Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Pak kumis


__ADS_3

Setelah mendapatkan semua pesanannya, Laila meminta Bi Sumi untuk memasak bakso dan batagor yang dibawa oleh Bagus.


"Sama ini juga deh Bi," ucap Laila sambil menyerahkan es jeruk.


Laila dengan sabar menunggu bakso dan batagor. Bahkan Laila duduk di ruang makan. Tidak mau bakso dan batagornya menjadi dingin sebelum ia memakannya.


"Ini Bu," ucap Bi Sumi.


Semangkuk bakso dan sepiring batagor disajikan di atas meja makan. Tak lupa segelas es jeruk juga sudah disediakan Bi Sumi. Dengan wajah bahagia Laila berterima kasih dan segera menikmati apa yang ada di hadapannya.


Saat Laila makan, Bagus menelan salivanya. Takut jika Laila tahu jika apa yang ia makan bukanlah dibeli dari tempat yang ia inginkan. Namun sesuai saran Bi Sumi, Bagus bersikap sesantai mungkin. Mencegah kecurigaan Laila padanya.


Sebenarnya Bi Sumi sudah memperingatkan jika Bagus tidak boleh membohongi Laila. Namun saat Bagus menjelaskan alasannya berbohong, Bi Sumi akhirnya mengerti. Tanpa bisa berkomentar lagi, ia hanya mengiyakan apa yang Bagus rencanakan.


"Mas mau?" tanya Laila.


Bagus yang menatap Laila dengan lekat cukup terkejut. Ia segera menggelengkan kepalanya. Menolak tawaran Laila hanya dengan gelengan kepalanya.


"Ini enak loh Mas," jawab Laila.


"Abisin aja," ucap Bagus.


"Mas, yang jual bakso ini masih si Pak kumis bukan sih?" tanya Laila.


Hah? Pak kumis? Mana aku tahu La. Lagian kalaupun aku beli di tempat langgananmu, mana sempat aku perhatiin penjualnya. Gak tahu kumisan apa gak. Kamu perhatian banget sih sama yang jualan baksonya. Sampai keinget kalau yang jualnya kumisan. Awas ya nanti kalau aku udah balik ke Jakarta, aku lihat orangnya. Kalau sampai masih muda, aku harus buat perhitungan sama dia.


"Mas," ucap Laila saat melihat Bagus bengong.


"Eh iya, kenapa? Rasanya beda ya?" tanya Bagus panik.


"Kok Mas tahu sih rasanya beda?" Laila balik bertanya.


"Ya gak. Cuma nebak aja," jawab Bagus semakin panik.


"Mas pas beli bilang buat aku gak?" tanya Laila.


Pertanyaan Laila membuat Bagus semakin kesal.


"Memangnya kenapa sih La?" tanya Bagus.


Kepanikan itu sudah mulai hilang. Kini yang Bagus rasakan adalah kekesalan.

__ADS_1


"Ya gak. Biasanya kalau tahu aku yang beli pasti baksonya gak pakai seledri. Aku kan gak suka seledri," jawab Laila.


"Jadi tukang baksonya sampai tahu apa yang kamu suka dan gak? Sebegitunya kamu sama tukang bakso?" tanya Bagus.


"Loh, namanya juga langganan Mas. Aku tiap hari pasti jajan. Malahan kalau aku ulangan dapat nilai 100, aku pasti di kasih bonus." Laila menceritakan dengan penuh semangat.


"Bonus apa?" tanya Bagus.


"Ya makan bakso gratis lah. Masa bonusnya jalan-jalan sama Pak kumis sih?" ucap Laila sambil tertawa.


Tertawa? Bagus justru mendengus kesal saat melihat Laila tertawa. Tidak ada yang lucu sama sekali. Bagi Bagus, semua cerita Laila sangat tidak penting untuk diceritakan. Tidak penting? Ah dalam kenyataannya, Bagus terus mencari tahu karena penasaran. Namun setelah tahu ceritanya, ia justru kesal sendiri.


Nyesel aku gak beli bakso dari sana. Padahal aku bisa tahu tuh si kumis yang spesial banget buat Laila.


"Mas batagornya juga kurang," ucapan Laila terpotong saat Bagus segera pamit ke kamar.


"Cape aku, La. Tidur siang dulu ya!" ucap Bagus.


Laila mengangguk dan membiarkan Bagus pergi ke kamar. Ia tersenyum senang saat melihat Bagus kesal dengan ocehannya.


"Suruh siapa bohongin aku. Emang enak aku kerjain?" gumam Laila.


Tidak ingin ambil pusing, Laila segera melanjutkan makan bakso dan batagornya. Meskipun kedua makanan itu bukan dari tempat yang ia inginkan, namun Laila tidak mungkin membiarkan makanan itu begitu saja. Setidaknya Laila harus menghargai usaha Bagus. Ya walaupun tidak sesuai dengan harapannya.


