Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Turun tangan


__ADS_3

Hari ini jadwal Bagus begitu padat, namun ia sudah janji akan mengantar Laila pulang ke Surabaya. Sudah satu minggu Laila tinggal di Jakarta hanya untuk membantunya membalas dendam pada Winari. Sebenarnya Bagus merasakan kepuasan tersendiri. Namun pada akhirnya Bagus menyadari jika kepuasan terbesarnya adalah saat bisa menghabiskan waktu bersama Laila.


"Pak, kita mau berangkat jam berapa?" tanya Laila melalui sambungan telepon.


"Sebentar ya La. Aku beresin dulu laporan ini. Nanti aku langsung jemput kamu," jawab Bagus.


Laila sebenarnya kecewa. Seharusnya ia pulang pagi-pagi. Kalau saja tahu Bagus sesibuk ini, Laila pasti minta izin untuk pulang sendiri saja. Namun sayangnya Laila justru tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengabari Hasna dan Kayla tentang keterlambatannya sampai di Surabaya.


"Maaf ya La," ucap Bagus pertama kali saat bertemu dengan Laila.


"Iya Pak," jawab Laila.


Serapih apapun Laila menyembunyikan perasaan kecewanya, Bagus masih bisa merasakannya. Ia hanya berusaha menyenangkan Laila dengan cara membeli oleh-oleh untuk Hasna dan Kayla. Karena Bagus tahu kelemahan Laila saat ini adalah Hasna dan Kayla. Dua keponakan Laila yang disangka anak kandung Laila. Bahkan sekarang Bagus pun merasa mereka berdua adalah tanggung jawabnya.


"Bi," sapa Laila saat sampai di rumah kontrakannya.


Mereka sampai terlalu malam. Bahkan saat Hasna dan Kayla sudah terlelap. Laila hanya membuka pintu kamar dan melihat keduanya tidur nyenyak. Tidak ingin mengganggunya, Laila menutup kembali pintu kamar itu dan merebahkan tubuhnya di kursi.


"La, gimana di Jakarta? Seru gak?" tanya Bi Sumi sambil membawakan segelas teh hangat untuk Laila.


"Ya ampun Bi, gak usah ngerepotin gini. Saya jadi gak enak," ucap Laila.


Laila segera bangun dan meminum teh hangat itu. Laila juga menceritakan bahwa kembali ke Jakarta ternyata tidak seperti apa yang dibayangkannya.


"Mungkin karena saya udah terlalu betah di sini kali ya bi," ucap Laila.


"Bisa jadi La," ucap Bi Sumi.


Segelintir percakapan sebelum akhirnya mereka berdua tidur kembali. Sementara Bagus sudah pulang sejak tadi. Bagus hanya mengantarkan Laila memastikan ia sampai di rumahnya lalu pergi karena sudah ada Bi Sumi di sana.


"Pagi Bi," sapa Laila.


Bi Sumi terkejut saat ia tahu bahwa Laila sudah bangun lebih dulu. Bahkan Laila tengah menyapu. Sempat berusaha merebut sapu dari tangan Laila, namun Bi Sumi mengalah. Laila memang sangat baik, jauh lebih baik dari apa yang dipikirkan oleh Bi Sumi sebelumnya.


"La, maaf ya Bibi kesiangan." Bi Sumi yang baru cuci muka segera mengambil lap pel.


"Santai aja Bi. Saya tahu Bibi pasti cape seminggu ini ngurusin anak-anak sama rumah. Terima kasih ya Bi. Maaf juga udah ngerepotin," ucap Laila.


"Ya ampun La. Bibi kan di bayar. Jadi udah kewajiban Bibi ngerjain semua ini," ucap Bi Sumi.


"Iya kan yang bayar Pak Bagus. Saya malah makin gak enak," ucap Laila.


"Sama aja La. Sama calon itu ya memang harus saling," ucap Bi Sumi.


"Calon apaan?" tanya Laila sambil menggelengkan kepalanya.


Ternyata bukan hanya Winari, tapi Bi Sumi pun tertipu dengan sikap Bagus pada Laila. Ah sebenarnya bukan tertipu. Mereka hanya lebih peka dibanding Laila. Sudah sangat jelas bagaimana kepedulian dan perhatian Bagus pada Laila. Hanya saja Laila masih tidak peka dan terlalu menutup diri.

