Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Tak sepi lagi


__ADS_3

Yanti tidak mau terkesan songong dan memanfaatkan Bu Indah. Bagaimanapun, tujuan Yanti ke Jakarta untuk memperbaiki hidup. Tapi bukan berarti harus hidup dengan belas kasihan orang lain. Yanti akan berusaha berdiri di kakinya sendiri semampunya.


"Dadaaaaah," ucap Kayla sambil melambaikan tangan dengan wajah ceria.


Bu Indah dan Laila membalas lambaian tangan itu. Mobil kembali melaju setelah memastikan Yanti dan kedua anaknya kembali ke kosannya. Pertemuan pertamanya dengan Yanti memberi kesan yang sangat baik. Pribadi dan semangat Yanti sama seperti Laila. Padahal beban dan tekanan yang dialami Yanti tidak mudah.


"La, jangan lupa istirahat ya. Besok Nak Bagus mau ketemu," ucap Bu Indah saat mereka sudah sampai ke rumah.


"Siap, Bu. Pak Bagus mau ke sini besok?" tanya Laila.


"Belum tahu. Katanya besok dikabari lagi," jawab Bu Indah.


"Oh, iya siap Bu. Selamat istirahat, Bu. Terima kasih buat hari ini," ucap Laila.


"Sama-sama," jawab Bu Indah sambil tersenyum.


Terima kasih? Justru sebenarnya Bu Indah yang berterima kasih. Kebersamaan siang tadi membuat Bu Indah merasa punya keluarga. Cara Yanti dan Laila memperlakukannya benar-benar membuat Bu Indah merasa bahagia.


"Aku harus cari cara biar Yanti bisa tinggal di rumah ini," gumam Bu Indah.


Selepas mandi, Bu Indah berbaring di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Kepalanya tengah memutar memory siang tadi. Penuh keceriaan sehingga membuat bibir Bu Indah tersungging begitu saja.


"Selamat tidur kalian," ucap Bu Indah.


Tak lama, Bu Indah terlelap. Ia bangun pagi dan berencana mengajak Laila ke rumah Yanti pagi ini. Sepertinya Bu Indah tidak bisa menguasai kerinduannya pada keramaian bersama Yanti dan kedua anaknya.


"La, Laila," panggil Bu Indah sambil menggedor pintu kamar Laila.


"Bu," sapa Laila.


Bu Indah membalikkan tubuhnya. Suara Laila terdengar dari belakang. Artinya Laila tidak berada di kamar.


"Kamu dari mana?" tanya Bu Indah.


"Abis jalan-jalan aja Bu. Menghirup udara segar," jawab Laila.


"Jalan-jalan kemana? Kok gak ngajak-ngajak sih?" tanya Bu Indah sambil cemberut.


"Itu Bu, dari belakang. Rumah Ibu kan udah kayak taman bunga. Jadi keliling di halaman aja udah berasa piknik," jawab Laila.


Bu Indah menggelengkan kepalanya. Ya, di belakang rumahnya Bu Indah memang sengaja membuatnya seperti taman. Tempat ia dan anaknya bersama saat mereka bercerita tentang banyak hal. Namun kini halaman itu menjadi kenangan pahit bagi Bu Indah.


Semenjak kejadian itu, Bu Indah sudah tidak pernah mau perg ke area halaman belakang. Bahkan sampai saat ini ia tidak tahu tempatnya seperti apa. Ia sudah menyerahkan semuanya pada pekerjanya. Tidak tahu dibuat seperti apa yang pasti menurut Laila halaman belakang itu masih terlihat indah.


"Bu, maaf. Ada telepon," ucap Bi Yani.


Bu Indah menerima telepon itu dan bicara. Ternyata Bagus mengabarinya jika pagi ini, ia dan Winari akan ke rumah Bu Indah. Semua rencana orderan kue akan dibahas lebih detil hari ini.


"Mandi terus dandan. Bagus sama calonnya mau ke sini," ucap Bu Indah.


Rencana Bu Indah untuk mengajak Laila jalan pagi sambil melepas rindu pada Yanti dan kedua anaknya gagal. Kini ia hanya pasrah saat melihat Bagus datang dan membahas kue pesanannya. Padahal seandainya bukan untuk masa depan Laila, Bu indah pasti sudah marah besar.


