Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Balado terong


__ADS_3

Saat sedang berdiri memikirkan Bagas, tiba-tiba ia tersadarkan dengan panggilan ponsel di dalam tasnya. Laila tersenyum. Berharap Bagas yang meneleponnya. Namun Laila menghela napas panjang saat melihat nama Yanti yang tampil di layar ponselnya.


"Halo Kak," sapa Laila lemas.


Yanti sudah menggugat cerai Deri. Bukan masalah perceraian mereka. Bagi Laila, hanya nasib Hasna dan Kayla yang menjadi beban pikirannya.


"La, kamu ada uang gak?" tanya Yanti sambil menangis.


"Uang?" tanya Laila bingung.


"Hasna masuk rumah sakit. Kakak kecelakaan sama Hasna. Sampai saat ini Hasna belum sadar," ucap Laila.


"Astaga. Kecelakaan dimana kak?" tanya Laila panik.


Setelah melihat kondisi Hasna dan Yanti melalui panggilan video, Laila merasa sangat khawatir. Dari penjelasan Yanti, mereka sedang pergi untuk antar paket. Namun tiba-tiba mobil box menyerempet mereka hingga motor terlempar. Hasna yang posisinya duduk di depan terpental.


Yanti mengakui jika ia memang masih memiliki tabungan. Namun saat ini, ia butuh pegangan. Takut jika Hasna memerlukan biaya yang cukup besar. Sementara tidak ada yang bisa ia andalkan selain Laila. Bahkan sopir mobil box pun kabur entah kemana.


"Kakak butuh berapa?" tanya Laila.


"Kalau ada pinjam dua juta aja, La. Kakak pinjam kok. Nanti kalau kita udah balik ke kontarakan, kakak bayar." Yanti meyakinkan Laila.


"Ada Kak, tapi nanti ya. Aku gak punya uang di tabungan. Paling sore. Aku adanya uang cash di rumah. Jadi aku pulang dulu baru nanti transfer gak apa-apa kan?" tanya Laila.


"Gak apa-apa, La. Tapi usahakan hari ini ya!" ucap Yanti.


"Iya, Kak. Kakak yang sabar ya. Maaf aku belum bisa pulang," ucap Laila.


"Gak apa-apa. Kamu jangan banyak pikiran. Sekolah aja yang bener," ucap Yanti.


Laila segera pulang. Kepalanya memikirkan betapa beratnya menjadi Yanti. Terlalu banyak beban dalam hidupnya. Bahkan saat kaki dan tangannya banyak luka karena terjatuh, yang ada di kepala Yanti hanya kesembuhan Hasna.


Saat sampai di rumah, Laila merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya kacau. Masalah dengan Bagas belum selesai, sudah ada kabar buruk dari keponakannya di kampung. Laila menghitung uang yang disimpannya selama ini.


Hanya ganti pakaian dan makan, lalu Laila izin untuk pergi. Kebetulan Bi Yani akan ke supermarket untuk membeli stok sayuran. Laila pun ikut agar Bu Indah tidak khawatir.


"Kamu kok kirim uang banyak gitu buat dia? Kan dia bukan kakak kandung kamu," tanya Bi Yani.


Yanti memang bukan kakak kandungnya. Bahkan Deri pun hanya saudara seibu saja. Namun ketulusan Yanti selama mereka tinggal bersama, membuat Laila merasa uang sebesar itu tidak terlalu berarti jika dibandingkan dengan semua kebaikan Yanti.


Dari jawaban Laila, Bi Yani paham mengapa Bu Indah mengangkatnya sebagai anak angkat. Karena Laila punya hati yang baik dan tulus. Bi Yani semakin meyakini jika orang baik pasti akan bertemu dengan orang-orang yang baik juga. Seperti Laila yang bertemu dengan Bu Indah.

__ADS_1


"Tuh di sana La," ucap Bi Yani sambil menunjuk tempat transfer.


"Oke Bi," ucap Laila.


"Eh, tunggu sebentar. Titip ini sedikit buat pengobatan Hasna juga ya," ucap Bi Yani sambil memberikan uang pada Laila.


"Ya ampun Bi gak usah. Ini udah cukup kok," tolak Laila.


"Gak apa-apa. Ini buat Hasna, bukan buat kamu. Semoga Hasnanya cepat sembuh ya," ucap Bi Yani.


"Ya ampun Bi, terima kasih ya. Saya gak nyangka loh ternyata masih banyak orang baik di Jakarta," ucap Laila.


"Ah kamu ini berlebihan deh. Udah cepet sana! Kita harus ke supermarket," ucap Bi Yani.


"Eh iya, iya. Sebentar ya Bi," ucap Laila.


Bi Yani tidak membawa Laila ke bank. Semua karena Laila tidak mau mengantri terlalu lama. Dari grab, Bi Yani memperhatikan Laila yang begitu tulus menyayangi keluarganya yang tersisa di kampung halamannya. Padahal setahu Bi Yani, Laila tidak memiliki hubungan darah dengan mereka.


