
Sebuah pesan diterima Laila dari Bu Indah. Biasanya Bu Indah meneleponnya. Namun karena sudah ada Zara di rumah itu, Bu Indah hanya mengirim sebuah pesan untuknya. Tak apa, bagi Laila yang sedang merasa kesepian itu sudah menjadi obat yang cukup menyembuhkan.
"Sebentar lagi saya pulang, Bu." isa balasan pesan Laila untuk Bu Indah.
"Gas, aku pulang sekarang ya!" ucap Laila.
"Ayo aku antar!" ajak Bagas.
"Gak usah. Aku bisa sendiri," jawab Laila.
"Udah ayo!" ajak Bagas.
"Gas, aku bisa sendiri. Aku pulang ya!" ucap Laila dengan nada tegas.
"Oke," jawab Bagas dengan bingung.
Matanya masih menatap Laila yang pergi menjauh. Kian menjauh hingga sosok itu hilang dari pandangannya. Bagas diam-diam mengikuti Laila. Dahinya mengernyit saat Laila pergi ke arah yang tidak biasanya.
"Dia mau kemana ya? Sama siapa? Apa Bu Indah udah ganti mobil?" gumam Bagas.
Bagas segera mengikuti mobil itu. Wajahnya menunjukkan kebingungan saat melihat Laila turun di rumah yang asing baginya. Bagas harus menyimpan rasa penasarannya karena ia tidak bisa mendapat informasi apapun hari itu.
Laila yang tidak tahu kalau Bagas mengikutinya segera masuk dan menemui Bu Herlin. Wajahnya terlihat ceria. Tidak sedikitpun menunjukkan rasa kecewa atau sakit hati.
Sudah Laila bayangkan akan seperti ini kejadiannya. Awalnya Laila mengira tidak akan sesakit ini. Namun kenyataannya Laila merasa hatinya perih saat merasa tersingkirkan. Padahal Laila sudah dipindahkan ke tempat yang tak kalah mewahnya.
"Bu, maafin saya ya. Saya merasa ibu membuang saya," gumam Laila.
Laila menangis dalam kesendirian. Sampai akhirnya pintu kamar Laila terbuka. Bu Herlin berdiri dengan membawa sepiring nasi.
"Makan dulu," ucap Bu Herlin.
"Ah, ibu. Jangan merepotkan begini. Saya jadi gak enak," ucap Laila.
Bu Herlin mengusap pipi Laila yang masih lembab. Menenangkan Laila bahwa tidak akan pernah kehilangan kasih sayang dimanapun Laila berada. Banyak orang yang sayang padanya.
"Jangan bikin ibu merasa bersalah ya. Ibu akan berusaha sebaik dan seperhatian Bu Indah sama kamu," ucap Bu Herlin.
"Ibu sudah baik dan perhatian dengan versi ibu sendiri. Terima kasih udah sayang sama saya," ucap Laila.
Laila tersenyum. Ya, sebenarnya tanpa diucapkanpun, Laila sudah bisa merasakan kasih sayang dan kepedulian Bu Herlin padanya. Jauh sebelum kedatangan Zara ke rumahnya lagi.
Waktu berlalu begitu cepat. Saat kelulusan, bukan lagi Bu Indah yang datang. Kini Bu Herlin yang mendampinginya. Sedih? Tentu. Tapi semua sudah jalannya. Laila hanya bisa menerima dengan ikhlas. Apapun keadaannya, bagi Laila semua harus tetap baik-baik saja.
"La, selamat ya. Kamu jadi lulusan terbaik di kelas tata boga loh. Ah, ini awal yang baik buat masa depan kamu. Ayo semangat. Sekarang kamu bisa fokus sama bisnis kuenya," ucap Bu Herlin.
__ADS_1
"Iya, Bu. Terima kasih banyak ya," ucap Laila.
Setelah kedatangan Zara, Laila tidak pernah sekalipun bertemu dengan Bu Indah. Bahkan sekedar telepon pun tidak lagi Laila jalani. Hanya berkabar melalui sebuah pesan singkat. Itu pun seminggu terakhir tidak ada sama sekali.
