Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Kejutan?


__ADS_3

"Kalau ibu masih ada, pasti ibu kecewa lihat kamu gini. Bener-bener gak tahu diri nih anak," ucap Deri.


Mendengar kata ibu, tiba-tiba Laila berlinang air mata. Ya, apa yang ia lakukan sekarang adalah pertama kalinya. Selama Bu Rini ada, Laila tidak berani membentak dan melawan Deri. Namun tangan Bu Herlin segera menekan tombol merah di ponsel Laila. Panggilan itu sudah berakhir.


"Bu, kok dimatiin?" tanya Laila.


"Buat apa? Biar kamu lembek lagi? Nangis-nangis lagi di depan si Darderdor itu?" ucap Bu Herlin.


"Namanya Bang Deri Bu," ucap Laila.


"Iya. Siapalah itu. Yang penting ibu gak suka lihat kamu nangis cuma gara dia," ucap Bu Herlin.


"Tapi selama ini saya memang belum pernah melawan Bang Deri, Bu. Ibu saya selalu bilang kalau lebih baik mengalah dari pada harus ribut sama dia," ucap Laila.


"Mau sampai kapan kamu ditindas begitu? Kalau dia mau duit ya baik-baik. Kamu itu bukan sapi perah yang bisa dimanfaatkan seenakny. Ingat ya Laila, sikap orang sama kamu itu tergantung bagaimana kamu menyikapi mereka." Bu Herlin terus memberi pengertian pada Laila.


Baru mendengar beberapa penggalan cerita Laila dan Deri sudah membuat Bu Herlin sangat geram. Rasanya ingin ikut memberi pelajaran pada laki-laki yang tak tahu diri itu. Perlahan, namun Bu Herlin berhasil membuat Laila yakin untuk mengambil sikap tegas pada Deri.


"Tuh dia nelepon lagi. Ingat ya! Harus tegas," ucap Bu Herlin.


Laila menarik napas panjang. Mempersiapkan kalimat yang akan diucapkan untuk Deri. Meskipun ragu, akhirnya Laila memberanikan diri untuk menjawab panggilan Deri.


"Apa lagi sih Bang?" tanya Laila dengan nada tinggi.


Nampak Laila mengepalkan tangannya saat Deri memakinya habis-habisan. Dengan sabar Laila bersikap tenang dan memberi kesempatan Deri untuk memakinya sepuasnya.


"Le, halo, halo," ucap Deri.


"Udah Bang? Cukup? Giliran aku yang mau ngomong," ucap Laila.


"Ngomong apa lagi? Gak usah banyak ngomong. Kamu transfer aja. Urusan kita selesai," jawab Deri.


"Abang bilang aku numpang? Aku hidup sama ibuku. Meskipun kata Abang aku bukan anak kandung Bapak, aku gak peduli. Abang udah ngusir aku dari rumah, aku turutin. Tapi kalau Abang mau duit dari aku? Jangan pernah mimpi Bang," ucap Laila.


"Kurang ajar. Anak gak tahu terima kasih," ucap Deri geram.


"Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Udah cukup?" tanya Laila.


"Sekolah tinggi-tinggi tapi kok gak pinter. Duit. Kirim duit. Kalau cuma bilang terima kasih aja sih anak kucing juga bisa," ucap Deri.


"Ya udah sono ngomong sama anak kucing," ucap Laila.


"Dasar anak haram," maki Deri.


Laila merasa dadanya berdebar cepat. Jantung memompa darah terlalu cepat hingga wajah Laila sudah memerah menahan amarahnya. Sebentar ia melihat ke arah Bu Herlin. Malu rasanya saat ia dimaki seperti itu di depan Bu Herlin.

__ADS_1


Panggilan suara yang di loudspeaker membuat Bu Herlin bisa mendengar jelas obrolan Laila dengan Deri. Melalui sebuah isyarat, Bu Herlin memberi komando agar Laila tetap bertahan dan membalas ucapan Deri.


"Anak haram? Kalau aku anak haram, setidaknya aku bisa bermanfaat buat ibu. Aku pernah bantu ibu cari uang dan mengurus ibu saat sakit. Abang yang anak suci udah ngasih apa? Cuma ngasih beban dan penyakit," ucap Laila.


