
Sudah dua hari Laila tidak bisa tidur nyenyak. Ada beban berat yang mengganggu hidupnya saat ini. Bagus yang tetap bersikap tenang, membuat Laila semakin takut. Apalagi saat ancaman laki-laki terus-terusan mengganggunya.
"Bu," panggil Bi Sumi.
Laila yang tengah melamun tiba-tiba terperanjat. Dengan wajah yang pucat Laila menoleh dan menatap Bi Sumi penuh tanya.
"Ibu baik-baik saja?" tanya Bi Sumi.
"Iya. Memangnya kenapa?" Laila balik bertanya.
"Tadi ada tamu cari, Ibu. Katanya teman dekat Ibu. Siapa?" tanya Bi Sumi.
Laki-laki? Teman dekat? Laila menatap Bi Sumi dengan tatapan panik. Dadanya berdegup kencang saat mendengar ucapan Bi Sumi. Ternyata saat Laila mengabaikan ancamannya, laki-laki itu justru semakin meyakinkan Laila bahwa ancamannya tidak main-main.
"Bu," panggil Bi Sumi.
Laila berusaha mengelak. Berusaha berbohong di depan Bi Sumi. Ia tidak mau semuanya menjadi kacau. Laila tengah memikirkan jalan keluarnya tanpa ingin ada yang tahu selain dirinya.
"Mas, aku harus gimana? Maaf ya kalau aku gak bisa cerita semua ini. Tapi aku berani bersumpah, gak ada perselingkuhan sama sekali. Aku sangat mencintaimu dan bakalan selalu setia sama kamu," gumam Laila.
Kepanikan Laila menjadi hiburan tersendiri bagi Winari dan suaminya. Mereka tertawa puas saat mendapat kabar bahwa Laila semakin tertekan dengan ancaman yang direncanakan Winari.
"Rasakan Laila. Itu belum seberapa. Aku bersumpah tidak akan membiarkanmu bahagia," ucap Winari.
"Jangan terlalu fokus pada Laila. Tujuan utama kita mendapat uang yang banyak," ucap suaminya mengingatkan.
Winari menatap suaminya sambil mengangguk. Sebisa mungkin ia berusaha menyembunyikan perasaan kesalnya. Ingin sekali Winari mengatakan bahwa kehadiran Laila dalam hidup Bagus membuat luka tersendiri baginya.
"Percepat semuanya. Aku sudah tidak sabar menunggu aroma uang yang begitu banyak," ucap suaminya.
"Sabar dong. Nikmati hiburan ini," ucap Winari.
"Hiburan? Ini soal uang dan tidak bisa dibuat main-main. Sudah terlalu beresiko," ucap suaminya.
"Kamu tenang aja. Semuanya akan berjalan dengan lancar," ucap Winari meyakinkan.
Karena suaminya yang terus menekan Winari, akhirnya Winari meminta orang suruhannya untuk mempercepat semuanya. Walaupun sebenarnya Winari masih sangat ingin melihat Laila tersiksa dengan ancaman itu.
"Siap. Akan segera saya laksanakan!" ucap laki-laki suruhan Winari.
__ADS_1
Dalam hitungan detik, laki-laki itu kembali menghubungi Laila. Melancarkan semua aksinya sesuai dengan keinginan Winari. Terdengar jelas isak tangis Laila di balik sambungan telepon. Namun semua itu tak ada artinya. Laki-laki yang tidak punya perasaan itu hanya melaksanakan tugasnya. Semua demi uang yang sudah dijanjikan Winari untuknya.
Telepon itu diterima Laila pagi-pagi saat ia baru saja membuka matanya. Mood yang hancur hari itu bagi wanita cantik yang tengah merasa gelisah. Tanpa ada kabar apapun dari Bagus, malam itu mobil Bagus terparkir tepat di depan rumah kontrakan Laila.
"Mas Bagus," ucap Laila.
Entah bahagia atau takut, kedatangan Bagus kali ini sebenarnya tidak diharapkan oleh Laila. Ketakutannya begitu besar saat melihat Bagus tersenyum sambil merentangkan tangannya. Dengan pikiran yang begitu kacau, Laila segera menghampiri suaminya. Memeluknya dengan erat.
"Kejutanku bikin kamu seneng gak?" tanya Bagus.
"Iya dong Mas, pasti. Aku seneng banget," jawab Laila.
Laila tidak terbiasa berbohong di hadapan Bagus. Kali ini wajahnya jelas terlihat begitu gelisah. Tentu hal itu begitu cepat diketahui oleh Bagus.
"Tapi kamu kelihatan gak seneng sama kehadiranku," ucap Bagus.
"Jangan gitu Mas. Kita ini baru ketemu. Masa mau berantem cuma karena ini," ucap Laila.
Tidak ingin menunjukkan wajah gelisahnya, Laila kembali memeluk Bagus. Merasakan hangatnya tubuh laki-laki itu. Satu-satunya laki-laki yang ia cintai dan tak mungkin dikhianati.
