Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Gantian


__ADS_3

"Le, kamu udah beres sekolahnya?" tanya Bi Lani saat Hasna dan Kayla sudah tidur.


"Udah, Bi. Kenapa gitu?" tanya Laila disela mengunyah cemilan di toples yang dipegangnya.


"Mau kerja kemana rencananya?" tanya Bi Lani.


Laila menatap Bi Lani. Ya, keadaan keluarga Laila memang sudah diketahui oleh semua orang. Hanya mengandalkan Yanti yang sebenarnya hanya menantu dan ipar bagi Bu Rini dan Laila. Tanpa mereka tahu bagaimana tulusnya Yanti pada keluarga Laila.


"Cariin dong Bi," ucap Laila.


"Mau kerja jadi pengasuh gak? Kalau mau, saudara Bibi ada yang jadi penyalur. Nanti Bibi hubungi deh," ucap Bi Lani.


"Tapi kalau aku kerja, Hasna sama Kayla gimana Bi? Apalagi ibu sakit-sakitan sekarang," ucap Laila.


Keluhan Laila hanya membuat Bi Lani membahas tentang keburukan Deri. Dari malas hingga kasar dan tidak bertanggung jawab dibahas oleh Bi Lani. Laila segera mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas tentang Deri lagi.


Hubungannya dengan Deri memang tidak terlalu akur. Deri juga sering mencaci dan merendahkannya. Tapi saat mendengar orang lain ikut merendahkan dan menghina Deri, Laila merasa tidak suka. Ada kesan mengadu domba di sana.


Laila kini menyadari bahwa tidak perlu mengeluh tentang keadaan keluarganya. Kadang orang yang berempati hanya berusaha untuk mencari tahu saja. Setelah itu mencari celah untuk justru membuat semakin keruh.


"Le, si Deri jahat kan sama kamu?" tanya Bi Lani.


"Gak jahat Bi. Kadang Bang Deri emang begitu. Tapi aku biasa aja kok," jawab Laila.


Bi Lani tidak berhenti memancing Laila untuk selalu kembali ke topik tentang Deri. Akhirnya ia pura-pura menguap dan izin untuk tidur lebih awal agar berhenti membahas tentang Deri. Alasan lelah karena sudah menjaga Hasna dan Kayla seharian akhirnya bisa masuk di akal Bi Lani.


Kenyataannya Laila hanya memejamkan matanya tanpa terlelap. Kepalanya berkelana jauh ke rumah sakit. Membayangkan apa yang terjadi pada ibunya. Bagaimana perkembangannya dan banyak lagi kegelisahan Laila yang merangsek pikirannya.


"Le, Bibi pulang dulu ya!" ucap Bi Lani sambil mengguncang tubuh mungil Laila.


Laila yang masih sangat mengantuk hanya mengiyakan. Mengantar Bi Lani sampai ke depan pintu dan mengunci kembali rumahnya. Matanya tertuju pada jam yang menempel di dinding rumahnya. Masih jam enam.


Kepalanya yang berat membuat Laila tidur lagi saat melihat Hasna dan Kayla masih tidur. Rumah yang berantakan tidak menjadi prioritas Laila saat ini. Setelah semalaman tak bisa tidur, Laila merasa kepalanya cukup berat. Ia hanya tidur satu jam Sebelum Bi Lani membangunkannya.

__ADS_1


Beruntung Hasna dan Kayla tidur nyenyak. Laila punya kesempatan tidur lagi meski hanya dua jam. Karena jam delapan Hasna dan Kayla sudah bangun. Sebagai seorang remaja yang harus berperan menjadi ibu, Laila kebingungan mulai dari mana ia harus bergerak.


Tangisan Hasna menjadi jawaban. Laila menyiapkan susu agar Hasna berhenti menangis. Kayla disuruh mandi sendiri sesangkan Laila menyiapkan pakaian gantinya. Laporan Kayla tentang rasa lapar membuat Laila bergegas ke dapur.


Masih ada nasi di magicom. Karena Laila tidak punya banyak waktu untuk memasak, akhirnya jalan terakhir adalah membuat telur dadar untuk Hasna dan Kayla.


"Makan sendiri ya. Jangan berantakan. Belajar makan yang rapi. Lala mau mandiin Hasna dulu," ucap Laila.


Ya, Laila punya dua panggilan. Lele dumbo dari warga sekitar. Sedangkan Lala nama panggilan kedua keponakannya. Tidak masalah. Laila tidak keberatan sama sekali dengan panggilan apapun untuknya.


"Leleee, buka pintunya." Teriakan Deri membuat Laila gelagapan.


Laila yang sedang tanggung memandikan Hasna hanya berteriak meminta Deri sabar. Setelah selesai baru Laila membuka kunci pintu.


