Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Harus naik gaji


__ADS_3

Dengan cepat Laila bersiap dan berangkat ke toko kue. Beruntung pesanan Pak Basuki belum ada yang mengambil. Melihat pelanggan sudah mulai berdatangan, Laila mengabadikan momen itu. Momen yang ia dambakan sejak dulu. Tak terasa bibirnya tersenyum lebar merasakan bahagia itu.


Tidak Lupa Laila mengirim foto itu pada Bagus. Tentu ia tidak ingin merasakan bahagia itu sendiri. Ada sosok suami yang sangat mendukung impiannya. Bagus segera menelepon Laila untuk membahas foto itu. Hanya sebentar, karena Pak Basuki sudah datang untuk mengambil pesanannya.


"Nanti aku telepon lagi ya Mas," ucap Laila.


Tanpa menunggu jawaban Bagus, Laila memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia pun segera menyambut kedatangan Pak Basuki. Sebagai seorang pemilik toko, tentu Laila memberikan pelayanan terbaik. Ia tidak mau Pak Basuki kecewa dengan kerja sama yang sudah disepakati.


Cukup lama mereka berbincang sampai akhirnya Pak Basuki pamit setelah hampir satu jam mereka berbincang. Isinya bukan hanya basa basi tidak jelas, tapi ada bahasan tentang kerja sama yang lebih menguntungkan ke depannya. Laila tentu senang dengan rencana Pak Basuki. Semangat dan harapannya untuk toko kue itu semakin besar.


"Terima kasih banyak. Senang bekerja sam dengan Bapak," ucap Laila.


Ucapan itu menjadi akhir perbincangan Laila dan Pak Basuki. Setelah Pak Basuki pergi, Laila berniat untuk menghubungi Bagus lagi. Namun betapa terkejutnya Laila saat melihat panggilan dengan Bagus masih terus berjalan. Ternyata Laila tidak menekan tombol merah saat memasukkan ponselnya ke dalam saku. Bagus yang ingin tahu obrolan keduanya pun sengaja tidak mengakhiri panggilan itu.


"Loh kok teleponnya belum mati?" ucap Laila.


Laila menempelkan ponsel itu ke telinganya.


"Udah ngobrolnya udah? Seneng?" tanya Bagus.


Laila membulatkan bola matanya. Ia menatap layar ponselnya tidak percaya. Ternyata selama itu Bagus memang benar-benar mendengarkan obrolannya.


"Mas, gak kerja?" tanya Laila.


"Gak usah balik nanya," jawab Bagus ketus.

__ADS_1


Laila pun segera meminta maaf. Ia juga menjelaskan jika pegawai Pak Basuki sedang ada tugas lain. Pak Basuki sengaja yang mengambil pesanannya karena memang ada kerja sama baru. Sayangnya Bagus tidak seperti Laila yang begitu senang dengan tawaran kerja sama itu.


"Jadi gimana? Gak boleh ya, Mas?" tanya Laila.


Bagus memang tidak senang saat mendengar Pak Basuki menawarkan kerja sama baru. Namun Bagus lebih tidak suka saat mendengar Laila bicara dengan nada sedih karena menahan kecewa. Bagus tidak mau membahas hal ini dulu, ia sudah kesal sejak mendengar obrolan Laila dan Pak Basuki.


Tidak ingin berlarut dalam debat dengan Laila, Bagus segera mengakhiri panggilannya. Ia duduk sendiri. Menahan kesal yang tengah memenuhi dirinya.


"Apa aku cemburu ya? Ah gak mungkin. Aku jauh lebih ganteng dibanding dia. Tapi dia banyak duitnya. Kalau Laila tergoda gimana ya? Laila bukan cewe matre. Gak mungkin suka sama dia," gumam Bagus sambil menggenggam erat ponselnya.


Bagus yang melihat Pak Basuki tertarik pada istrinya memang sering kali tak suka mendengar nama Pak Basuki. Apalagi mendengar istrinya bercerita panjang lebar hingga tercetus kerja sama lagi. Lagi, ya lagi. Sekarang pun memang sedang terjalin kerja sama. Namun belum selesai kerja sama itu, kini Pak Basuki menawarkan kerja sama yang baru. Hal yang sama sekali tidak Bagus inginkan.


