
"Laila belum datang ya?" tanya Bagus.
Bagus yang sudah datang lebih dulu, mengecek Laila ke ruangannya. Dapur umun dimana Laila bersama chef itu menghabiskan waktu untuk bekerja bersama. Namun Bagus hanya melihat chef itu sendirian. Tidak ada Laila di sana.
"Belum Pak," jawab Chef.
"Tolong katakan sama Laila, temui saya di ruangan Pak Jacob. Ada yang mau saya bicarakan," ucap Bagus.
"Baik Pak," jawab Chef.
Bagus segera pergi setelah titip pesan pada Chef. Di ruangan Pak Jacob Bagus mengusap dadanya berkali-kali. Ia begitu tegang. Beberapa kali ia memejamkan matanya. Mengingat langkah-langkah yang harus ia lakukan sesuai dengan arahan youtube yang sudah dipelajari.
"Laila kamu kemana sih? Kok lama banget," gerutu Bagus.
Bagus melihat pergelangan tangannya. Sudah lima belas menit ia menunggu di ruangan Pak Jacob tapi Laila tak kunjung datang. Merasa kesal, Bagus segera membuka pintu untuk mencari Laila di dapur umum.
"Astaga Pak," ucap Laila.
Laila yang baru saja akan memegang handle pintu terkejut. Ia nyaris menabrak Bagus, saat tubuh tinggi dengan perut buncit itu hanya beberapa senti dari tubuhnya. Namun untungnya Bagus segera mundur saat tahu jika Laila ada di hadapannya.
"Dari mana aja? Lama banget. Apa jangan-jangan kamu pacaran dulu sama si tukang masak itu?" tanya Bagus.
"Namanya Chef Juna, Pak." Laila justru malah mengenalkan nama laki-laki yang sangat tidak disukai oleh Bagus itu.
"Gak penting buatku. Yang penting sekarang duduk di sana. Aku mau bicara penting," ucap Bagus sambil menunjuk sofa berwarna coklat.
Laila segera duduk di tempat yang di tunjuk oleh Bagus. Tidak lama Bagus pun duduk di samping Laila. Dekat, bahkan sangat dekat. membuat Laila harus bergeser karena merasa canggung dan tidak nyaman.
"Kenapa? Aku gak bau badan kan?" tanya Bagus sambil mengangkat tangannya.
"Bukan begitu Pak. Tapi saya gak enak aja kalau mepet-mepet begini. Ini kan kursinya masih luas," jawab Laila.
Bagus terdiam sebentar. Menurut apa yang dipelajarinya, jika perempuan itu menghindar artinya ada penolakan. Bagus bingung harus melanjutkan atau berhenti sampai di sana saja. Karena sejujurnya Bagus tidak siap dengan adanya penolakan.
"Pak, Pak." Laila mengguncang pelan tubuh Bagus saat beberapa waktu Bagus diam mematung.
"Eh iya," ucap Bagus berusaha mengendalikan dirinya.
"Bapak kenapa?" tanya Laila.
"Oh, gak apa-apa." Bagus mengusap kasar wajahnya.
"Terus apa yang mau bapak omongin sama saya?" tanya Laila.
Bagus menatap Laila. Ia mencoba membaca garis wajah Laila. Apakah ungkapannya saat ini akan tepat atau tidak. Apakah jawaban Laila akan menyenangkan atau justru membuatnya kecewa. Namun Bagus tidak mau jika Chef itu mendekati Laila. Paling tidak, Bagus sudah tahu jawaban Laila sebelum laki-laki lain menyalipnya.
"Laila, aku mau kita menikah." Bagus menggenggam tangan Laila dengan erat, namun kepalanya menunduk.
Laila hanya bisa mengerutkan dahinya sambil menatap bingung ke arah Bagus. Ia tidak menjawab apapun sampai akhirnya Bagus mengangkat wajahnya.
"Kok kamu gak jawab?" tanya Bagus.
"Saya harus jawab apa?" Laila balik bertanya.
"Ya terserah kamu," jawab Bagus.
__ADS_1
"Bapak maunya saya jawab apa?" tanya Laila.
"Ya kamu mau jawab apa? Terserah kamu aja," jawab Bagus.
"Yakin nih terserah saya?" tanya Laila.
"Ya kalau jawabannya gak sesuai sama harapan aku, jangan salahkan aku kalau kamu nerima konsekuensinya," jawab Bagus.
