Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Diundur


__ADS_3

Bu Herlin membuka toko kue yang sudah lama terkunci rapat. Di dalamnya sudah banyak sekali sarang laba-laba. Sangat kotor dan berantakan.


"Dulu toko ini sangat ramai. Gak begini," ucap Bu Herlin sedih.


"Nanti juga pasti ramai lagi," ucap Laila memberi semangat Bu Herlin.


Setelah melihat keadaan toko kuenya, Bu Herlin mengajak Laila segera pergi dengan alasan kotor dan membuatnya sesak. Padahal sesak it disebabkan karena masa lalu yang Bu Herlin lewati bersama toko itu.


"La, rencananya memang masih lama. Tapi apa boleh kalau kita menyusun rencana itu mulai sekarang?" tanya Bu Herlin.


"Oh, iya. Tentu boleh Bu. Saya justru seneng banget. Bagaimanapun itu adalah impian terbesar saya," ucap Laila.


Dengan sangat senang, Bu Herlin membawa Laila ke rumahnya. Mereka membahas semua rencana yang membuat Bu Herlin berhasil tersenyum senang. Namun tidak lama, Bu Herlin mendapat telepon dari Bu Indah. Tentu Bu Indah khawatir karena Laila tidak bisa dihubungi.


"Ada. Laila sama aku. Tadi ponsel Laila mati," ucap Bu Herlin.


"Mana, aku mau bicara sama Laila." Bu Indah meminta bicara langsung dengan Laila.


"Halo, Bu. Saya di rumah Bu Herlin," ucap Laila.


"Mau pulang jam berapa? Di jemput sama sopir sekarang ya!" ucap Bu Indah.


"Oh iya boleh," jawab Laila.


Bu Herlin sebenarnya bisa saja mengantarkan Laila pulang. Namun ia tidak mau Bu Indah khawatir. Keberadaan Laila di rumah Bu Herlin tentu akan memberikan kesan yang tidak nyaman di hati Bu Indah.


"Bu, maaf ya nanti kita lanjut lagi bahasannya. Kapan-kapan saya main lagi ke sini," ucap Laila.


Bu Herlin mengangguk. Ia sangat mengerti sikap Laila. Bagaimanapun, Laila sangat menjaga perasaan Bu Indah. Seandainya Laila tahu apa yang terjadi pada Bu Indah saat ini, mungkin Laila akan pergi meninggalkan rumah Bu Indah.


Laila yang begitu lembut dan sangat perasa tentu tidak mau menjadi masalah diantara Bu Indah dengan anaknya. Namun sampai saat ini, baik Bu Indah maupun Bu Herlin masih menutupi semua itu. Lagi pula, belum tentu anak Bu Indah akan membenci keberadaan Laila di rumah itu.


Setelah sopir datang menjemput, Laila segera pamit. Mencium punggung tangan Bu Herlin dan memeluknya dengan sangat hangat. Lambaian tangan Laila membuat Bu Herlin merasa ada yang kosong saat Laila pergi.


"La, terima kasih ya buat hari ini." Bu Herlin duduk menatap kertas hasil coretan mereka berdua.


Laila sempat memberi masukan untuk memulai toko itu setelah masuk ke kelas tiga. Namun Bu Herlin menolak karena takut mengganggu aktivitas sekolah Laila. Bu Indah pasti akan menolak keinginan Laila.


Bu Herlin mengirimkan pesan untuk menanyakan kabar Laila. Sudah sampai atau belum. Sengaja tidak meneleponnya agar tidak membuat Bu Indah tidak nyaman. Dan ternyata, pesannya tidak dibalas Laila hingga besok pagi.


"Laila," panggil Bu Herlin saat Laila sudah berdiri di depan gerbang.


"Bu Herlin?" tanya Laila bingung.

__ADS_1


Ini masih pagi. Tidak seharusnya Bu Herlin ada di lingkungan sekolah sepagi itu. Ada apa? Laila khawatir kalau sampai ada sesuatu yang terjadi antara Bu Herlin dan Bu Indah.


"Kamu sehat, kan? Baik-baik aja, kan?" tanya Bu Herlin.


"Sehat Bu, baik." Laila mencium punggung tangan Bu Herlin.


