
Masih ada hampir dua bulan lagi sebelum masuk tahun ajaran baru. Laila bingung apa yang harus dilakukan. List tugas yang diterimanya hanya belajar dan beristirahat. Sementara ia belum punya catatan apapun yang harus dibaca.
Baru tiga hari berada di rumah itu, Laila merasa sangat bosan. Tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukannya. Sementara hari ini Bu Indah tidak ada di rumah. Setahu Laila, Bu Indah sedang keluar kota untuk dua hari ke depan karena ada urusan.
"Urusan apa ya? Rumah segede gini kok cuma diisi sama yang kerja semua. Apa gak sayang ngeluarin duit banyak buat bayar pegawai?" gumam Laila saat duduk santai di tepi ranjangnya.
"Laila," panggil Bi Yani.
"Iya," jawab Laila.
Dengan cepat Laila segera membuka pintu. Dahi Laila berkerut saat melihat Bi Yani membawa nampan berisi menu makan yang cukup banyak.
"Buat siapa itu Bi?" tanya Laila.
"Buat kamu. Bu Indah meminta Bibi membawakan makan," jawab Bi Yani.
"Memangnya Bu Indah tahu dari mana aku belum makan?" tanya Laila.
"Ada cctv di ruang makan. Ibu gak lihat kamu ke ruang makan hari ini," jawab Bi Yani.
Laila menatap Bi Yani dengan tatapan bingung dan sulit diartikan. Banyak sekali kata yang ia ucapkan namun ia takut salah bicara, sementara cctv senantiasa mengawasinya.
Laila makan setelah Bi Yani pergi dari kamarnya. Makanan yang masuk ke tenggorokannya memang sangat bergizi. Namun Laila merasa kadar kenikmatannya jauh dibandingkan dengan saat ia makan bersama keluarganya.
Air mata Laila menetes saat membayangkan jika dihadapannya ada Bu Rini. Saat ini Laila pasti akan makan dengan lahap dan sangat bahagia. Namun Laila segera menyudahi harapannya yang tidak mungkin terjadi.
"Kuat ya Laila," ucap Laila menguatkan dirinya sendiri.
Selama Bu Indah tidak ada di rumah, Laila mengekori Bi Yani. Kemanapun Bi Yani pergi, Laila akan ada di sana. Ternyat pekerjaan Bi Yani juga tidak terlalu banyak. Laila sempat mengamati para pekerja yang lain. Semua sering istirahat karena pekerjaan mereka juga tidak terlalu banyak.
"Bi, rumah ini sepi. Kenapa yang kerja banyak banget?" tanya Laila.
"Sebenarnya rumah ini ramai. Banyak sekali teman Bu Indah yang berkunjung untuk bisnis atau sekedar main. Tapi kebetulan minggu ini memang sepi. Bibi juga gak tahu kenapa. Tapi biasanya sih kalau sepi begini, Bu Indah lagi ada masalah. Tapi Bibi juga gak yakin sih," jawab Bi Yani.
Masalah? Benarkah? Laila mencoba menebak masalah apa yang sedang dihadapi Bu Indah. Tidak mungkin masalah ekonomi. Apa yang tidak dimiliki Bu Indah? Semuanya serba ada. Tiba-tiba Laila ingat dengan foto yang ada di kamarnya.
"Bi, Laila boleh tanya gak?" tanya Laila.
Laila merasa ini kesempatan bagus. Mereka sedang di supermarket. Tidak ada kamera cctv yang mengintainya. Jadi Laila bisa bertanya dengan bebas pada Bi Yani.
__ADS_1
"Boleh," jawab Bi Yani sambil memilih beberapa jenis sabun.
"Anak Bu Indah kemana ya?" tanya Laila.
"Anak? Bu Indah tidak punya anak," jawab Bi Yani.
"Tidak punya anak? Katanya anak yang di foto itu anak Bu Indah. Ya walaupun katanya dulu," ucap Laila.
Bi Yani menghentikan langkahnya. Tatapannya penuh tanya hingga membuat Laila menu duk dan segera meminta maaf atas kelancangannya. Bi Yani mengingatkan Laila agar tidak mencari tahu atau sekedar membahas sesuatu hal yang tidak penting untuknya.
Saran Bi Yani, Laila harus banyak bersyukur. Entah apa yang membuat Bu Indah tiba-tiba menganggap Laila sebagai anaknya. Padahal awalnya, Bu Indah mencari orang yang khusus bisa merawat kamarnya.
"Hanya buat merawat kamar sampai cari pembantu?" tanya Laila terkejut.