Tidak masalah. Laila tidak pernah berpikir yang tidak-tidak. Ia juga tidak mau mencari tahu hal yang tidak perlu ia ketahui. Yang pasti saat ini Bu Indah bahagia dengan anak kandungnya. Tak ada niat Laila untuk mengganggu kebahagiaan itu. Laila takut jika kedatangannya hanya akan menjadi masalah dalam keharmonisan keluarga Bu Indah.
Sebuah pesan pun tak berani Laila kirimkan. Ia hanya menunggu pesan dari Bu Indah untuk berkomunikasi. Bukan karena Laila tidak peduli lagi pada Bu Indah. Tapi Laila takut apa yang dilakukannya membuat masalah dalam keluarga Bu Indah.
Sejak kelulusan Laila, toko kue itu semakin maju. Nama Laila semakin banyak diperbincangkan. Orderan kuenya semakin banyak. Toko kue yang sempat bangkrut itu kini menjadi besar dan terkenal.
Hal yang tidak diinginkan terjadi. Suatu saat Bu Herlin mengajak Laila dan Yanti jalan-jalan. Naasnya, dalam perjalanan, mobil mengalami kecelakaan. Bu Herlin dan sopir meninggal di tempat. Sedangkan Laila dan Yanti terbaring koma. Sementara Hasna dan Kayla mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya.
Selang dua hari setelah kecelakaan, Yanti meninggal. Kedua anaknya sudah bisa pulang dan berada di rumah Fahmi. Mereka sengaja tidak diberi tahu tentang kepergian orang tuanya. Fahmi tidak siap dengan tangisan Kayla dan Hasna. Apalagi Laila belum sadarkan diri.
"Mas, Laila apa kabarnya? Anak ini pasti butuh mereka. Setidaknya, Laila yang bisa mengerti keadaan mereka saat ini." Ratna istri Fahmi mulai cemas.
"Kemarin dokter bilang masih belum sadar," jawab Fahmi bingung.
Kebingungan Fahmi bukan hanya tentang Hasna dan Kayla. Tapi toko kue yang ia kelola mulai mengalami penurunan. Tidak tersedianya stok kue, membuat penjualan ikut menurun. Di kepala Fahmi, gambaran kebangkrutan sudah mulai berkeliaran.
Demi menjaga masa depan anak-anak dan istrinya, Fahmi segera menjalin kerja sama lagi dengan sahabatnya. Meninggalkan toko kue yang sudah mulai sepi. Fahmi tidak bisa berbuat banyak. Bu Herlin sudah tidak ada. Laila masih terbaring di rumah sakit. Setelah seminggu terbaring koma, Laila sudah sadarkan diri. Namun Laila masih mengalami perawatan intens.
"Sayang, toko kuenya gimana?" tanya Ratna saat Fahmi sudah mulai bekerja di tempat lain.
"Sayang, aku gak bisa berbuat banyak. Tanpa modal, mau jadi apa toko kue itu? Bu Herlin udah gak ada. Harta warisannya pasti diributin sama keluarga. Belum lagi Laila yang masih di rumah sakit. Uang kantor yang masih dipegang sama aku gak bisa diputer ke modal. Sekarang uangnya aku pakai buat pengobatan Laila," ucap Fahmi.
Fahmi menatap Ratna dengan lesu. Mau tidak mau Fahmi pun menjelaskan jika ia sudah berusaha menemui Bu Indah. Namun sayangnya Bu Indah sudah pergi ke luar negeri. Rumah mewah yang dulu sempat ditinggali oleh Laila pun kini sudah berpindah tangan.
"Sayang, sabar ya! Setelah Laila sadar kita kembalikan mereka," ucap Fahmi sambil menatap Hasna dan Kayla.
Ratna bukan perempuan yang tega. Namun kondisi ekonomi mereka akan terasa semakin berat saat anggota keluarga mereka bertambah. Meskipun Ratna tidak yakin jika Laila akan mampu mengurus Hasna dan Kayla seorang diri.
"Iya Mas," jawab Ratna.
Seperti rencana mereka, saat Laila sudah pulih dan keluar dari rumah sakit, Fahmi mengajak Laila ke rumahnya. Ratna turut membantu Laila dalam penyembuhan hingga benar-benar sehat.
"Kak, terima kasih banyak ya!" ucap Laila saat Ratna mengoleskan krim ke punggungnya.