"Lelet banget sih," ucap Deri saat pintu rumah baru terbuka. "Astaga, ini rumah atau kapal pecah? Ngapain aja kamu di rumah?" lanjut Deri saat melihat rumah masih berantakan.


Tidak ada niatan Laila untuk membalas ucapan Deri. Bahkan Laila selalu berusaha berpura-pura tuli saat Deri sedang marah padanya. Berdebat hanya akan membuat masalah makin panjang dan berlarut.


"Ibu gimana Bang?" tanya Laila mengalihkan pembicaraan.


"Iya Bang," ucap Laila.


Laila segera memberi makan Hasna setelah memakaikannya baju. Membereskan rumah menjadi target selanjutnya. Rasanya tidak terlalu lelah karena Laila begitu bersemangat. Hari ini ia bisa bertemu dengan ibunya. Melihat langsung keadaan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Bang, aku berangkat ya! Titip Hasna sama Kayla," ucap Laila.


"Dia anakku. Ngapain titip-titip segala. Orang aku ini bapaknya kok," ucap Deri ketus.


Ah, salah lagi aja. Memang gak pernah bener aku di mata Bang Deri. Pasti ada aja salahnya.


"Ngapain diem aja? Udah sana berangkat," ucap Deri.


Laila tersentak. Ia segera beranjak pergi. Sebuah tas berisi baju ganti Bu Rini dan Yanti sudah dijinjingnya. Tidak lupa makanan sederhana yang dibuatnya dibawa untuk makan kakak iparnya. Namun langkahnya tertahan karena Deri memintanya untuk membelikan rokok dan kopi sebelum Laila berangkat ke rumah sakit.

__ADS_1


Ah, sebenarnya bukan membeli. Tapi Deri selalu berkata untuk kasbon ke warung biar Yanti yang akan membayarnya. Laila yang masih punya uang tabungan membayar apa yang dibelinya karena malu kalau selalu kasbon.


"Kopi sama rokoknya aku simpan di meja. Aku berangkat," ucap Laila


"Hemm," jawab Deri.


Dengan semangat Laila pergi mencari ojek yang bisa mengantarnya ke rumah sakit. Dengan informasi ruangan yang diterima dari Yanti, Laila bisa segera menemukan keberadaan ibunya.


"La, kok lama?" tanya Yanti sambil melihat ponselnya untuk mengecek jam.


Laila menceritakan semua yang terjadi sebelum ia berangkat ke rumah sakit. Itupun bisik-bisik karena takut Bu Rini mendengar ceritanya. Yanti hanya bisa menggelengkan kepala saat mendengar cerita Laila tentang suaminya.


"Ini Kakak ganti baju dulu, terus makan. Abis itu pulang ya. Kakak istirahat. Biar kita gantian," ucap Laila.


"Mana mungkin aku ninggalin kamu sendirian La," ucap Yanti.


"Kasihan Hasna sama Kayla," ucap Laila.


Ya, Yanti juga merindukan kedua anaknya. Apalagi saat ini mereka diasuh oleh Deri. Pikirannya gelisah. Namun tidak tega membiarkan Laila menjaga Bu Rini sendirian.


Melihat keadaan Bu Rini yang semakin membaik, Laila meyakinkan Yanti jika semuanya akan baik-baik saja. Setelah makan, maka Yanti pun segera pulang untuk melihat kedua anaknya.


"Bu," sapa Laila saat Bu Rini sudah bangun.


Sejak Laila ke rumah sakit, Bu Rini baru bangun. Bu Rini tidak tahu kalau Deri dan Yanti sudah pulang. Laila menjelaskan bahwa mereka bertiga giliran untuk menjaga Bu Rini. Namun tanpa diduga, Bu Rini justru menangis.


"Ibu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Laila panik.


"Gak, La. Ibu hanya sedih aja. Di usia ibu yang semakin tua ibu hanya bisa merepotkan kalian," ucap Bu Rini.


"Ya ampun Bu, jangan berpikir begitu. Kita semua anak ibu. Kita sayang sama ibu. Yang penting sekarang ibu cepat sehat lagi ya!" ucap Laila.


"Terima kasih ya La, terima kasih. Kalau nanti ibu udah gak ada, hidup rukun sama abang dan kakakmu. Yang akur ya," ucap Bu Rini.

__ADS_1


"Ibu apaan sih kok ngomongnya gitu. Gak suka ah. Ibu sekarang istirahat. Cepat sembuh pokoknya," ucap Laila.


Melihat sikap Deri yang keterlaluan kadang membuat Bu Rini khawatir saat meninggalkan mereka. Apa jadinya saat ia sudah tidak ada di dunia ini. Mungkinkah Laila masih bisa menahan kekesalannya setiap kali Deri mengoceh padanya?


__ADS_2