Menyikapi tawaran kerja sama Pak Basuki, Bagus merasa laki-laki itu mencari kesempatan untuk bisa lebih sering bertemu dengan Laila. Kondisinya yang jauh dengan Laila membuat Bagus merasa kebarakaran jenggot dengan berita ini.


Kekesalan Bagus belum selesai, namun ia harus segera melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda beberapa jam. Meskipun dengan beban yang berputar dan berat, Bagus berusaha untuk fokus atas tugasnya.


Pesan itu dikirim sejak siang, namun Bagus baru membukanya sore. Sesaat ia belum pulang dari tempat kerjanya. Ia belum sempat membalas pesan Laila. Mungkin karena tahu ujung-ujungnya hanya akan membahas tentang kerja sama itu.


Beberapa panggilan dari Laila, Bagus lewatkan begitu saja. Dari mulai ia tidak menyadari panggilan itu hingga akhirnya Bagus sengaja tidak menjawab panggilan dari istrinya. Ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya.


Setelah merasa membaik, Bagus pun menghubungi istrinya. Bicara tentang rumah tangga dan masa depannya, tidak menyinggung soal kecemburuannya pada Pak Basuki. Panggilan ktu berakhir setelah jam sembilan malam. Seperti biasa, Bagus meminta Laila untuk beristirahat. Beraktifitas seharian di luar rumah pasti membuat Laila lelah. Bayi dalam perutnya butuh istirahat. Bagus tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi.


Sebagai seorang suami, Bagus hanya ingin yang terbaik untuk istri dan anaknya. Dulu, impian mengembangkan toko kue juga menjadi prioritasnya. Namun semakin lama, Bagus justru semakin tidak tertarik untuk hal itu. Prioritasnya saat ini adalah kesehatan dan kebahagiaan Laila. Walaupun pada akhirnya kebahagiaan Laila sebagian adalah tentang toko kue itu.


Waktu terus berlalu, hubungan rumah tangga yang terpisah jarak Jakarta-Surabaya itu tetap membuat mereka harmonis. Sebisa mungkin Bagus menghindari perdebatan apapun dengan Laila. Pertemuan mereka hanya dua bulan sekali. Hal itu karena Bagus sangat sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Setiap kali ada waktu untuk mengunjungi istrinya, Bagus selalu manfaatkan sebaik mungkin. Ia memanjakan Laila sepenuhnya. Tapi Bagus juga tak lupa, bukan hanya Laila yang butuh perhatiannya. Hasna dan Kayla juga mengharapkan hal serupa darinya.


"Papaaaaa," panggil Hasna.


Bahkan sebelum Laila, orang pertama yang menyambut kedatangannya adalah Hasna. Sepupunya dari Laila, namun sejak lama anak itu sudah dianggap anaknya sendiri. Pelukan hangat penuh ketulusan dan kerinduan dari seorang anak, didapat Bagus saat ia baru menutup pintu mobilnya.


Teriakan Hasna disusul oleh wajah Laila yang nampak beraseri. Melihat Laila berdiri di ambang pintu, Bagus segera menghampiri Laila. Tangannya mengelus perut Laila yang sudah semakin membesar.


"Hasna, sini!" panggil Bi Sumi.


Dengan cepat Bi Sumi mengajak Hasna pergi. Ia paham bagaimana kerinduan Laila pada Bagus. Mereka butuh ruang berdua untuk melepas rindu. Bagus mengangkat jempol tangannya saat melihat Bi Sumi pergi membawa Hasna.


"Bi Sumi harus naik gaji nih," ucap Bagus.


"Kenapa?" tanya Laila.


"Dia pengertian apa yang aku mau," jawab Bagus sampil tersenyum nakal.


Laila hanya memukul dada Bagus saat berusaha menutupi rasa malunya. Wajahnya memerah saat Bagus terus menggodanya. Sebagai wanita normal, tentu Laila pun mengharapkan apa yang diinginkan Bagus. Suasana rumah yang mendukung, membuat keduanya menikmati apa yang mereka inginkan selesai dengan sempurna.


"Terima kasih sayang," ucap Bagus.


Lagi-lagi tangan Bagus mengusap perut Laila. Hal itu membuat Laila segera menarik selimut untuk menutupi perutnya. Ia merasa tidak percaya diri dengan perutnya yang sudah tidak langsing lagi.


"Kenapa? Lucu tahu," ucap Bagus.

__ADS_1


"Ih, malu." Laila menepis tangan Bagus yang terus mengusap perutnya.


__ADS_2