
Hari ke hari Laila lakukan dengan semangat. Meskipun tak jarang Laila mengeluh dengan apa yang dihadapinya saat ini. Jalan hidupnya tak seindah apa yang diharapkannya. Namun tawa Hasna dan Kayla selalu menjadi penghapus keluhannya.
Sesekali saat ada waktu senggang, Laila membuka youtube. Mencari video yang berhubungan dengan kue. Mengenang hobbynya yang terhenti karena keadaan. Andai saja Laila punya modal, yang akan Laila lakukan adalah jualan kue online.
"Bu, padahal aku hampir wujudin impian kita. Aku pikir nasibku kayak drama di film-film. Udah tinggal bahagia aja. Eh, nyatanya masih ada part susah. Sabar ya La," gumam Laila.
"Lala, kapan bikin kue lagi?" tanya Kayla yang ternyata ikut melihat tontonan di ponsel Laila.
Laila menatap Kayla. Ia tersenyum saat melihat Kayla juga menatapnya. Laila berjanji akan membuatkan kue untuk Kayla suatu saat nanti. Tapi kapan? Laila pun tidak tahu kapan waktunya.
"Sabar ya Kay," ucap Laila saat Kayla terus bertanya kapan.
Suatu malam saat Hasna dan Kayla tidur, Laila membuka lemari. Matanya mencari berkas-berkas penting miliknya. Ya, apalagi kalau bukan ijazah. Laila berpikir untuk membuat surat lamaran pekerjaan. Namun saat melihat Hasna yang terlelap, Laila segera menggelengkan kepalanya.
"Sabar La. Hasna masih butuh kamu," ucap Laila.
Laila menatap selembar kertas ijazah SMK yang belum lama ini didapatkannya. Sebuah kekecewaan tersirat di wajahnya. Laila merasa ijazah itu sia-sia. Selama tiga tahun Laila belajar ternyata pada akhirnya ia hanya menjadi seorang penjual online sembari mengurus dua keponakannya.
Laila dengan sabar menjalani waktunya. Kesulitan ekonomi saat harus membiayai dua keponakannya kadang membuat Laila emosional. Julukan Lele domba kembali mencuat di telinganya. Laila seolah kembali ke masa lalu. Saat ia selalu marah pada Hasna saat banyak tekanan yang menerpanya.
"Lala jangan marah-marah. Hasna takut," ucap Hasna sambil bersembunyi di balik tubuh Kayla.
Kayla yang sudah jauh lebih mengerti hanya bisa memeluk Hasna saat Laila marah padanya. Namun kemarahan Laila tidak lama. Pada akhirnya Laila hanya menangis sembari memeluk Hasna. Meminta maaf atas sikapnya yang kadang tidak bisa dikendalikan.
"Maafin Lala ya," ucap Laila.
Selalu seperti itu yang kemudian Laila ulang. Semakin lama Laila lelah dengan kebutuhan hidup di Jakarta yang semakin mahal. Sementara penghasilan Laila pas-pasan. Jualan onlienya memang ramai. Namun kebutuhan Laila bukan hanya untuk dirinya. Ada dua anak yang kebutuhannya harus dipenuhi juga.
Saat Kayla sudah mendapat raport di semester dua, Laila memutuskan untuk benar-benar pergi meninggalkan Jakarta. Meski berat, namun Laila harus melakukan itu. Dulu, Laila berpikir jika Jakarta adalah tempat yang tepat untuk mewujudkan impiannya. Namun takdir berkata lain.
Sebenarnya Laila bisa tertahan hidup di Jakarta. Namun Laila tidak punya tabungan untuk masa depannya. Maka, Surabaya adalah sebuah pilihan. Laila mengemas pakaian dan barang yang bisa ia bawa secukupnya.
"Lala kita mau kemana?" tanya Kayla.
"Ke Surabaya," jawab Laila.
"Mau ke rumah siapa?" tanya Kayla.
Laila menatap Kayla. Pertanyaan yang ia dengar dari Kayla sama dengan pertanyaan yang ada di kepalanya. Mau ke mana? Ke rumah siapa? Bahkan Laila hanya memiliki alamat pabrik baru yang ada di Surabaya.
"Lala, lapar." Hasna memegang perutnya.