"Hasna sama Kayla mana?" tanya Bagus.
"Gak usah. Kita nginep di rumah aku aja yu!" ajak Bagus.
"Hasna sama Kayla?" tanya Laila.
"Ada Bi Sumi," jawab Bagus sambil mengedipkan matanya.
Kode yang membuat Laila geli. Hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya saat Bagus bisa bersikap genit padanya. Laki-laki yang menurutnya sangat serius tapi nyatanya sangat manis dan menyenangkan.
"Bi Sumi, titip Hasna sama Kay ya!" ucap Laila.
Bi Sumi mengangkat jempol tangannya pada Laila. Tersenyum penuh arti dan membuat Laila cemberut. Bi Sumi dibuat terkekeh dengan sikap Laila.
"Hati-hati ya Bu!" ucap Bi Sumi dengan nada menggoda Laila.
Laila hanya menunjukkan ekspresi datar saat mendapat ucapan dari Bi Sumi. Sedangkan Bagus tidak peduli sama sekali dengan ucapan asisten rumah tangganya itu. Ia hanya fokus dengan kerinduannya pada Laila. Wanita mungil yang sudah resmi menjadi istrinya.
"La, aku kangen banget." Bagus meraih tangan Laila dan mencium punggung tangannya.
__ADS_1
"Aku juga sama Mas. Tapi hati-hati ya! Mas lagi nyetir loh ini," ucap Laila mengingatkan.
Saat mobil terparkir di depan rumah Bagus, dengan cepat Bagus mengajak Laila masuk. Dengan tubuh yang masih lengket dengan keringat, Bagus terus mendekap Laila penuh kasih. Sentuhan kecil di daerah tertentu membuat Laila sejenak melupakan masalahnya.
Sikap Bagus yang begitu manis saat memperlakukannya membuat Laila kehilangan fokusnya. Bahkan saat Bagus menarik Laila ke kamar mandi pun, tubuh kecil itu hanya mengikuti langkah Bagus.
"Mas jangan di sini. Di kamar aja," ucap Laila dengan nada tersenggal.
"Ini juga di kamar," jawab Bagus berbisik tepat di telinga Laila.
Napas Bagus membuat darah Laila berdesir. Angannya melayang. Mengingat kenikmatan yang sempat ia rasakan beberapa waktu lalu.
"Mas, maksudnya di kasur. Jangan di kamar mandi," ucap Laila dengan napas yang sudah mulai berat.
"Tapi aku belum mandi," ucap Bagus.
"Mas mandi dulu. Aku tunggu di kamar ya!" ucap Laila.
"Mandi bareng yu!" ajak Bagus.
"Dingin Mas. Aku udah mandi tadi," ucap Laila.
Bagus cemberut saat Laila menolaknya. Tapi Bagus sangat mengerti. Ini sudah malam. Mungkin jika bukan karena baru selesai perjalanan, Bagus juga tidak akan mandi semalam itu.
Beruntung Laila adalah istri yang sangat pengertian. Ia memanjakan Bagus dengan pakaian dinas yang begitu menggoda. Hingga saat Bagus keluar dari kamar mandi, handuk yang melingkar di pinggangnya dilempar begitu saja.
"Are you ready honey?" ucap Bagus yang mengurung Laila dalam pelukannya.
Laila memang tidak bisa bahasa inggris. Namun pertanyaan dasar seperti itu bisa dengan mudah dimengerti olehnya. Karena tangan Bagus bermain dengan begitu cekatan, Laila hanya mengangguk sambil tersenyum.
Lagi. Hal itu kembali terulang. Kewajiban Laila untuk melayani Bagus dilakukan dengan baik. Malam sunyi itu tak berlaku di rumah Bagus. Deru napas dua orang yang tengah dimabuk asmara itu membuat suasana sedikit berisik.
Merasa ingin puas dengan malam itu, Bagus mengajak Laila berkeliling di rumahnya. Memberikan kenangan di setiap sudut rumahnya. Beberapa tempat berhasil membuat Laila nyaris kewalahan. Namun akhirnya mereka bisa mengakhiri semuanya bersamaan.
"Terima kasih, La." Bagus mengecup dahi Laila.
"Sama-sama Mas," ucap Laila dengan tubuh tak berdaya.
Bagus senang saat melihat Laila kembali menjadi Laila yang dikenalnya. Apa yang dilakukan Bagus malam ini pun membuat Laila sejenak melupakan masalahnya. Kejantanan Bagus menjadi obat tidur untuk Laila malam ini. Selain Laila kirang tidur, Bagus juga berhasil menguras energi Laila malam ini.
__ADS_1
Dalam tidur nyenyaknya, Laila tidak menyadari jika ada sepasang mata yang tengah menatapnya penuh kasih sayang. Belaian lembut di kepala Laila membuat wanita itu semakin terlelap. Pergi jauh dalam mimpi indahnya setelah melewati malam penuh bahagia.