
Dering ponsel milik Bu Indah membuat pelukan itu terlepas. Bu Indah menjauh saat menjawab panggilan. Sebenarnya tidak perlu menjauh karena Laila tidak akan menguping. Bu Indah bicara dengan menggunakan bahasa Inggris sementara Laila tidak paham sama sekali apa yang dibicarakan Bu Indah.
Selama di sekolah, Laila sama sekali tidak tertarik dengan bahasa Inggris karena menurutnya rumit dan tidak akan bermanfaat. Laila lebih senang saat belajar bahasa arab. Karena isi kepalanya adalah saat sudah besar, ia akan kerja sebagai TKW. Seperti yang dilakukan banyak tetangganya di kampung.
"Maaf ya," ucap Bu Indah.
"Gak apa-apa Bu," jawab Laila.
Bu Indah mempersilahkan Laila untuk istirahat. Perjalanan ke Jakarta yang cukup jauh pasti membuat Laila lelah. Lagi pula, Bu Indah juga sedang ingin sendiri. Pertanyaan Laila tentang foto itu membuatnya kembali ke masa-masa sakit itu. Sudah hampir dua tahun lalu.
"Seandainya kamu ada di sini," gumam Bu Indah sambil menyeka pipinya yang basah.
Lagi-lagi air mata itu berjatuhan saat mengingat kejadian dulu. Saat ia harus menerima kenyataan jika anak kandungnya sendiri harus pergi dan memilih pria lain. Sayangnya pria yang dipilih anaknya adalah laki-laki yang sudah mengecewakannya.
Sebenarnya, semua terlalu rumit. Bu Indah sempat terjerat cinta pada daun muda. Berondong mungkin untuk bahasa anak zaman sekarang. Namun itulah rasa, kadang tidak bisa ditebak dan sulit ditolak. Rasa itu datang seketika dan membuat Bu Indah terjebak.
Padahal saat itu Bu Indah sedang berstatus menikah. Hanya saja, suaminya yang berada jauh di negara lain membuat Bu Indah kesepian. Saat itu, godaan datang dan semua terjadi begitu saja.
Bu Indah menikah di usia muda. Saat itu ia masih berusia dua puluh tahun. Baru lima tahun menikah, suaminya sudah dipercaya untuk memegang perusahaan yang berdiri di negara lain. Dengan sangat terpaksa Bu Indah harus LDR dengan suaminya.
Waktu yang terus berjalan membuat jalinan diantara dua manusia itu semakin jauh dan fatal. Bu Indah sempat hamil oleh berondongnya.Padahal saat itu anaknya berusia sepuluh tahun, sedangkan Bu Indah masih berusia tiga puluh satu tahun. Sementara si berondong itu berusia delapan belas tahun. Baru lulusan SMA.
Cinta sudah membutakan Bu Indah hingga bisa tidur dengan laki-laki yang terpaut belasan tahun. Wajah cantik Bu Indah membuat laki-laki itu tidak mempermasalahkan usia Bu Indah. Lagi pula saat itu yang ada dipikiran anak usia delapan belas tahun hanya napsu dan kepuasan saja.
Entah kegilaan apa yang membuat Bu Indah justru bahagia dengan kehamilannya. Sayangnya saat ia memberi tahu kehamilannya, laki-laki itu justru pergi meninggalkannya. Bu Indah pun menggugurkan kandungannya.
Sampai saat ini, rahasia tentang masa silam Bu Indah tersimpan rapat dan sangat aman. Hingga pernikahannya dengan suaminya masih bertahan sampai saat ini.
__ADS_1
Bu Indah sebisa mungkin melupakan laki-laki itu dan mencoba memperbaiki semuanya. Namun saat semuanya sudah menjadi lebih baik, anaknya datang mengenalkan laki-laki yang dicintainya.
Dunia seakan runtuh saat melihat laki-laki yang susah payah ia lupakan justru dibawa kembali oleh anaknya sendiri. Berondong itu kembali untuk membahagiakan anaknya, namun jelas menyakiti hatinya.
Usia anak Bu Indah yang hanya terpaut delapan tahun dengan berondongnya itu membuat keduanya memang terlihat serasi. Di satu sisi, Bu Indah sakit. Namun di sisi lain, Bu Indah bahagia karena anaknya bisa membawa laki-laki ke rumahnya.
