begitu bertanggung jawabnya Laila dengan pekerjaannya. Meskipun malam ini Laila harus ke kantor hanya untuk pengecekan saja. Hal yang harus diacungi jempol oleh Bagus. Apalagi izinnya Laila karena pergi dengannya seharian. Alasan yang sangat menyenangkan bagi Bagus.


"Nanti aku antar ya!" ucap Bagus.


"Gak usah Pak," jawab Laila.


"Kenapa? Tukang masak itu mau nganter kamu ya?" tuduh Bagus.


"Gak kok Pak. Saya gak mau hidup ketergantungan aja. Selama saya bisa sendiri, kenapa saya harus ngerepotin orang lain." Laila memberi alasan penolakannya.


"Memangnya gak apa-apa ya kamu izin gak kerja?" tanya Bagus.


"Pak Jacob katanya udah balik ke Jakarta. Jadi hari tadi cuma bikin makan buat staf kantor aja," jawab Laila.


Bagus mengernyitkan dahinya. Pak Jacob kembali ke Jakarta? Kapan? Kenapa dia tidak tahu kalau Pak Jacob sudah tidak di Surabaya lagi?


Bagus tidak ingin menunjukkan kebingungannya di depan Laila. Ia hanya ingin menikmati hari-harinya dengan Laila. Entah sudah berapa foto yang diambil Bagus tanpa sepengetahuan Laila.


Untuk Winari? Tentu tidak. Winari hanya akan menertawakan Laila saat tahu foto-foto yang diambil oleh Bagus ternyata saat Laila belanja dan adu harga di pasar. Lalu semua untuk apa? Hanya untuk draf pribadi saja. Jika jarak sudah memisahkan mereka, lalu kerinduan mulai mengganggu maka foto itu akan dijadikan obat.


Wajah Laila dengan make up natural sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Bagus sangat mengagumi Laila. Entah sejak kapan perasaan itu muncul. Yang pasti saat ini ia selalu merasa bahagia setiap kali bersama dengan Laila.


"Pak, terima kasih ya buat hari ini." Laila tersenyum manis saat mobil sudah terparkir di depan rumah kontrakannya.


"Sama-sama. Aku pulang dulu ya! Nanti malam aku jemput kamu buat ke kantor," ucap Bagus.


"Gak usah Pak," tolak Laila.


"Gak ada penolakan kalau kamu gak mau dipecat," ucap Bagus.


"Oke," ucap Laila pasrah.


Bagus memastikan jika semua barang belanjaan Laila sudah masuk ke dalam rumah. Bahkan Bagus sempat pamit pada Hasna dan Kayla yang baru saja pulang sekolah. Lambaian tangan Hasna dan Kayla membuat Bagus merasa ada warna baru dalam hidupnya.


"Dah Papaaaa," teriak Hasna.


"Hasna," ucap Laila sambil menutup mulut Hasna. "Bapak pulang aja. Dadaaah," lanjut Laila saat melihat Bagus terkejut dengan panggilan Hasna.


Takut Bagus turun dan menuntut Hasna atas panggilan yang tidak seharusnya, Laila segera membawa kedua keponakannya itu ke dalam rumah. Tak lama suara bantingan pintu membuat Bagus melihat pintu rumah itu tertutup rapat. Percuma Bagus turun dan mencari tahu alasan Hasna memanggilnya dengan sebutan papa.

__ADS_1


"Papa?" gumam Bagus sambil tersenyum.


__ADS_2