Hasna yang baru saja pulang sekolah segera memanggil Bagus dengan suara ceria. Kerinduan Hasna pada Bagus mungkin sama dengan besarnya rindu Laila pada suaminya itu.


"Hussst," ucap Laila sambil menempelkan telunjuk pada mulutnya.


"Kenapa?" tanya Hasna pelan.


"Papa lagi tidur. Istirahat," jawab Laila.


"Oh," ucap Hasna sambil mengangguk.


Hasna dan Kayla pun pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Sambil menunggu Bagus bangun, Hasna menonton tv dengan volume yang kecil. Bahkan nyaris tidak terdengar sama sekali.


"Memangnya kedengeran suaranya?" tanya Laila samb duduk di samping Hasna.


"Gak," jawab Hasna pelan.


"Terus buat apa nonton kalau gak kedengeran?" tanya Laila.

__ADS_1


"Takut ganggu Papa. Papa pasti cape," jawab Hasna.


Laila menatap Hasna dengan penuh haru. Sesayang itu Hasna pada Bagus. Mungkin jika Deri melihat ini, maka dia akan menjadi orang yang paling sakit karena cemburu. Perlakuan Hasna selalu saja manis pada Bagus. Laila merasa hal seperti ini tidak pernah terjadi antara Hasna dan Deri dulu.


Mungkin karena saat itu Hasna masih kecil. Namun Kayla yang saat itu sudah cukup besar pun terlihat begitu acuh. Sekarang saja, meskipun Kayla sudah berseragam putih biru, ia masih bersikap manis pada Bagus.


Tidak canggung untuk memeluknya dan bermanja dengan Bagus. Laki-laki yang sudah lama ia anggap sebagai pengganti ayahnya. Bahkan saat Laila bertanya tentang ayah kandungnya, Kayla hanya terdiam.


Kayla mengaku tidak benci pada ayah kandungnya. Apa yang Bagus berikan dan lakukan padanya membuatnya tidak punya alasan untuk membenci Deri. Namun suatu saat jika ayahnya datang menemui, Kayla juga tidak punya alasan untuk menemuinya, apalagi bicara panjang lebar dengannya.


"Hasna," panggil Bagus dengan suara serak.


Suara khas bangun tidur Bagus terdengar sangat nyaring di telinga Hasna. Membuat anak itu langsung menoleh dan berlari memeluknya.


"Kayla mana?" tanya Bagus.


"Pacaran," jawab Hasna.


"Hah? Masa iya pacaran?" tanya Bagus.


"Memangnya kenapa? Gak boleh ya?" Hasna balik bertanya.


"Gak boleh dong. Anak sekolah jangan pacaran," ucap Bagus.


"Kayak Hasna ya Pah?" ucap Hasna dengan penuh percaya diri.


"Iya dong. Anak Papa harus semangat dan rajin belajar. Lihat Mama, pinter dan berprestasi. Kan bikin bangga," ucap Bagus.


Ucapan Bagus tentu membuat Laila berbunga-bunga. Laila pikir suaminya marah, tapi kenyataannya Bagus tidak terlihat marah sama sekali.


Sebenarnya bukan tidak marah, Bagus hanya tidak mau Laila semakin marah saat tahu kemarahannya. Lagi pula mungkin yang Bagus rasakan bukan marah. Hanya rasa kecewa karena Laila terus membahas tentang Pak Kumis yang Bagus sendiri tidak tahu siapa Pak kumis itu. Lebih tepatnya Bagus cemburu ada tukang bakso yang Laila ceritakan.


"Mas mau aku buatin kopi?" tanya Laila.


"Boleh," jawab Bagus.


"Aku aja Pah. Aku juga bisa," ucap Hasna.


"Udah biar Mama aja. Kamu sama Papa aja di sini," ucap Laila.


Laila segera pergi ke dapur. Membuatkan kopi spesial untuk suami tercinta. Semua ia lakukan sebagai ucapan terima kasih atas makanan yang sudah dibawanya. Selain itu, kopi yang dibuatnya itu sebagai ucapan minta maaf atas sikapnya yang membuat Bagus tidak nyaman.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang Laila ceritakan tentang Pak Kumis itu bohong. Tukang bakso langganan Laila adalah seorang perempuan yang kurang lebih usianya sama dengan Bi Sumi. Semua Laila lakukan karena kesal pada Bagus.


Laila tahu baksa dan batagor yang dimakan olehnya tidak sama dengan apa yang ia inginkan. Laila tahu betul bahawa makanan itu bukan dari tempat yang ia inginkan. Tapi Bagus sudah membohonginya. Walaupun Laila yakin, Bagus punya alasan tersendiri saat membohonginya.


__ADS_2