"Sama-sama," jawab Ratna.
Melihat Laila sudah membaik, Ratna memberanikan diri menceritakan apa rencananya. Tidak ada wajah terkejut sama sekali. Ratna melihat Laila tenang dan tidak ada protes.
"Saya cari kosan dulu ya Kak," jawab Laila.
"La, maaf ya. Aku," ucapan Ratna terhenti saat Laila menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Saya harusnya terima kasih. Saya gak tahu kalau gak ada Kak Ratna. Mungkin nasib Hasna sama Kayla akan mengkhawatirkan," ucap Laila.
"La, jangan begitu. Maaf aku gak bisa membantumu maksimal. Kamu pasti ngerti kan keadaannya," ucap Ratna.
"Iya Kak. Saya ngerti banget. Saya juga minta maaf udah ngerepotin keluarga Kakak ya," ucap Laila.
"Jangan gitu La. Apa yang aku lakukan gak sebanding dengan kesedihan kamu," ucap Ratna.
Seharian Fahmi mencari kosan untuk Laila dan kedua anak Yanti. Setelah itu membantu Laila pindahan meski tidak enak hati. Namun Fahmi tidak bisa membuat rumah tangganya semakin sulit saat membantu Laila.
"Lala, Mama mana?" tanya Kayla.
Laila menatap Kayla. Anak itu sudah kelas tiga. Rasanya sudah wajar jika Kayla tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun Hasna? Biarlah Laila berbohong sementara ini.
Saat Hasna sudah tidur, Laila menceritakan apa yang terjadi dengan Yanti. Kayla menangis histeris hingga Hasna terbangun dan ikut menangis. Laila yang bingung pun hanya bisa ikut menangis seperti mereka.
"Lala jangan nangis," ucap Hasna.
"Hasna juga jangan nangis ya. Kay juga dong. Lala suka ikutan nangis kalau semua nangis begini," ucap Laila.
Suasana mulai membaik saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hasna dan Kayla yang sudah merasa lelah tidur dalam pelukan Laila. Begitu pun Laila, terlelap saat ia sudah memastikan kedua keponakannya tidur nyenyak.
Pagi-pagi sekali, dengan kaki yang masih sakit Laila keluar mencari sarapan. Tidak sengaja ia bertemu dengan Bagas. Melihat keadaan Laila, Bagas merasa iba dan segera mengantarkannya pulang.
Bagus yang sudah beberapa bulan tidak di Jakarta tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Saat Laila menceritakan apa yang terjadi, Bagas ikut sedih. Seandainya bisa, ia ingin memeluk Laila dan menenangkannya. Namun Bagas sadar siapa dia. Dia hanyalah teman biasa. Tidak mungkin Laila mau dipeluk olehnya.
"Rencanamu sekarang apa?" tanya Bagas.
"Aku mau jualan online," jawab Laila.
"Kue?" tanya Bagas.
Laila menggeleng. Ia hanya akan berjualan seputar fashion dan kosmetik. Bukan tidak mau berjualan kue, namun saat ini Laila tidak punya modal. Jangankan untuk alat untuk membuat kue, bahkan kompor pun Laila punya karena pemberian dari Ratna.
"Nanti kalau hasil kerjaku udah banyak, aku bantu kamu beli alat kue ya. Jangan sedih," ucap Bagas.
"Gak usah repot-repot," ucap Laila.
Laila tidak tahu itu hanya sebuah basa basi atau justru serius. Hanya saja, bertemu dengan Bagas di waktu yang tepat membuat Laila merasa senang. Setidaknya ia tidak sendiri saat ini. Ada teman yang dulu sempat dekat dengannya.
"Oh ya Gas, kamu kerja apa?" tanya Laila.
"Kuli pabrik, La." Bagas tersenyum.
"Aku juga mau kerja di pabrik. Tapi anak-anak gak ada yang jaga. Mungkin nanti dua tahun ke depan aku juga kerja di pabrik ah. Bantu cari kerjaan ya," ucap Laila.
__ADS_1
Bagas tersenyum saat melihat Laila begitu semangat. Ditengah penderitaan yang Laila hadapi, wanita yang spesial di hatinya itu masih terlihat begitu kuat. Semangatnya tidak pernah berubah.