"Bu Indah gak marahin kamu, kan? Maaf ya, La. Gak seharusnya kemarin Ibu bawa kamu ke rumah," ucap Bu Herlin.


"Gak apa-apa, Bu. Bu Indah juga gak marah. Bu Indah cuma khawatir kalau saya kecapean," ucap Laila.


Bu Herlin merasa sangat lega saat mendengar Bu Indah tidak memarahinya. Semakin mengenal Laila, Bu Herlin merasa sangat dekat dan ingin memiliki Laila. Namun ia sadar, berlian seperti Laila sudah lebih dulu ditemukan oleh sahabatnya sendiri.


Kabar tentang anak Bu Indah yang kembali menghubungi, membuat Bu Herlin memiliki harapan untuk bisa mendapatkan Laila tanpa harus bersaing dengan Bu Indah. Jujur saja, saat ini Bu Herlin berharap jika anak Bu Indah datang dan tidak menerima kehadiran Laila di rumah itu.


Maaf kalau keinginanku ini jahat dan menyakitimu, Indah. Tapi aku yang hanya hidup sendiri sangat nyaman dengan keberadaan Laila.


"Laila, seminggu ini Ibu ada urusan di luar kota. Mungkin kita gak ketemu dulu. Nanti kamu mau oleh-oleh apa?" tanya Bu Herlin.


"Ah saya gak mau ngerepotin. Saya sih cuma minta ibu jaga kesehatan. Mudah-mudahan semua urusan ibu lancar ya," ucap Laila.


Bu Herlin mengaminkan doa Laila sambil tersenyum. Ketulusan Laila benar-benar bisa dirasakan oleh Bu Herlin. Kalau saja Laila mau, Bu Herlin bisa membawa apa saja yang Laila inginkan. Namun sayangnya Laila sama sekali tidak menyebutkan apapun pada Bu Herlin.


Laila menghabiskan waktu satu minggu dengan Bu Indah. Benar-benar quality time. Mereka melakukan banyak hal bersama. Dari mulai saling bercerita di rumah, sampai pergi jalan-jalan.


Tidak ada liburan ke luar kota atau ke tempat wisata yang hanya ada di Jakarta, Bu Indah hanya mengajak Laila makan di luar dan berbelanja beberapa keperluan Laila saja. Meskipun, Laila sering menolak saat Bu Indah meminta Laila memilih pakaian atau sepatu saat mereka ke mall.


"Siap Bu, tenang aja. Lagian barang-barang yang ibu kasih harganya mahal. Ini sih bisa saya waris ke anak cucu Bu," ucap Laila.


Laila terlihat biasa saja saat Bu Indah seolah memberi sinyal tentang kemungkinan perpisahan yang akan terjadi pada mereka. Bu Indah sampai memeluk Laila saat mereka sudah pulang ke rumah.


"La, terima kasih ya." Bu Indah memeluk Laila dengan erat.


"Bu, harusnya saya yang bilang terima kasih. Saya udah diurus, di jajanin, dibelanjain, diseolahin, dan yang paling penting saya di sayangin. Ibu udah sekolahin saya di tempat yang mahal dan bagus. Ibu juga udah bantu saya buat wujudin impian saya," ucap Laila.


"Malam ini aku boleh tidur di sini ya!" ucap Bu Indah.


"Oh iya Bu boleh. Saya malah seneng jadi ada temennya," ucap Laila.


Sebelum tidur, Bu Indah kembali ke kamarnya. Sebuah selimut dan kotak kecil dibawa ke kamar Laila. Selimutnya Bu Indah gunakan untuk menutupi tubuhnya saat tidur, sedangkan kotak kecil itu diberikan untuk Laila.


"Simpan ini baik-baik ya!" ucap Bu Indah.


"Apa ini, Bu?" tanya Laila.

__ADS_1


"Buka aja," jawab Bu Indah.


Laila membuka kotak kecil yang diterimanya. Dahinya berkerut saat melihat sebuah kalung kecil berwarna putih. Laila tidak tahu jika itu adalah kalung berlian milik Bu Indah yang dibelinya dari luar negeri. Ketidaktahuannya tentang perhiasan menganggap kalung itu seperti kalung biasa yang dijual abang-abang di sekolahannya. Kisaran harganya paling lima ribu sampai dua puluh ribu.


