Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Tunggakan


__ADS_3

Sesekali Yanti melamun. Memikirkan kondisi Hasna yang sedang mengalami luka robek di kepalanya. Beruntung ada pelanggan yang membuat Yanti tidak berlarut dalam lamunannya.


Hari ini Yanti membungkus beberapa pakaian yang sudah masuk list pesanan. Ia juga mengirim dulu pesanan ke ekspedisi seperti yang biasa dilakukannya hampir setiap hari.


"Wah mba, orderannya ramai terus ya!" ucap salah satu pegawai ekspedisi.


"Alhamdulilah ada aja rejekinya," ucap Yanti.


Mereka sudah sering bertemu. Sering menyapa dan sedikit bercerita disela pengiriman itu. Namun sampai saat ini, Yanti tidak tahu siapa nama laki-laki itu. Tidak ada niat sama sekali untuk menanyakan namanya. Meskipun Yanti diperlakukan tidak baik oleh suaminya, todak sedikitpun Yanti mencoba berpaling dari Deri.


"Mba, ini buat mba." Laki-laki itu menyerahkan sebuah goodiebag pada Yanti.


"Wah, apa ini? Lebaran masih lama kok udah ngasih THR aja sih mas," ucap Yanti senang.


Tanpa berpikir buruk, Yanti menerimanya dengan senang hati. Pikirannya, hadiah itu adalah penghargaan untuknya karena sering menggunakan jasa ekspedisi di sana. Sementara laki-laki itu berpikir Yanti mulai memberi sinyal padanya.


"Semoga mbanya suka ya," ucap laki-laki itu.


"Pasti suka dong mas. Namanya hadiah masa gak suka sih," jawab Yanti.


Yanti pamit setelah urusannya sudah selesai. Di jalan, Yanti tidak mampir ke warung karena sudah ada oleh-oleh yang diberikan pegawai ekspedisi itu.


"Hasnaaaa," panggil Yanti.


"Kamu jangan teriak-teriak kenapa sih? Ini bukan di hutan," ucap Deri sambil membulatkan bola matanya.


"Hasna mana?" tanya Yanti tanpa menghiraukan ucapan Deri yang menyebalkan.


"Tidur. Makanya jangan berisik," jawab Deri.


Yanti berjalan pelan ke kamar. Matanya berlinang saat melihat Hasna tidur memeluk boneka pokemon kesukaannya. Ia melihat goodiebag yang dibawanya. Bibirnya tersenyum miris.


Biasanya Yanti selalu mendapat teriakan Hasna dan Kayla yang ceria saat pulang kerja. Jajanan yang dibawanya selalu diburu oleh kedua anaknya. Tapi sekarang? Bahkan apa yang dibawanya tidak berguna sama sekali. Tidak ada yang memburu oleh-oleh itu.

__ADS_1


Eh, tidak, tidak. Pada kenyataannya Deri lah yang memburu oleh-oleh di tangan Yanti. Saat melihat bakpia, Deri justru menuduh Yanti selingkuh.


"Apaan sih Bang?" tanya Yanti kesal.


"Pacar kamu dari Jogja ya? Abis liburan ya?" tuduh Deri.


"Astagfirulloh," ucap Yanti sambil menggelengkan kepala atas tuduhan suaminya.


Setelah puas menuduh dan memaki Yanti berselingkuh, akhirnya bakpia itu dilahap juga. Bahkan Deri hanya menyisakan satu box untuk kedua anaknya.


"La, kamu dari mana saja?" tanya Yanti yang baru bertemu dengan Laila.


"Masukin foto-foto barang baru," jawab Laila sambil berbisik.


Yanti memberikan jempol atas jawaban Laila. Rasa kesalnya terobati oleh sikap Laila yang begitu hangat. Semangatnya membuat Yanti yakin jika Laila memang berbeda dengan Deri. Hal itu membuat Yanti semakin giat menyusun strategi agar Laila bisa lulus hingga SMA.


Setelah barang baru diuopload, Laila semakin semangat karena pesanan kian meningkat. Laila terus semangat mencatat pesanan demi pesanan yang masuk. Hal itu tentu membuat rekening terus terisi. Peningkatannya semakin pesat karena beragamnya barang yang ditawarkan. Keramahan Laila dalam melayani konsumen juga menjadi daya jual tersendiri.


"Nanti setelah ujiannya lulus, kamu boleh bantu kakak lagi ya. Sekarang fokus dulu sama ujiannya," ucap Yanti.