"Loh, kok ngancam?" tanya Laila.
"Ini bukan ancaman. Ini cuma sebuah peringatan aja," jawab Bagus.
Bagus merasa punya power. Ia menekan Laila memberikan jawaban yang bisa menyenangkan hatinya. Laila sempat beberapa kali mengambil napas dalam-dalam. Mungkin sama dengan Bagus, Laila pun merasa tegang.
"Begini ya Pak. Sebelumnya kan Bapak tahu ada dua anak yang tinggal sama saya. Bapak siap gak nerima mereka?" tanya Laila.
"Bukannya dari sekarang juga mereka udah panggil aku, Papa? Kurang siap apalagi?" jawab Bagus dengan penuh percaya diri.
Laila pun menjelaskan ketakutannya. Soal nama baik Bagus yang mungkin saja bisa turun karena melepas Winari hanya untuk mendapatkan wanita yang sudah membawa dua anak. Selain itu, Laila juga dengan jelas meyakinkan Bagus bahwa ia tidak bisa meninggalkan Hasna dan Kayla setelah menikah nanti.
"Peduli apa? Yang jalani rumah tangga itu aku. Orang mau ngomong apa aja boleh. Terserah mereka. Lagi pula buatku, lebih baik janda, sudah jelas statusnya. Punya anak itu karena ada pernikahan. Dari pada aku menikahi wanita dengan status gadis hanya di KTP aja," ucap Bagus.
Terserah Bapak lah. Cuma saya ini bukan janda Pak, bukan. Dijelasin berkali-kali juga Bapak gak percaya. Masa iya yang begini mau jadi suamiku?
"Bapak yakin?" tanya Laila.
"Jawabanku terdengar kurang meyakinkan ya?" tanya Bagus.
"Ya bukannya begitu Pak. Saya gak mau aja nanti pas udah nikah Bapak malah nyesel. Pikir-pikir aja dulu," jawab Laila.
Laila, aku udah mikir dari jauh-jauh hari. Kamunya aja yang gak peka.
Laila menjelaskan dengan jujur bahwa sampai saat ini belum ada cinta untuk Bagus. Hanya perasaan kagum atas semua perlakuannya selama ini. Namun itu bukan masalah bagi Laila. Ia bisa dengan mudah mencintai laki-laki yang bisa tulus mencintai kedua keponakannya.
"Lagi pula Bapak ini kaya. Paling tidak masa depan Hasna dan Kayla terjamin lah," ucap Laila dengan polosnya.
"Astaga Laila, kamu cuma mikirin duit. Jadi kalau aku gak kaya kamu gak mau?" tanya Bagus.
"Bapak juga kalau gak kaya gak mungkin kan minta saya buat jadi istri Bapak? Karena Bapak punya banyak uang, artinya Hasna dan Kayla tidak akan jadi beban buat Bapak." Laila tersenyum lebar.
"Kamu ini terlalu jujur Laila. Kenapa gak ada jaim-jaimnya sih? Bisa gak sih kamu jangan ngomongin harta? Aku jadi ngerasa kamu gak tulus mau jadi istriku," ucap Bagus.
"Bapak juga mau ngajak nikah kayak ngajak ngopi di warkop. Gak ada romantis-romantisnya. Orang kalau ngajak nikah ngasih cincin, bunga, makan malam romantis." Laila membuat Bagus terdiam.
Ya, jujur saja Bagus memang belum sempat membelikan apapun untuk Laila. Selain waktunya yang mepet, Bagus juga merasa karena statusnya duda dan Laila adalah seorang janda. Tidak terlalu penting seperti ABG pada umumnya.
Status Laila yang sebenarnya masih gadis tentu sangat berharap jika ada yang melamarnya dengan cara romantis. Pengalaman pertamanya ini tidak sesuai dengan ekspektasinya. Namun Laila mencoba memahami. Tidak apa. Yang penting sudah ada yang melamarnya. Bisa menerima Hasna dan Kayla. Yang paling penting, ia juga bisa bebas dari kutukan Deri.
Bang Deri, aku akan buktiin kalau aku bakalan nikah sama orang kaya. Dia bukan cuma bisa nerima aku, tapi dia juga bisa nerima Hasna dan Kayla. Dua anak yang seharusnya jadi tanggung jawab abang.