Laila menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa membayangkan, sebanyak apa uang yang dimilikinya. Tapi sayangnya Bu Indah nampak seperti orang yang kesepian. Ditinggalkan anak semata wayangnya yang entah karena kasus apa.
"Tuhan memang adil ya Bi. Kita memang gak punya banyak uang kayak Bu Indah, tapi kita bahagia punya keluarga. Ya walaupun keadaan memaksa kita buat jauh juga sih sama keluarga," ucap Laila.
"Husst, udah ah. Ayo lanjut belanjanya," ajak Bi Yani.
Seperti biasa, Laila hanya mengekor kemana Bi Yani pergi. Setelah selesai, mereka kembali ke rumah. Namun baru dua jam di rumah, Bi Yani sudah harus ke supermarket.
"Ke supermarket," jawab Bi Yani.
"Lagi?" tanya Laila.
"Iya," jawab Bi Yani.
"Ikut," ucap Laila.
"Lagi?" ejek Bi Yani.
"Iya," jawab Laila sambil tersenyum malu.
Laila melihat Bi Yani membawa sayuran dan lauk yang sangat banyak. Dengan kerutan di dahinya, Laila menyimpan banyak tanya. Namun akhirnya pertanyaan itu terjawab tanpa Laila harus mengutarakan pertanyaannya.
"Begini nih. Kalau udah waktunya kumpul, heboh. Masak udah kayak mau hajatan," ucap Bi Yani.
Laila tidak berkomentar apapun. Ia hanya mengikuti Bi Yani sambil membantunya mengambil beberapa sayuran yang masih kurang. Namun mata Laila membuka sempurna setelah melihat struk pembayaran.
__ADS_1
"Astaga, gak salah ini Bi?" tanya Laila saat melihat struk pembayaran itu.
"Ngapain sih? Udah sini biar dibuang struknya," jawab Bi Yani.
"Eh, jangan jangan Bi. Kalau ini gak dipakai, boleh ya buat saya. Boleh kan?" pinta Laila.
"Buat apa?" tanya Bi Yani sambil mengerutkan dahinya.
"Buat kenang-kenangan. Biar suatu saat nanti kalau saya pulang ke kampung, saya tunjukin ke ibu saya. Dia pasti seneng kalau tahu anaknya kerja di tempat orang kaya. Sekali belanja aja bisa buat DP umroh," ucap Laila.
Bi Yani tertawa mendengar ucapan Laila. Ternyata Laila memang polos dan apa adanya. Bi Yani sadar mungkin hal itu yang membuat Bu Indah tertarik dengan sosok Laila.
Menjelang kedatangan Bu Indah, Laila membantu petugas dapur mempersiapkan jamuan yang harus disajikan siang itu. Tidak banyak yang Laila lakukan. Bukan karena tidak bisa, tapi sudah ada bagiannya yang jauh lebib berkompeten.
"Maaf, apa saya boleh membuat kue?" tanya Laila.
Sebenarnya tidak ada perintah dari Bu Indah untuk menyiapkan kue. Namun jika Laila mau membeli bahan-bahannya, mereka mempersilahkan. Dengan sangat semangat, Laila pergi. Meminta sopir untuk mengantarnya membeli bahan-bahan kue.
Berbekal uang satu juta yang diberikan Bu Indah saat itu, Laila membeli bahan-bahan itu dengan sangat senang. Akhirnya ia bisa mengobati kerinduannya ke kampung halaman. Kerinduan akan kegiatan yang biasa lakukan dengan Bu Rini.
"Pak, ini buat Bapak." Laila memberikan sebungkus rokok untuk sopir yang mengantarnya.
"Tidak usah," tolak sopir itu.
Namun Laila memaksa sopir agar bisa menerima rokok yang sudah dibelikannya. Lalu ia membawa barang belanjaannya ke dapur. Berkutat dengan bahan yang sudah dibelinya, hingga semua selesai.
"Bi, mau coba ini gak?" tanya Laila sambil memberikan kue buatannya.
"Boleh," ucap Bi Yani.
"Enak?" tanya Laila saat kue sudah nampak tertelan oleh Bi Yani.
"Enak banget," jawab Bi Yani.
Bukan hanya Maba Husni, tapi Laila menawarkan kue buatannya ke semua orang yang ada di rumah itu. Setelah semua mengatakan kue buatannya enak, Laila meminta izin pada Bi Yani untuk ikut menghidangkan kue buatannya.
"Ibu dan teman-temannya pasti suka," ucap Bi Yani memberi semangat.
Bi Yani bisa melihat senyum bahagia Laila. Ia tidak menyangka jika Laila yang baru lulus SMP sudah pandai membuat kue seperti itu.
__ADS_1