Bu Indah kembali ke kamar dan memainkan ponselnya. Menghabiskan waktunya dengan menonton video youtube tentang pola hidup sehat sambil menunggu kedatangan Bagus ke rumahnya. Tontonan itu selesai saat Laila mengetuk pintu kamarnya. Mengabari jika Bagus dan Winari sudah datang.


"Kamu cantik," puji Bu Indah saat melihat Laila sudah tampil cantik.

__ADS_1


"Ah, Ibu bisa aja bikin saya terbang melayang-layang ah." Laila tersipu malu saat mendapat pujian dari Bu Indah.


Bu Indah menggandeng Laila yang wajahnya sudah memerah. Dengan lembut Bu Indah menepuk kursi di sebelahnya. Memberi kode agar Laila bisa duduk tepat di sampingnya.


Basa-basi pun dimulai. Terlihat Bagus dan Bu Indah mengobrol sangat hangat. Sementara Laila dan Winari hanya memperhatikan saja. Sesekali pandangan mereka beradu dan saling melempar senyum. Sampai akhirnya Bagus memulai bahasan tentang orderan kue itu.


"Apa? Kok bisa nambahnya dadakan sih, Pak?" tanya Laila terkejut.


"Kamu gak sanggup?" Bagus balik bertanya.


Laila nampak menelan salivanya dengan kasar saat mendengar skak dari Bagus. Ya, sebagai seseorang yang berhasil membujuk Bagus hingga kembali melanjutkan rencana pernikahan, rasanya Laila tidak pantas untuk menolak. Hanya saja menurut Laila ini terlalu mendadak. Bagaimana mungkin pesanan ditambah hampir dua kali lipat hanya dalam waktu sepuluh hari lagi.


"Jadi gimana?" tanya Bagus lagi.


"Deal," jawab Bu Indah.


Jawaban Bu Indah membuat Laila semakin terkejut. Apalagi saat melihat Bagus dan Bu Indah sudah bersalaman. Tanda jika kerja sama itu sudah deal tanpa ia mengiyakan atau menolak. Namun setelah Bagus dan Winari pulang, Bu Indah mengingatkan Laila jika ada Yanti yang bisa membantunya.


"Dia bisa masak, kan?" tanya Bu Indah.


"Bisa sih Bu, tapi kalau resep belum kayak buatan ibu saya dulu," jawab Laila.


"Kan resep bisa kamu buatin. Di sini juga ada banyak yang bisa bantu kamu. Jangan khawatir," ucap Bu Indah.


Benar! Apa yang dikatakan Bu Indah memang benar adanya. Ia hanya perlu membuat adonan. Namun yang dimaksud membantu itu siapa? Bi Yani? Atau para pekerja yang lain? Membuat kue tidak semudah menyapu dan mengepel yang bisa dilakukan oleh hampir semua orang.


"Apa aku sama Kak Yanti bisa ngerjain semuanya berdua?" gumam Laila.


Laila segera menghubungi Yanti. Awalnya Yanti ragu karena ia punya dua anak. Takut mengganggu saat proses membuat kue. Namun setelah Laila memohon, akhirnya Yanti setuju. Urusan Hasna bisa dibantu oleh Kayla.


"Siap, La." Yanti terdengar begitu bersemangat.


Hari ini Laila sibuk dengan buku dan pulpen. Dicatatnya beberapa kebutuhan bahan yang harus disiapkan. Waktu sepuluh hari bukan waktu yang lama. Beruntung ini hari libur. Laila bisa fokus mengerjakan kue itu dari pagi hingga malam.


"Ah, pegel. Besok siap belanja," ucap Laila sambil menutup bukunya.


Pagi sekali Laila sudah keluar rumah. Dengan diantar sopir, Laila pergi membeli semua bahan kebutuhannya. Setelah selesai, Laila menjemput Yanti ke kosannya.


"Udah siap, Kak?" tanya Laila.


"Siap," jawab Yanti.


Seperti kesepakatan, Yanti akan menginap di rumah Bu Indah selama orderan kue itu belum selesai. Satu tas besar berisi beberapa pakaian ganti untuk Yanti dan kedua anaknya sudah disiapkan.


"Ya ampun, udah kayak yang diusir dari rumah mertua aja." Laila tertawa melihat Yanti menggendong Hasna dan menenteng tas besar itu.


"Malah ngetawain. Nih bantuin," ucap Yanti sambil menyerahkan tas besar itu.