__ADS_1


"Tapi kalau menurut Bibi sih kalian jodoh, La. Yakin deh," ucap Bi Sumi.


"Ah Bibi udah kayak dukun aja. Mana mau dia sama saya? Buntut ada dua begini. Belum lagi saya orang susah. Cuma nambah beban aja kalau Pak Bagus nikahin saya," ucap Laila.


"Eh, jangan salah. Kamu itu bawa hoki buat Pak Bagus," ucap Bi Sumi.


"Hoki?" tanya Laila.


"Sejak Pak Bagus deket sama kamu dia jadi makin banyak proyeknya. Itu aja tanah luas yang di ujung sono, dulu gak dikasih sama yang punya. Eh tiba-tiba deket sama kamu kok tahu-tahu udah mau bangun toko kue aja," ucap Bi Sumi.


"Halah itu sih cuma kebetulan aja. Yang punya tanah lagi butuh duit kali," ucap Laila sambil tertawa.


Percakapan itu belum selesai sampai akhirnya fokus Laila teralihkan dengan Hasna yang memeluknya dengan wajah ceria. Laila yang sudah dipanggil Mama selalu berusaha menjadi sosok yang dibutuhkan oleh Hasna. Ia tidak mau Hasna dan Kayla kesepian.


"Ada oleh-oleh tuh dari Om Bagus," ucap Laila.


Hasna segera memburu oleh-oleh yang ditunjukkan Laila. Beberapa makanan kesuakaan Hasna dan mainan dibelikan oleh Bagus. Tentu hal itu membuat Hasna berteriak senang hingga Kayla terbangun. Hal yang sama pun dilakukan Kayla saat mendapat oleh-oleh dari Bagus.


"Hari ini Papa ke sini gak?" tanya Kayla.


"Gak tahu. Kamu mandi aja sana. Sekolah," jawab Laila.


"Kalau Papa gak ke sini nanti pulang sekolah kita ke rumah Papa aja ya Kak!" ajak Hasna.


"Eh gak. Jangan, jangan. Ngapain ke sana," ucap Laila.


"Mau bilang terima kasih," jawab Hasna.


Laila sudah semakin luwes menyebut dirinya Mama di hadapan Hasna dan Kayla. Meskipun kadang ia malu saat mereka menyebut Bagus dengan sebutan Papa. Apalagi di hadapan Bi Sumi.


"Maaf ya Bi," ucap Laila.


Laila jujur pada Bi Sumi tentang keadaannya. Dari puluhan bahkan mungkin ratusan orang yang bertemi dengannya, hanya Bi Sumi yang percaya jika Laila bukan ibu kandung Hasna dan Kayla. Bi Sumi yakin betul bahwa apa yang dilakukan Laila hanya untuk masa depan kedua anaknya. Bahkan Laila merasa senang saat bisa berbagi cerita dengan Bi Sumi.


"Terus kenapa kamu gak protes dibilang janda sama orang-orang?" tanya Bi Sumi.


"Cape Bi. Dulu saya selalu protes bahkan sampai marah tiap kali ada yang bilang saya janda. Beberapa kali juga saya nangis sampai gak tidur semaleman cuma karena kesel sama nasib saya. Pacaran aja gak pernah, ini kok udah dianggap janda. Sakit saya Bi," ucap Laila.


Bi Sumi segera memeluk Laila. Ia tidak menyangka jika perempuan yang sedang didekati majikannya itu adalah gadis yang terjebak dengan status sulit. Namun Bi Sumi tidak berniat untuk menjelaskan semua ini pada Bagus. Biarlah majikannya itu tahu jika Laila adalah seorang janda. Dengan status Laila sebagai janda saja, Bagus sudah terlihat bahagia. Apalagi saat nanti Bagus benar-benar mendapatkan Laila dan tahu kenyataannya. Ia pasti akan sangat bahagia.


"Pagi," sapa Bagus.


"Papa," teriak Hasna dan Kayla.


Mereka berdua memburu Bagus. Tanpa rasa canggung mereka berdua memeluk Bagus. Meluapkan perasaan rindu dan bahagianya. Persis layaknya anak pada ayahnya. Bukan salah mereka, namun memang karena Bagus yang sengaja memberi ruang pada mereka berdua. Bagus yang sendiri yang membuka kesempatan itu dengan lebar dan terbuka.