"Itu bisa diurus belakangan. Gampang. Kamu mau apa aja tinggal bilang. Yang penting sekarang kamu terima lamaran aku kan? Kamu mau kan jadi istriku?" tanya Bagus.
"Iya," jawab Laila singkat.
"Akhirnya. Terima kasih Laila," ucap Bagus.
__ADS_1
Karena rasa bahagianya, Bagus spontan memeluk Laila. Tubuh Bagus yang tinggi dan besar membuat Laila merasa engap. Apalagi ini adalah pelukan pertama baginya.
"Pak, Pak kita belum sah." Laila mencoba untuk berontak.
Bagus segera melepaskan pelukannya. Setelah itu ia meminta maaf dan membiarkan Laila kembali untuk bekerja. Laila meminta agar Bagus tidak menggangunya saat sedang bekerja.
"Hati-hati ya calon istriku," ucap Bagus.
"Dih, apaan sih. Norak," ucap Laila sambil pergi.
"Hah? Norak? Katanya harus romantis. Memang dasar bocah," gerutu Bagus.
Laila memasang wajah datar saat kembali ke dapur umum. Chef yang melihat kedatangan Laila segera memburunya. Bertanya apa yang dilakukan Bagus sampai memanggilnya ke ruangan Pak Jacob.
"Pak Bagus melamar saya Chef," jawab Laila datar.
"Hah? Melamar?" tanya Chef terkejut.
"Iya," jawab Laila.
"Terus?" tanya Chef.
"Terus apanya Chef?" tanya Laila.
"Terus kamu gimana?" Chef balik bertanya.
"Gimana apanya?" tanya Laila.
"Kamu terima atau tolak?" tanya Chef.
"Ya diterima lah," jawab Laila.
"Astaga Laila," ucap Chef sambil memegang dadanya.
Chef itu mendadak lemas. Tubuhnya gemetar saat mendengar Laila menerima lamaran Bagus. Artinya sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mendapatkan Laila. Bahkan Chef belum sempat mengungkapkan perasaannya.
"Minum chef, minum." Laila memberikan segelas air pada Chef.
Chef meneguk air di gelas hingga kandas. Setelah itu ia mengatur kembali dirinya. Menenangkan hati dan kepalanya yang sudah kacau dan berantakan.
"Apa kamu mencintai dia?" tanya Chef tanpa menatap Laila.
"Gak. Ah mungkin belum," jawab Laila.
"Terus kenapa kamu terima?" tanya Chef sambil menatap Laila penuh tanya.
"Ya masa ditolak? Dari pada jomblo terus? Kalau ada yang mau dan nerima anak-anak sih saya bersyukur," jawab Laila.
"Tapi saya juga bisa nerima kedua anak kamu itu, La." Chef menatap Laila penuh harap.
"Maksudna Chef juga mau ngelamar saya? Kenapa gak dari dulu? Kalau sekarang sih telat," ucap Laila.
Chef itu menepuk dahinya. Ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata mudah sekali untuk mendapatkan Laila. Hanya saja keraguannya membuat Chef terus mengulur waktu. Membuat Laila mencintainya dulu baru melamar. Namun sayangnya keberanian Bagus sudah mengalahkan semua strategi yang disusun oleh Chef.
Kini hanya penyesalan dan sebuah kepasrahan. Chef harus mengakui keberanian Bagus dalam mengambil langkah. Bagaimana pun, ia sudah berhasil meyakinkan Laila. Membuat wanita istimewa seperti Laila menerima lamarannya. Walaupun dengan jelas bahwa Laila mengakui belum memiliki perasaan apapun pada Bagus.
__ADS_1
Seandainya aku lebih cepat mengambil langkah, mungkin aku yang kini tengah merasakan kebahagiaan itu. Bukan Pak Bagus. Laila, sejujurnya aku gak terima kamu dilamar sama dia. Tapi apa yang bisa aku lakuin selain pasrah? Aku kalah Laila. Aku kalah. Semoga kamu bahagia dengan Pak Bagus.
Semoga bahagia? Ah itu hanya usaha Chef saja agar tidak mendoakan yang buruk. Karena jauh di dalam hatinya Chef berharap jika pernikahan itu tidak benar-benar terjadi. Kalaupun terjadi, Bagus berharap jika Laila dan Bagus akan berpisah kembali. Lalu dengan siap ia akan segera melamar Laila dan membahagiakannya.