Laila membeli tahu dan bacang. Perjalanan yang cukup melelahkan untuk Laila karena harus membawa dua anak serta barang bawaan. Rasa lelah itu nyaris membuat Laila menyerah. Ah, entah berapa ratus bahkan ribuan kali mungkin Laila ingin menyerah. Namun Tuhan selalu menguatkan kembali kerapuhan yang Laila rasakan.
"Hasna, bangun. Kita udah sampai," ucap Laila.
Pertama kalinya Laila ke Surabaya. Tidak ada bayangan sama sekali tentang bagaimana keadaan Surabaya. Tapi tentu kebingungan Laila tidak ditunjukkan oleh Laila. Ada Kayla yang akan ketakutan saat Laila terlihat bingung.
"Ayo!" ajak Laila.
Mencoba bersikap percaya diri, Laila segera membawa barang bawaannya dan menuntun Hasna untuk menuju sebuah warung. Laila dengan tenang mengobrol dengan pemilik warung. Bertanya tentang kontarakan yang ada di sekitar pabrik.
"Tapi harganya lumayan mahal," jawab pemilik warung.
__ADS_1
"Oh, berapa Bu kira-kira?" tanya Laila.
Laila sebenarnya terkejut saat sewa kontrakan di sana lebih mahal dari pada sewa kontrakan saat ia di Jakarta. Namun keputusan sudah Laila ambil. Tidak mungkin ia kembali ke Jakarta.
"Kalau yang lebih murah ada gak ya?" tanya Laila.
Pemilik warung itu menjelaskan sejak dibangunnya pabrik baru di sana, harga kontrakan melonjak. Bahkan kontrakan yang letaknya cukup jauh pun ikut menaikkan harganya. Tapi paling tidak, Laila mendapat harga yang lebih murah.
"Terima kasih ya Bu," ucap Laila.
Laila segera menuju kontrakan yang ditunjukkan pemilik warung. Lokasinya memang cukup jauh dari pabrik. Namun Laila tidak punya pilihan lain.
"Permisi," ucap Laila.
Seorang ibu berusia kurang lebih lima puluh tahun menghampiri Laila. Dengan senyumnya dan bahasanya yang ramah, Laila merasa betah dengan rumah kontrakan itu.
"Mau berapa orang yang ngontrak di sini?" tanya pemilik kontrakan.
"Bertiga aja Bu," jawab Laila.
"Suaminya gak ikut?" tanya pemilik kontrakan.
"Saya gak punya suami Bu," jawab Laila.
"Oh, janda? Cerai atau meninggal suaminya?"!tanya pemilik kontrakan.
Laila menghela napas panjang. Lagi-lagi Laila disangka janda karena membawa dua anak tanpa seorang ayah.
"Gak Bu, gak." Laila menggelengkan kepalanya.
"Ah, saya Laila Bu. Kebetulan saya belum menikah. Saya juga gak pernah kumpul kebo. Kumpul sama manusia aja saya jarang Bu," jawab Laila.
"Waduh. Terus ini anak siapa?" tanya pemilik kontrakan.
"Ini anak almarhum kakak saya," jawab Laila.
"Ah yang bener? Adeknya gak usah bohong. Jujur saja sama ibu," ucap pemilik kontrakan.
"Bener Bu. Ini KTP saya," ucap Laila.
Laila memberikan KTPnya pada pemilik kontrakan.
"Namanya iya bener Laila. Oh, umurnya masih dua puluh tahun? Status belum menikah," ucap pemilik kontrakan sambil fokus melihat KTP Laila.
"Iya Bu. Maaf kalau boleh tahu nama ibu siapa? Tadi saya di kasih tahu sama ibu warung tapi lupa lagi," ucap Laila.
"Masih muda kok udah pelupa sih? Kasihan kamu Dek pasti karena banyak beban ya. Oh oya kenalin nama saya Rini. Panggil saja Bu Rini," ucap pemilik kontrakan.
"Apa? Tadi kayaknya bukan itu deh Bu," ucap Laila terkejut.
"Loh kenapa? Kok kaget begitu?" tanya pemilik kontrakan.
"Aduh maaf ya Bu. Kebetulan namanya sama kayak nama ibu saya," jawab Laila.
__ADS_1
"Masa sih? Bagus dong," ucap Bu Rini.
"Tapi tadi namanya bukan Bu Rini deh Bu," ucap Laila.