"Heh, jaga mulut kamu Lele. Kamu bahkan datang gak lama sebelum ibu meninggal. Jadi mana yang katanya ngurus ibu? Bahkan sekarang kamu cuma setahun sekali ke makam ibu. Nanti lama-lama kamu lupa dan gak bakalan ke makam ibu lagi," ucap Deri.


"Gak setiap aku ke makam harus laporan sama Abang kan? Lagi pula setiap hari aku gak pernah absen buat doain Ibu. Abang berapa bulan sekali? Atau jangan-jangan gak pernah doain ibu," ucap Laila.


"Gak usah banyak omong Le. Kirim duit atau aku yang datengin kamu ke Jakarta? Biar kamu dibuang sama orang kaya itu. Aku gak sabar lihat kamu jadi gembel," ucap Deri.


"Bodo amat Bang. Kalau punya duit sih mending ke Jakarta sini. Eh tapi orang kere sama males modelan Abang sih mana mungkin punya ongkos buat ke Jakarta? Rokok sama kopi aja masih malak sama aku," ucap Laila.


Deri memaki Laila lebih kasar. Awalnya dengan sabar Laila mendengarkan ocehan Deri. Lama semakin lama, Laila semakin kesal dengan ucapan Deri. Laila sampai dikatai agar tidak mendapat suami seumur hidupnya.


"Heh Bang, kalau saja di dunia ini modelan suami cuma kayak Abang, aku sih rela gak dapet suami seumur hidup. Tapi aku bakal buktiin ke Abang. Aku bakalan hidup bahagia sama suami aku yang ganteng dan tajir melintir. Dan yang paling penting gak nyusahin kayak Abang," ucap Laila.


Tanpa pamit Laila mengakhiri panggilan itu dengan cepat. Ia tidak mau berdebat terlalu lama dengan Deri. Sampai kapanpun, Deri tidak akan berubah. Deri adalah Deri. Manusia yang tak punya hati untuk Laila.


"Bagus Laila. Itu yang harus kamu lakukan," ucap Bu Herlin.


Sebenarnya Bu Herlin tidak membenarkan Laila untuk bersikap sombong dan angkuh. Namun di beberapa momen, saat bertemu dengan orang tertentu maka kesombongan dan keangkuhan kadang diperlukan. Tentu semua karena tidak ada yang bisa menginjaknya sembarangan.


"Terima kasih ya, Bu. Semoga saya bisa jadi lebih baik," ucap Laila.


"La, ibu yakin kamu anak yang kuat. Masalah begini sih kecil. Jangan pernah rusak dirimu hanya untuk memikirkan apa yang tidak pantas kamu pikirkan," ucap Bu Herlin.


Meskipun tidak mempunyai suami, Bu Herlin sudah berhasil memberangkatkan orang tuanya untuk naik haji. Rumah dan kendaraan pun tentu disediakan Bu Herlin untuk memanjakan kedua orang tuanya. Laila yakin apa yang menjadi pilihan Bu Herlin pasti ada dasar yang kuat.


"La, kamu harus menikah. Kamu hanya hidup sendiri dan gak ada beban. Kamu cuma harus pikirin kebahagiaan kamu sendiri," ucap Bu Herlin.


"Saya punya dua keponakan, Bu. Kalaupun doa Bang Deri diijabah, seenggaknya saya udah punya dua anak sekaligus. Kalau urusan menikah sih masih jauh di pikiran saya," ucap Laila.


"Anak abangmu itu?" tanya Bu Herlin.


"Iya, Bu." Laila menjawab sambil mengangguk.


"Kamu masih peduli sama mereka? Bapaknya aja udah ngehina kamu abis-abisan," ucap Bu Herlin.


"Saya gak lihat bapaknya. Saya inget kenangan sama mereka. Saya inget gimana ibunya mereka sayang banget sama saya. Dulu saya waktu di kampung di urus sama Kak Yanti. Jadi kebencian saya sama Bang Deri gak akan mengubah perasaan saya sama mereka," ucap Laila.


Bu Herlin tersenyum. Sebenarnya ucapan Bu Herlin hanya memancing Laila saja. Ingin tahu karakter Laila yang sebenarnya. Dengan jawaban Laila, Bu Herlin yakin jika Laila memang orang baik dan punya jiwa pemimpin. Keyakinannya semakin kuat jika suatu saat nanti Laila akan menjadi orang hebat.