Ibu mana yang tidak sedih saat anak perempuannya berusia dua puluh tujuh tahun tak kunjung mengenalkan calonnya. Namun sekalinya membawa calon, ternyata bukan laki-laki yang diharapkan oleh Bu Indah.
Sempat debat untuk memberikan penolakan. Namun Bu Indah tetap berusaha menutupi kisah masa lalunya yang suram. Tapi anaknya tetap dengan keputusannya.
Satu alasan kenapa Bu Indah menyetujui pernikahan itu, karena anaknya sempat melakukan percobaan bunuh diri. Hati Bu Indah luluh. Akhirnya pernikahan itu pun berlangsung. Namun saat hampir dua tahun tinggal serumah, Bu Indah merasa luka itu kian perih.
Sering cekcok namun anaknya selalu membela suaminya yang tidak lain adalah mantan berondongnya. Ternyata laki-laki itu tidak benar-benar berubah. Bahkan saat sudah berstatus sebagai menantunya, laki-laki itu sempat menggoda Bu Indah kembali. Mengingatkan Bu Indah pada kejadian lampau. Masa yang tidak ingin diingatnya sama sekali.
Bu Indah tidak mau anaknya tetap bersama laki-laki seperti itu. Namun sayangnya, anaknya justru memilih untuk pergi bersama suaminya. Laki-laki paling jahat yang pernah Bu Indah temui.
"Astaga. Ada apa?" tanya Bu Indah terkejut.
"Ibu gak apa-apa kan?" Laila bertanya dengan penuh kekhawatiran.
"Tidak," jawab Bu Indah sambil menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya Bu Indah ingin sekali mengingatkan Laila agar tidak terlalu lancang karena masuk ke kamarnya tanpa izin. Tapi Bu Indah menyadari saat itu pintu kamarnya memang terbuka. Mungkin Laila juga khawatir karena melihatnya melamun. Apalagi saat melihat Laila begitu sopan hingga duduk di lantai. Padahal ada kursi kosong di samping kursi yang ia duduki.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Bu Indah.
"Saya mau tanya boleh?" Laila balik bertanya.
__ADS_1
"Boleh," jawab Bu Indah.
"Kalau seandainya saya dianggap anak sama ibu, terus itungan upahnya gimana? Maaf ya bu, bukannya apa-apa nih. Soalnya saya kan harus ngirimin ibu saya uang," ucap Laila.
Bu Indah menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Laila datang di saat yang tidak tepat dan membahas hal yang tidak penting. Namun entah mengapa pertanyaan tidak penting itu membuat Bu Indah tersenyum dan melupakan kepahitan hidupnya sementara ini.
"Kamu mau dibayar berapa?" tanya Bu Indah.
"Ya, saya sih sesuai UMR aja, Bu. UMR Jakarta biasanya berapa Bu?" tanya Laila.
"Kamu istirahat aja. Biar nanti urusan upah Jajang yang urus ya!" jawab Bu Indah.
"Loh, kok begitu?" tanya Laila.
"Memangnya kenapa?" Bu Indah balik bertanya.
"Ya kalau Ibu mau nego, sama saya aja. Jangan ngasih upah sepihat lewat Mang Bro dong. Kalau ibu keberatan, biar saya turunin seratus ribu dari UMR ya," ucap Laia.
Bu Indah tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Laila. Antara senang dengan kepolosan Laila, namun ia juga kesal saat Laila berpikir jika ia sangat kikir hingga harus menawar upah. Akhirnya Laila keluar saat diberikan uang satu juta.
"Ini DP. Kamu simpan dan istirahat di kamar ya!" ucap Bu Indah.
Laila tersenyum lebar dan segera pergi dari kamar Bu Indah. Meninggalkan Bu Indah yang melihat tubuh Laila menghilang dari pandangannya.
"Laila, Laila," ucap Bu Indah.
Di hadapan cermin, Bu Indah melihat pantulan wajahnya. Namun dalam kepalanya ia sedang mengingat semua tingkah Laila. Baru Laila yang berani masuk dan memeluknya. Bahkan satu-satunya orang yang berani dengan terbuka membahas tentang upah dengannya.
__ADS_1