"Iya. Orang-orang julid di sini manggil saya Bu Sukma," jawab Bu Rini.
"Nah itu. Tadi ibu warung bilangnya Bu Sukma," ucap Laila.
"Ya kamu jangan ikut-ikutan manggil saya Sukma. Panggil Bu Rini aja ya," ucap Bu Rini.
Ah terserah lah. Laila hanya mengangguk saat Bu Rini memintanya begitu. Padahal ia lebih suka memanggil Bu Sukma. Kalau panggil Bu Rini, bayangan mendiang ibunya selalu membuatnya sedih.
Laila pun segera masuk dan melihat kontrakan milik Bu Rini. Ada dua kamar dan sebuah dapur. Ruang depan dan halaman yang cukup luas. Daerahnya masih asri walaupun penduduknya belum begitu padat.
"Deal ya bu harga kontrakannya. Saya bayar satu bulan dulu," ucap Laila.
"Iya," ucap Bu Rini.
Wajah Bu Rini tersenyum sumringah saat mendapat uang dari Laila. Namun tiba-tiba wajah itu berubah masam saat Laila kembali bertanya tentang nama Bu Rini.
"Kenapa sih Bu kok ibu bilang julid sama orang yang manggil ibu dengan nama Sukma? Padahal menurut saya bagus loh," ucap Laila.
"Ya bagus. Kata siapa jelek? Mereka aja yang julid. Nama Sukma bagus kok manggil setengah-setengah. Masa mereka manggil saya Bu Suk? Kan gak enak di kuping," ucap Bu Rini.
Laila menahan tawa saat mendengar penjelasna Bu Rini. Saat Bu Rini pergi, barulah Laila tertawa dengan puas.
Pantas aja dipanggil Bu Suk. Orangnya emang Busuk. Belum apa-apa udah nuduh janda sama aku.
"La, cape." Kayla memijat kakinya yang terasa pegal.
"Oh iya ayo ke kamar!" ajak Laila.
Laila membawa Kayla dan Hasna ke kamar. Sudah ada sebuah kasur kecil yang tak lagi empuk tergelar di sana. Tak apa, yang penting mereka bisa tidur dengan aman tanpa kehujanan dan kepanasan.
Rasa lelah membuat Hasna dan Kayla tidur dengan nyenyak meski keadaan kasurnya sangat sederhana. Saat memastikan mereka tidur, Laila menghubungi orang yang akan memasukkan Laila kerja di pabrik itu.
Sebelum pergi ke Surabaya, Laila sudah menitipkan lamaran ke kenalannya. Ia tidak perlu memasukkan surat lamaran tinggal nunggu panggilan.
"Kalau gak besok paling lusa. Lamarannya udah masuk kok," jawab orang itu dari sambungan telepon.
Laila pun lega saat mendengar ucapan itu. Setidaknya ia akan mendapat pekerjaan dengan gaji yang tetap. Meskipun saat dihitung tidak terlalu banyak untuk disimpan, minimal Laila bisa menyisihkan sebagian penghasilannya.
"Siapa ini?" tanya Laila.
Nomor baru masuk ke ponsel Laila. Meskipun ragu, Laila akhirnya menjawab panggilan itu. Ternyata itu adalah panggilan dari pabrik. Laila tidak menyangka akan secepat itu. Karena yang ia tahu paling cepat besok, atau bahkan bisa sampai lusa.
"Besok pagi ditunggu di kantor," ucap si penelepon.
"Siap Pak, siap." Laila begitu bersemangat.
Kabar bahagia yang ia dapatkan membuatnya tersenyum. Sebuah cermin kecil yang menggantung di dinding kamarnya menunjukkan wajah cantiknya Laila. Namun tiba-tiba Laila mendekatkan wjaahnya ke cermin.
"Memangnya aku kelihatan tua ya? Kok bisa sih mereka nuduh aku janda? Aku kan masih muda," ucap Laila sambil mengamati wajahnya pada pantulan cermin.
__ADS_1
Laila menggelengkan kepalanya. Ia sadar bahwa saat ini harus memiliki sifat bodo amat. Apapun yang dituduhkan padanya, selama ia tidak melakukan kesalahan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Biarin aja disangka janda. Yang penting kan aku gak nyusahin siapapun," ucap Laila menyemangati dirinya sendiri.