"Kamu mau gak nginep di rumah ibu?" tanya Bu Herlin.


"Saya tanya Bu Indah dulu ya Bu boleh apa gak," jawab Laila.

__ADS_1


"Memangnya Bu Indah ngelarang kamu buat keluar rumah ya?" tanya Bu Herlin.


"Oh bukan gitu. Bu Indah gak pernah ngelarang saya kok. Saya bebas kemana aja asal bilang. Biar gak khawatir mungkin," jawab Laila.


"La, ibu kan udah ajarin banyak hal sama kamu. Kalau misalnya ibu minta kamu jadi anak ibu aja gimana? Ibu bisa kok bayarin semua uang sekolah sama kebutuhan kamu," ucap Bu Herlin.


Laila bingung. Kenapa Bu Herlin jadi seperti ini?


"Duh maaf ya Bu sebelumnya. Saya tahu ibu ini baik, sama baiknya seperti Bu Indah. Saya juga belajar banyak hal dari Ibu. Tapi kalau bukan karena Bu Indah, saya gak mungkin kenal sama Ibu." Laila berusaha menolak dengan sangat halus.


"Ibu bisa ngasih kamu fasilitas yang jauh lebih baik dari yang Bu Indah kasih," bujuk Bu Herlin.


"Wah, buat saya apa yang diberikan Bu Indah sudah lebih dari cukup. Tanpa mengurangi rasa hormat saya ke Ibu, saya mohon maaf. Saya akan tetap sama Bu Indah selama Bu Indah masih sayang dan nerima saya," ucap Laila.


Bu Herlin mengangguk.


"Oke," ucap Bu Herlin.


Selama itu hening. Perjalanan panjang menuju rumah Bu Indah tanpa percakapan apapun. Laila terlihat gelisah saat melihat Bu Herlin langsung berubah sikap.


"Bu, marah ya sama saya? Apa saya sudah menyakiti Ibu? Saya minta maaf ya," ucap Laila.


"Kamu berhak memilih jawaban sesuai dengan apa yang kamu pikirkan dan inginkan. Kamu lihat saja nanti. Ada kejutan buat kamu. Terima kasih buat jawaban kamu hari ini. Sekarang silahkan turun dan istirahat," ucap Bu Herlin.


"Kejutan?" tanya Laila panik.


"Silahkan turun. Ibu buru-buru. Ada urusan yang harus diselesaikan segera," ucap Bu Herlin.


"Oh iya. Terima kasih banyak untuk hari ini. Terima kasih banyak untuk semua ilmu dan pembelajaran yang Ibu berikan," ucap Laila.


"Sama-sama," ucap Bu Herlin singkat.


Setelah Laila turun, Bu Herlin kembali menancap gas. Meninggalkan Laila yang masih berdiri menatap mobil yang semakin hilang dari pandangannya.


"Bu Herlin marah ya sama aku? Kejutan apa ya? Apa jangan-jangan aku diaduin sama Bu Indah? Tapi aku kan jawab apa adanya. Aku gak salah jawab kan? Masa iya aku harus pindah jadi anak Bu Herlin?" gumam Laila.


"La, ngapain di situ? Ayo masuk!" ajak security.


"Eh iya," jawab Laila.


Laila segera masuk dan masuk ke kamar. Bi Yani memintanya untuk makan, tapi perutnya masih kenyang. Lagi pula selera makannya hilang saat memikirkan kejutan apa yang akan diberikan Bu Herlin padanya.


"Bukannya apa-apa nih. Aku baru kelas dua. Kalau sampai Bu Indah ngusir aku, gimana sekolahku? Munadzir dong hampir dua tahum belajar di sekolah mahal?" ucap Laila sambil membanting tasnya ke atas ranjang.


Tanpa membuka seragam, Laila segera menyusul tasnya untuk ikut berbaring di atas ranjang. Berbantalkan kedua tangannya yang dilipat ke belakang, Laila membayangkan masa depannya.

__ADS_1


Bayangan kedua keponakannya menghiasi kepalanya. Betapa berat beban untuknya saat harus meyakinkan dirinya sendiri agar bisa mengurus dan merawat kedua keponakannya itu. Membantu Yanti seperti Yanti membantunya dulu.


__ADS_2