Laila membuktikan kepercayaan Yanti. Setiap hari ia belajar. Sampai saat ujian tiba, Laila bisa mengerjakan sebagian besar soal-soal itu. Meskipun nilainya belum keluar, namun Laila cukup percaya diri.


"Kenapa belum tidur?" tanya Yanti saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Saat itu Yanti keluar dari kamarnya untuk ke kamar mandi. Nampak Laila yang masih duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Mendengar pertanyaan Yanti, Laila segera melihat ke arah sumber suara.


"Belum ngantuk Kak," jawab Laila.


"Bukannya besok masih ada ujian?" tanya Yanti.


"Iya Kak. Sehari lagi," jawab Laila.


"Ya sudah kamu tidur dong. Biar besok gak ngantuk pas ujian," ucap Yanti.

__ADS_1


"Iya sebentar lagi aku tidur kak," ucap Laila.


"Ya sudah kalau gitu kakak ke kamar lagi ya!" ucap Yanti.


"Iya," jawab Laila.


Pandangan Laila mengikuti kemana langkah kaki Yanti hingga akhirnya tubuh Yanti hilang dari pandangannya. Laila menjatuhkan kepalanya ke kursi berkali-kali.


"Aduh, gimana ini? Masa harus bilang sama Kak Yanti?" gumam Laila.


Besok adalah hari terakhir ujian. Dimana semua siswa mengakhiri kepusingannya dengan soal-soal yang berbaris cukup banyak. Setelah itu, mereka bersiap untuk mengganti rasa pusing itu dengan studytour.


Sebenarnya Laila senang jika bisa ikut main bersama teman-temannya. Tapi apa daya keuangannya yang tidak mendukung. Laila harus menyiapkan banyak uang yang menurutnya tidak begitu penting.


Sayangnya saat Laila memilih untuk tidak ikut pun, Laila tetap harus membayar setengah dari biaya studytour itu. Biayanya cukup mahal. Laila bingung mau minta uang ke siapa. Ibunya pasti tidak ada uang sebanyak itu. Uang yang dikumpulkan dari hasil jasa membuat kue tidak seberapa. Lagi pula ibunya tidak setiap hari bekerja.


Deri? Ah, kakaknya itu sudah pasti tidak ada dalam daftar pikiran Laila. Satu-satunya yang bisa diandalkannya adalah Yanti. Namun ia tidak berani meminta uang pada kakak iparnya itu. Setiap hari uang jajan yang ia bawa adalah pemberian Yanti.


Setiap minggu Yanti juga memberi uang lebih. Katanya sebagai tanda terima kasih karena Laila sudah membantu usaha onlinenya. Tapi sudah Laila gunakan untuk biaya ujian praktek minggu lalu.


Sebenarnya uang hasil jualan online untungnya sudah lumayan. Bisa saja kalau Laila minta untuk biaya studytour. Tapi Laila bingung cara menyampaikannya pada Yanti. Karena yang Laila tahu, Yanti bukan pelit. Yanti mengumpulkan uang itu untuk persiapan biaya masuk SMA Laila juga nantinya.


"Duh, gimana ya ngomongnya?" gumam Laila entah yang keberapa kalinya.


Laila menunggu Yanti keluar lagi dari kamar. Tapi sayangnya Yanti tak kunjung keluar. Akhirnya Laila memutuskan untuk tidur. Ya meskipun sulit sekali untuk bisa tidur nyenyak. Ia hanya bisa merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya.


Mungkin pihak sekolah bisa mengerti keadaanku. Aku bayar seadanya dulu. Biar nanti aku kumpulkan lagi uangnya. Jadi Kak Yanti gak perlu tahu ada biaya ini. Tenang Laila, tidur aja. Semua akan baik-baik saja.


Pagi-pagi Yanti sudah menunggu Laila di meja makan. Tanpa diduga, Yanti memberikan uang secara diam-diam. Laila membuka mulutnya untuk bertanya tentang uang yang diterimanya. Namun Yanti memberi kode agar diam.


Laila bahkan tidak tahu berapa uang yang ada di tangannya. Yang pasti Laila senang sekali. Paling tidak, Laila punya uang tambahan untuk cicilan studytour. Senyum Laila mengembang lebar saat menyalami Yanti.


"Tunggakanku akhirnya bisa berkurang," gumam Laila.

__ADS_1


__ADS_2