Laila mengambil alih tas besar itu namun tawanya belum berhenti. Sampai akhirnya Laila hampir terjatuh karena tersandung. Kini gantian, Yanti yang terkekeh melihat Laila yng nyaris terjungkal.


Sopir yang mengantar segera membantu Laila dan membawa tas besar itu. Bibirnya tersenyum saat melihat keakraban keduanya. Wajah mereka memang berbeda. Setahunya, Yanti dan Laila juga tidak mempunyai hubungan darah apapun. Namun keduanya nampak sangat akrab dan kompak.


"Kemana lagi sekarang, La?" tanya sopir.


"Langsung pulang aja, Mang." Laila menjawab dengan ramah.

__ADS_1


Mobil kembali melaju menuju rumah Bu Indah. Namun saat baru saja sampai di parkiran, Laila melihat sebuah mobil yang tak asing sudah terparkir di sana.


"Itu mobilnya Pak Bagus kan, Mang?" tanya Laila.


"Kayaknya sih iya, La. Udah sana cepetan turun," ucap sopir.


Laila segera turun dan menemui Bagus. Pikirannya gelisah. Takut kalau seandainya orderan kue itu dibatalkan begitu saja. Padahal Laila sudah belanja bahan yang sangat banyak.


"Tuh, Lailanya datang." Bu Indah menunjuk ke arah Laila saat Laila baru saja masuk.


"Ada apa? Orderannya gak dibatalin kan? Soalnya saya udah belanja bahannya banyak banget, Pak." Laila terlihat cemas.


"Dih, siapa yang batalin?" tanya Bagus.


"Mau ditambahin lagi?" tebak Laila.


"Gak," jawab Bagus.


"Terus?" tanya Laila.


"Kamu bisa gak duduk dulu?" Bagus menatap Laila kesal.


"Oh iya siap, Pak." Laila segera duduk.


Ternyata kedatangan Bagus ke rumah Bu Indah untuk menentukan hiasan kue pengantin yang belum sempat terbahas kemarin. Sayangnya, Bagus masih bingung dengan kue pengantinnya. Gaya kue seperti apa yang akan digunakan untuk pesta pernikahannya nanti.


"Saya punya beberapa gambar, Pak. Kalau Bapak berkenan, Bapak boleh lihat gambar-gambarnya. Siapa tahu ada yang cocok," ucap Laila.


"Boleh," jawab Bagus ragu.


Bagus bahkan sudah mencari beberapa referensi namun tidak ada yang cocok dengannya. Setelah melihat gambar yang sudah Laila edit, tiba-tiba Bagus tersenyum.


"Yang ini aja," ucap Bagus menunjuk salah satu foto di ponsel Laila.


"Kalau yang itu saya edit, Pak. Saya tempel gambar yang satu sama yang satunya lagi," ucap Laila.


"Aku gak peduli. Yang pasti aku mau hasilnya persis begini," ucap Bagus.


"Oke siap, laksanakan. Saya akan buat semaksimal mungkin," ucap Laila.


Bagus pun pulang saat diskusi dengan Laila sudah menemukan titik akhir. Sebuah kesimpulan sudah diambil. Kini semua kembali pada Laila yang akan mengerjakan tugas itu dengan baik.


"Aduh, Kak Yanti dimana ya?" tanya Laila.


Laila baru menyadari jika ia meninggalkan Yanti dan kedua keponakannya di mobil. Melihat mobil Bagus, Laila spontan pergi tanpa ingat Yanti. Namun setelah Laila mencari Yanti, nampak Yanti dan kedua anaknya tengah bercerita dengan Bu Indah. Mungkin saat Laila sibuk dengan Bagus, Bu Indah pergi untuk menemui Yanti.


"Gimana? Udah beres?" tanya Bu Indah saat melihat Laila menghampirinya.


"Udah deal Bu. Aman," jawab Laila sambil memeluk Hasna yang sedang duduk bermain boneka.


"Lala," ucap Hasna.


"Iya," jawab Laila sambil memeluk Hasna dengan sangat gemas.


Rumah Bu Indah kini tak sepi lagi. Terdengar suara Hasna yang tertawa nyaring karena Laila yang menggelitikinya. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan Kayla tentang rumah mewah yang sedang ditempatinya.

__ADS_1


__ADS_2