"Kalung itu aku beli beberapa tahun lalu. Seharusnya menjadi kado untuk anakku. Tapi," ucapan Bu Indah terhenti, hingga matanya berlinang dan harus mengambil napas yang dalam.


"Kalau begitu, ibu simpan aja. Saya yakin suatu saat nanti anak ibu pasti kembali," ucap Laila sambil menyerahkan kembali kotak itu.


Yakin? Apa maksudnya Laila sudah tahu kabar tentang anaknya yang sudah kembali menghubunginya? Apakah Bu Herlin sudah menceritakan semuanya?


Pikiran Bu Indah mengarah pada Bu Herlin. Kalau Laila sampai tahu kabar ini, artinya Bu Herlin yang sudah membocorkannya. Sampai saat ini hanya Bu Herlin yang tahu. Tidak ada lagi yang tahu, bahkan suaminya sendiri pun belum dikabari.


"Simpan saja. Mungkin dia gak akan kembali," ucap Bu Indah.


"Jangan begitu, Bu. Kita harus selalu berpikir dan mengatakan hal positif. Apa yang kita pikirkan dan ucapkan, adalah sebuah doa. Jadi jangan bilang gitu lagi," ucap Laila.


Bu Indah merasa ini waktunya. Mungkin Laila harus tahu jika semua sudah disiapkan karena kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Namun rasanya tidak tega saat melihat Laila harus sedih apalagi mengganggu sekolahnya.


"La, kalau seandainya suatu saat nanti ternyata kita berpisah gimana?" tanya Bu Indah.


"Saya pasti sedih Bu. Tapi mau sesedih apapun, perpisahan harus kita hadapi. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan kan? Sesetia apapun kita sama orang, maka kematian akan tetap memisahkan," ucap Laila.


"Kalau seandainya perpisahan itu karena aku pergi ninggalin kamu atau sebaliknya, gimana?" tanya Bu Indah.


"Saya sih gak mungkin ninggalin, Ibu. Tapi kalaupun suatu saat nanti ibu ninggalin saya, saya hanya yakin kalau ibu pasti punya alasan yang kuat. Saya yakin ibu orang baik," ucap Laila.


Bu Indah tersenyum dan segera mendekap Laila. Mendengar jawaban Laila, Bu Indah merasa tenang. Setidaknya suatu saat nanti, ia hanya menangisi kesedihannya karena tak bersama dengan Laila lagi. Tidak perlu repot memikirkan Laila yang mungkin salah paham dengannya.


"Laila, kamu anak yang baik. Kamu selalu berpikiran baik sama orang. Aku harus belajar banyak hal sama kamu," ucap Bu Indah.


"Ah, ibu bisa aja. Saya kan jadi malu," ucap Laila.


Laila memang selalu berpikiran positif. Tidak mau lelah dengan pikiran buruknya, Laila memilih untuk mengalihkan fokusnya saat apa yang di depannya mengganggu hidupnya.


Pagi ini Laila bangun lebih pagi saat mendengar ponsel Bu Indah berdering dengan nyaring. Laila yang melihat Bu Indah keluar untuk menjawab panggilan itu, segera mandi dan bersiap.


"La, pernikahan Bagus diundur. Kamu sudah tahu?" tanya Bu Indah.


"Hah? Belum, Bu. Tapi bukan berarti batal, kan?" tanya Laila panik.


"Hussst, jangan ngomong sembarangan." Bu Indah mengingatkan.


Laila segera menahan mulut dengan tangannya. Laila hanya khawatir jika orderan kuenya batal. Padahal Laila sudah berharap banyak atas pernikahan Bagus. Seperti yang disampaikan Bu Indah, terlibatnya Laila di pernikahan Bagus akan membuat namanya menjadi dikenal.

__ADS_1


Rencana pembuatan toko kue, menjadi salah satu alasan kuat Laila agar semua berjalan sesuai rencana. Khawatir kalau pernikahan itu bisa batal, tiba-tiba Laila berinisiatif untuk menemui Bagus dan berusaha agar pernikahan itu tetap berlangsung.


Dia yang nikahnya diundur, kok aku yang sedih? Pak Bagus, ayolah. Ini bukan hanya tentang masa depanmu Pak, ini juga berpengaruh buat masa depanku.


__ADS_2