"Ayo Papa anter ke sekolah," ucap Bagus.

__ADS_1


"Gak usah Pak. Sekolah mereka deket kok. Biasanya juga jalan kaki," ucap Laila.


Hasna dan Kayla yang sudah senang akan diantar Bagus ke sekolah hanya cemberut saat Laila menolak ajakan Bagus untuk mereka. Beruntung Bagus tetap mengantar mereka. Bahkan kadang mereka berdua merasa ada waktu dimana lebih menyenangkan bersama Bagus dibanding dengan Laila.


Mungkin hal ini karena Bagus terlalu memanjakan mereka. Hal yang tidak pernah mereka dapatkan sebelumnya. Pertama karena Laila tidak punya banyak waktu. Selain itu karena Laila juga tidak mau mereka terlalu ketergantungan padanya. Karena seperti kenyataan yang ada, kalau Laila harus menghabiskan waktunya untuk bekerja, mengurus rumah dan mengurus mereka berdua. Bahkan kadang untuk memikirkan kebutuhan pribadinya saja mungkin Laila singkirkan.


"Biarin aja La. Mumpung Pak Bagus ada di sini," ucap Bi Sumi saat melihat Laila Bagus dan kedua anak itu sudah pergi.


"Tapi mau sampai kapan? Saya takut mereka kecewa aja Bi," ucap Laila.


"Kenapa kecewa?" tanya Bi Sumi.


"Ya kan Pak Bagus gak bakal selamanya begini. Nanti juga kalau misi balas dendamnya udah selesai pasti Pak Bagus juga jarang ke sini," jawab Laila.


"Tapi kalau yang Bibi lihat sih Pak Bagus beneran suka sama kamu deh La," ucap Bi Sumi.


"Ah, Bibi ini kalau ngomong suka ngaco," ucap Laila.


"Beneran. Ini sih yang Bibi lihat aja," ucap Bi Sumi.


Bi Sumi pun menjelaskan alasannya berpikiran begitu. Hal itu tidak membuat Laila terbang melayang. Laila sudah benar-benar membatasi dirinya dari ekspektasi yang terlalu tinggi. Lagi pula kalaupun benar, sampai saat ini Laila tidak punya ketertarikan pada Bagus. Selama ini nilai lebih Bagus di mata Laila adalah bisa menyayangi Hasna dan Kayla. Itu saja.


"Pak, saya pulang sekarang apa gimana?" tanya Bi Sumi saat Bagus sudah kembali ke rumah Laila.


"Tanya Laila aja," jawab Bagus.


"Loh kok tanya saya Pak?" tanya Laila bingung.


"Iya kamu butuh Bi Sumi gak di sini?" tanya Bagus.


"Kan yang bayar Bi Sumi juga Bapak. Saya gak sanggup bayar Pak," jawab Laila.


"Tapi kamu butuh?" tanya Bagus.


"Gak deh Pak. Saya bisa sendiri kok," jawab Laila.


"Ya udah Bi Sumi di sini aja," jawab Bagus.


"Gak usah Pak. Saya bisa sendiri. Bapak lebih butuh. Bapak kan gak bisa apa-apa," ucap Laila.


"Hah? Maksudnya?" tanya Bagus.


"Maksud saya Bapak kan gak bisa ngurus rumah sendiri gitu," jawab Laila.


"Ya kamu bantuin dong urusin rumah saya," ucap Bagus.


"Kalau ada duitnya sih mau saya Pak. Kerjaan di rumah saya kan di bantuin Bi Sumi, nah biar saya cari tambahan aja kerja di rumah Bapak." Laila tertawa renyah.

__ADS_1


Sementara Bagus hanya menatap Laila kesal. Ternyata kode yang disampaikan oleh Bagus tidak sampai ke Laila. Justru Bi Sumi yang bisa menangkap kode itu. Bi Sumi hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kekesalan Bagus pada kepolosan Laila.


Sepertinya aku harus turun tangan deh. Aku harus bantu Pak Bagus buat naklukin hati Laila deh. Pak Bagus terlalu banyak kode. Sedangkan Laila terlalu lempeng. Gak bisa ketemu kalau gini terus. Orang kayak Laila gak bisa dikasih kode. Pak Bagus harus bisa ngungkapin langsung sih kalau gini.


__ADS_2