Setelah selesai mereka pergi ke supermarket. Laila yang sudah mulai terbiasa, kini mulai membantu Bi Yani. Tidak seperti biasanya yang hanya mengekor tanpa melakukan apapun.


"Untung kamu ikut. Jadi cepet deh," ucap Bi Yani.


"Ah kamu ini. Jangan dibahas terus. Nanti amal Bibi jadi hilang," ucap Bi Yani.


Laila hanya tersenyum. Dengan Bi Yani, Laila bisa lebih leluasa bersikap apa adanya. Walaupun sebenarnya Bu Indah juga baik, tapi Laila harus tetap menjaga jarak. Meskipun Bu Indah sudah menganggapnya anak, tapi bagaimanapun wanita baik itu tetaplah majikannya.


"Bi, anak Bu Indah sebenarnya kemana?" tanya Laila.


"Hustt," ucap Bi Yani sambil menggelengkan kepalanya.


Bukan hanya tidak tahu, tapi Bi Yani tidak mau tahu apapun tentang orang yang dimaksud oleh Laila. Selama bekerja di sana, Bi Yani hanya bekerja dan mencari nafkah. Itu saja, tidak lebih. Beda dengan Laila yang kadang selalu mencari tahu tentang Bu Indah.


"Oh iya," jawab Laila.


Laila dan Bi Yani segera pulang setelah semua keperluannya selesai. Ternyata Bu Indah sudah pulang. Ada seorang wanita yang turut menemani Bu Indah di ruang tamu.


"La, sini!" panggil Bu Indah.


Laila yang baru saja sampai segera menghampiri Bu Indah dan bersalaman dengan keduanya.


"Oh jadi ini anaknya?" tanya teman Bu Indah.

__ADS_1


"Iya, dia Laila. Laila, ini Bu Herlin. Dia teman baikku. Mulai sekarang, Bu Herlin akan mengajarimu cara berdandan." Bu Indah saling mengenalkan keduanya.


"Dandan? Saya kan jurusan tata boga," ucap Laila.


"Memangnya anak tata boga gak boleh dandan?" tanya Bu Herlin sambil tersenyum.


"Maaf ya say, dia memang terlalu polos kadang-kadang. Aku titipin dia di tangan kamu. Buat dia lebih modis," ucap Bu Indah.


Ternyata sudah lama Bu Indah memperhatikan Laila yang dinilai kurang modis. Penampilannya yang terlalu sederhana, kadang terlihat norak di mata Bu Indah. Laila yang masih menggunakan bedak bayi terlihat terlalu sederhana untuk ukuran remaja kelas dua SMK.


"Semoga nanti kamu betah ya selama belajar sama Ibu," ucap Bu Herlin.


"Kita mau belajar apa Bu?" tanya Laila.


"Nanti kita belajar make up dulu. Tapi itu nanti. Sekarang kita kenalan aja dulu," jawab Bu Herlin.


Beberapa pertanyaan dasar dikeluarkan Bu Herlin dan jawaban Laila memang polos. Sangat apa adanya sesuai dengan penampilannya. Sebenarnya Laila cantik. Meskipun dari kampung, namun setahun tinggal di Jakarta sudah membuat kulitnya jauh lebih bersih. Hanya saja, Laila belum bisa merawat diri layaknya teman-teman seusianya.


"Kamu suka warna apa?" tanya Bu Herlin.


"Apa aja sih saya suka, Bu." Laila menjawab dengan wajah yang cukup bingung.


"Coba sebutin satu aja," ucap Bu Herlin.


"Emmm, ungu sih kayaknya. Lucu ya Bu. Gemoy gitu kayak terong," jawab Laila.


Jawaban Laila membuat Bu Indah dan Bu Herlin menahan tawanya. Tapi melihat raut wajah Laila begitu santai dan seolah tidak ada yang lucu sama sekali. Sementara Bu Indah dan Bu Herlin cukup aneh mendengar jawaban Laila. Baru tahu kalau ada orang yang suka suatu warna hanya karena lucu melihat sayuran.


"Coba kalau seandainya warna ungu dipadukan, cocoknya sama warna apa?" tanya Bu Herlin.


"Ya kalau gak merah paling juga hitam Bu," jawab Laila.


"Merah atau hitam?" tanya Bu Herlin sambil mengernyit.


"Ya kan biasanya terong kalau dimasak itu menggoda pas dibalado. Merah-merah gimana gitu, Bu. Kalau gak ya dikecap. Jadi warnya hitam. Tapi mau dibalado atau di kecap sama-sama enak Bu. Apalagi kalau dimakannya pakai nasi anget," jawab Laila.


"Laila, Bu Herlin lagi ngajarin kamu soal penampilan. Kok kamu jadi bahas balado terong sih?" ucap Bu Indah.


"Oh, iya maaf Bu. Tapi tadi kan Bu Herlin nanyain warna kesuakaan. Eh malah inget terong. Jadi nyambung ke balado deh," jawab Laila.


"Gak apa-apa. Laila memang anak tata boga banget ya say," ucap Bu Herlin sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2